Puntadewa Watak Putih yang Meraja

Kekalahan atas permaian dadu dianggap sebagai salah satu sikap Puntadewa yang tidak bisa menolak ajakan Duryudana, karena hal itu akan mengecewakan saudara tua. Demikian juga, ketika Sri Kresna menyuruh Puntadewa untuk bersaksi dusta kepada Resi Druna bahwa Aswatama anak Druna telah tewas, pada hal yang terbunuh bukan Aswatama tetapi Estitama nama seekor gajah. Peristiwa lain, ketika perang Bharata Yuda, Puntadewa yang selama hidupnya belum pernah berperang, tidak kuasa menolak perintah Sri Kresna, untuk berperang melawan Prabu Salya. Darah putih yang mengalir dalam diri Puntadewa, membuat ajian Prabu Salya, Candrabirawa tak berdaya. Akhirnya Prabu Salya gugur di tangan Puntadewa.

Tiga peristiwa penting yang dialami Puntadewa, dicatat sebagai dosa-dosa Puntadewa, atau sejarah tragedi yang membawa korban. Namun mengingat catatan panjang kebaikan Puntadewa, tragedi-tragedi tersebut diterima sebagai akibat dari sebuah konflik batin seseorang untuk mempertahankan kesucian dan rasa belaskasih tanpa pamrih, dan juga sebagai panggilan darma dari seorang anak Bathara Dharma.

Konflik batin yang dialami Puntadewa, juga dialami setiap manusia. Di dalam batin seseorang atau disebut juga ‘jagad cilik’atau micro cosmos, konflik itu selalu terjadi. Dampak dari konflik tersebut akan mempengaruhi ’jagad gedhe’ atau macro cosmos.

Di dalam kitab Centhini jilid I, bab (pupuh) 75-77. dipaparkan sebuah illustrasi konflik batin manusia, dengan penggamabaran ‘Gedhong catur candhelanya tunggil,’ empat rumah dengan satu pintu. Masing-masing rumah dihuni oleh seorang raja. Walaupun keempat raja tersebut bersaudara, mereka mempunyai watak, karakter dan kesenangan yang berbeda-beda. Raja Mutmainah, bercahaya putih, adalah raja yang berwatak sabar, welas asih tulus dan suci. Raja Amarah, bercahaya merah, berwatak serakah dan ‘panasten.’ Raja Aluamah, berwarna hitam, mempunyai kesenangan makan yang berlebihan sehingga menjadi pelupa. Raja Supiyah, raja wanita, bercahaya kuning, senang pada keindahan, sikapnya selalu berubah, tidak dapat menepati janji. Dalam bab tersebut dituliskan bahwa Raja Aluamah, Raja Amarah dan Raja Supiyah dengan bala tentaranya bersatu untuk memerangi Raja Mutmainah. Perang besar yang memakan banyak korban terjadi. Raja Mutmainah berhasil meringkus ke tiga Raja dan memasukan ke dalam penjara. Mereka diberi makan untuk hidup, namun tidak boleh mencampuri kebijaksanaan Raja Mutmainah. Pintu satu-satunya yang terdapat dalam empat rumah dikuasai sepenuhnya oleh Raja Mutmainah.

Sebuah gambaran menarik untuk direfleksikan ke dalam batin manusia dalam wilayah jagad cilik, yang memberi kontribusi pada wilayah kehidupan jagad gedhe. Jika pada akhir sebuah konflik yang menang dan berkuasa adalah Raja Mutmainah, maka yang memancar keluar adalah cahaya putih, berwatak suci, welas asih, sabar dan tulus. Rupa-rupanya karakter itulah yang digambarkan pada sosok Puntadewa. Ketika para Pandawa Lima mengangkat Puntadewa sebagai raja, maka komitmennya adalah, bahwa apapun kebijaksanaan Raja, saudara-saudara lainnya mendukung, dan bahkan ikut menanggung akibat dari sebuah kebijaksanaan tersebut. Puntadewa sebagai jagad cilik, telah tiga kali menyelesaikan konflikyang tergolong besar dan dengan ikhlas, ia mau menanggung akibatnya. Namun karena ia tidak sendirian, ia adalah Raja negara besar Indraprasta, dalam wilayah jagad gedhe, maka orang-orang terdekat dan juga rakyat Indraprasta ikut menanggung dan bahkan menjadi korban kebijaksanaan Puntadewa.

Itulah Puntadewa. Ia menjadi tokoh yang dilematis. Kebaikan yang berlebihan dianggap sebagai wujud lain dari watak yang selalu memikirkan diri sendiri. Di dalam benaknya, hanya ada sebuah pemikiran, bagaimana caranya untuk bertahan dalam kesetiaan. Ia memang setia kepada panggilan dharma. Tetapi apakah dengan demikian ia juga setia dalam kedudukkannya sebagai pengayom? setia sebagai raja?

Pada akhir hidupnya, Puntadewa dan keempat adiknya mendaki alam keabadian yang disimbolkan Gunung Mahameru. Satu persatu keempat adiknya jatuh dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Mulai dari Sadewa, Nakula, disusul Harjuna dan kemudian Bimasena. Pada akhirnya, ketika sampai di sebuah Gapura nan indah, tinggalah Putadewa seorang diikuti oleh anjing kesayangannya. Puntadewa berniat memasuki pintu tersebut, namun penjaga gerbang tidak memperbolehkan anjingnya ikut masuk. Puntadewa besikeras untuk membawa anjingnya, karena baginya anjing tersebut telah berjasa memberi petunjuk jalan. Oleh karenanya, menjadi tidak adil jika anjingnya tidak diperbolehkan masuk. Ketegangan diantara keduanya terjadi. Pada saat itulah, anjing tersebut berubah wujud menjadi Batara Dharma, ayah Puntadewa.

Peristiwa itu merupakan gambaran sebuah pendadaran kesetiaan yang terakhir bagi Puntadewa. Batara Dharma tersenyum puas, selama mendampingi anaknya, ia merasakan bahwa Puntadewa selalu berhasil dalam memerangi musuh batin yang menghalangi panggilan darma. Sebagai upah di akhir hidupnya, Batara Dharma menggandheng Puntadewa melangkah masuk di surga keabadian. (bersambung)

(herjaka)

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers

%d bloggers like this: