Falsafah Wayang Purwa

Saya bukan dalang, juga bukan pengrawit yang serba bisa dalam memainkan musik gamelan, namun demikian karena mulai umur 15 tahun saya sudah mulai cikal bakal musik karawitan bersama-sama para perintis cikal- bakal yang dipimpin pak Marto Sarpa atau Marta ngendong suling saya mulai timbul niat untuk dapat mengikuti jejaknya Pak Marto Sarpo. Sukur Alhamdulilah dapat sejarah sejarah dengan Pak Marto Sarpo antara tahun 1940 sampai dengan tahun 1965.

Sebelum saya mengikuti jejaknya Pak Marto Sarpa, saya juga termasuk pecandu tontonan wayang kulit. Pada jaman sebelum Orla tumbang kekuasaannya, saya belum dapat membedakan mana yang disebut pandemen budoyo Jowo nguri-uri, pemerhati budoyo Jowo, pengagum budoyo, falsafah gamelan, wayang dsb.

Namun sesudah kekuasaan Orla jatuh dan diganti dengan Orba yang menerima Super Semar itu ada kaitannya dengan Lurah Semar dalam pewayangan ?

Dalam hati saya masih diliputi rasa ragu-ragu, mungkin benar, mungkin juga salah. Namun karena mulai tahun 1966 sampai dengan tahun 1996, 30 tahun Pak Harto berkuasa ada tandas yang persis seperti ceritera Ki Dalang, lama-lama saya berani bahwa meskipun saya bukan dalang tetapi karena perasaan seperti saya utarakan lewat KR bulan 12 tahun 1996 dengan judul
Seniman Idealis Sesak Nafas maka saya mulai berani mengutarakan. Tulisan-tulisan yang mengambil nara sumber dari Ki Dalang, itu saja sesudah kekuasaan Orba tumbang pada bulan Mei tahun 1688, namun demikian enam bulan sebelum kekuasaan Orba tumbang, sebetulnya saya sudah memberi sinyal dengan tulisan lewat KR tgl 9-2-1998 dengan judul Wayang Tontonan dan Tuntunan.

Sesudah saya menurunkan tulisan tersebut saya sering nonton TVRI dan setiap nonton saya mulai mengagumi falsafah wayangan lakonnya pasti Semar Babar Jati dan mendekati detik-detik Pak Harto jatuh Pak Harto sumbali dalang-dalang kondang seluruh Jawa terutama dari Yogya Ki Timbul, Ki Hadisugito dan Solo Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto dengan Lakon yang sama yaitu Rama Tambak di hampir semua Stasiun TV seluruh Indonesia sampai akhirnya Pak Harto jatuh dengan menanggung beban psikologis menjadi Satriyo Wirang bahkan wirangnya melebihi Bung Karno, yang di demo KAMI-KAPPI tahun 1965.

Bagi para pandemen seni jawa nguri-uri, jelas tidak ambil pusing membicarakan jatuhnya pak Harto dengan lakon Rama Tambak namun bagi para pemerhati apa lagi yang sudah sampai tataran mengagumi pasti segera dapat mengambil kesimpulan bahwa lakon Rama Tambak menurut falsafah wayang purwo lakon pembuatan jembatan dari Negara Poncowati yang melambangkan kebenaran untuk menghancurkan untuk menghancurkan Rahwono yang Lambang Kejahatan yang sering sesumbar Yo bondoku, yo donyaku, yo penguasaku dll.

Dengan belajar dari wayangan Lakon Rama Tambak sampai dengan lengsernya Pak Harto, saya teringat wejangan Bp. Pinisepuh Pelestari Budaya Jowo Harjobinangun Bp. Martomahargyo yang rajin mengumpulkan koleksi wayang purwo mulai TH 19…, yang memaparkan Lakon Sombo Sebit di Dusun Sambi Pakembinangun bahwa ada salah satu warga dusun tersebut rumah-tanggganya menjadi berantakan karena nanggap wayang dengan Lakon Sombo-Sebit dengan Ki dalang Jayeng-Carito dari Kalibulus, dalang abdi dalem keraton Yogyakarta.

LAKON KONGSO ADU JAGO

Lakon Kongso Adu Jago dalam pagelaran wayang-purwo oleh Ki Dalang jelas tidak sama dengan Lakon manusia2 atau penguasa2 jaman Orba. Pada jaman Orba saya juga sudah berani menyindir para pemimpin yang mengaku wakil-rakyat tetapi nyambi menjadi Kongso adu jago seperti yang saya tulis di harian KR tgl 8-1-1996 dengan judul Kongso Adu Jago.

Pada jaman Orla, jamannya Sri Sultan HB IX , pemilihan pamong desa betul bersih dari permainan KKN Kongso adu jago karena pamong desa yang menang dalam pemilihan berdasarkan Undang2 no 16 TH 1946 dijaring lewat bitingan yang sulit diintimidasi oleh para Kongso2 adu jago seperti jaman Orba yang memanfaatkan UUD No 5 TH 1979 yang melahirkan banyak kongso2 adu jago demi memperdaya para balon2 perdes yang buta budaya dan buta politik.

Para pemerhati budaya jawa pasti dapat membaca jika ada pemilihan pamong menggunakan sistim Gambar Kembang Telon, misalnya NASAKOM, PAT JARI, Pacul, Meja Lemari, Si Jari Kursi Mejo Lemari, SAL SANG GIS ( Salak Pisang Manggis) dsb-dsb. Dari para juru kampanye gambar kembang telon tersebutlah saya mulai berani ngotak-atik ilmu kehebatan para wali dan pujonggo yang melahirkan ramalan Pujonggo jaman Joyoboyo Kediri seperti Empu Tantular jaman Mojopahit sebelum ajaran Islam masuk Indonesia.

Para pembaca yang budiman, ramalan pujonggo, bukan ramalan SDSB, juga bukan ramalan nomer buntut, juga bukan ramalan nasib swargo, neroko di dunia dan di akherat. Jenis-jenis ramalan perjudian dan ramalan dukun-dukun paranormal jelas tidak perlu mempelajari dan merenungkan ilmu Sunan Kalijogo yang dapat menterjemahkan Layang Kalimosodo menjadi Kalimah Sahadat yang mengantar Raja Puntodewo dapat masuk surgo dan sudah barang tentu menterjemahkan layang Kalimo-sodo menjadi Kalimah Sahadat dapat dibaca di halaman seterusnya, sekarang marilah saya mengikuti kembali lanjutan Kongso adu jago yang mengadu domba antara wakil-rakyat A dengan wakil-rakyat B antara pamong desa C dan pamong desa B dst-dst, sehingga dalam hal ini juga saya sindir dengan judul: Adu Domba Awal Datangnya Petaka, KR 12-10-1998, 3 bulan sesudah Pak Harto lengser keprabon.

Kongso Adu Jago TH 1996 , adu domba awal datangnya Petaka betul-betul terjadi nyatanya sesudah Pak Harto Lengser keprabon mulai Th 1998 s/d Th 2002, negara Indonesia justru semakin kacau sehingga saya menyindir lagi namun tidak mengambil nara sumber dari falsafat wayang tetapi dari desa tempat saya lahir yaitu dari: Dsn Purworejo yang merintis seni karawitan cikal-bakal dengan judul Pengatur Skenario dan Akibatnya (PSA), BERNAS tgl 9-8-2002.

Judul PSA tsb bagi yang belum mengagumi falsafah wayang pasti tidak perlu dikaji dengan kalimat lain dengan pengagum falsafah wayang, PSA tidak hanya terjadi didusun Porworejo, bahkan apa yang terjadi Dsn Purworejo dapat diolah menjadi warisan Nasional, misalnya Indonesia Tanah Airku.

Bagi saya jaringan komunikasi penulis surat pembaca yang di prakarsai oleh mas Bambang Haryanto di Jl Kajen Timur 72 Wonogiri Solo jelas merupakan awal bagi siapa saja yang sudah mengagumi falsafah Jawa yang berwawasan Nasional.

Jika pemikiran mas Bambang Haryanto kami kawinkan dengan pemikiran saya seperti berkali-kali saya tulis di (kolom) Pikiran Pembaca yang sekarang sudah dipajang di Pusat Jaringan Komunikasi Penulis Surat Pembaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia/EI), wajarlah antara saya dan mas Bambang H mulai bergandengan-tangan untuk mempromosikan falsafah Jawa sambil menterjemahkan lagu Indonesia-Raya ciptaan W.R. Supratman.

Tulisan saya memang bernada menyindir Kongso Adu Jago yang gentayangan di Dusun Purworejo, mulai jaman Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud memasung pemikiran Bung Karno dan pendukung-pendukungnya.Sebelum Orba tumbang siapa yang berani melawan Kongso Adu Jago sistem Amir Mahmud jelas tidak ada apalagi saya yang berasal dari dusun cerak watu adoh Ratu.

Tetapi sekarang sesudah saya bergabung dengan Jaringan Komunikasi Penulis Surat Pembaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia/EI), yang sekarang sebelum para jurkam-jurkam Pemilu 2004 , saya gentayangan di bumi Indonesia, saya berani menyebarluaskan EI ke seluruh penjuru Tanah Air lewat pikiran pembaca yang sudah dipajang di pusat EI untuk melawan para Kongso-kongso Adu Jago di seluruh Indonesia yang memasung pemikir idealis yang akan meluruskan pemikiran pencipta lagu Indonesia Raya.

Bagi saya mas Bambang Haryanto adalah sama dengan sang pencipta lagu Indonesia Raya lewat EI . Meskipun strateginya berbeda-beda karena pada jaman W.R. Supratman semua para perintis kemerdekaan bulat bersatu sulit diperdaya Kongso Adu Jago, namun sekarang jelas tidak mudah menghadapi Kongso-kongso Adu Jago yang gentayangan di hampir semua LEMBAGA kemasyarakatan mulai dari tingkat RT sampai tingkat Nasional.

Antara Buto Cakil dan Kongso Adu Jago

Nguri-uri Seni Jawa belum layak disebut pemerhati budaya Jawa, apalagi pengagum budaya Jawa dalam berulah karawitan terdapat tiga tataramu dalam mendalami Ilmu Karawitan yang disebut patet enem, patet sanga, dan patet manjura dalam musik Jawa. Laras Slendro menurut wewarah Sastro gending ciptaan Sultan Agung Hanjokro Kusuma pendiri kerajaan Mataram.

Sebelum pembaca ingin mendalami falsafah Jawa yang sudah dipajang di pusat JKSI penulis surat pembaca ( situs blog Epistoholik Indonesia, Jaringan Penulis surat Pembaca se-Indonesia. BH) yang dirintis oleh mas Bambang Haryanto Kajen Timur 72 Wonogiri Solo,
apakah hubungan ilmu Slendro Laras Manjuro dengan falsafah Jawa ?.

? Patet enem sama dengan nguri- uri
? Patet songo sama dengan pemerhati
? Patet Manjuro tidak hanya nguri-uri atau pemerhati tetapi sudah sampai pada tataran
mengagumi.

Dengan demikian, apakah hubungannya dengan Mas Bambang Haryanto dengan para pandemen penulis pikiran pembaca seluruh Indonesia ?

Perkenankanlah saya meminjam pidato Bung Karno ; Janganlah Bangsa Indonesia hanya menjadi Bangsa kintel yang menunggu jatuhnya bintang-bintang dari langit, tetapi gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang-bintang di langit dst-dst.

Menulis di KR mulai th 1995, dan th 1945 saya sudah aktif dalam Organisasi Seni Jawa. Dari Organisasi Seni Jawa inilah saya juga mengagumi pidato dan tulisan-tulisan Bung Karno terutama gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit.

Jika Mas Bambang Haryanto dan para yunior-yunior pendukung pemikiran Mas Bambang H berkenan membaca tulisan-tulisan para pandemen penulis pikiran pembaca termasuk tulisan saya, ini berarti saya sudah membuktikan lewat karya nyata tanpa menunggu jatuhnya bintang di langit, atau dengan bahasa lain pengagum falsafah Jawa pasti dimulai dari gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit.

Berita dari mas Bambang H , adalah suatu berita yang luar biasa, mana ada jaman sekarang yang serba mata duwiten model kapitalis, masih ada yunior-yunior yang punya rasa peduli terhadap pemikiran-pemikiran para perintis di segala bidang kemasyarakatan yang nongol di kolom pikiran pembaca, apalagi jika yang menulis lewat pikiran pembaca tersebut umurnya sudah pikun, seperti saya yang sudah berumur 80 tahun.

Umur 80 tahun adalah umur transisi bisa saja sewaktu waktu saya ditimbali yang Maha Kuasa namun sebelum saya di timbali Yang Maha Kuasa saya beruntung lewat jarigan komunikasi penulis surat pembaca se Indonesia dapat menjembatani pemikiran dari bawah Lereng Merapi yang pernah nongol di BERNAS tgl 27-7-2000 dan judul tersebut malah menjadi sampul tetap lewat buku tulisan kami tahun 2003 dengan judul. Akal Melawan Akal- Akalan Misteri Merapi.

Jika tulisan ini sudah sampai ditangan mas Bambang. H berarti saya sudah dapat menjembatani para pengagum falsafah Jawa yang berwawasan. Indonesia lewat jalur segi lima antara lain mbah Marijan, atau KRT Suraksa Hargo Gunung Merapi, Bp R. Martomahargyo pengagum koleksi Wayang purwo mulai tahun 27, Bapak Mardi Wiharjo Ketua Paguyuban Pelestari Budaya Jawa dibawah Lereng Merapi untuk wilayah Yogya utara dengan jaringan komunikasi penulis- pembaca se Indonesia dibawah binaan mas Bambang Haryanto dari Wonogiri yang dekat dengan Waduk Gajah Mungkur dari aliran Bengawan Solo riwayatmu ini.

Yogya Utara Merapi Lambang pemikiran generasi senior, sedang Wonogiri Solo selatan Lambang pemikiran dari generasi yunior yang ingin menyambung ilmunya generasi tua tetapi sejarahnya tidak lepas dari sejarah Mataram kuno silakanlah baca buku Akal melawan Akal-akalan halaman 44 dengan lagu Bengawan Solo ciptaan komponis Gesang yang sangat masyhur itu.

Tulisan mata air baik pun dari Umbul Manten dan mata air dari bengawan solo yang asalnya dari Gunung Merapi memang agak panjang apalagi jika mengambil nara sumber dari Empu Permadi sejarah wayang Purwo dari Gunung Jamurdipo, namun saya tidak menguasai ilmu ini selain mbah Marijan KRT. Suraksa Hargi, maka para yunior yunior pemerhati tulisan saya, marilah mumpung masih muda bagaimana caranya menangkal bila perlawanan buto-buto cakil di seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Berwaspadalah terhadap jurus ramal ilmu Jawa yang ngawur, carilah para pemerhati falsafah Jawa serendahnya sekaliber mas Bambang Haryanto yang sudah menguasai ilmu sampai dengan idenya yang cermelang asal sudah sampai pada tatanan patet manjura dalam ulah seni kerawitan dan pedalangan.

Buto Cakil yang memasung idealisnya para Pemerhati falsafah Jawa, buto cakil – buto cakil yang menjadi menjadi anteknya kongso adu jago yang menjadi anteknya kongso adu jago yang dibotohi yo bondoku, yo donyoku, yo penguasaku yang berpusat di markas besar zionis yahudi Israel yang rajin mengadu domba antara penganut mengadu domba antara penganut agama Islam religius dan penganut Islam abangan, silakan baca buku kumpulan kliping, pada surat pembaca berjudul ?Parpol Islam?, hal . 36-37, tulisan Hd.Wardoyo.

Buto cakil anteknya kongso adu jago itu mulai nongol sesudah patet 9, pada saat sang Harjuna baru keluar dari pertapaan Bengawan Abiyoso, dan dalam perjalananya ditengah hutan dihadang buto cakil anteknya Kongso adu jago.

Dalam ceritra Minakjinggo Damarwulan saya tetap ingat tembang Dandanggulo yang layak menjadi bahan cakil Kongso adu jago yang antara lain berbunyi sebagai berikut. Kang biso mbengkas karya, bocah soko gunung, dst-dst.

Mengagumi falsafah sejarah MinakJinggo Damarwulan dan juga mengagumi salah satu warga dibawah Lereng Merapi dan juga merasa hidup dari mata air dibawah Umbul manten Kali Kuning (Laku sing wening) dan rajin mengoleksi wayang kulit padahal bukan dalang, meskipun baru perkiraan, tetapi mungkin dapat menterjemahkan apa arti kang biso mbengkas karyo bocah soko gunung.

Apa yang saya tulis ini memang wingit, tidak sembarang orang gegabah menterjemahkan kang bisa mbengkas karyo, bocah soko gunung sebab salah dalam menterjemahkan bisa berakibat fatal seperti Begawan Wisrowo dalam lakon Sastro Jendra Hayuningrat Pangruwatin Diyu .

Sebetulnya saya belum berani mengutarakan bahasa sinandi kang biso mbengkas karyo, namun dengan lahirnya jaringan komunikasi penulis surat pembaca se-Indonesia yang sudah berani mendokumentasi penulis-penulis surat pembaca se-Indonesia yang di prakarsai mas Bambang Haryanto, saya teringat tembang Sinom Wedatama yang berbunyi :

Kang wus waspodo ing Patrap Magayut Ayat Winosis. Wasono wosing jiwanggo, Melok Tanpo along-aling. Kang ngalangi kalingling, Wenganing roso tumla wung, Keksi saliring jaman, Angelangut tanpa tepi, Iku janma, ntuk nugraha Hywang Wiseso.

Bagi yang sudah penggautan menjadi buto cakil Kongso adu jago, yo bondoku yo donyaku, yo penguasaku melik nggendong lali ngemut legining gulo jowo, tidak ada gunanya menulis Kang biso mbengkas karyo, sebab, jenis-jenis oknum butocakil kongso adu jago itu tugasnya memang mengintimidasi, mendemo, memfitnah, menyegal dan memasung dan mematikan pemikir idealis yang dapat mbengkas karyo.

Bocah soko gunung sekarang harus mulai tanggap apa yang akan terjadi sebelum pemilu tahun 2004, terutama bocah soko Gunung yang mati hidupnya tidak lepas dari keberadaan bumi dan air (Pasal 32 UUD 45) dari bawah Lereng Merapi.

Dalam perang Buto-Cakil dan Bambangan Satriyo bagus oleh Ki Dalang diuraikan dengan bahasa kiasan’ Ngetutake Lakune Sikil Budining Pengangen’ artinya Mengumpulkan koleksi Wayang kulit, juga ngetutake lakuning sikil budining pengangen, menulis dikoran juga ngetutake lakuning sikil budining pengangen dan seterusnya. Mas Bambang Haryanto mendokumentasikan penulis-penulis pembaca se-Indonesia itu juga termasuk ngetutake lakuning sikil budining pengangen-angen.

Budining pengangen-angen dari Yogya Utara dan dari Wonogiri Solo Selatan sudah tumbu oleh tutup, bagi saya kemampuannya hanya dapat menjembatani, namun demikian meskipun hanya menjembatani tetapi tanggung jawabnya juga tidak ringan, artinya jika saya mundur yang menang Buto-Cakil yang dibotohi Kongso Adu Jago, jika maju meskipun menang melawan Buto-Cakil namun menghadapi Kongso Adu Jago yang didekengi yo bondoku, yo donyaku, yo penguasaku jelas tidak ringan kecuali ada mukjizat dari Hyang Widhi.

Nglurug tanpo bolo, Sugih tanpo bondho, Menang ora ngasorake =
Surodiro Jayaningrat – Lebur Dening Pangastuti.

Setyaki Sesumbar Biso Rumongso

Lakon Burisrowo gugur atau sering disebut Lakon Bharatayudo timpalan, menurut ceritra Ki Dalang adalah bukan jasanya Raden Haryo Setyaki yang sering mendapat gelar banteng Dworowati sebelum perang Barotoyudo Joyobinangun.

Untuk menterjemahkan judul tulisan Setyaki Sesumbar biso Rumongso jelas tidak lepas dari Bp. R. Martomahargyo pengagum koleksi wayang dan mas Bambang Haryanto pemerhati mungkin juga pengagum penulis-penulis pikiran pembaca dan tentunya juga pemerhati penulis pikiran pembaca seri wayang yang dapat mengolah menjadi bacaan yang indah apakah hubungannya
R. Haryo Setyaki sampai mengakui kesalahannya menjadi biso rumongso, dalam perang melawan Burisrowo menurut ceritra Ki Dalang Haryo Satyaki pasti diberi gelar banteng Dworowati karena pasti dapat mengalahkan Burisrowo dan semua barisan kurowo.

Namun diluar dugaan, sesudah perang Barotoyudho dengan lakon timpalan ternyata Haryo Styaki tidak berdaya menghadapi Burisrowo dan tanpa dibantu botoh Pendowo Sri Batara Kresno dengan strategi yang jitu kerja sama dengan Harjuno akhirnya bahu Burisrowo timpal sampai dengan ajalnya dan Haryo Styaki tanpa mawas diri terus sesumbar sebagai Pahlawan perang Barotoyudho sebelum dipermalukan oleh botohnya Sri Batara Kresno. Para pemerhati bacaan falsafah wayang yang terhormat, tulisan ini memang saya alamatkan kepada para pemerhati tulisan saya yang sudah dipajang dipusat Jaringan Komunikasi yang betul-betul pemerhati masalah wayang mulai jaman Orla, Orba dan Orde Reformasi yang masih percaya bahwa ramalan-ramalan para Empu ,Wali, Pujonggo mulai jaman Hindu Kalimosodo sampai dengan Jaman Islam Kalimahsahadad dan Islam Kalimasilo atau Ponco-Silo mungkin akan mulai terkuak, dalam ajaran Wedo-Tomo falsafah jawa disebut Kang Ngalingi Kaliling, Wekasing roso tumawlung, Keksi Seliring Jaman.

Mari kami ajak kembali merenungi Banteng Dworoti, Banteng Orla, Banteng Orba, Banteng Mataram K.G.H. Haryo Purboyo almarhum putera Sultan Agung pada jaman V.O.C yang sumare di dekat Lapangan Udara Adisucipto.

Banteng Orla sebelum Orba berkuasa memang hebat seperti banteng Dworowati Haryo Styaki , namun sesudah Orla jatuh, bentengnya Orla tersebut lantas lupa sejarah, lupa kepada asal, mulanya lupa kepada falsafah wayang Haryo Styaki baikpun berjasa maupun tidak berjasa sesudah jaman Orba, Reformasi merasa maha paling berjasa dalam menumbangkan Orla Th 1965, meskipun sebetulnya hanya mbonceng Mahasiswa KAMI-KAPPI yang dipimpin Akbar-Tanjung, Abdul-Gaffur dan Cosmas Batubara.

Tulisan ini mudah-mudahan dapat dibaca oleh banteng-banteng Orla yang belum dapat menterjemahkan falsafah wayang lakon Burisrowo gugur. Jika setiap banteng Orla tidak perlu malu belajar dari banteng Haryo Styaki , silahkan sesumbar atau ngaku paling berjasa dalam segala bidang, namun harus ingat bahwa Proklamasi 17-8-1945 bukan hanya jasanya KAMMI, KAPPI Banteng Orla yang menepuk dada, poros NASAKOM, poros Tengah dsb-dsb, namun juga jasanya para perintis-perintis kemerdekaan tanpa mengharapkan imbalan jasa, juga bukan penjual jasa, dan tidak mimpi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Para pemerhati lakon Burisrowo gugur memperingatkan para wakil rakyat mulai jaman Orla, Orba, Reformasi sampai dengan Presiden Megawati mudah-mudahan segera menyadari ulah Haryo Setyaki yang dengan lapang dada berani mengakui kesalahannya dan akhirnya terus menang, minggat dari palagan Tegal-Kurusetra dan tidak perlu malu mengakui kesalahannya.

Coba jika setiap pemimpin yang merasa ilmunya belum melebihi Sri Batara Kresna segera sadar seperti Haryo Setyaki, jelas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasti jaya, betul-betul menjadi NKRI yang adil makmur gemah ripah Kerto Raharjo. Pemerhati dan pengagum falsafah wayang hanya dapat merenungkan kapan lahirnya pemimpin biso rumongso seperti Haryo Setyaki dan keberatan dipimpin yang bermental Romongso bisa tetapi malah membingungkan.

Bukan Bala Dewa Ilang Gapite

Bima bukan Bolodewo, oleh Ki Dalang Bimo dicritakan Yen kaku keno kinaryo pikulan, Yen Lemes keno kinaryo tali. Lain dengan Bolodewo. Bolodewo adalah figur wayang merasa rumongso bisa grusa-grusu, mudah marah jika gagal, main pukul dulu urusan belakang. Dari watak masing-masing figur wayang purwo inilah saya mengagumi falsafah Jawa lewat falsafah koleksi wayang purwo kagunganipun Bp.R.Martomahargyo.

Jika diantara warga di bawah Lereng Merapi ini ada pengagum wayang purwo berarti juga termasuk pengagum peninggalan-peninggalan sejarah kuno mulai jaman Hindu yang dapat meyakinkan para yunior-yunior generasi muda untuk dapat menyelamatkan warisan nenek moyang peninggalan jaman Hindu.

Bandingkanlah kehebatan wayang purwo dengan wayang gedog, wayang klitik, wayang golek, wayang suluh, wayang sadad, wayang wahyu dan lain-lain. Wayang-wayang yang saya tulis untuk studi banding tersebut selain lekas jenuh tetapi untuk bahan menterjemahkan apa hubungannya wayang Hindu Kalimosodo, Wayang Kalimahsahadat Islam sampai dengan lahirnya Kalimosilo,Poncosilo, Orla, Orba, Reformasi sungguh sangat sulit.

Para perintis-perintis group-group seni Jawa dibawah Lereng Merapi mulai jaman Belanda sampai dengan Jaman Reformasi yang tergila-gila terhadap falsafah gamelan dan falsafah wayang purwo dan dapat menterjemahkan figur-figur setiap wayang seperti judul-judul tulisan didepan pasti tidak rela jika peninggalan-peninggalan sejarah nenek moyang tersebut menjadi wastro lungsed ing sampiran.

Para pendiri Paguyuban Pelestari Budoyo Jowo (PPBJ) Th 1996 , para pendiri Pakem-Budoyo Tahun 2002, pasti tetap ingat sepanjang masa bahwa tanpa mendapat binaan yang mengagumi koleksi wayang, PPBJ HargoBinangun dan Pakem-Budoyo mungkin belum dikenal masyarakat di Yogya Utara.

Dengan lahirnya Jaringan Komunikasi Penulis Surat pemabaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia) yang menghimpun para pemerhati dan penulis fikiran pembaca se-Indonesia jelas merupakan dorongan semangat yang luar biasa untuk menuangkan idealisnya yang sebanyak-banyaknya, terutama bagi para seniman-seniman idealis yang merasa dipasung oleh Kongso Adu Jago mulai jaman Orba, Reformasi, dan seterusnya.

Para pemerhati, terutama para pengagum-pengagum falsafah Jawa di Yogya Utara meskipun sudah berumur di atas 80 tahun, tetapi bukan figur Bolodewo ilang gapite dengan adanya jalinan kerjasama antara para pandemen, pemerhati, pengagum falsafah Yogya Utara dengan Jaringan Komunikasi penulis-penulis pikiran pembaca se-Indonesia yang dipelopori mas Bambang Haryanto Kajen Timur 72 Wonogiri, marilah maju bersama-sama seperti Bismo, Seto, Kumbokarno, Karno tanding, biarpun gugur tetapi gugur meninggalkan:

? Gajah mati ninggal gading
? Macan mati ninggal lulang
? Manusia mati ninggal becik ketitik

Seperti jadah Bu Carik Kaliurang.

Hadiwardoyo
Purworejo Pakem Sleman YK

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 182 other followers

%d bloggers like this: