Anoman, Kera Putih Yang Memiliki Ajimundri, Jaya-Kawijayan Dan Okultisme

Apakah aji-aji dalam pewayangan itu betul-betul ada? Dan kalau ada bagaimanakah “rapal” dan mantranya? Demikianlah pertanyaan dari Bapak Imam Tauchid tanggal 8 Agustus 1976.

Aji-aji atau “Aji Jaya-kawijayan” itu memang betul-betul ada, tetapi tidak dalam pewayangan itu sendiri. Yang ada dalam pewayangan hanyalah merukan “pasemon” atau simbul belaka. Aju Jaya-Kawijayan juga disebut okultisme atau ilmu gaib dan oleh Wedhatama disebut “ngelmu karang”. Ngelmu karang tersebut oleh Wedhatama dilarang, adapun sebabnya ialah karena “ngelmu karang” itu disusun oleh makhluk yang gaib, yang hanya merupakan “karangan” saja (kakarangan saking bangsaning gaib/pangkur 9). Ibaratnya bagaikan “boreh” (bedak) yang tak dapat meresap ke dalam tubuh, tetapi hanya menempel pada kulit luar saja. Ngelmu tersebut bila menghadapi bahaya secara mendadak, akan mengecewakan dan tidak dapat diandalkan (kapengkok ing pancabaya, ubayane mbalenjani).

Kini “ngelmu karang” sudah tidak dipelajari lagi, karena kini sudah ada senjata yang lebih ampuh, misalnya basoka (mariam) untuk tank, bom atom dan thermonuclear system. Betapapun sakti dan kebalnya orang yang ber “aji-aji” tersebut (ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurenda, tanapi tedaning kikir, tinatah mendat jinara menter) tetapi kalau terkena bom atom atau basoka, saya kira akan “lebur” dan “memret” tulang dagingnya menjadi “sewalang-walang”. Kini, yang dipelajari adalah ilmu gaib yang putih, misalnya untuk mengobati orang yang sakit dan menolong sesama manusia dalam kesukaran. Ngelmu putih tersebut (bagi yang percaya) benar-benar ada dan dapat dipelajari. Tetapi maaf tentu saja tidak dapat diurakan disini.

Penulis sendiri pada tanggal 26 Juni 1976 pada hari Sabtu Pahing bersama dengan SENA WANGI, NAWANGI dan PT INALTU mengadakan pergelaran wayang kulit ruwatan dengan lakon “SUDAMALA (Sadewa dan Semar meruwat para Dewa). Tiba-tiba sehari sebelum ruwahan datanglah orang dari Jember menyerahkan aji-aji/jimat yang berbentuk “keris semar”. Setelah keris (berwujud) Semar saya terima, orang tersebut segera pergi, tidak mau diberi uang sebagai gantinya, karena menurut pengakuannya, ia bertugas sekedar hanya menyampaikan/melaksanakan pesan dari almarhum orang tuanya. Sampai kini keris Semar tersebut masih saya simpan dan belum diketahui apa maksud sebenarnya dari kejadian ini? Apakah hanya main-main atau sungguh-sungguh? Tidak jelas, yang jelas bahwa keris Semar datang 24 jam sebelum (wayang) Semar meruwat para Dewa.

Baiklah kita sekarang mengupas mengenai “Aji Mundri” milik Anoman,

Aji Mundri tersebut dipergunakan oleh Anoman untuk mencoba jembatan udara yang dibangun oleh Wibisana dalam lakon “Rama Tambak”. Karena aji Mundri-nya, jembatan tersebut hancur ketika di “genjot” oleh Anoman. Di samping itu, karena kesaktiannya, Anoman juga dapat mendarat di matahari dan melakukan perjalanan Alengka – Maliawan kurang dari setengah hari, apakah artinya itu? Anoman sebagai seorang panglima dan duta itu sebetulnya melambangkan duta putih utusan suci dari Sri Rama, oleh karenanya Anoman lalu diberi nama Ramadayapati. Artinya, bahwa Anoman itu adalah puncak daya kekuatan (batin) dari Sri Rama. Sedangkan Rama adalah Wisnu, dan Wisnu adalah kebenaran Sejati. sedang Kebenaran Sejati adalah Yang Maha Kuasa dan Maha Suci. Utusan Yang Maha Suci adalah Insan Kamil, Insan Kamil adalah insan yang telah mendapat anugerah dan wahyu Illahi. Pendek kata Anoman Duta Sri Rama adalah lambang utusan suci dari Kebenaran.

Manusia biasa tidak mungkin menjadi Insan Kamil, paling “banter” hanya dapat menjadi manusia yang waskita atau filsuf agung, seperti halnya Jayabaya dan Ranggarwarsita. Orang yang sudah suci seperti putihnya Anoman itu akan menjadi awas, bukan awasnya matanya, tetapi awasnya hati nurani/batin. Betapapun tajam mata melihatnya kalau sudah terhalang oleh selembar daun saja tak mungkin mata dapat melihatnya. Namun sebaliknya penglihatan sejati (awasnya hati) itu dapat melihat KENYATAAN dan esensi dari segala eksistensi. Walapun ada tembok baja yang menghalangi, penglihatan sejati akan sanggup menembusnya dengan mudah. Wedhatama mengatakan bahwa : “Tuladan marang was paos, mring jatining pandulu (penglihatan sejati)” itu syaratnya haruslah (“tata-titi, ngati-ati, atetep talaten atul, sareh sanis kareng laku, kalakone saka benang hening heling lan hawas:) teratur, cermat, hati-hati , tekun, rajin, tidak mudah tergoda, semua tindak-tanduk harus sabar, sareh, soleh, tenang, jernih, syahdhu, sadar ingat dan waspada. Pendek kata manusia dapat menjadi awas kalau sudah mendapat ma’rifat. Sedangkan untuk menuju ma’rifat, manusia harus melalui tataran-tataran yang disebut Zahid (pertapa) yaitu meninggalkan hidup duniawi atau kematerian ; tobhat ; warq , farq, sabar, tawakal, dan ridho. Tetapi walaupun persyaratan tersebut sudah dipenuhi, tetapi masih ada satu syarat lagi yaitu: “atas Kehendak-NYA” Artinya manusia tidak dapat memaksa Tuhan untuk menganugerahkan Wahyu-Nya. Semuanya itu hanya atas kehendak dan bila Tuhan berkenan.

Nah, sekarang bagaimanakah halnya dengan aji Pancasona milik Rahwana?

Rahwana adalah lambang “angkara murka”. Kita tahu, jika hari ini nafsu angkara berhasil kita bunuh, pasti besok akan hidup lagi, besok berhasil kita bunuh lagi, pasti lusa akan hidup kembali, begitulah seterusnya. Setiap manusia mempunya Rahwana (angkara murka) lengkap dengan “pancasonanya”. Nafsu Angkara (Rahwana) akan hilang kalau di situ berada (bersemayam) Anoman (kesucian yang putih). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam jaman Pandawa jika ada Rahwana, akan terdapat juga Anoman. Kalau Rahwana (Godakumara) datang menggoda, maka disitu Sri Kresna (Wisnu) akan memanggil Anoman untuk mengusir Rahwana si Angkara Murka.

Dari uruain tersebut dapat kita ketahui, bahwa kecepatan anoman terbang ke Alengka itu melambangkan kecepatan pikiran manusia. Tak ada kecepatan di dunia ini yang lebih cepat dari kecepatan pikiran manusia. Sedang kekuatan aji Mundri milik Ramadayapati (Anoman) adalah melambangkan pmusatan daya kekuatan manusia yang telah menjadi satu. Dan inilah yang dinamakan Triwikrama, yaitu tiga kekuatan (cipta, rasa dan karsa) yang bersatu padu secara serempak “makarti” bersama-sama. Hendaknya diketahui, bahwa manusia hidup itu hanya mempergunakan 10% daripada seluruh energinya. Kalau manusia dapat memusatkan seluruh energinya dan potensinya 90% saja, pasti ia memiliki semacam aji Mundri.

Demikianlah, halus dan lembutnya simbolisme dalam wayang.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU , 22 AGUSTUS 1976

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 222 other followers

%d bloggers like this: