Javanese Encyclopedia

http://putripandanwangi.blogspot.com/2008/02/javanese-encyclopedia.html

Agama Ageming Aji Agama dalam pandangan orang Jawa sama dengan pedoman atau ageman yang berarti pakaian. Aji artinya raja atau mulia. Warga negara yang mulia tentu akan memperhatikan ajaran agama, ajaran leluhur sebagai yang tertera dalam Kitab Suci. Kewibawaan seorang pemimpin yang dituntun oleh ajaran agama akan terbebas dari perbuatan aniaya, nista dan hina yang dapat meruntuhkan derajat dan martabatnya. Prinsip kepemimpinan terhadap orang Jawa menuntut agar pemimpin selain memimpin secara formal juga pemimpin agama agar berkah dan adiluhung di depan pengikutnya. Kepemimpinan yang agamis selalu mementingkan kepentingan orang banyak dan menyantuni orang lemah. Mereka inilah ynag membuat pemimpin menjadi aji ‘berharga’.

Airlangga Pengganti Prabu Dharmawangsa Teguh adalah Airlangga. Nama kraton Medang, oleh Airlangga dirubah menjadi kraton Kahuripan. Kata kahuripan berasal dari kata urip yang berarti hidup. Jadi kahuripan berarti kehidupan yang setara dengan kraton Amarta milik Pandawa. Airlangga lahir di Bali tahun 922 Çaka atau 1000 Masehi. Ibunya bernama Mahendradata Gunapriya Dharmaputri. Ayahnya adalah Dharma Udayana Warmadewa, raja di Bali. Setelah dewasa diambil menantu oleh Sri Dharmawangsa Teguh. Ketika perkawinan Airlangga berlangsung, tiba­tiba kratonnya diserang musuh. Para pembesar negara dan raja banyak yang gugur. Airlangga bersama pembantunya, Narotama, melarikan diri ke puncak gunung untuk mohon perlindungan para pertapa (Zoetmulder, 1985). Putri Airlangga yang bernama Dewi Sanggramawijaya dipersiapkan menjadi pengganti penguasa Kahuripan namun dia menolak menjadi raja. Dia memilih menjalani hidup sebagai pertapa di Pucangan tahun 963 Çaka. Dewi Sanggramawijaya ini disebut juga dengan nama Dewi Kilisuci, Rara Sucian atau Rara Pucangan. Akhirnya beliau berhasil menduduki tahta mertuanya kembali. Kehidupan sastra budaya sangat diperhatikan. Empu Kanwa disuruh menulis Kakawin Arjuna Wiwaha. Kraton Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua: Kraton Panjalu (Kediri) dengan ibukota Dahanapura. Rajanya adalah Samara Wijaya; Kraton Jenggala, dengan rajanya bernama Garasakan. Airlangga wafat pada tahun 10 Çaka atau 1079 Masehi. Makamnya di Tirta. Menantu sang raja yang bernama Airlangga, putra mahkota raja Udayana dari Bali, telah berhasil melakukan konsolidasi untuk menyelamatkan kraton warisan mertuanya. Kraton Medang kemudian diubah namanya menjadi Kraton Kahuripan. Ketentraman kraton dapat dipulihkan oleh Airlangga, menantu Raja Dharmawangsa, yang berasal dari Bali putra Udayana. Pada masa Raja Airlangga ini disusun Kitab Arjunawiwaha. Pengarangnya adalah Empu Kanwa, sebagai persembahan pada Raja Airlangga yang berjuang memulihkan stabilitas negara antara tahun 1028-1035 dan mengalahkan Raja Wengker. Maklumatnya yang terakhir ditulis pada tahun 1042 Masehi (Zoetmulder, 1985: 309). Raja Airlangga bertahta sekitar tahun 941-964 Çaka atau 1019-1042 (Poerbatjaraka, 1957: 17). Raja Airlangga menjelang mangkatnya membagi kraton menjadi dua penghubung, Jenggala dan Kediri (Zoetmulder, 1985: 22). Dua kraton ini dalam kisah-kisah kesusastraan Jawa mengilhami para pujangga untuk menciptakan karya romantis yitu cerita Panji. Cerita Panji mengisahkan perjalanan Panji Asmarabangun yang menjalin asmara dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Ceita ini sering dipentaskan dalam bentuk drama tradisional, yaitu kethoprak.
Ajining Diri Saka Lathi Setiap orang harus memahami konsep ajining diri saka lathi yang artinya harga diri seseorang itu dinilai dengan apa yang keluar dari lidahnya. Suara yang manis, sopan, dan merdu bisa membuat rasa simpati. Sebaliknya, suara yang keras, kasar, tidak memperhatikan perasaan orang lain, akan menimbulkan masalah dan meruntuhkan harga dirinya. Penghargaan orang terhadap orang lain banyak bersumber dari tutur kata. Apa bila tutur kata itu mengenakkan hati, tentu orang lain akan senang, teduh, dan dihormati. Sebaliknya tutur kata sinis, pedas, caci maki akan mendatangkan rasa benci dari pihak lain. Dalam pergaulan sedapat-dapatnya orang itu berbuat kebajikan dalam bertutur kata. Kata peparah Arab: setajam-tajam pedang masih tajam lidah. Luka fisik bisa diobati, tetapi luka hati tiada obatnya. Oleh karena itu sebelum diucapkan, hendaknya kata-kata yang akan keluar dari mulut dipikirkan dengan masak­masak.
Ajining Salira Saka Busana Setiap orang harus memahami konsep ajining sarira dumunung ing busana artinya badan jasmani seseorang akan dihargai jika dibungkus dengan busana yang pantas. Pantas tidak cukup berarti harus mahal dan mewah, tetapi cukuplah sopan dan sesuai lingkungan. Masing-masing kelompok sosial mempunyai tradisi berbusana yang berbeda. Busana kelompok tersebut merupakan kebanggaan dan kebesaran kolektif. Seragam militer misalnya menimbulkan rasa bangga dan gagah bagi prajurit. Pakaian adat membuat bangga bagi suku yang bersangkutan. Oleh karena itu orang harus bisa membawa diri dalam berpakaian. Cara berpakaian yang luwes akan membuat mudah bergaul dengan segala lapisan sosial. Pakaian menggambarkan jiwa seseorang yang mudah dinilai pihak lain.
Ala Ketara Ala artinya keburukan, ketara artinya tampak. Keburukan itu walaupun ditutupi dengan apapun pasti lama-lama akan tampak juga, sebagaimana bau bangkai yang busuk tidak dapat ditutupi. Bagi pihak yang merasa dirugikan atau menjadi korban sudah tentu akan mengambil reaksi dan pihak yang bersengaja menyembunyikan keburukan itu akhirnya hanya akan mendapat malu. Perbuatan yang buruk, lambat atau cepat akan tercium. Contohnya untuk kasus pembunuhan orang, lama atau cepat pasti pelakunya dapat ditangkap, setidak-tidaknya ketahuan. Proses tersingkapnya bisa dengan sengaja atau tidak sengaja atas petunjuk Tuhan. Orang yang melakukan perbuatan jahat hatinya pasti akan diliputi kecemasan, kuatir, was-was, tidak tenang dan merasa bersalah. Oleh karena itu tidak patut keburukan macam apapun ditutupi, sebaiknya secara jantan kita mengakui perbuatan itu agar mempermudah proses hukum.
Alon-alon Waton Kelakon Alon-alon berarti pelan-pelan dalam menjalankan tugas. Kelakon berarti tercapai. Alon-alon waton kelakon mempunyai makna biar pelan asalkan kesampaian apa yang diingini. Pengertian alon-alon di sini adalah tindakan yang penuh dengan kecermatan dan perhitungan agar tidak tergelincir dan terpeleset sehingga terhindar dari kerugian. Alon-alon yang benar mengandung unsur hati-hati, teliti, sopan dan berkelanjutan. Bagi pelakunya sering mendatangkan kritik, karena pihak pengamat melihatnya sebagai sesuatu yang lamban mendatangkan hasil untuk dinikmati. Kalau pekerjaan sudah selesai dan hasil telah tampak, orang lain dengan sendirinya mengakui. Kecaman dan umpatan dengan sendirinya menghilang. Kelakon atau kesampaian merupakan buah dari alon-alon yang benar.
Amemangun Karyenak Tyasing Sesama Amemangun karyenak tyasing sasama yaitu membuat hati orang lain senang lewat tutur kata, senyum manis, salam hormat, tata bahasa, pilihan kata yang baik, tegur sapa hangat, pujian sepantasnya, mimik muka empati dan perilaku sopan yang dapat meringankan beban sesama hidup. Sedekah yang murah dan mudah adalah sikap ramah-tamah. Syukur-syukur kalau mau membagi rezeki kepada pihak yang amat membutuhkan. Amalan sedekah, infaq, dan zakat dapat menyalurkan pemerataan. Kita sesama tahu bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin dapat menyebabkan kecemburuan sosial. Demikianlah ungkapan amemangun karyenak tyasing sesama adalah sebuah usaha untuk mewujudkan agar orang lain senang hati dan tentram di samping kita. Dengan ketentraman setiap orang di sekeliling kita, maka kita berarti telah menciptakan ketentraman masyarakat dan negara.
Ana Catur Mungkur Konsep ana catur mungkur artinya menghindari perdebatan atau pembicaraan yang tidak layak. Perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya hanya menguras tenaga dan pikiran. Bersilat lidah yang hanya mengejar kepuasan diri berujung pada silang sengketa yang tidak menguntungkan. Ada pepatah dikenaa iwake aja buthek banyune ‘ambillah ikannya tapi jangan sampai keruh airnya’, memberi amanat agar seseorang menimbang-nimbang segala perbuatannya. Setiap tujuan tentulah berharap baik hasilnya, namun cara mencapainya itu jangan sampai menimbulkan kegoncangan yang dapat memperkeruh suasana. Hal ini disebabkan disekitar lingkungan itu masih ada pihak yang tidak terlibat tetapi ikut pula menanggung resikonya. Ana catur mungkur berarti menghindari silat lidah, biar keadaan dingin dulu. Bukan berarti lari dari masalah, tetapi menunda sementara. Apalagi hanya berupa pembicaraan-pembicaraan rendah yang tidak bermutu.
Andhap Asor Sikap andhap asor berarti rendah hati. Di sini harus dibedakan antara rendah hati dengan rendah diri. Rendah hati mengandung makna tidak mau menonjolkan diri, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan. Sedang rendah diri mengandung makna minder, karena eksistensi dan potensinya tidak ada. Andhap asor sejajar maknanya dengan nglembah manah. Orang Jawa sangat mengutamakan sifat andhap asor, bila berhubungan dengan sesama hidup. Watak andhap asor tidak mudah dijerumuskan oleh puji-pujian. Apabila terpeleset hanya karena gila hormat. Kalau dicela pihak lain ia tidak akan marah, justru untuk sarana mawas diri, sehingga mampu mengadakan perbaikan. Umpatan dan hinaan dari luar dianggap hanya sebagai kritik konstruktif.
Anteng Anteng bermakna tenang, halus, indah tapi berbobot. Ada pepatah: air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, yaitu larangan untuk meremehkan hal-hal yang kelihatan remeh yang tak berdaya. Sikap anteng akan menimbulkan kewibawaan dan mendatangkan rasa hormat dari pihak lain. Dalam proses belajar mengajar, sikap anteng itu sangat diperlukan. Guru akan merasa dihargai jika muridnya bersikap anteng. Dengan sikap anteng berarti murid memperhatikan dan memahami ajaran gurunya. Suasana gaduh akan membuat pelajaran tidak bisa dipahami dan emosi mudah terbakar. Dalam forum resmi sikap anteng diperlukan demi kelancaran hal yang sedang dibicarakan. Keputusan yang dihasilkan oleh forum yang anteng pesertanya maka hasilnya akan lebih jernih. Dalam kehidupan sehari-hari pribadi yang anteng bisanya mampu berpikir lebih jernih untuk memecahkan berbagai persoalan.
Apurancang Ketika berhadapan dengan pemimpin, orang Jawa bertata sikap ngapurancang, yaitu tangan hikmat sebagai tanda hormat. Penghormatan kepada pemimpin dilakukan sebagai kewajiban supaya mendapat berkah ketentraman karena keselarasan hidup dapat diperoleh hanya dengan berlaku harmonis dengan lingkungan dan pamong praja. Tiap ada upacara Jawa, para pemuda tanpa diperintah akan berbondong-bondong untuk menyumbangkan tenaga. Kalau seorang pemuda Jawa hendak merantau terlebih dahulu dia akan sowan, minta doa kepada pemimpinnya. Mereka belum merasa lega sebelum menghadap pemimpin yang dianggap sebagai sesepuh.
Arisan Arisan sudah sangat umum di masyarakat Indonesia. Hampir setiap kampung ada tradisi arisan, karena dapat digunakan sebagai sarana berkumpul demi persaudaraan. Di sela-sela acara arisan itu biasanya diselipkan acara lain yang mudah, murah meriah dan bermanfaat. Saat arisan itulah komunikasi antar warga terjalin dengan akrab. Dari situ pula kegiatan-kegiatan bersama dimusyawarahkan dan dirancang. Secara umum, arisan tidak diselenggarakan dengan azas formal, melainkan atas aspirasi murni dari warganya, minim kepentingan, ringan, meringankan, sukarela dan terbuka bagi banyak kalangan dan bersifat rekreatif. Arta Arta atau harta berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti alat. Harta dapat bermakna sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Apapun bentuknya arta atau harta tetaplah hanya alat, bukan suatu tujuan. Bagi mereka yang sudah menikah diharapkan bekerja dengan tekun agar tercukupi kebutuhannya. Kebutuhan terpenuhi dengan harta. Anak istri yang tercukupi secara materiil menunjukkan sikap tanggung jawab kepala rumah tangga.
Kehormatan dan kebahagiaan keluarga akan terjaga bila ekonominya tidak morat-marit. Silang sengketa antara suami istri sering terjadi hanya karena kekurangan harta dan mudah sekali kemarahan tersulut.
Arupadhatu Merupakan simbol alam atas tempat bersemayamnya manusia yang telah mencapai kesempurnaan hidup, insan kamil, makrifat dan waskitha ngerti sadurunge winarah.
Astabrata Orang Jawa suka dengan referensi kepemimpinan menurut Lakon Wahyu Makutharama. Lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah astabrata, yang berarti delapan prinsip meniru filsafat matahari, bulan, langit, bintang, air, api, laut dan angin. Ajaran astabrata memberikan kesadaran kosmis bahwa dunia dengan segala isinya mengandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan Jawa dikenal dengan ungkapan sabda pandita ratu tan kena wola-wali. Maksudnya seorang pemimpin harus konsekuen untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah dikatakan. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai orang yang bersifat berbudi bawa laksana yaitu teguh berpegang pada janji.
Asta Dasa Kotamaning Prabu Asta Dasa Kotamaning Prabu atau 18 ilmu kepemimpinan Jawa dari jaman keemasan Kerajaan Majapahit di bumi Nusantara ini. Ke-18 prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut, yakni : Wijaya, artinya seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan; Mantriwira, artinya seorang pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun; Natangguan, artinya seorang pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan; Satya Bakti Prabu, artinya seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa; Wagmiwak, artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya; Wicaksaneng Naya, artinya seorang pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat; Sarjawa Upasama, artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa; Dirosaha, artinya seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum; Tan Satresna, maksudnya seorang pemimpin tidak boleh memihak/pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama; Masihi Samasta Buwana, maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan/Hyang Widi dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik­baiknya demi kesejahteraan rakyat; Sih Samasta Buwana, maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya; Negara Gineng Pratijna, maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya; Dibyacita, maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya; Sumantri, maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa; Nayaken Musuh, maksudnya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri; Ambek Parama Arta, maksudnya seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum; Waspada Purwa Arta, maksudnya seorang pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan; Prasaja, artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana, tidak berfoya­foya atau serba gemerlap.
Ayem Seorang orang dituntut untuk mampu menciptakan suasana ayem. Suasana batin yang tenang, tidak ambisius, menerima dan tidak terpancing oleh perubahan yang mengagetkan disebut ayem. Hidup dipandang sebagai menjalankan takdir Tuhan, saderma nglakoni. Tidak ada konsep kalah menang dalam persaingan. Semua menjalani garis hidupnya masing-masing. Dalam alam pedusunan, suasana ayem sangat menonjol. Perasaan senasib sepenanggungan, seiring sederita, menciptakan solidaritas yang sangat kuat yang buahnya adalah keikhlasan untuk saling membantu. Oleh sebab itulah kekerasan jarang dijumpai di desa-Jawa, karena didorong oleh suasana kekeluargaan yang ayem.
Ayom Ayom berarti teduh, sejuk dan terlindungi. Orang yang berjiwa ayom berarti bisa dijadikan tempat berteduh, tempat berlindung yang menyejukkan. Pemimpin bagi rakyat desa adalah pengayoman. Ia berkewajiban menciptakan rasa ayem-ayom yang dipimpinnya. Prinsip seorang pemimpin yaitu menciptakan kesejahteraan anak buah terlebih dahulu, baru dirinya berhak mengenyam kenikmatan. Kalau prinsip ini tidak dilaksanakan, maka solidaritas anak buah akan memudar dan pelan-pelan akan meninggalkan pemimpinnya, dan dengan sendirinya mereka akan mencari pengayoman baru. Lebih tragis lagi kalau seseorang hanya mengejar kenikmatan dan itu dilakukan dengan penuh tipu muslihat. Pemimpin demikian hari jatuhnya tinggal menunggu waktu. Seorang pemimpin yang tulus dan bisa memberi pengayoman maka jika pergi akan ditangisi oleh anak buahnya. Sebaliknya pemimpin yang tidak bisa memberi pengayoman, kepergiannya akan disambut dengan tawa dan kelegaan hati anak buah.
Bancakan Bancakan adalah upacara sedekah makanan karena suatu hajat leluhur, yaitu yang berkaitan dengan problem dum-duman ‘pembagian’ terhadap kenikmatan, kekuasaan, dan kekayaan. Maksudnya supaya terhindar dari konflik yang disebabkan oleh pembagian yang tidak adil. Upacara bancakan sering digunakan dalam acara bagi waris, sisa hasil usaha dan keuntungan perusahaan. Harapannya agar masing-masing pihak merasa dihargai hak dan jerih payahnya sehingga solidaritas anggota terjaga. Di mana-mana solidaritas mudah dibangun dalam suasana terjepit. Akan tetapi sulit dicapai dalam masa pembagian keuntungan karena orang cepat lupa diri, ingin saling jegal dan cenderung menang sendiri. Upacara bancakan dimaksudkan untuk menghindari hal tersebut.
Bathok Bolu Isi Madu Bathok bolu isi madu mempunyai makna orang yang tampaknya sederhana namun memiliki bobot pribadi yang berkualitas. Bathok bolu adalah tempurung kelapa yang jelek rupanya. Meskipun tempurung kelapa tetapi mengejutkan karena berisi madu yang manis. Orang rendahan yang merasa tidak cantik rupawan harus menutupi kekurangan dirinya dengan kepribadian yang menarik, yang meliputi aspek moral, intelektual dan sosial. Moralitas dan intelektualitas yang handal juga suatu daya tarik yang tinggi. Keduanya mudah mengundang perhatian dan kagum dari pihak lain. Bahkan ketajaman intelektual dapat merekrut banyak pengikut. Oleh karena itu sebaiknya tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain. Di balik kekurangan fisik belum tentu kekurangan nilai dalam dirinya, siapa tahu tersembunyi madu manis di dalamnya.
Basuki Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur menggunakan semboyan “Jer Basuki Mawa Beya”. Artinya adalah cita-cita untuk memperoleh kesejahteraan pasti memerlukan biaya. Biaya di sini bisa berarti tenaga, semangat dan kemauan. Di samping menunjuk pada soal kesejahteraan, kata basuki juga mengandung makna keselamatan. Misalnya puji memuji: manggiha basuki, mugi kalis ing sambikala. Artinya saling mendoakan agar mendapat keselamatan terbebas dari segala gangguan. Basuki, lestari, widada, slamet, sugeng, yuwana, raharja, rahayu, semuanya mengandung makna harapan akan keselamatan. Nama anak yang menggunakan istilah basuki di Jawa juga sangat banyak.
Bawa Leksana Arti ungkapan bawa leksana adalah menepati dan menetapi kata-kata. Sabda brahmana raja sepisan kudu dadi tan kena wola-wali, mengandung makna bahwa perkataan ulama dan umara itu harus bisa dipegang. Oleh karena itu sebelum diucapkan harus dipikirkan masak-masak. Raja dan brahmana merupakan figur panutan yang diikuti oleh banyak orang. Idiom esuk dhele sore tempe hanya patut diucapkan oleh pedagang di pasar yang hanya mengejar laba tak memikirkan dampak kata-katanya. Sangat berbahaya bila pemuka masyarakat cepat-cepat berubah ucapannya hanya untuk menuruti selera sesaat. Orang yang mencla-mencle akan menyusahkan. Lire kang bawa leksana anetepi pangandika adalah suatu ungkapan yang penuh dengan prinsip luhur yang perlu dipraktikkan para pemimpin.
Becik Ketitik Becik ketitik bermakna bahwa suatu kebenaran akhirnya pasti akan diketahui juga. Untuk mencapai kebenaran banyak sekali halangannya. Apalagi upaya untuk mencapai kebenaran itu bersangkut paut dengan kepentingan dan kehormatan orang lain, tentu akan menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang diuntungkan cenderung untuk mendukung, sementara orang yang dirugikan akan cenderung untuk meragukan bahkan menolak. Contoh mudah adalah penanganan hukum yang terkait kasus politik. Setelah melampaui waktu yang panjang hingga berganti pemain dan generasi, kebenaran dan kesalahan akan mudah tampak. Tidak sulit-sulit untuk menganalisis, mana yang benar dan mana yang salah akan dengan mudah dilihat.
Beda Bidang politik senantiasa mengundang konflik. Politikus harus pandai-pandai membawa diri dalam manajemen konflik. Di sini konsep beda harus dipahami sebagai keniscayaan dalam kepemimpinan. Sifat kepemimpinan di mana saja menimbulkan polarisasi dalam masyarakat, sehingga struktur sosial terpecah-pecah. Kadang-kadang lalu membuat ketegangan, percekcokkan, persengketaan malah lebih keras lagi peperangan. Hasilnya dapat ditebak, banyak korban harta, benda, jiwa dan raga. Korban politik itu membuat pilu dan sedih rasa kemanusiaan. Perbedaan yang majemuk itu harus dikelola sebaik-baiknya sehingga tidak berubah menjadi kerusuhan yang meluas. Apresiasi terhadap kehidupan seluruh elemen masyarakat seabaiknya terus-menerus dilakukan agar mudah dikaji.
Bener Ketenger Seperti ungkapan becik ketitik, segala tindakan yang benar itu akhirnya akan nampak dengan jelas. Demikian juga arti dari ungkapan bener ketenger. Kebenaran yang didukung dengan logika akan lestari. Kebenaran yang logis akan membuat rasa kagum yang layak didukung. Para pemimpin biasanya membawa kebenaran logis bagi pengikutnya. Hal ini karena gagasan­gagasannya yang muncul bisa dipahami secara nalar dan oleh karena itu layak disokong. Bahkan kebenaran yang diterima secara fanatik, pengikutnya berani berkorban apa saja. Para pemimpin yang miskin misi dan visi lambat laun akan ditinggalkan oleh pendukungnya. Daya tariknya akan habis karena pribadinya tidak menjanjikan apapun untuk diikuti lagi.
Ber Budi Maksud ungkapan ber budi adalah sikap seorang pemimpin yang murah hati, suka memberi ganjaran, berdana ria dan selalu memikirkan kesejahteraan bawahan dan rakyatnya. Pemimpin memiliki kesempatan yang berlimpah ruah untuk mengumpulkan kemakmuran, kenikmatan dan kehormatan tanpa banyak harus bersusah payah. Namun bila hasilnya tidak disebarkan secara merata dan adil maka kenikmatan itu akan menjelma menjadi senjata makan tuan. Bahkan suatu saat akan menjatuhkan diri dan martabatnya. Ungkapan ber budi maknanya asring paring dana. Tindak kongkritnya yaitu anggeganjar saben dina yang bermakna seorang pemimpin yang pemurah, kreatif, inovatif serta memiliki kepribadian agung.
Blaka
Blaka artinya terbuka, tidak ditutupi, apa adanya, transparan dan tidak takut bila diketahui
semua isi hatinya. Sikap blaka biasanya diberikan kepada orang khusus yang sudah akrab,
bersahabat dan hubungannya dekat sehingga tidak membahayakan. Orang blaka umumnya tidak
memiliki maksud tersembunyi seperti kata pepatah: ada udang di balik batu. Dia berbicara
tanpa beban, lepas dan tidak gampang marah, sehingga dalam pergaulan mudah diterima oleh
berbagai kalangan. Namun ada kekurangannya, orang blaka kadang-kadang keceplos, yang
membuat pihak lain kaget bahkan tersinggung. Meskipun demikian orang blaka mudah minta
maaf dan memaafkan kesalahan orang lain.

Borobudur
Candi Borobudur terletak di Magelang dengan dikelilingi gunung Merapi, Merbabu, Sumbing,
Sindoro dan Menoreh. Di dekat juga terdapat Candi Pawon, Candi Mendut dan Candi Sewu.
Ketiga candi ini adalah warisan Dinasti Syailendra yang memerintah antara tahun 778 – abad 10
di Jawa Tengah. Dinasti Syailendra berasal dari India. Istilah Borobudur berasal dari kata bara =
biara, budur = tinggi. Bangunan Candi Borobudur terdiri dari tiga bagian yaitu: kamadhatu,
rupadhatu, dan arupadhatu.

Brawijaya V (1468-1478)
Brawijaya V menjadi memegang tahta Majapahit selama 10 tahun. Tidak diduga sama sekali
jika ia akan menjadi raja Majapahit yang terakhir, karena setelah beliau, kerajaan adidaya ini
melemah dan kemudian terjadi perebutan kekuasaan kembali. Pada saat konflik di istana
memuncak, di pesisir utara Jawa, orang-orang Islam sudah semakin kuat, apalagi semenjak
datangnya para wali dan ikut mempengaruhi perkembangan masyarakat Jawa. Pada saat
pemerintahan Brawijaya V ini, kekuasaan Majapahit sudah merosot tajam. Ia hanya mewarisi
daerah Jawa bagian tengah dan timur saja. Daerah-daerah lain sudah tidak ada kontak
kekuasaan lagi. Menurut satu riwayat, Brawijaya V meninggal ketika istana Majapahit diserang
oleh Rana Wijaya dari Keling. Kekuasaan Majapahit di tanah Jawa pun mulai tersaingi dengan
kekuatan agama baru, yakni agama Islam. Di Gresik, muncul Kewalian Giri yang awal mulanya
hanya semacam pesantren dengan kekuasaan ilmu dan spiritual saja. Akan tetapi, lama-lama
menjadi semakin kokoh menjadi kekuatan politik juga. Daerah-daerah pesisir menjadi tempat
konsentrasi pengembangan dakwah para wali. Kadipaten-kadipaten di pesisir utara telah
diislamkan dengan baik oleh para wali, sperti Tuban, Gresik, Sidayu, Jepara, Rembang, Demak,
Pekalongan, Cirebon dan Banten. Oleh kekuatan Islam ini, Majapahit terdorong ke daerah
Pedalaman dan semakin sulit berhubungan dengan daerah luar. Sementara itu, agama Islam
pun merangsek ke pedalaman sehingga posisi Majapahit benar-benar menyempit dan mengecil.
Prabu Brawijaya V mungkin tidak begitu menyadari akan hal ini. Bahkan beliau sendiri
mengambil selir seorang putri Cina yang sudah masuk agama Islam. Putri Cina tersebut
mempengaruhi keagamaan Prabu Brawijaya V. Sementara kadipaten-kadipaten di daerah
pedalaman yang masih setia dengan agama Buda, kecewa dengan Prabu Brawijaya V yang
dianggap lemah. Misalnya Kadipaten Ponorogo yang waktu itu dikuasai oleh Suryangalam
hendak memisahkan diri dengan Majapahit karena menganggap Majapahit tidak mampu lagi
dijadikan payung. Dalam kondisi politik yang demikian para wali bertindak cepat mengambil
simbol kerajaan Majapahit dan memboyongnya ke Demak, dan mendirikan kerajaan Islam
pertama kali di Jawa.

Bre Kertawijaya (1147-1451)
Suhita digantikan oleh adik tirinya, Kertawijaya (1447-1451). Kemudian cerita sejarah dan
pergantian raja-rajanya setelah 1451 tidak dapat diketahui dengan pasti. dari kitab Pararaton
kita kenal raja Raja Suwardhan sebagai pengganti Kertawijaya, tetapi ia berkraton di Kahuripan
dari tahun 1451 sampai 1453. Pada waktu itu masih terjadi pergolakan keabsahan atas tahta
Majapahit. Oleh karena itu Kertawijaya mengambil langkah mengadakan rekonsiliasi antara
seluruh trah Prabu Kertarajasa, pendiri Majapahit. Salah satu langkahnya adalah mengambil
gelar Brawijaya I. Bra artinya raja, Wijaya artinya keturunan Raden Wijaya. Langkah
rekonsiliasi ini rupanya cukup efektif, terbukti pada masa kekuasaannya ketegangan mereda

dan perang saudara redam. Pada masa kekuasaan Brawijaya I ini tidak banyak yang diberitakan, karena pemerintahannya tidak lama, hanya empat tahun. Pada tahun 1451 beliau meninggal dunia dan dikuburkan di Kertawijaya pura.
Bre Pandan Salas (1466-1468) Sesudah Brawijaya III wafat beliau digantikan oleh Bra Pandan Salas dengan gelar Brawijaya IV. Beliau juga menempati istana Tumapel. Baru dua tahun lamanya ia berkuasa, kemudian menarik diri menjadi pertapa. Pada dasarnya, Brawijaya IV ini memang bukan seorang politikus, melainkan seorang pertapa yang lebih suka mendalami laku-laku ruhaniah menurut agama Buda. Oleh karena itu, diangkatnya beliau menjadi raja Majapahit tidak membuat beliau gembira. Malahan menjadi beban yang membebani kesukaannya berulah ruhani. Karena itu baru dua tahun Brawijaya IV ini memegang tampuk kekuasaan, segera lengser keprabon dan digantikan oleh putranya, Brawijaya V. Bhre Pandansalas yang nama aslinya Suraprabhawa dan bernama resmi Singhawikramawardhana, berkraton di Tumapel selama 2 (dua) tahun. Dalam tahun 1468 ia terdesak oleh Kertabhumi (anak bungsu Rajasawardhana), yang kemudian berkuasa di Majapahit. Sedangkan Singhawikramawardhana memindahkan kekuasaannya ke Daha, dimana ia wafat di tahun 1474.
Bre Wengker (1456-1466) Pada tahun 1456, Bre Wengker atau Hyang Purwawisesa diangkat menjadi raja Majapahit dan bergelar Brawijaya III. Beliau memerintah selama 10 tahun lamanya. Namun, Brawijaya III ini juga tidak menempati istana Majapahit, melainkan istana Tumapel. Dalam waktu 10 tahun tersebut, Baginda mengirimkan utusan ke Tiongkok sebanyak dua kali.
Buwuh Buwuh adalah menyumbangkan barang pada orang yang mempunyai hajat yang dilakukan oleh ibu-ibu. Sewaktu pulang biasanya diberi oleh-oleh oleh tuan rumah. Tradisi buwuh dahulu berbeda dengan tradisi sekarang yang sumbangannya berwujud uang. Dahulu sumbangan itu berwujud bahan makanan seperti beras, gula, tahu, tempe, teh, kopi atau mie. Sumbangan model uang yang dimasukkan dalam amplop tidak dikenal. Kalau direnungkan sumbangan model barang jelas lebih repot, akan tetapi lebih mengesankan. Pada saat sekarang di mana segala sesuatunya dinilai berdasarkan nilai uang, mungkin budaya buwuh tidak bisa dilakukan lagi, terutama di perkotaan. Akan tetapi bisa dimodifikasi berupa souvenir yang bisa memberikan nilai dan keakraban tersendiri. Hal ini cenderung akan menimbulkan kreativitas.
Catur Darma Raja Prinsip catur darmaning raja adalah empat sifat utama bagi seorang pemimpin sebagai panglima militer, yaitu : Jana Wisesa Suda, yaitu seorang panglima militer hendaknya menguasai segala macam ilmu pengetahuan, baik teknologi, kemiliteran maupun ilmu pengetahuan agama spiritual secara teori ataupun praktek; Kaprahitaning Praja, yaitu seorang panglima harus mempunyai perasaan belas kasihan kepada bawahan dan berusaha mengadakan perbaikan kondisi; Kawiryan, yaitu seorang panglima harus mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah; Kawibawan, yaitu seorang panglima harus memiliki kewibawaan terhadap rakyat, sehingga setiap perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat terealisasi.
Catur Kamulyaning Nerpati Catur Kamulyaning Nerpati adalah empat sifat utama bagi seorang negarawan yaitu : Jalma Sulaksana, yaitu seorang pemimpin hendaknya menguasai ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan dan teknologi maupun ilmu pengetahuan agama spiritual secara teori ataupun praktek. Praja Sulaksana, yaitu mempunyai perasaan belas kasihan kepada rakyat dan berusaha mengadakan perbaikan kondisi masyarakat. Wirya Sulaksana, yaitu mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah. Wibawa Sulaksana, yaitu memiliki kewibawaan terhadap rakyat, sehingga setiap perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat terealisasi.
Catur Praja Wicaksana Catur Praja Wisakcana adalah empat sifat dan tindakan yang bijaksana yang hendaknya dilakukan oleh seorang pemimpin/negarawan yaitu : Sama, yaitu selalu waspada dan siap siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik yang datang dari dalam maupun dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah. Beda, yaitu memberikan perlakuan yang sama dan adil tanpa perkecualian dalam melaksanakan peraturan bagi rakyat sehingga tercipta kedisiplinan dan tata tertib dalam masyarakat. Dana, yaitu mengutamakan sandang, pangan pendidikan dan papan guna menunjang kemakmuran rakyat serta memberikan penghargaan bagi warga yang berprestasi. Memberikan gaji bagi para pekerja sebagai balas jasa dari pekerjaan yang dibebankan sesuai dengan peraturan yang berlaku agar dapat mencukupi kehidupan keluarganya. Danda, yaitu menghukum dengan adil kepada semua yang berbuat salah/melanggar hukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya.
Catur Purusa Arta Catur Purusa Arta artinya empat tujuan hidup manusia. Keempat tujuan hidup tersebut terjalin erat sehingga disebut Catur Warga. Catur berarti empat, dan Warga berarti terjalin erat. Dalam serat suci tujuan agama Hindu adalah Jagadita dan Moksa. Jagadita artinya kesejahteraan hidup di dunia, dan Moksa artinya kebebasan yang kekal dan abadi adalah bersatunya Atman dengan Tuhan. Catur Purusa Arta terdiri dari : Darma. Darma mempunyai pengertian yang sangat luas. Darma berarti segala perilaku yang luhur. Perilaku yang luhur ialah perilaku manusia yang sesuai dengan ajaran agama. Ajaran agama menuntun, membina, dan mengatur hidup manusia sehingga mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin. Kewajiban untuk berbuat kebajikan adalah Darma. Jadi Darma juga berarti kebajikan. Ada dua kewajiban yang harus dilaksanakan yaitu : Swa Darma artinya kewajiban sendiri, karen asetiap orang punya kewajibannya sendiri-sendiri. kedua adalah Para Darma artinya menghormati dan menghargai tugas dan kewajiban orang lain. Tidak memandang rendah kewajiban orang lain. Dalam serat suci disebutkan manfaat Darma itu adalah : Darma adalah alat untuk mencapai sorga dan kesempurnaan atau moksa, Darma menghilangkan segala macam penderitaan, Darma adalah sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakannya, Darma dapat melebur dosa-dosa, Darma adalah harta kekayaan orang yang saleh yang tidak bisa dicuri dan dirampas, Darma adalah landasan untuk mendapatkan Arta dan Kama. Arta. Arta disini berarti harta benda. Harta benda dapat diartikan kekayaan. Dalam hidup ini manusia perlu harta benda. Dalam ajaran agama Hindu, tidak dilarang untuk memiliki harta benda atau kekayaan. Asalkan harta benda dan kekayaan itu didapat dengan jalan yang benar, jalan yang sesuai dengan Darma. Arta atau kekayaan itu hendaknya dibagi tiga : Untuk mencapai Darma, misalnya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yadnya, menolong orang melarat, memperbaiki bangunan suci dll., Sarana untuk memenuhi Kama, misalnya keperluan hidup sehari-hari, berpakaian, olah raga, kesenian, rekreasi, dll., Sarana melakukan usaha dalam bidang Arta agar berkembang kembali, misalnya untuk usaha, tabungan, dan kegiatan ekonomi lainnya sehingga Arta itu semakin berkembang; Kama Kama berarti hawa nafsu atau keinginan. Keinginan dapat memberikan kenikmatan dan tujuan hidup. Dalam hidup ini orang memerlukan kenikmatan dan kenikmatan itu diperoleh bila keinginan itu sudah dipenuhi. Keinginan atau hawa nafsu ini timbul karena manusia memiliki indra. Moksa, berarti kebebasan hidup yang kekal dan abadi. Bebas dari semua ikatan benda-benda duniawi serta bersatunya Atman dengan Brahman (Tuhan). Moksa adalah tujuan akhir dari kehidupan manusia. Setiap orang wajib untuk mencapainya. Orang yang mencapai Moksa akan terbebas dari hukum Karma Phala dan Punarbawa artinya penjelmaan yang berulang-ulang. Moksa juga disebut Mukhti, yaitu kebabasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langsung : 1) Jiwan Mukhti adalah Moksa yang dicapai pada waktu masih hidup, 2) Moksa adalah persatuan Atman dengan Brahman dengan meninggalkan mayat, 3) Adi Moksa adalah persatuan Atman dengan Brahman dengan meninggalkan abu jenasah, 4) Parama Moksa adalah persatuan Atman dengan Brahman dengan tidak meninggalkan bekas. Dalam ajaran agama Hindu disebutkan ada empat jalan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman yang disebut Catur Marga.
Cegah Dhahar
Cegah dhahar berarti mengurangi makan dengan maksud mengasah ketajaman pikiran dan
kepekaan hati. Melakukan puasa dengan rutin dapat dijadikan contoh laku cegah dhahar. Badan
yang lemah karena perut kosong lebih mudah diajak untuk berempati dan simpati dengan pihak
lain. Penderitaan orang lain akan lebih bisa dirasakan. Perasaan bebal yang tak mau tahu akan
terkikis karena dirinya sendiri juga mengalami nestapa. Pemimpin besar masa lampau, biasanya
sudah dapat mengatasi kesulitan hidup hanya karena lapar. Dia tidak begitu mementingkan
kepentingan lahiriah yang cepat musnah dimakan waktu.

Cipta
Popularitas istilah cipta dalam budaya Jawa terbukti dengan adanya nama Begawan Ciptoning,
yaitu nama tokoh Arjuna ketika sedang melakukan tapa brata di Wukir Indrakila. Juga istilah
keplasing cipta yaitu ketajaman nalar menerobos batas ruang dan waktu. Istilah cipta lebih
dekat pada aspek logika, penalaran dan kebenaran. Olah pikir sama dengan olah cipta, yaitu
kegiatan pemikiran untuk memperoleh kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemajuan teknologi selalu didukung oleh kebenaran ilmiah dan logis. Kalau tidak sesungguhnya
perkembangan teknologi itu tidak jauh dari ilmu pertukangan saja. Di Indonesia, lembaga
pendidikan formal dari SD sampai Perguruan Tinggi dituntut untuk mengembangkan keilmiahan
dengan cara menemukan metode baru dalam setiap harinya.

Dana
Setiap kegiatan pasti memerlukan dana. Begitu pentingnya dana maka harus diperhitungkan
secara jeli dari mana, bagaimana, dan ke mana dana itu diperoleh, dikelola dan dibelanjakan.
Perpecahan suatu lembaga atau organisasi kadang berawal dari rebutan masalah dana.
Pembagian keuangan yang tidak adil dan proporsional menciptakan sengketa baik formal
terang-terangan maupun tidak. Konsentrasi pendanaan pada suatu kelompok memancing
bentrok dengan kelompok lain. Dana setiap lembaga harus dibagi secara adil, legal, proposional
dan transparan agar mengawetkan solidaritas. Kecurigaan antar kelompok dapat dihindari dan
kekompakan individu dapat lestari.

Darma
Istilah darma sudah sangat akrab dengan telinga kita. Misalnya kata darma melekat pada darma
bakti, darma pertiwi, darma wanita, dan sebagainya. Kata darma lebih mengacu pada kerja
sosial dan nilai perjuangan demi orang banyak. Setelah orang tercukupi kebutuhan ekonominya,
dianjurkan agar mau bekerja untuk sosial. Bila istri sudah bahagia, anak-anak telah jadi orang,
dan hidup mencapai kemapanan, sebisa-bisanya orang mengamalkan diri dan hartanya untuk
kegiatan sosial nonprofit. Perhatian kepada dunia materi pelan-pelan harus dikurangi dan
meningkatkan darma. Orang yang banyak darma yang dilakukannya bagi orang banyak,
meskipun sudah mati, namanya tetap harum dan pantas dikenang. Orang akan menghormati
jasa-jasanya sebagaimana pepatah: harimau mati meninggalkan belang, gajah mati
meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Dewan Sapta Prabu
Dewan Sapta Prabu yang berarti dewan raja yang tujuh. Merupakan lembaga yang memiliki
kekausaan tertinggi pada jaman Majapahit. Dewan ini diketuai oleh raja Majapahit. Dalam
sidang ini, mula-mulanya duduk 7 orang anggota keluarga Sang Prabu dan Permaisuri. Dalam
masa pemerintahan Hayam Wuruk, ditambah dengan dua orang anggota lagi, sehingga menjadi
sembilan orang. Dewan ini mengatur urusan kraton, keluarga raja, perpindahan mahkota,
kedudukan mahkota, dan ketentraman kerajaan.

Dewi Suhita (1429-1447)
Setelah Wikrama Wardhana meninggal dunia, maka dia digantikan oleh serang putri, Dewi
Suhita. Seperti dikatakan di awal bahwa putra mahkota meninggal dunia pada tahun 1409.
Wikrama Wardhana memang memiliki saudara laki-laki, yakni Bre Tumapel. Akan tetapi, Suhita

dianggap lebih pantas daripada Bre Tumapel. Ibu Dewi Suhita adalah Bre Mataram, keturunan Wirabumi dengan Negarawardhani. Dengan demikian, golongan Wirabumi sangat bersenang hati. Mereka merasa mendapat kesempatan untuk berkuasa di kraton. Dewi Suhita banyak mengambil punggawa dari pengikut Wirabumi. Dendam politik ini muncul kembali sehingga akhirnya, Raden Gadjah yang dahulu membunuh Wirabumi, pada tahun 1433 mendapat balasannya hingga tewas. Balas-membalas dendam ini rupanya membuat suasana Majapahit semakin kacau. Dalam suasana demikian, bentangan tangan Majapahit tidak luas lagi. Kekuasaan Majapahit semakin kecil dan angkatan laut Majapahit juga mengecil jumlahnya. Yang memerintah Majapahit setelah Wikramawardhana adalah anak perempuannya yaitu Suhita (1429-1447), dimana ibunya adalah anak dari Wirabhumi. Masa pemerintahannya ditandai berkuasanya kembali anasir-anasir Indonesia, antara lain didirikannya berbagai tempat pemujaan dengan bangunan-bangunan yang disusun sebagai punden berundak-undak di lereng­lereng gunung ( misalnya Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng gunung Lawu). Selain itu terdapat pula batu-batu untuk persajian, tugu-tugu batu seperti menhir, gambar-gambar binatang ajaib yang memiliki arti sebagai lambang tenaga gaib, dan lain-lain. Di daha ia digantikan anaknya, Ranawijaya yang bergelar Bhatara Prabu Girindrawardhana, yang berhasil menundukkan Kertabhumi dan merebut Majapahit di tahun 1474. Menurut prasastinya di tahun 1486 ia menamakan dirinya raja Wilwatika Daha Janggala Kadiri, namun kapan berakhirnya memerintah tidak diketahui. Demikian tentang riwayat Majapahit semakin gelap, kecuali berita-berita dari Portugis bahwa Majapahit di tahun 1522 masih berdiri dan beberapa tahun kemudian kekuasaannya berpindah ke kerajaan Islam di Demak. Akan tetapi, masih ada juga kerajaan-kerajaan yang meneruskan corak kehinduan Majapahit misalnya, yaitu Pajajaran yang akhirnya lenyap setelah ditundukkan oleh Sultan Yusuf dari Banten di tahun 1579, juga Balambangan yang di tahun 1639 baru bisa ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, disamping masyarakat di pegunungan tengger yang sampai saat ini masih mempertahankan corak Hindunya dengan memuja Brahma, dan Bali yang masih tetap dapat mempertahankan kebudayaan lamanya.
Dharmawangsa Teguh Penerus kraton Medang selanjutnya setelah Empu Sindok berkuasa adalah Prabu Dharmawangsa Teguh. Rupa-rupanya Prabu Dharmawangsa Teguh juga seorang raja yang mumpuni, cakap dan kreatif. Prabu Dharmawangsa Teguh yang memerintah antara tahun 913-929 Çaka atau 991­1007 Masehi, pustaka sastra Jawa berkembang pesat sekali. Karya sastra yang diproduksi antara lain Serat Mahabharata, Uttarakanda, Adiparwa, Sabhaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa, dan Kunjarakarna (Poerbatjaraka, 1995: 7-140). Cerita-cerita parwa ini merupakan derivasi dari ephos Mahabharata. Kitab Mahabharata dikenal pada masa pemerintahan Prabu Dharmawangsa. Mahabharata dibagi dalam 18 parwa yaitu: Adi Parwa : berisi sejarah dan silsilah keluarga Pandawa dan Korawa, Shaba Parwa : berisi tentang tipu daya Korawa untuk mengenyahkan Pandawa, Wana Parwa : bercerita tentang pengembaraan para Pandawa dalam hutan, Wirata Parwa : bercerita tentang penyamaran Pandawa di Kraton Wirata, Udyoga Parwa : bercerita tentang usaha Pandawa untuk memperoleh haknya atas negara Hastina, Bhisma Parwa : kisah peperangan Bhisma, Dhorna Parwa : kisah peperangan Drona, Karna Parwa : kisah peperangan Karna, Salya Parwa : kisah peperangan Salya, Sauptika Parwa : kisah penyerbuan Aswatama ke Pandawa, Stri Parwa : kisah para janda pahlawan perang yang meratapi nasib, Santi Parwa : kisah Wiyasa dan Kresna menghibur Pandawa agar mau mengatur Hastina, Anusasana Parwa : kisah para Pandawa mendapat ajaran ilmu pemerintahan, Aswamadika Parwa : kisah Yudhistira dinobatkan sebagai Maharaja Hastina, Asrama Wasika Parwa : kisah akhir hidup Destarata, Gendhari dan Kunthi, Mausala Parwa : kisah akhir hidup Kresna, Mahaprastanika Parwa : kisah akhir hidup Pandawa, Swargarohana Parwa : kisah masuknya para Pandawa ke dalam surga (Hazim Amir, 1994: 42-43). Serat Baratayuda Jarwa diciptakan Yasadipura I dengan inspirasi Kakawin Mahabharata dan Kakawin Bharatayudha. Pada masa Prabu Dharmawangsa Teguh yang bertahta antara tahun 913 – 929 Çaka atau 991-1007 Masehi, pustaka sastra Jawa berkembang sangat pesat. Kraton ini mengalami musibah besar pada tahun 1016, yang berupa serangan dari kraton Wora-Wari. Waktu itu yang memerintah adalah Raja Teguh Dharmawangsa. Dalam serangan dari kraton Wora-Wari itu, raja Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama Tunggadewa jatuh pralaya sampai gugur dan untuk sementara kratonnya jatuh di tangan musuh. Kurban berjatuhan dan menimbulkan porak-poranda di dalam istana.
Dhendha Dhendha dalam khasanah budaya hukum Jawa berarti hukuman. Ganjaran diberikan kepada pihak yang berjasa dan dhendha dijatuhkan kepada pihak yang melanggar aturan. Ganjaran dan dhendha atau hukuman yang setimpal adalah cermin rasa keadilan. Sangsi yang dikenakan pada pelanggar hukum harus bersifat edukatif agar suatu saat tidak mengulangi perbuatan serupa dan bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak meniru. Harus dihindari hukuman pada seseorang yang bersifat memotong, mematikan dan tidak memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, kecuali pada kesalahan berat yang tidak terampuni lagi. Hal ini dikarenakan oleh suatu kearifan umum bahwa kebenaran dan kesalahan tidak monopoli suatu kelompok.
Digdaya Tanpa Aji Digdaya tanpa aji adalah orang yang sakti mandraguna tanpa harus memiliki ajian, jimat, atau benda-benda keramat lainnya. Dia sakti karena dirinya sendiri, bisa karena kecerdasan, karena ketaqwaan karena keunggulan dalam hubungan antar manusia dan lain sebagainya. Dengan demikian ia dapat menaklukkan lawan bukan dengan kekerasan tetapi justru dengan kasih sayang. Singkat kata, orang yang sakti sebenarnya orang yang sedikit rintangan dari orang lain. Supaya lepas rintangan maka seseorang itu wajib memperbanyak sahabat dengan berprinsip bahwa satu musuh sudah terlalu banyak, apalagi dua. Orang yang menjadi musuhnya tentu akan menghalangi kemajuannya. Orang yang banyak kawan di sana-sini akan mudah usahanya. Setiap ada kesulitan di situ pertolongan akan datang tanpa diundang. Alangkah mulianya orang yang digdaya tanpa aji.
Dupak Bujang Kelas bujang ‘pelayan atau buruh’ cara mengritiknya bisa dengan dupak ‘tendangan’. Buruh itu tidak akan peduli apa-apa terhadap kritik keras, meskipun dengan umpatan dan makian yang kasar. Namun yang penting upahnya harus tetap dipenuhi. Buruh, jarwo dhosok-nya (akronim) awak lebur ora weruh ‘badan lebur tidak peduli’. Jiwa buruh sama dengan orang yang semata­mata mengejar upah tanpa menghiraukan harga diri.
Dyah Balitung Dyah Balitung adalah maharaja dari kraton Mataram Kuno yang bertahta tahun 898 – 910. Dia masih keturunan Wangsa Syailendra, sebuah dinasti yang terkenal karena telah berhasil dalam mengembangkan seni, bahasa, budaya dan ilmu pengetahuan (Zoetmulder, 1985). Salah satu karya sastra dari Dinasti Syailendra ini adalah Kitab Candha Karana, sebuah buku yang ditulis di atas daun rontal, berisi tentang ajaran moral, seni tembang, tata bahasa dan kamus. Pada tahun 700 Çaka, Wangsa Syailendra membangun Candi Kalasan. Pada tahun 782 – 872 dibangunlah sebuah candi megah nan indah, yaitu Candi Prambanan yang reliefnya memuat kisah Ramayana. Kraton Mataram Kuno ini mengalami jaman keemasan pada masa pemerintahan Raja Balitung. Pada tahun 907 Raja Balitung menyelenggarakan pentas seni besar-besaran, dengan menampilkan pagelaran wayang. Lakonnya Bima Kumara dan Ramayana. Para dalang yang telah memainkan wayang diberi upah yang layak sebagai wujud penghargaan atas profesionalitasnya. Raja Balitung sendiri aktif dalam berolah cipta karya yang berusaha mengembangkan kemajuan masyarakat. Hal ini merupakan prestasi sang raja yang bersedia menyeimbangkan kebutuhan material dan spiritual. Keterlibatan Raja Balitung dalam kreativitas dan sosialisasi cerita Bima Kumara dan Ramayana sangat dominan.
Empan Papan Sesuai waktu dan tempat. Cara menyikapi suatu persoalan hendaknya melihat waktu dan tempat.
Empu Dharmaja Sekalipun sudah berganti raja, kehidupan karang-mengarang di kraton Kediri tetap semarak. Empu Dharmaja hidup pada masa pemerintahan Prabu Kameswara yang bertahta di Kediri antara tahun 1037-1052 Çaka atau 1115-1130 Masehi. Permaisurinya bernama Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana, putri dari negeri Jenggala Manik (Poerbatjaraka, 1957: 22). Dalam cerita Panji, Prabu Kameswara terkenal dengan sebutan Prabu Hinu Kertapati. Cerita Panji ini berisi kisah romantis antara Panji Asmara Bangun dengan Dewi Galuh Candra Kirana. Cerita Panji cukup populer di mata masyarakat Jawa khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya. Hal ini menyebabkan cerita Panji mengalami banyak varian akibat sering diturunkan dan disalin dengan disesuaikan oleh suasana politik, waktu, dan keadaan geografisnya. Karya Empu Dharmaja yang terkenal adalah Kakawin Smaradahana dan Kakawin Bhomakawya. Manu (1984) membuat karya tulis dengan menganalisis secara filologis terhadap eksistensi historisitas Kakawin Smaradahana. Teeuw (1946) menganalisis Kakawin Bhomakawya juga dengan pendekatan sastra filologis. Kitab Smaradahana menceritakan Batara Kamajaya terbakar. Kitab Bhomakawya menceritakan peperangan antar Prabu Kresna dengan Prabu Bhoma. Dalam cerita pewayangan, lakon ini terkenal dengan sebutan Samba Juwing, sebuah lakon yang tragis dan memilukan bagi pemirsanya. Ki Nartosabdo melakonkan Samba Juwing dengan penuh penghayatan dan dapat membawa emosi penontonnya.
Empu Kanwa Setelah menjadi raja, Airlangga tidak lupa terhadap kehidupan sastra budaya. Raja Airlangga memerintah di Kraton Kahuripan sekitar tahun 941-964 Çaka atau tahun 1019-1042 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 17). Empu Kanwa adalah pujangga kraton Kahuripan yang merupakan cendekiawan kesayangan raja Airlangga. Empu Kanwa menyusun sebuah kitab mahakarya yang sangat populer, yaitu Arjunawiwaha. Kakawin Arjunawiwaha termasuk sastra adi luhung sebagai persembahan kepada yang mulia Raja Airlangga yang telah sukses berjuang memulihkan stabilitas keamanan Negeri Medang antara tahun 1028-1035. Heroisme raja Airlangga yang mampu membendung serangan raja Wengker, ditulis dalam sebuah maklumat dengan angka tahun 1042 Masehi (Zoetmulder, 1985: 309). Sebagai karya agung, Kakawin Arjunawiwaha telah mengalami proses transformasi yang panjang dalam perkembangan kesusasteraan pewayangan sampai sekarang. Serat Wiwaha Jarwa, Lakon Begawan Mintaraga dan Lampahan Begawan Ciptowening adalah cerita yang digubah dari Kakawin Arjunawiwaha. Kitab Arjunawiwaha merupakan sastra puitis pertama kali yang bertanggal. Bila dipandang dari sudut komposisi pada umumnya dan gaya bahasanya, maka dalam syair ini akan dijumpai dengan sebuah contoh mengenai puisi kakawin yang mencapai puncak kesempurnaan (Zoetmulder, 1985: 302). Kakawin Arjunawiwaha memberikan metafora heroisme Airlangga dalam perjuangan ibarat Arjuna yang berhasil memusnahkan perusak jagad, yaitu raksasa Niwatakawaca yang terkenal angkara murka. Dalam perjuangan itu penuh dengan godaan baik yang berupa penderitaan atau kenikmatan yang berwujud bidadari nan jelita. Renungan tentang kehidupan, nilai estetika, etika filosofis banyak ditemui dalam karya Empu Kanwa itu. Dalam menciptakan Kakawin Arjunawiwaha itu, Empu Kanwa terlibat aktif saat Airlangga berjuang, sehingga karyanya itu penuh dengan penghayatan yang mendalam. Serat Arjunawiwaha termasuk cerita Mahabharata bagian angka tiga yaitu Wanaparwa. Kitab ini ditulis sekitar tahun 941-964 Çaka (1019-1042 Masehi). Kakawin Arjunawiwaha sudah diteliti dalam bentuk disertasi oleh Kuntoro Wiryamartana. Di samping itu dalang-dalang sekarang juga sering melakonkan cerita itu dengan mengubah judul Lakon Begawan Mintaraga atau Ciptowening.
Empu Manoguna Prabu Warsajaya juga amat peduli dengan kehidupan sastra budaya, sebaagi tanda bahwa beliau juga seorang humanis. Empu Manoguna adalah rekan seangkatan Empu Triguna. Keduanya merupakan pujangga istana jaman Prabu Warsajaya di kraton Kediri. Menilik nama Empu Manoguna dan Triguna ada bagian yang sama, kemungkinan besar dapat diduga keduanya masih ada hubungan kerabat atau seperguruan. Yang jelas kedua Empu ini adalah kesayangan Prabu Warsajaya di kraton Kediri. Karya sastra ciptaan Empu Manoguna adalah Kakawin Sumanasantaka, cerita yang bersumber dari Kitab Raguwangsa karya pujangga besar dari India, Sang Kalisada (Poerbatjaraka, 1957: 20). Pengaruh India ke dalam sastra Jawa Kuno memang besar, baik yang bersifat Hinduistis maupun Budhaistis. Hal ini tampak dengan ungkapan bahasa Sansekerta yang masuk dalam kosakata bahasa dan sastra Jawa Kuno. Sumanasantaka berasal dari kata sumanasa = kembang dan antaka = mati. Artinya adalah mati oleh kembang. Serat Sumanasantaka menceritakan kelahiran Prabu Dasarata, raja di Ayodya.
Empu Panuluh Penerus kepujanggaan Empu Sedah adalah Empu Panuluh. Empu Panuluh juga hidup pada masa pemerintahan Prabu Jayabhaya. Dia termasuk pujangga ulung yang produktif dalam menghasilkan berbagai karya sastra adiluhung. Karya sastra ciptaan Empu Panuluh di antaranya: Kakawin Bharatayudha, Kakawin Hariwangsa, dan Kakawin Gathotkacasraya. Kakawin Bharatayudha ini merupakan ciptaan duet pujangga: Empu Sedah dan Empu Panuluh. Syair Kakawin Bharatayudha sungguh sangat indah. Kakawin Hariwangsa ini berisi tentang kisah percintaan antara raja Dwarawati dengan Dewi Rukmini dan dipersembahkan kepada Prabu Jayabhaya, yang dipersonifikasikan sebagai tokoh agung titisan Batara Wisnu. Kakawin Gathotkacasraya ini dibuat pada tahun 1110 Çaka atau 1188 Masehi setelah mangkatnya Prabu Jayabhaya, yang selanjutnya kraton Kediri diperintah oleh Prabu Jayakerta (Poerbatjaraka, 1957: 24-32). Kelebihan Empu Panuluh yang lain adalah waskitha ngerti sadurunge winarah atau bijaksana mengerti sebelum diajarkan. Pada masa tuanya dia benar-benar hidup prihatin, mengurangi makan dan tidur, menghindari kenikmatan jasmani dan menjauhi kehidupan duniawi, sehingga menjelang ajalnya pun dia sudah tanggap. Empu Panuluh adalah pujangga yang menghormati pujangga lain dan mampu bekerja sama antar sesama cendekiawan kraton Kediri. Kepada Empu Sedah pendahulunya itu, Empu Panuluh banyak memuji. Di sini bisa dilihat bahwa pada jaman kraton Kediri, transformasi pemikiran berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana kaderaisasi.
Empu Prapanca Kehidupan sastra budaya di Majapahit pun juga tampil dengan sangat semarak. Empu Prapanca hidup pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk yang bertahta tahun 1272-1311 Çaka atau 1350-1389 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 39). Prabu Hayam Wuruk adalah raja Majapahit yang paling terkenal. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Majapahit mencapai jaman keemasan. Seluruh kawasan nusantara dipersatukan di bawah panji-panji kraton Majapahit. Karya Empu Prapanca yang kondang hingga sekarang adalah Kitab Negarakertagama. Kitab ini menceritakan keadaan kraton Majapahit yang sudah mencapai jaman keemasan. Empu Prapanca ini membuat Kitab Negarakertagama pada tahun 1287 Çaka atau tahun 1365 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 40). Kata pancasila yang dijadikan dasar negara Indonesia berasal dari Kitab Negarakertagama. Para sejarahwan yang hendak meneliti masa lalu Kraton Majapahit perlu sekali membaca Negarakertagama, di samping perlu juga membanding-bandingkan dengan sumber-sumber dari kitab babad. Slamet Muljono (1971) pernah menerbitkan buku yang berisi tentang analisis Kitab Negarakertagama beserta tafsirnya. Nama lain Negarakertagama adalah Dasawarnana. Pada tahun 1894 naskah Negarakertagama ditemukan di Pulau Lombok (Berg, 1962: 204). Kitab Negarakertagama ditulis oleh Empu Prapanca sekitar tahun 1287 Çaka atau 1365, pada masa Prabu Hayam Wuruk memerintah Kraton Majapahit. Kitab lain yang ditulis pada masa Prabu Hayam Wuruk, yaitu Kitab Arjunawijaya dan kitab Sutasoma atau Purusadasanta. Keduanya karya Empu Tantular (Poerbatjaraka, 1957: 39-45). Negarakertagama berisi tentang laporan perjalanan Prabu Hayam Wuruk yang sedang inspeksi ke daerah-daerah, pedoman tata cara upacara, tuntunan budi pekerti luhur dan metode mengatur tata pemerintahan yang baik. Serat Arjunawijaya mengisahkan peperangan antara Prabu Dasamuka dengan Prabu Danaraja dan Prabu Sri Arjuna Sasrabahu. Serat Sutasoma mengisahkan perjalanan spiritual seorang pangeran dan putra mahkota kraton Hastina, putra Prabu Mahaketu yang bernama Raden Sutasoma. Raden Sutasoma adalah titisan Sang Hyang Budha.
Empu Sedah Abdi dalem istana Kediri yang perlu disebutkan di sini yaitu Empu Sedah. Empu Sedah adalah pengarang Kakawin Bharatayudha pada tahun 1079 Çaka atau 1157 Masehi, dengan sengkalan berbunyi sanga kuda suddha candrama (Poerbatjaraka, 1957: 24). Hanya saja, Empu Sedah keburu meninggal sebelum karyanya selesai. Kakawin Bharatayudha dipersembahkan kepada Prabu Jayabhaya, Mapanji Jayabhaya, Jayabhayalaksana atau Sri Warmeswara. Prabu Jayabaya memerintah di Kraton Kediri atau Daha tahun 1130-1157 Masehi (Zoetmulder, 1985: 342). Prabu Jayabhaya adalah raja Kediri yang paling masyur hingga saat ini karena keahliannya dalam dunia paranormal. Ramalan-ramalannya kerap kali menjadi rujukan untuk memprediksi kejadian masa depan. Kegigihan Prabu Jayabhaya dalam memajukan lapangan sastra, budaya dan ilmu pengetahuan tidak dapat diragukan lagi. Suatu tempat yang diyakini sebagai makam Prabu Jayabhaya di daerah Mamenang dianggap keramat oleh masyarakat. Empu Sedah mempunyai perasaan yang peka, terbukti dia tidak sanggup mengungkapkan gagasannya dalam Kakawin Baratayudha. Kisah perang besar Pandawa – Korawa ini selanjutnya diteruskan oleh Empu Panuluh. Pada kenyataanya cerita Bharatayudha memang membawa kepedihan mendalam bagi penontonnya bila dipentaskan dalam pertunjukan wayang purwa. Oleh karena itu sebagian orang Jawa tabu untuk menanggap wayang dengan Lakon Bharatayudha, karena diyakini bisa mendatangkan bencana.
Empu Sindok Pada tahun 930 pengaruh kekuasaan Jawa Tengah bergeser ke arah Jawa Timur. Wangsa yang sedang memerintah semula berkedudukan di Lembah Kali Brantas, bagian hulu. Pendirinya adalah Empu Sindok, keturunan Raja Jawa Tengah terakhir, Wangsa Syailendra. Kraton yang baru dibangun itu bernama Medang. Di sini Empu Sindok meneruskan cita-cita perjuangan leluhurnya, termasuk dalam bidang kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan. Pada masa pemerintahan Empu Sindok antara tahun 851-809 Çaka atau 929-947 Masehi, dikaranglah sebuah kitab Budha Mahayana yang bernama Sang Hyang Kamahayanikam. Sejaman dengan kitab ini adalah Kitab Brahmandapurana, sebuah kitab agama Siwa (Poerbatjaraka, 1957: 5-6).
J. Kats (1910) mengatakan bahwa Serat Sang Hyang Kamahayanikam ini banyak berbahasa Sansekerta yang dideskripsikan dalam bentuk bahasa Jawa Kuno. Cerita tentang dewa-dewanya mirip dengan relief Candi Borobudur. Serat Brahmandapurana berisi tentang kosmologi, kosmogoni, sejarah para resi, dan cerita pertikaian antar kasta (Gonda, 1933: 329). Kraton yang baru dibangun itu bernama Medang. Empu Sindok boleh dikatakan sebagai kakek moyang, cikal bakal para raja yang berkuasa di tanah Jawa terutama dari kraton Jawa Timur. Dari kraton Medang ini kemudian muncul kraton Kahuripan, Daha, Jenggala, Singosari, dan Majapahit. Kraton-kraton tersebut sangat termasyur dalam pentas sejarah nasional.
Empu Siwamurti Pada masa Majapahit akhir banyak dibuat arca dan relief Bima di Candi Sukuh, yang menggambarkan cerita Bima Swarga, Bima Bungkus, dan Sudamala (Stutterheim, 1935: 63). Kitab Nawaruci merupakan karya sastra yang berbahasa Jawa Tengahan yaitu bahasa yang timbul pada jaman kejayaan Majapahit. Kitab Nawaruci atau Sang Hyang Tattawajnana ditulis antara tahun 1500-1619 Masehi oleh Empu Siwamurti (Priyohutomo, 1934: 76). Kitab Nawaruci ini merupakan karya sastra religius yang terpengaruh ajaran mistik Hindu. Lahirnya Kitab Nawaruci itu bersamaan dengan masa penyebaran dan perkembangan agama Islam di kalangan masyarakat Jawa. Mistik Islam yang dikenal oleh masyarakat Jawa pada waktu itu telah memberikan inspirasi untuk digarap menjadi lakon wayang. Memang dalam Mahabarata cerita tentang Dewaruci tidak pernah dijumpai, namun ada cerita India yang mirip dengan Dewaruci yaitu kisah Markandeya yang mengarungi samudera. Dalam samudera raya itu, Markandeya menemukan seorang anak kecil dan meminta agar Markandeya masuk ke dalam tubuhnya untuk melihat seluruh isi alam semesta. Dalam cerita Markandeya itu disebutkan bahwa anak kecil itu adalah Narayana sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Dalam cerita Markandeya itu nama Bima sama sekali tidak disebutkan (Wibisono, 1996: 33). Namun demikian, kerangka plot ceritanya termasuk sumber inspirasi bagi kreatifitas sastrawan lain. Diceritakan oleh Sumarti Suprayitno dalam Serat Nawaruci, Bima berguru kepada Pendeta Drona dengan harapan dia memperoleh air kehidupan. Atas saran Drona, Bima meninggalkan negeri Gajahoya untuk mendatangi Sendang Dorangga. Namun di situ Bima hanya bertemu dengan dua ekor ular. Kemudian Bima bertarung sengit dengan dua ekor ular itu. Setelah berhasil dikalahkan Bima, kedua ekor ular itu berubah wujud menjadi bidadari Surasembada dan bidadari Harsanadi (Suprayitno, 1985: 2­3). Selanjutnya Bima pergi ke wilayah Andadewa untuk mendapatkan air kehidupan. Hanya saja, di sana dia cuma bertemu dengan raksasa Indrabahu. Bima dan Indrabahu salah paham dan akhirnya kedua belah pihak berkelahi. Peperangan yang sengit itu dimenangkan oleh Bima. Terbunuhnya Indrabahu berubah wujud menjadi Bathara Indra. Pencarian air kehidupan dilanjutkan oleh Bima. Dicarilah ke Lawana Udadhi atau laut asin, setelah terlebih dahulu mohon ijin kepada ibu dan para saudaranya. Dalam Lawana Udadhi itu Bima menenggelamkan diri dan bertemu dengan Nawaruci. Nawaruci membawanya ke sebuah pulau. Di sana Bima mendapat bermacam-macam wejangan dari Nawaruci. Bima kemudian berganti menjadi Awirata dan selanjutnya dia meninggalkan pulau tersebut di bawah naungan Nawaruci. Bima lalu menuju ke Siwamurti, tempat air kehidupan yang dikawal oleh Raja Panulah. Dengan sekuat tenaga, Bima berusaha merebut air tersebut. Dia dikejar oleh sembilan dewa. Atas restu dan bantuan Nawaruci, Bima berhasil mendapatkan air kehidupan. Air kehidupan yang penuh khasiat itu diserahkan kepada Drona. Kebaikan hati Bima itu masih dicela oleh Drona. Drona belum yakin akan khasiat air tersebut. Melihat kelakuan Drona demikian, Nawaruci mengutuknya sehingga dia terlempar jatuh ke tengah samudera. Bima nantinya berganti nama menjadi Angkusprona. Dia lalu bertapa di Pertiwijati. Di sini dia mampu mengalahkan segala godaan dari Siwa. Akhirnya, Bima disucikan penuh wibawa dan perkara berkat semedinya (Suprayitno, 1985: 2-3). Kitab Nawaruci ini sudah dibahas dalam bentuk disertasi oleh Prijohoetomo pada tahun 1934. Dalam disertasi itu dikemukakan perbandingan antara Kitab Nawaruci dengan Kitab Dewaruci. Kesimpulannya adalah bahwa Kitab Nawaruci itulah yang menjadi sumber dari Lakon Dewaruci yang semakin populer dalam dunia pewayangan (Wibisono, 1996: 33). Serat Nawaruci banyak mengandung unsur Hindu sedangkan Serat Dewaruci mulai ditambah dengan unsur Islam.
Empu Tantular Sebagai negara yang besar dan terkenal Majapahit tidak ketinggalan dalam hal dunia nonmaterial termasuk di dalamnya kesusastraan, kesenian dan kebudayaan. Peradaban dibangun secara serius yang juga mendapat perhatian dari pihak kraton. Empu Tantular juga abdi kraton Majapahit, semasa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, Prabu Hayam Wuruk memang raja yang ahli politik, pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan menjadi pelindung kegiatan sastra dan budaya, sebagaimana yang tercantum dalam Serat Negarakertagama. Karya sastra yang diciptakan oleh Empu Tantular di antaranya : Kakawin Arjunawijaya, Kitab Sutasoma atau Purusadasanta dan Partayadnya (Poerbatjaraka, 1957: 40-47). Kitab karya Empu Tantular diciptakan antara tahun 1365-1389 (Zoetmulder, 1985: 430). Kitab Arjunawijaya telah dianalisis oleh Supomo tahun 1971 dalam bentuk disertasi yang dipertahankan di Australian National University. Ungkapan mutiara yang terpampang dalam burung garuda yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika juga dikutip dari Kitab Sutasoma ini. Empu Tantular pujangga Majapahit yang beragama Budha, Empu Prapanca beragama Hindu, Empu Tantular beragama Budha, namun kedua umat beragama ini pada jaman Majapahit dapat hidup rukun, bekerja sama, dan damai berdampingan. Pada jaman Majapahit perkembangan kesusasteraan juga pesat, di antaranya: Nitiçastra, Nirarthaprakreta, Dharmaçunya, Hariçraya, Tantu Panggelaran, Korawaçrama, dan Pararaton. Kitab-kitab ini ada yang berbahasa Jawa Kuno dan Jawa Tengahan. Suburnya karya sastra bermutu menunjukkan masyarakat pada jaman Majapahit betul-betul mempunyai peradaban yang maju. Pejabat Majapahit tentu sadar arti penting sastra dalam pembentukan pribadi yang humanis. Warisan spiritual dari Majapahit yang patut disyukuri oleh bangsa Indonesia sekarang yaitu kata mutiara bhineka tunggal ika, sebuah ungkapan luhur yang dapat mengokohkan persatuan dan kesatuan nasional. Demikian pula bendera dengan warna gula kelapa yang berarti merah putih simbol keberanian dan kesucian. Itulah pendidikan kenegarawanan Majapahit yang akan dikenang sepanjang masa dan perlu diturunkan dari generasi ke generasi.
Empu Triguna Kraton Kediri dulu memang gemar membina cendekiawan untuk berulah cipta sastra. Empu Triguna hidup pada masa pemerintahan Prabu Warsajaya di Kediri pada tahun 1026 Çaka atau
1104 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 18). Prabu Warsajaya ini juga menjadi patron bagi para
pujangga dalam mengembangkan dinamika sastra dan budaya. Pengarang-pengarang yang
berbakat diberi fasilitas untuk mengaktualisasikan idealismenya. Karya sastra yang telah
diciptakan oleh Empu Triguna adalah Kakawin Kresnayana. Kakawin Kresnayana ini dalam
pewayangan populer dengan Lakon Kresna Kembang atau Narayana Maling. Ki Nartosabdo
pernah mementaskan Lakon Kresnayana dengan diganti judul menjadi Lakon Alap-Alapan
Rukmini. Cerita Kresnayana ini bisa diperbandingkan dengan relief di Candi Penataran, Blitar,
Jawa Timur.

Empu Yogiswara
Empu Yogiswara adalah pengarang Kakawin Ramayana pada tahun 825 Çaka atau 903 Masehi.
Beliau hidup pada masa pemerintahan Dyah Balitung tahun 820-832 Çaka atau 898 – 910 Masehi.

Esem Bupati
Kelas yang selevel dengan bupati cara mengritiknya cukup dengan esem ‘senyuman’. Oleh
karena itu seorang bupati harus tanggap terhadap eseman rakyatnya. Kalau eseman ini saja
tidak juga ditanggapi, maka rakyat akan lebih runyam lagi dengan memasyarakatkan kata-kata
plesetan. Budaya plesetan ini boleh jadi merupakan ekspresi puncak dari kritikan rakyat yang
sudah tidak tahan lagi terhadap sesuatu yang kurang berkenan di hatinya.

Gemah
Kata gemah dalam jagat pakeliran berkaitan dengan kesibukan orang berniaga. Perdagangan
merupakan kegiatan perekonomian yang sangat penting. Suatu negara yang lancar dan aman
proses perdagangannya, pertanda di situ ekonomi berjalan dengan baik dan dinamis.
Pertukaran barang membuat kehidupan menjadi bergairah dan hal ini erat hubungannya dengan
semangat kerja. Etos kerja dapat dirangsang dengan imbalan yang memadai. Dunia
perdagangan yang gemah menjanjikan hal itu. Siang malam orang berjualan dan berniaga di
pasar tidak lelah dan tidak mengantuk. Dalam benak mereka adalah penghasilan yang bisa
menghidupi dan menyejahterakan sanak keluarga. Hujan panas tidak merongrong usahanya
untuk maju dan berkembang. Oleh karena itu wilayah kewajiban negara yang sangat vital
adalah mewujudkan keamanan perdagangan.

Gemi
Gemi mengandung makna hemat, cermat dan bersahaja. Orang yang selalu gemi selalu
menghitung-hitung segala pengeluaran agar dapat efektif dan efisien. Sikap gemi sama sekali
berbeda dengan gaya hidup yang tamak dan pelit. Tindakan gemi dilandasi oleh perhitungan
bahwa mengumpulkan harta itu tidak gampang. Peras keringat banting tulang pun kadang-
kadang masih gagal juga. Oleh karena itu gaya hidup kemewah-mewahan, boros dan
menghambur-hamburkan uang sangat bertentangan dengan sikap hidup gemi. Harus dihindari
anggapan hidup boros akan mengundang rasa hormat dari orang lain. Sebenarnya sikap gemi
merupakan tindakan yang berprinsip ekonomi berdasarkan pemikiran yang rasional, tepat
sasaran dan tak mengundang kecemburuan.

Genthong kendhi
Genthong dan kendhi merupakan simbol wadah rejeki. Kalau genthong kendhi hampa, akan
ditafsirkan keluarga petani itu akan lamban dan lambat dalam memperoleh rejeki. Selain itu
wadah yang kering juga membuat suasana panas yang memudahkan hari untuk marah. Prinsip
perempuan Jawa terhadap kedudukan suami adalah suwarga nunut neraka katut, yaitu suami
yang jaya akan sekaligus meningkatkan kejayaan istri. Sebaliknya suami yang jatuh, maka istri
pun pasti juga merasakan kesengsaraan.

Goroh Growah
Goroh artinya bohong, growah artinya luka, lecet, terbelah. Orang yang berbohong lama-lama
akan erosi kepercayaan dirinya. Orang yang berbohong sekali, maka dia akan dituntut untuk
berbohong lagi untuk menutupi kebohongannya yang pertama. Bohong keduanya harus lagi

ditutupi dengan kebohongan berikutnya secara berkelanjutan. Pada suatu saat, entah karena lupa, ceroboh, atau terlalu bodoh, maka dramanya akan terasa janggal, simpang siur dan akhirnya akan terbongkar. Sejak itu orang akan lepas kepercayaan dengan dirinya, meskipun omongannya tetap nyaring namun orang lain minimal akan senyum dalam hati. Untuk diajak kerjasama maka orang lain akan mulai pasang kuda-kuda untuk menolaknya. Seandainya mau ia akan memperhitungkan dengan lebih cermat untung ruginya.
Gotong Royong Gotong-royong adalah kerja sosial yang besar dan berat tetapi terasa ringan dan riang karena ditangani orang banyak secara ramai-ramai. Masing-masing warga masyarakat terlibat sesuai dengan profesi dan kemampuannya. Rasa memiliki terhadap eksistensi negara semakin lekat dalam hati sanubari kalau warganya ikut serta dalam mengelola negara. Gotong royong merupakan cara paling mudah untuk memobilisasi partisipasi warga negara sehingga pemecahan persoalan mudah dilakukan. Kehidupan masyarakat tradisional biasanya semangat gotong royong terasa lebih kuat. Hubungan antar individu tidak dilandasi semata-mata oleh karena untung rugi material. Hidup memerlukan kebersamaan untuk mencapai keselarasan dan kebahagiaan.
Gremat-Gremet Waton Slamet Gremat-gremet berarti merayap pelan-pelan. Waton slamet berarti asal selamat. Gremat­gremat waton slamet berarti biar lambat dalam melakukan suatu pekerjaan secara lahiriah namun yang penting selamat. Misalnya dalam mengendarai kendaraan biarlah agak lambat sedikit yang penting selamat sampai tujuan. Dalam dunia karir seseorang perlu menerapkan prinsip ini. Lawan politik selalu berusaha mencari titik lemah rivalnya dan mudah untuk dijatuhkan. Oleh karena itu prinsip keselamatan sangat diperlukan walaupun harus berjalan dengan lambat. Orang yang tidak mau berprinsip seperti ini, inginnya segera naik jabatan dan memiliki kekayaan tertentu akan mengambil jalan pintas seperti korupsi dan kolusi yang jika ketahuan justru menjadi hancur karirnya. Hanya saja, gremat-gremet menuntut pelakunya terampil agar berakhir baik dan membahagiakan. Kalau tidak seseorang akan mengatakan lambat dan bodoh. Penampilan seperti itu perlu dihindari.
Gugur Gunung Gugur gunung mempunyai makna kerja sosial yang harus dilakukan secara bersama-sama untuk menyelesaikan kerja yang mahaberat seolah-olah seperti meruntuhkan gunung. Menilik namanya, gugur gunung berarti menghancurkan gunung. Mustahil jika seorang diri mampu merobohkan gunung yang besar. Istilah gugur gunung memberi inspirasi dan spirit kepada orang banyak agar tidak silau terhadap pekerjaan yang sangat berat. Mungkin dapat dipersamakan dengan ungkapan: berat sama dipikul ringan sama dijinjing, sebuah ungkapan luhur yang menekankan kebersamaan. Dalam wayang lakon Rama Tambak, diceritakan pasukan kera membuat tambak ‘jembatan’ di samudra raya untuk menghubungkan Kerajaan Gua Kiskenda dengan Kerajaan Alengka. Pekerjaan yang sangat dahsyat itu ternyata bisa diselesaikan oleh para kera dengan semangat gugur gunung.
Guna Guna mempunyai makna pandai, indah dan bermanfaat. Orang yang guna atau pandai, tingkah lakunya serba indah dan bermanfaat bagi orang lain. Kagunan mempunyai arti kepandaian. Kagunan langen, kagunan beksa mrih luhuring budaya. Kesenian, tari-tarian dan keindahan dapat menjunjung tinggi keluhuran suatu bangsa. Kagunan yang sudah menjadi tradisi dan mengakar kuat dihargai oleh sesama bangsa. Sejak dini usaha pengenalan dan apresiasi terhadap kagunan perlu dilakukan. Apabila masing-masing warga merasa memiliki maka bangsa itu akan punya harga diri dan percaya diri yang tinggi.
Gusti Allah Orang Jawa menyebut Tuhan dengan istilah Gusti Allah. Dua istilah ini merupakan gabungan dari kata bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kata Gusti dalam bahasa Jawa berarti pihak yang dihormati, dijunjung, dipundi-pundi dan diharapkan dapat memberikan pengayoman dan perlindungan. Kata Gusti di sini bersifat teologis. Dengan demikian harus dibedakan dengan kata Gusti yang bersifat sosiologis seperti Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Pangeran yang merupakan gelar kebangsawanan. Sedangkan kata Allah adalah adopsi dari kata Arab yang berarti nama diri Tuhan dalam agama Islam, karena orang Jawa mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Bahkan kalau dihitung secara kuantitatif Suku Jawa termasuk etnis terbesar di dunia yang beragama Islam. Oleh karena seseorang yang memahami seluk beluk kehidupan orang Jawa tidak pernah akan berhasil tanpa menyertakan analisis yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Antara paham Hindu Buda dengan tasawuf Islam dengan mistik kebatinan Jawa banyak unsur persamaaannya. Bagi kalangan orang Jawa yang menganut agama Kristen, menyebut kata Gusti Allah juga bukan sesuatu yang asing. Apalagi antara Islam dan Kristen masih satu rumpun. Maka ketika keduanya berkembang di tanah Jawa mudah sekali beradaptasi. Lebih dari itu keterbukaan dan toleransi antar umat beragama yang berbeda-beda tidak sulit dilakukan.
Guyub Guyub berarti perasaan suka rela untuk menggabungkan diri sehingga dicapai sebuah kekompakan dalam melakukan aktivitas kerja. Contohnya orang yang sedang punya hajat di pedusunan, maka para tetangga dan karib kerabatnya akan dengan sukarela membantu tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dalam peristiwa hajatan atau duwe gawe, teman-teman sejawat akan membantu dana, daya dan pikiran. Mereka justru merasa bersalah jika sampai tidak bisa membantu. Sebegitu penting makna guyub, terutama bagi orang Jawa, sehingga banyak orang yang sengaja membuat paguyuban dengan beraneka ragam kegiatan. Biasanya paguyuban tidak berpikir untuk soal-soal rumit.
Hamengku Buwana I Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintah kraton Yogyakarta antara tanggal 13 Pebruari 1755 – 24 Maret 1792. Sebelumnya menjadi Sultan Yogyakarta, beliau bergelar Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi adalah putra Sunan Amangkurat IV (1719 – 1726). Konflik Kasunanan Surakarta bermula pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana yang bertahta antara tahun 1726 – 1749. Pihak oposisi dipimpin oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi (Ricklefs, 1995). Perjanjian Giyanti disebut juga Babad Paliyan Negara, membagi kraton Mataram menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Dalam Perjanjian Salatiga, Surakarta dibagi lagi dengan adanya Pura Mangkunegaran. Kraton Yogyakarta pun akhirnya juga pecah dengan adanya Pura Paku Alaman. Semenjak menjadi Sultan Hamengku Buwana I, beliau aktif mengembangkan seni tari, antara lain yaitu: Beksa Lawung, Beksa Sekar Medura, Beksa Wayang, Beksa Tameng, Wayang Wong. Seni tari yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I bersifat gagah berani, berjiwa kepahlawanan, sesuai dengan bakat Pangeran Mangkubumi sebagai pimpinan prajurit yang tangguh. Dalam Babad Giyanti figur Pangeran Mangkubumi digambarkan sebagai seorang satria agung yang tampan, cerdas, orator dan cekatan. Penggambaran tokoh-tokoh dalam Babad Giyanti sangat hidup dan menakjubkan.
Hamengku Buwana II Hamengku Buwana II naik tahta antara 2 April 1792 – 28 Juni 1812 di Kraton Ngayogyakarta. Pada saat menjadi raja, beliau menentang kebijaksanaan Gubernur Jenderal Daendels, yang dianggapnya kurang tahu adat tata krama. Pada bulan Desember 1810, Daendels mengepung istana Yogyakarta dengan pasukan sebanyak 3200 orang. Daendels memaksa Sultan Hamengku Buwana II agar turun tahta. Penggantinya adalah putranya, Hamengku Buwana III (1810 – 1811). Pada tahun 1911 juga Hamengku Buwana II naik tahta lagi. Setahun kemudian pada masa pemerintahan Raffles, Hamengku Buwana II diturunkan dari tahtanya lagi. Bahkan beliau dibuang ke Pulau Penang. Kemudian yang menjadi raja adalah putranya kembali, Hamengku Buwana III (Ricklefs, 1995). Pergolakan intern kraton Yogyakarta terjadi antara Hamengku Buwana II dengan saudaranya, Pangeran Natakusuma. Pada akhirnya Natakusuma melepaskan diri dari kesultanan dan mendirikan Pura Paku Alaman dan beliau menjadi adipatinya yang pertama dan bergelar menjadi KGPAA Paku Alam I (1813 – 1819). Karya sastra ciptaan Sultan Hamengku Buwana II adalah Serat Surya Raja, yang menceritakan alegoris tentang dua kraton yang kemudian bersatu di bawah pimpinan seorang raja. Serat Surya Raja ini digubah oleh menantu Sultan, Raden Tumenggung Jayengrat, dengan judul Babad Kraton. Hamengku Buwana II naik tahta lagi tahun 1826 – 1828 setelah dipulangkan dari pengasingan di Ambon, dengan tujuan untuk merayu perjuangan Pangeran Diponegoro (1925 – 1930). Nampaknya usaha Belanda ini kurang mendapat keberhasilan.
Hamengku Buwana IX (1912 – 1988) Sri Sultan Hamengku Buwana IX lahir tanggal 12 April 1912 di Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Raden Mas Dorodjatun. Beliau putra Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Pendidikan beliau adalah : Taman Kanak-kanak Trobel di Yogyakarta, Eerste Europeesche Lagere School Bisnis di Yogyakarta, Neutrale Europeesche Lagere School di Yogyakarta, Gymnasium Haarlem di Semarang, Leiden Rijks Universiteit di Belanda. Kariernya yaitu : Sultan Yogyakarta 1940 – 1988, Gubernur DIY 1945 – 1988, Menteri Negara 1945, Menteri Pertahanan 1948, Wakil Presiden 1973 – 1978. Karya tarinya yaitu : Beksan Rara Ruruh, Rara Branyak, Prabot Dhusun, Umar Maya – Umar Madi, Beksan Cinten, Sapta Bedhaya Manten, Wayang Golek Menak, Joget Benawa. Beliau wafat pada tanggal 3 Oktober 1988 di kota Washington DC Amerika Serikat. Sultan Hamengku Buwana IX telah mewariskan budaya politik yang damai, keselasaran antara dunia modern dengan tradisional, seni yang kreatif, diplomasi yang meyakinkan, sikap demokrat dan merakyat, serta pembina organisasi sosial dan olahraga yang patut diteladani.
Hyang Maha Widi Kata Widi berasal dari bahasa Sansekerta wed = tahu, weda = petunjuk, widya = pengetahuan, Widi= Yang Mengetahui. Hyang Maha Widi bisa diberi makna Yang Maha Mengetahui. Gusti Allah ora sare, pirsa satindak tanduk titahe bermakna bahwa Tuhan tidak tidur, mengetahui segala perilaku hamba-Nya. Oleh karena orang Jawa mudah pasrah sumarah, sabar narima pada takdir Tuhan. Namun demikian sikap penerimaannya ini juga positif. Bagi orang yang sejak lahir sudah miskin, mereka tidak mudah cemburu dengan si kaya. Semua kehidupan mung saderma nglampahi.
Hyang Manon Arti Hyang Manon adalah Yang Maha Melihat. Segala tingkah laku manusia dilihat dan terlihat oleh Tuhan. Baik buruk kelakuannya nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan dibalas dengan balasan yang setimpal. Kesadaran orang Jawa bahwa Tuhan Maha Melihat akan mencegah dari perbuatan buruk meskipun orang lain tidak ada yang menyaksikan, dia akan merasa diawasi oleh Tuhan di mana dan kapan pun. Orang akan malu berbuat jahat biar pun tidak ada yang mengawasi.
Hyang Suksma Adiluwih Hyang Suksma Adiluwih artinya adalah Tuhan Yang Maha Lebih. Segala yang ada di dunia ini selalu di bawah keberadaan Tuhan. Dengan mengakui Yang Maha Lebih ini, orang Jawa menghindari sikap sombong. Sebaik-baik makhluk dan sehebat-hebat ciptaan masih amat jauh dibanding dengan kekuatan yang menciptakan. Singkat kata antara makhluk dengan yang menciptakan memang tidak bisa dibandingkan.
Ingkang Akarya Jagad Secara keseluruhan makna Ingkang Akarya Jagat adalah yang membuat dunia. Alam raya seluruhnya ini diyakini oleh orang Jawa bahwa ada yang menciptakan. Ilmu sangkan paraning dumadi menunjukkan asal-usul kehidupan dan tujuannya. Dunia pasti ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Sang Pencipta tanpa awal akhir, karena awal akhir hanya menguasai makhluk.
Ingkang Murbeng Gesang Arti Ingkang Murbeng Gesang adalah yang menguasai kehidupan. Kepasrahan kepada yang menguasai hidup ini membuat orang Jawa tidak risau terhadap segala jenis perubahan sosial yang sedang terjadi. Dalam logika sederhana, penguasa pesti memiliki kasih sayang terhadap yang dikuasai atau makhluknya. Duka nestapa selalu dipahami sebagai ganjaran dari Ingkang Murbeng Gesang.
Jagong Jagong sebenarnya mempunyai arti duduk. Orang yang sedang jagong berarti sedang duduk­duduk. Pengertian itu menjadi bergeser dengan makna orang yang sedang mendatangi pesta pernikahan, khitanan, atau orang yang baru saja melahirkan. Biasanya jagong itu dilakukan oleh bapak-bapak atau ibu-ibu dengan berkumpul di rumah sahibul hajat untuk ikut bergembira atau memberi doa restu kepadanya. Kegiatan jagong dalam hal tertentu kerap dilakukan semalam suntuk atau lek-lekan. Dalam masyarakat pedusunan tradisi jagong adalah hal yang lumrah. Bahkan acara jagong itu merupakan sarana interaksi sosial dan rekreasi yang murah, mudah dan meriah.
Jangka Jangkah Jangka mempunyai makna cita-cita, ramalan, prediksi dan antisipasi yang mengandung pengertian menatap masa depan. Jangkah berarti melangkahkan kaki atau mulai melangkah. Kemajuan hanya dapat dicapai dengan tangan kumrembyah, suku jumangkah, ‘tangan yang aktif dan kaki yang berjalan’. Daya upaya yang dikerahkan akan membuat lebih dinamis dan produktif. Ada istilah sapa obah mamah ‘siapa yang bergerak mengunyah’, menunjukkan pentingnya seseorang untuk berusaha. Cita-cita untuk menuju kesejahteraan tidak akan tercapai mana kala orang cuma berpangku tangan, bertopang dagu dan ogah-ogahan. Keberuntungan lebih mulia diusahakan daripada sekedar kebetulan.
Jatmika Jatmika adalah segala tindak-tanduk yang berdasarkan kaidah kesusilaan, sehingga siapa saja yang menyaksikan akan berkenan dalam hati. Dalam posisi apa pun, sikap jatmika senantiasa membawa rasa wibawa, segan dan hormat. Bagi kalangan bangsawan, ningrat atau priyayi, sikap jatmika akan menimbulkan rasa simpati buat rakyat kecil. Kekaguman rakyat kecil terhadap kelas atas karena tingkah laku yang jatmika ini. Sikap ini membuat rakyat kecil menaruh kepercayaan. Kepercayaan termasuk modal yang ampuh untuk menerapkan wewenang. Rakyat kecil mudah terhipnotis oleh wibawa jatmika sang pemimpin. Sebagai contoh adalah yang ditunjukkan oleh Presiden Soekarno. Hingga sekarang, kharisma beliau terpancar seolah-olah beliau masih hidup dan memberikan semangat juang.
Jenang Jenang artinya bubur atau makanan. Arti kiasnya adalah bawah orang yang memiliki jeneng ‘nama’ yang kokoh secara otomatis ia akan mendapat jenang ‘nafkah’. Jeneng harus didahulukan daripada jenang. Jangan sebaliknya minta jenang dahulu. Nanti menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan. Kalau jeneng didapat, tidak usah minta-minta, jenang akan datang dengan sendirinya. Boleh jadi jenang itu diperoleh dalam jumlah yang berlipat-lipat dari yang diharapkan. Prinsip ini seharusnya dipegang oleh kaum profesional yang benar-benar menekuni pekerjaan atau usahanya. Perusahaan yang memiliki modal besar dimulai dengan berlaku hemat. Tanpa harus mengorbankan nama baik. Dari situ modal bertambah dan perusahaan berkembang.
Jeneng Jeneng artinya nama. Orang yang kondang artinya orang yang memiliki nama baik dan integritas yang diakui. Istilah Jawanya adalah kondang kaonang, kaloka, kawentar, kuncara, kaceluk atau tenar. Nama baik dan harum seseorang diperoleh melalui perjuangan yang gigih. Apalagi kalau perjuangannya itu demi kesejahteraan orang banyak. Massa akan mengingat jasa­jasanya, meskipun dia sudah tiada. Contohnya adalah nama besar Ki Hajar Dewantara, Cokroaminoto, Soekarno, Ahmad Dahlan dan lain sebagainya. Mereka mempunyai jeneng yang sugeng atau langgeng. Keabadian namanya memang sudah layak dengan perjuangannya. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak menikmati jerih payahnya.
Jinawi Kata jinawi dalam jagat pakeliran berarti apa yang dibeli harganya serba murah. Kebutuhan hidup sehari-hari dapat dijangkau oleh masyarakat secara mudah. Kesenjangan daya beli antara si punya dan si tidak punya tidak terlampau lebar. Kecemburuan sosial yang berkaitan dengan daya beli membuat orang yang merasa tidak mampu akan berbuat nekad agar dirinya dapat mengejar ketertinggalan. Orang mau menjambret, mencopet, maling, merampok dan merompak karena dengan jalan lumrah dirinya tidak bisa memperjuangkannya. Negara yang memperoleh predikat jinawi, rakyatnya akan ramah dan murah senyum. Tegur sapa sesama bukan barang mahal dan lebih penting lagi masyarakat akan mulai memikirkan cara memaknai hidup entah dengan berkesenian atau mengembangkan pemikiran ilmiah religius.
Kagem Negara Orang Jawa sangat menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat lembaga yang namanya negara. Loyalitas mereka terhadap hukum dan pemerintah atau negara sebagaimana tercermin dalam idiom formal mereka: desa mawa cara negara mawa tata ‘desa dengan adat istiadat, negara dengan undang-undang’. Asal demi negara, apapun yang dimiliki bila diminta akan diserahkan. Meskipun secara material mereka sering dirugikan, namun rasa ruginya itu akan terobati oleh ungkapan kagem negara. Setia pada pemerintah atau pamong praja akan mendatangkan berkah karena pemerintah dianggab sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam memelihara dan mengupayakan tatanan sosial yang gemah ripah loh jinawi karta raharja.
Kakawin Negara Kertagama Karangan Empu Prapanca pada tahun 1365 H. Kitab Negara Kertagama ini menceritakan kemegahan Negeri Majapahit ketika raja Prabu Hayam Wuruk dan Mapatih Gajah Mada berkuasa. Kitab ini merupakan intan berkilauan dalam perpustakaan kita karena berasal dari kerajaan Indonesia kuno, ketika matahari kebesaran nusantara bersinar terang. Kitab itu telah disalin berulang kali. Salah satunya bagiannya adalah tiga syair yang telah dibaca ahli sejarah berulang-ulang. Si pembaca sangat terharu akan isi dan ikatan bahasanya yang memukau. Kitab ini merupakan testamen politik Gajah Mada, goresan tinta sejarah yang sangat bernilai harganya. Syair itu berisi bahwa wilayah nusantara di bawah lindungan Majapahit meliputi delapan wilayah besar, yakni :
1 Seluruh Jawa, meliputi : Jawa, Madura, Galiyao (Kangean – Bawean)
2 Seluruh Pulau Andalas atau Sumatra, meliputi : Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Indragiri), Muara Tebo, Darmasraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lawas (Padang Lawas), Samudra (Aceh), Lamuri, Bantam, Barus.
3 Seluruh Pulau Tanjungnegara atau Kalimantan, meliputi : Kapuas, Katingin, Sampit, Kutalingga (Serawak), Kota Waringin, Sambas, Lawai (Muara Labai), Kedangdanan (Kendangwangan), Landak, Samedang (Simpang), Tirem (Penireman), Sedu (Serawak), Brunei, Kalka Saludung, Solot (Solok, Sulu), Pasir, Barito, Sebuku, Tabalong (Amuntai), Tanjung Kutai, Malanau, Tanjungpuri.
4 Seluruh Semanjung Melayu atau Malaka, meliputi : Pahang, Hujung Medini (Johor), Lengkasuka (Kedah), Saimwang (Semang), Kelantan, Trengganu, Nagor (Ligor), Pakamuar (Pekan Muar), Dungun (Trengganu), Tumasik (Singapura), Sang Hyang Hujung, Kelang (Negeri Sembilan), Kedah, Jere (Jere, Patani), Kanjap (Singkep), Niran (Karimun).
5 Seluruh Sunda Kecil, meliputi : Bali, Bedulu, Lwagajah (Negara), Gurun (Nusa Penida), Taliwang (Sumbawa), Sapi (Sumbawa), Sang Hyang Api (Gunung Api Sangeang), Bima, Seram, Hutan (Sumbawa), Kedali (Buru), Gurun (Gorong), Lombok Mirah (Lombok Barat), Sasak (Lombok Timur), Sumba, Timor.
6 Seluruh Slawesi, meliputi : Bantanyan (Bontain), Luwu, Udamakaraja (Talaud), Makasar, Buton, Banggai, Kunir (Pulau Kunyit), Salaya, Solor.
7 Seluruh Maluku, meliputi : Muara (Kei), Wandan (Banda), Ambon, Ternate.
8 Seluruh Irian Barat, meliputi : Onin (utara), Seran (Selatan).
Kakawin Ramayana Kakawin Ramayana merupakan terjemahan karya sastra ciptaan pujangga Hindu, Walmiki, pada permulaan masehi. Kitab Ramayana terdiri dari 7 kandha dan 24.000 seloka. Ketujuh kandha dalam Kakawin Ramayana tersebut adalah sebagai berikut: Bala Kandha, berisi cerita tentang Prabu Dasarata, raja di negeri Kosala yang beribukota di Ayodya. Dalam Lakon Sayembara Widekadirja atau Sayembara Mantili, Dewi Sinta, putri Prabu Janaka disunting oleh Rama; Ayodya Kandha, berisi kisah Rama, Sinta dan Lesmana yang disingkirkan di hutan Dandaka (Lakon Rama Tundhung); Aranya Kandha, berisi kisah Sinta yang diculik Rahwana (Lakon Rama Gandrung); Sundara Kandha, berisi tentang cerita kepahlawanan Anoman yang berhasil berjumpa dengan Dewi Sinta di Alengka (Lakon Anoman Duta); Kiskendha Kandha, berisi kisah tentang bala tentara Rama yang menyeberangi samudra untuk menuju ke Alengka (Lakon Rama Tambak); Yudha Kandha, berisi kisah peperangan antara tentara Alengka dengan tentara Rama, yang berakhir dengan kembalinya Rama Sinta ke Ayodya (Lakon Brubuh Alengka); Uttara Kandha, berisi kisah Rama Sinta setelah kembali ke Ayodya. Rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Sinta lagi. Untuk membuktikan kesucian Sinta maka dilakukan pembakaran atas diri Sinta (Sinta Obong).
Kama Istilah kama berkaitan dengan dunia kesenangan atau kenikmatan. Arti leksikal kama adalah sperma. Kama salah adalah nama kecil Batara Kala yang berarti sperma yang salah alamat. Orang yang suka bermain sperma akan menimbulkan “Batara Kala” berserakan yang merusak harmoni kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut mudah diketemukan dalam dunia anak-anak. Sifat kekanak-kanakan biasanya egois, mau menang sendiri, permintaan harus dikabulkan melebihi keinginan raja. Kalau diingatkan dia akan menangis. Bila perlu dengan mengamuk segala rupa agar diperhatikan kehendak dan keinginannya. Orang yang terjangkit sifat kama atau kekanak-kanakan itu hidupnya ingin selalu bersenang-senang terus, tak mau susah dan melimpahkan penderitaan pada orang lain dengan tega.
Kamadhatu Merupakan simbol alam bawah, tempat bersemayamnya manusia lumrah. Secara simbolis mengandung arti tingkat manusia dalam usia kanak-kanak, yang masih tergoda oleh kesenangan duniawi, bermain-main, hedonis rekreatif, dan egoistis.
Karsa Karsa berarti kehendak, kemauan, keinginan atau tekad bulat untuk diwujudkan dalam kenyataan. Dengan demikian karsa berarti lebih dekat dengan nilai perjuangan. Dalam ilmu filsafat karsa erat kaitannya dengan nilai kebaikan. Tokoh Bima dalam wayang, menggambarkan tekad kuat dan suci serta gigih dalam mencapai cita-cita. Lakon Bimasuci yang mengisahkan cita-cita Bima untuk mencari air kehidupan, dilakukannya dengan sepenuh tekad yang sangat patut diteladani. Setelah bertemu dengan yang dicari, kemudian Bima pun menyebarkan pengalamannya pada orang lain. Di Pertapaan Argakelasa ia membuka padepokan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk menyebarkan ilmu kepada orang lain.
Karta Kata karta diterangkan oleh Ki Dalang berkaitan dengan kemakmuran dan aktivitas kerja. Hal ini menunjukkan suatu masyarakat yang gemar berkarya, produktif dan sibuk kegiatan akan menjadi makmur. Petani sibuk dengan bercocok tanam. Pedagang rajin berjualan, peternak tekun menggembala. Kesempatan bekerja yang luas akan mengurangi angka pelanggaran yang menjurus pada kriminalitas. Masing-masing individu mempunyai kesempatan untuk menyumbangkan diri. Kehormatan sosial akan membuat orang memiliki arti dalam hidupnya. Orang yang bekerja pasti timbul harga dirinya. Status sosialnya diakui oleh lingkungan. Oleh karena itu meledaknya pengangguran perlu dihindari.
Kasultanan Yogyakarta Perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam menegakkan kebenaran dan keadilan akhirnya membuahkan hasil dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Sejak itu Pangeran Mangkubumi resmi menjadi sultan pertama di Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Para Sultan yang pernah memerintah di kraton Yogyakarta yaitu :
1 Hamengku Buwana I (1755 – 1792)
2 Hamengku Buwana II (1925 – 1810)
3 Hamengku Buwana III (1810 – 1813)
4 Hamengku Buwana IV (1814 – 1822)
5 Hamengku Buwana V (1822 – 1855)
6 Hamengku Buwana VI (1855 – 1877)
7 Hamengku Buwana VII (1877 – 1921)
8 Hamengku Buwana VIII (1921 – 1939)
9 Hamengku Buwana IX (1939 – 1988)
10 Hamengku Buwana X (1988 – )
Kasunanan Surakarta Kasunanan Surakarta telah melahirkan para raja yang aktif sekali dalam mengembangkan sastra dan budaya. Bahkan raja sendiri terjun langsung dlam dunia karang mengarang, sehingga para raja ini mendapat julukan satria pinandhita. Para raja Surakarta sungguh ahli dan produktif dalam menyebarkan gagasannya lewat karya sastra yang bermutu tinggi. Para raja yang pernah memerintah di Kasunanan Surakarta :
1 Paku Buwana II (1726 – 1749)
2 Paku Buwana III (1749 – 1788)
3 Paku Buwana IV (1788 – 1820)
4 Paku Buwana V (1820 – 1823)
5 Paku Buwana VI (1823 – 1830)
6 Paku Buwana VII (1830 – 1858)
7 Paku Buwana VIII (1858 – 1861)
8 Paku Buwana IX (1861 – 1893)
9 Paku Buwana X (1893 – 1939)
10 Paku Buwana XI (1939 – 1944)
11 Paku Buwana XII (1944 – sekarang) Pada masa Kasunanan Surakarta awal gencar sekali para pujangga dan raja melakukan penerjemahan karya asing, penyaduran sastra lama dan menciptakan karya sastra baru. Contohnya Serat Wiwaha Jarwa karya saduran Sinuwun Paku Buwana III dengan sengkalan: tasik sonya giri juga yang berarti tahun 1704 Jawa atau 1778 tahun Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 128). Serat Wiwahajarwa digubah dari Kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa. Pada masa pemerintahan sinuwun Paku Buwana IV, beliau menciptakan Serat Wulangreh, yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa, serat lain karya Paku Buwana IV yaitu Wulang Sunu (Poerbatjaraka, 1959: 148-149). Pujangga besar lain yang seangkatan dengan Sinuwun Paku Buwana IV yaitu Kyai Yasadipura I, Yasadipura II, Pangeran Kusumadilaga, dan Kyai Sindusastra. Kyai Yasadipura I dan Yasadipura II menciptakan karya sastra, baik yang bersifat terjemahan, saduran atau ciptaan baru. Misalnya Arjunawiwaha Jarwa, Serat Rama Jarwa, Serat Bratayudha, Serat Paniti Sastra, Serat Arjuna Sasra atau Lokapala, Serat Darmasunya, Serat Dewaruci Jarwa, Serat Menak, Serat Ambia, Serat Tajussalatin, Serat Cebolek, Serat Babad Giyanti, Serat Sasanasunu, dan Serat Wicara Keras. Kyai Sindusastra adalah abdi dalam Kanjeng Gusti Pangeran Purbaya atau Sinuwun Paku Buwana VII. Kyai Sindusastra membuat karya Serat Arjuna Sasrabahu, Lakon Sugriwa Subali, Serat Partayagnya, Partakrama, Srikandhi Maguru Manah, Sembadra Larung dan Cekel Waneng Pati (Poerbatjaraka, 1957: 149-150). Karya-karya Sindusastra ini bersifat saduran dan gubahan saja. Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana V, terbitlah mahakarya, yaitu Serat Centhini. Serat Centhini ini dikerjakan oleh sebuah tim yang dipimpin Sinuwun Paku Buwana V sendiri. Anggota tim itu di antaranya yaitu Kyai Yasadipura II dan Kyai Rangga Sutrasna. Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana VI karya sastra yang dihasilkan tidak begitu banyak, karena beliau membantu perjuangan Pangeran Diponegoro (1825-1830), sehingga beliau diasingkan di Ambon. Paku Buwana memerintah antara tahun 1823-1830 dan wafat pada tahun 1849 di pengasingan (Ricklefs, 1995:
180). Pasca perang Diponegoro ini kekuatan politik para raja Jawa, khususnya Mataram yang sudah terpecah menjadi empat kraton kecil-kecil, mengalami kemerosotan. Ketenangan politik ini mendorong para elit pribumi dan kaum bangsawan untuk aktif dalam kehidupan sastra dan budaya, yang ternyata juga efektif sebagai sarana legitimasi.
Kaya Kaya berarti penghasilan, harta, atau uang. Orang yang mempunyai penghasilan yang mencukupi tentu saja akan tenang hidupnya. Sebaliknya orang yang miskin dan kekurangan akan menderita dan tidak mendapat kehormatan. Kalau ada, kehormatan tersebut lebih cenderung kepada belas kasihan. Di pedusunan kekayaan yang tinggi nilainya adalah sapi. Oleh karena itu orang Jawa menyebut sapi dengan istilah raja kaya. Orang desa kalau ingin memiliki uang yang cukup banyak biasanya menjual sapi. Walaupun masih ada harta lain yang nilainya lebih besar, tetapi tidak semudah menjual sapi. Agar kekayaan dapat diperoleh secara sah, orang harus bekerja keras, tekun dan jujur. Kekayaan merupakan salah satu lambang harga diri.
Kemitraan Rasa kemitraan orang Jawa terdapat pada anggapan siapa saja yang datang dianggap sebagai saudara. Bahkan pada umumnya tiap Jawa mempunyai anggaran khusus untuk menjamu tamu. Para pekerja rantau dan pengamen yang menginap mendapat jaminan hidup dari Pak Lurah secara wajar. Rasa kebersamaan masyarakat Jawa diwujudkan dalam bentuk kerja bakti, gotong-royong, gugur gunung, sambatan, jagongan dan rewang. Apabila ada tetangga punya hajat, tanpa diundang pun tetangga yang lain bersedia dan siap membantu.
Kenduren Yang dimaksud dengan kenduren adalah upacara sedekah makanan karena seseorang telah memperoleh anugrah atau kesuksesan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dalam hal ini kenduren mirip dengan cara tasyakuran. Acara kenduren bersifat personal. Undangan biasanya terdiri dari kerabat, kawan sejawat, dan tetangga. Mereka berkumpul untuk berbagi suka. Suasananya santai, sambil membicarakan tauladan yang bisa ditiru misalnya kenaikan pangkat, lulus ujian, terpilih untuk mengemban amanat jabatan dan sukses-sukses lain yang perlu dan pantas ditiru. Hidangan sedekah kenduren menunya lebih bebas. Hampir tidak ada kewajiban menu tertentu sehingga terbangun suasana suka dan meriah.
Kerja Bakti Sesuai dengan istilahnya, kerja bakti merupakan sebuah kerja sosial sebagai wadah untuk berbakti atau melakukan pengabdian kepada masyarakat dan negara. Misalnya kerja bakti membenahi jalan dan membersihkan selokan. Berbeda dengan gugur gunung dan gotong royong, kerja bakti mengacu pada pekerjaan ringan tetapi kuantitasnya banyak. Kata bakti­bekti populer dalam bahasa Jawa. Ada ungkapan berbakti kepada nusa dan bangsa, berbakti pada ibu pertiwi sungkem pangabekti, sembah bekti, bekti kawula dan sebagainya, semua menunjukkan sikap rendah hati dan tunduk kepada kepentingan orang banyak.
Kesopanan Etika kesopanan orang Jawa terwujud dalam istilah unggah-ungguh, tata krama, tata susila, basu krama, suba sita, etika dan sopan santun. Tata susila harus diutamakan agar orang dapat diterima dalam pergaulan sosial secara wajar. Semakin halus budi pekerti seseorang maka akan mendapat simpati lebih tinggi. Orang Jawa cenderung untuk menggunakan bahasa halus bila berhadapan dengan orang yang dihormati.
Kesusu-Kesaru Kesusu artinya tergesa-gesa dalam pekerjaan yang disebabkan oleh karena sering menunda pekerjaan dan kurang cermat dalam memperhitungkan resiko. Kesaru berarti terambil. Yang dimaksukan adalah keuntungan yang kurang maksimal. Segala pekerjaan bila dilakukan dengan sering ditunda penyelesaiannya tentu akan menumpuk. Sementara pekerjaan dan tugas lain akan datang. Ketika pekerjaan banyak, masalah semakin rumit, pikiran bertambah berat bebannya. Di sini emosi jadi mudah terpancing dan menjadi gampang marah. Menunda adalah kebiasaan yang bodoh. Karena hanya menunggu masalah semakin ruwet. Masalah yang ruwet mendorong orang untuk kesusu-susu atau tergesa-gesa.
Ki Ageng Gribig Ki Ageng Gribig hidup pada masa pemerintahan Sinuwun Sultan Agung. Beliau adalah murid Sunan Kalijaga yang bertugas menyebarkan agama Islam di daerah Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Nama lain Ki Ageng Gribig yaitu Wali Nukiba atau Wali Anom. Warisan Ki Ageng Gribig di antaranya: Masjid Cilik, Masjid Ageng, Sendhang Suran, Sendhang Cuwet, Sendhang Kelampeyan, Gua Belan, Loji Gabus, Masjid Gabus. Kehidupan Ki Ageng Gribig dapat diketahui melalui Babad Jatinom. (Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 1999). Masyarakat kabupaten Klaten dan sekitarnya tiap tahun memperingati jasa Ki Ageng Gribig dengan upacara tradisional yang sangat meriah.
Ki Ageng Pandhanaran Banyak tokoh yang memilih hidup sunyi senyap yang jauh dari gebyar keduniaan dan memilih hidup menyendiri dengan cara sufi. Sebagai contoh adalah Ki Ageng Pandhanaran. Ki Ageng Pandhanaran adalah putra Pangeran Sabrang Lor. Beliau masih keturunan raja Majapahit. Keterangannya sebagai berikut: Prabu Brawijaya berputra Raden Patah, Raden Patah berputra Pangeran Sepuh atau Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Sabrang Lor berputra Made Pandhan atau Ki Ageng Pandhanaran. Ki Ageng Pandhanaran memang sengaja meninggalkan tahta warisan orang tuanya. Tahta Demak beliau serahkan kepada pamannya, Sultan Trenggana. Beliau sendiri memilih hidup menjadi juru dakwah agama. Beliau tinggal di Tembayat, Klaten, Jawa Tengah. Beliau juga murid Sunan Kalijaga.
Ki Ageng Sela Dari segi silsilah, Ki Ageng Sela masih keturunan raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V menurunkan Raden Bondan Kejawen atau Lembu Peteng. Lembu Peteng menurunkan Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa menurunkan Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela menurunkan Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan menurunkan Panembahan Senapati. Panembahan Senapati menurunkan para raja Mataram. Ki Ageng Sela tinggal di Sela, Tawangharjo, Purwadadi, Grobogan, Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai tokoh yang dapat menangkap petir. Nama lain Ki Ageng Sela adalah Bagus Songgom atau Ki Ageng Ngabdurrahman ing Sela. Dinasti Ki Ageng Sela adalah sebagai berikut: Prabu Brawijaya berputra Raden Bondan Kejawen, Raden Bondan Kejawen berputra Ki Ageng Getas Pandawa, Ki Ageng Getas Pandawa berputra Ki Ageng Sela. Beliau adalah guru Mas Karebet, Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Ajarannya yaitu Pepali Ki Ageng Sela atau Serat Pepali yang berisi ajaran budi pekerti luhur. Pusakanya adalah Bendhe Ki Becak (Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 1999). Perkembangan selanjutnya pada tahun 1584 Adipati Sutawijaya menggeser kekuasaan Pajang beralih ke Mataram. Ki Ageng Sela yang dianggap sebagai nenek moyang Dinasti Mataram.
Ki Ageng Suryo Mentaram Di antara priyayi kesultanan Yogyakarta yang melakukan kehidupan sufi yaitu Ki Ageng Suryo Mentaram. Ki Ageng Suryo Mentaram adalah putra ke-55 dari 79 putra Sultan Hamengku Buwana
VII. Beliau hidup antara tahun 1892-1962. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Kudiarmaji. Bendara Raden Mas Kudiarmaji adalah murid kesayangan KH. Achmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah. Sejak kecil beliau suka berkontemplasi terhadap segala perubahan hidup. Beliau meninggalkan kenikmatan duniawi, dengan meninggalkan istana. Dia memilih hidup menjadi rakyat jelata sebagai bakul dan petani. Setelah Sultan Hamengku Buwana VII surut ing karedan jati, beliau melepas atribut kapangeranan. Beliau menjadi pertapa dengan mengasingkan diri ke daerah Beringin, Salatiga, Jawa Tengah. Di sini beliau mendapat julukan populer Ki Gedhe Suryo Mentaram atau Ki Gedhe Bringin. Bersama tokoh lain yaitu Ki Hajar Dewantara, Ki Sutopo Wonoboyo dan Ki Sutatmo, beliau mempelopori sarasehan Slasa Kliwon. Dari sarasehan ini tumbuhlah gagasan untuk mendirikan perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Atas jasa-jasanya ini, Ki Hajar Dewantara memberi gelar Ki Gedhe Suryo Mentaram menjadi Ki Ageng Suryo Mentaram. Ajaran-ajaran Ki Ageng Suryo Mentaram yaitu: Falsafah Mulur Mungkret, Konsep Aja Dumeh, Konsep Kramadhangsa, Aku Iki Wong Apa? Piageming Gesang, Pangawikan Pribadi, Djiwa Persatuan dan Jiwa Buruh, Pembangunan Djiwa Warganegara, Kawruh Begja dan Kesempurnaan, Filsafat Rasa Hidup, Ukuran Keempat, Wejangan Pokok Ilmu Bahagia, Rasa Bebas, Mawas Dhiri, Jimat Perang serta Rasa Manusia, Ilmu Perkawinan, Ijasah Hidup dan Rasa Unggul, Ilmu Pendidikan dan Seni Suara. Ki Ageng Suryo Mentaram dalam hidupnya mirip dengan tokoh Mahatma Gandhi. Beliau terbiasa dengan celana pendek, kaos oblong, kaki telanjang dan berkain sarung. Ajarannya sering dipaparkan dalam bentuk duduk lesehan. Hidup Ki Ageng Suryo Mentaram seluruhnya diabdikan untuk meneliti tentang olah rasa dan olah jiwa (Sudarso, 1999). Ki Ageng Suryo Mentaram lahir tanggal 20 Mei 1892 dan meninggal pada tanggal 18 Maret 1962. Dalam menyampaikan ajarannya, Ki Ageng Suryo Mentaram memakai metode lesehan atau duduk di lantai. Ajaran Ki Ageng Suryo Mentaram yang terkenal di antaranya ungkapan aja dumeh.
Ki Hajar Dewantara Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mendirikan Perguruan Taman Siswa. Beliau hidup antara tahun 1899 – 1959. Beliau lahir tanggal 2 Mei 1899 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau adalah cucu Sri Paku Alam III. Karirnya dimulai dengan bidang jurnalistik di surat kabar Sedyo Tomo, Midden Java, De Express, Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia, Cahaya Timoer, dan Het Tijdschrift. Karena-kegiatan politiknya yang menantang pemerintahan Hindia Belanda bersama Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, beliau dibuang ke negeri Belanda. Di tanah buangan ini beliau menambah ilmu pengetahuan, dan pengalaman. Pada tahun 1918 beliau mendirikan kantor berita Indonesische Persbureau di Belanda. Selain itu beliau juga mengelola majalah Hindia Poetra, Dendier, dan Het Indonesische Verbond van Studerenden. Beliau tinggal di negeri Belanda antara tahun 1913 – 1919. Ki Hajar Dewantara sekembalinya ke Indonesia lantas aktif di dunia pendidikan. Perguruan Taman siswa beliau didirikan pada tahun 1923 di Yogyakarta. Sistem pendidikan di Taman Siswa terkenal dengan nama among, yaitu prinsip-prinsip hidup: Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Pada jaman Jepang Ki Hajar Dewantara memimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat) bersama dengan Bung Karno, Bung Hatta dan KH. Mas Mansyur yang dikenal dengan sebutan empat serangkai. Pada jaman kemerdekaan Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran pada kabinet pertama Indonesia. Universitas Gajah Mada pernah memberi gelar Doctor Honoris Causa pada Ki Hajar Dewantara. Jasa beliau ini dihormati pemerintah dengan menjadikan hari ulang tahunnya sebagai hari pendidikan nasional, tanggal 2 Mei. Karya Ki Hajar Dewantara dalam bidang seni, sastra dan budaya di antaranya: Kebudayaan umum, Kebudayaan Pendidikan dan Kesenian, Kebudayaan dan Kewanitaan, Kebudayaan dan Masyarakat. Warisan Ki Hajar Dewantara yang monumental yaitu Perguruan Taman Siswa. Perguruan ini telah mendidik anak bangsa sejak dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Kader-kader beliau sangat berjiwa nasionalis yang berbudi luhur tanpa kehilangan basis budaya asli. Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 atau 1376 H.
Kodrat Wiradat Kodrat wiradat dalam khasanah kebudayaan Jawa artinya takdir Tuhan tidak bersifat mutlak. Manusia masih ada wewenang untuk menentukan nasip dan peruntungannya dalam batas-batas tertentu. Seseorang mengatakan kegagalan suatu usaha karena alasan takdir adalah argumentasi yang buruk. Boleh jadi kegagalan itu karena ceroboh, sembrono, urakan, ugal­ugalan dan kelalaian manusia sendiri. Hampir semua keterpurukan manusia secara kolektif berasal dari kecerobohan manusia yang dilakukan secara sengaja. Nasib yang kurang baik masih terbuka untuk ditingkatkan mutunya. Bagi mereka yang cukup gigih dan kreatif tentu akan optimis dalam menghadapi masa depan.
Kraton Demak Setelah kraton Majapahit redup dari panggung sejarah nasional, kemudian muncul kraton baru yaitu kasultanan Demak, yang rajanya masih keturunan dari Dinasti Majapahit. Sultan Demak yang pertama bernama Raden Patah atau Sultan Syah Alam Akbar. Beliau putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir dan ibunya adalah seorang putri dari Palembang. Para raja yang pernah memerintah di kraton Demak yaitu :
1 Raden Patah (1478 – 1513)
2 Pati Unus (1513 – 1521)
3 Sultan Trenggana (1521 – 1546)
4 Sultan Prawata (1546 – 1561) Kitab-kitab yang terbit karena pengaruh agama Islam di antaranya: Het Boek van Bonang, Een Javaans Geschrift uit de 16 Eeuw, Suluk Sukarsa, Koja-Kojahan, Suluk Wujil, Suluk Malang Sumirang, Nitisruti, Nitipraja, Sewaka, Menak, Rengganis, Manik Maya, Ambiya, dan Kandha. Kraton Demak diperintah oleh para sultan yang didukung penuh oleh para wali yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Mereka gemar dengan kesenian dan budaya daerah. Mereka menyempurnakan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam (Haryanto, 1988: 201-202).
Kraton Kediri Kraton Kediri dalam peta sejarah nasional sangat populer. Demikian juga pengaruhnya terhadap kehidupan sekarang sering menjadi referensi bagi masyarakat awam dalam menanggapi fenomena kontemporer. Kadang-kadang masyarakat awam yang marjinal, miskin dan putus asa itu bernostalgia lagi terhadap kejayaan kraton Kediri. Mitos ratu adil yang diwakili oleh Prabu Jayabhaya kuat di ingatan massa kejawen. Para raja yang pernah memerintah di kraton Kediri yaitu :
1 Warsajaya (1104 – 1135)
2 Jayabhaya (1135 – 1157)
3 Sarweswara (1159 – 1161)
4 Kroncaryadhipa (1181 – 1182)
5 Kameswara (1182 – 1185)
6 Srengga Kertajaya (1194 – 1205)
7 Kertajaya (1205 – 1222)
8 Jayakatwang (1292 – 1293)
Kraton Majapahit Kraton Majapahit merupakan kraton nasional besar yang telah mengukir prestasi gemilang. Di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada, nusantara berhasil dipersatukan. Bahkan wilayah Majapahit luasnya melebihi luas Indonesia sekarang. Para raja yang pernah memerintah di kraton Majapahit yaitu :
1 Kertarajasa Jayawardhana (1294 – 1309)
2 Jayanegara (1309 – 1328)
3 Tri Bhuana Wijaya Tungga Dewi (1328 – 1350)
4 Hayam Wuruk (1350 – 1389)
5 Wikramawardhana (1389 – 1429)
6 Ratu Suhita (1429 – 1447)
7 Wijaya Parakrama Wardhana (1447 – 1451)
8 Rajasa Wardhana (1451 – 1453)
9 Girisa Wardhana (1456 – 1466)
10 Singhawikrama Wardhana (1466 – 1478) Pada jaman Majapahit perkembangan kitab-kitab kesusastraan pesat sekali. Misalnya Parthayadnya, Nitiçastra, Nirarthaprakreta, Dharmaçunya, Hariçraya, Tantu Panggelaran, Calon Arang, Tantri Kamandaka, Korawaçrama, Pararaton, Dewaruci, Sudamala Kidung Subrata, Panji Anggreni dan Sri Tanjung. Karya sastra pada jaman Majapahit itu terdiri dari kitab-kitab Jawa Kuno yang tergolong muda dan sebagian lagi berbahasa Jawa Tengahan. Kerajaan Majapahit memiliki struktur pemerintahan yang hebat. D samping raja, duduk Dewan Sapta Prabu yang
terdiri dari enam orang anggota senior dan tujuh raja sendiri sekaligus sebagai ketua. Di samping itu raja dibantu oleh empat lembaga tinggi yakni : 1. Mahamentri Katrini, yakni Mentri Hino, Mentri Sirikan dan Mentri Halu; 2. Dwi Darma Jaksa, yakni Darma Jaksa Kasogatan urusan agama Buda dan Darma Jaksa Kasaiwan urusan agama Siwa. Rakawi Prapanca yang menulis Kakawin Negara Kertagama adalah seorang Darma Jaksa Buda; 3. Sapta Pepati, adalah tujuh orang pepati, yakni lima orang pameget agama Siwa (tirwan, kandamuhi, manghuri, jambi dan panwatan) dan dua orang pegawai agama buda. Sapta Pepati mengurusi urusan yang berkaitan dengan candi, perdikan desa dan segala urusaan kerohanian; Panca Ring Wilwatikta, yakni empat orang rakryan dan seorang patih. Lima serangkai Majapahit ini adalah kementerian negara yang berada di bawah Patih Gajah Mada.
Kraton Mataram Kartasura Pada masa pemerintahan Amangkurat II, banyak terjadi huru-hara yang menyebabkan stabilitas kraton Mataram terganggu. Oleh karena itu Amangkurat II memindahkan ibukota Mataram ke daerah Kartasura. Ibukota baru ini diyakini akan membawa ketenteraman dan kedamaian kraton. Para raja yang pernah memerintah kraton Mataram Kartasura yaitu :
1 Amangkurat II (1677 – 1703)
2 Amangkurat III (1703 – 1708)
3 Paku Buwana I (1704 – 1719)
4 Amangkurat IV (1719 – 1726) Serat Menak merupakan karya sastra sebagai wahana dakwah Islamiyah. Kitab ini dibuat tahun 1639 tahun Jawa, atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sinuwun Paku Buwana I atau Pangeran Puger di kraton Kartasura (Poerbatjaraka, 1957: 105). Cerita Menak ini berasal dari negeri Persia dan dalam bahasa Melayu disebut Hikayat Amir Hamzah. Serat Menak digubah ke dalam bahasa Jawa bersamaan dengan berkembangnya agama Islam. Salah satu cabang cerita Menak yang terkenal adalah cerita Rengganis. Cerita ini dibuat oleh Rangga Janur, pujangga Kraton Kartasura (Poerbatjaraka, 1957: 112). Serat Rengganis mengisahkan percintaan antara Pangeran Kelan dengan Dewi Rengganis dan Dewi Kadarmanik. Karya sastra yang dibuat pada masa Kraton Kartasura yang lainnya adalah Serat Manikmaya. Penciptanya yaitu Kartamursadah dari Tanah Pasundan. Para bangsawan Priangan sering mengirim putra­putrinya ke Kraton Mataram untuk belajar sastra dan budaya (Poerbatjaraka, 1957: 114). Serat Manikmaya sebagian menceritakan kisah-kisah yang sudah diungkapkan dalam Serat Tantu Panggelaran. Seangkatan dengan Serat Manikmaya, yaitu Serat Ambiya dan Serat Kandha. Keduanya juga terbit pada jaman kraton Kartasura. Serat Ambiya yang terpengaruh agama Islam ini menceritakan kisah awal penciptaan dunia serta cerita sejak adanya Nabi Adam. Serat Kandha menggabungkan antara unsur Hindu, Islam, dan Jawa. Di sana dijumpai kisah para Nabi yang dikemas sedemikian rupa, sehingga menjadi keunikan khas kreativitas pujangga Jawa. Kanjeng Ratu Mas Balitar adalah garwa dalem sinuwun Paku Buwana I. Gelar Ratu Balitar lainnya adalah Kanjeng Ratu Ibu atau Sang Aprabu Nini. Berhubung kepribadiannya yang luhur dan agung, Ratu Balitar dihormati sebagai Putri Amardika jimate wong nusa Jawa (Alexander Sudewa, 1995: 245). Sikap Ratu Balitar yang bijak bestari ini mampu meredakan krisis politik yang selalu bergolak pada masa awal kraton Kartasura dan Surakarta. Hal ini bukan suatu kebetulan, karena beliau adalah seorang tokoh putri yang gemar akan ilmu pengetahuan. Ratu Balitar terlibat dalam pembuatan karya sastra yang berjudul Serat Iskandar, Serat Menak, dan Serat Yusuf. Serat Iskandar masih berkaitan dengan Hikayat Iskandar Zulkarnain berbahasa Melayu yang pernah dianalisis oleh Siti Chamamah Soeratno (1991) dalam bentuk disertasi. Serat Menak dan Serat Jusuf ini dibuat oleh Ratu Balitar di samping untuk syiar Islam juga demi kemajuan pendidikan masyarakat saat itu yang selalu menghadapi pergolakan politik. Bagi kebanyakan para putri sekarang, kiranya ppatut apabila mau meniru kebijaksanaan dan kepandaian Kanjeng Ratu Mas Balitar dalam menyikapi perubahan dan pergolakan di pentas kenegaraan.
Kraton Mataram Kuno Studi sejarah Jawa Kuno secara tertulis dimulai tanggal 25 Maret 804, dengan ditemukannya Prasasti Sukabumi yang berbunyi: Pada tahun 726 penanggalan Çaka, dalam bulan Çaitra, pada hari kesebelas paro terang, pada hari Haryang atau hari kedua dalam minggu yang berhari enam, Wage atau hari keempat dalam minggu berhari lima, Saniscara atau hari ketujuh dalam minggu yang berhari tujuh (Zoetmulder, 1985: 3). Keterangan ini amat berharga berkaitan dengan validitas sumber penulisan historiografi lokal pada khususnya, sejarah nasional pada umumnya. Sumber penulisan sejarah Mataram Kuno yaitu Prasasti Mantyasih di Kedu yang diterbitkan pada masa Rakai Watukumara Dyah Balitung yang berangka tahun 907. Prasasti Mantyasih menyebutkan para raja Mataram Kuno yaitu: Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Pananggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, Sri Maharaja Rakai Garung, Sri Maharaja Rakai Pikatan, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung, Sri Maharaja Rakai Daksa, Sri Maharaja Rakai Tulodhong, Sri Maharaja Rakai Wawa, Sri Maharaja Empu Sindok. Satu hal yang cukup mengagumkan, bahwa pada jaman Jawa Kuno dahulu pendidikan humaniora mendapat tempat utama. Soal-soal kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional terbatas saja. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang harus diikuti oleh umum, lebih­lebih kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat (Zoetmulder, 1985: 179). Kesadaran mengenai makna penting kedudukan ilmu bahasa, sastra, sejarah, antropologi, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan, dan tata negara telah memberi inspirasi para pejabat kraton untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pendidikan pada saat itu yang berwujud padepokan dan peguron. Pertumbuhan kesusasteraan Jawa sudah dikenal secara luas dan selang waktu yang cukup lama. Karya sastra yang paling tua adalah Serat Candakarana yang dibuat pada masa Dinasti Syailendra yang berkuasa sekitar tahun 700 Çaka dan telah berhasil membangun monumen megah berupa Candi Kalasan. Serat Candakarana ini berisi tentang pelajaran persajakan dan leksikografi (Poerbatjaraka, 1957: 1-2).
Kraton Mataram Islam Kraton Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dengan membuka Alas Mentaok sebagi hadiah dari Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Setelah Pajang surut dari gelanggang kekuasaan, maka Mataram menjadi penggantinya, berhubung Sutawijaya itu juga anak angkat Sultan Pajang yang telah berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Kemudian Sutawijaya menjadi raja Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senapati. Dari silsilah yang lengkap dapat diketahui bahwa Brawijaya V adalah keturunan ke-46 dari Adam, sedangkan Senapati adalah generasi ke-52. Dan kita ketahui bahwa dia adalah raja pertama atau pendiri kraton Mataram. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1584 Adipati Sutawijaya menggeser kekuasaan Pajang beralih ke Mataram. Dalam bidang budaya Panembahan Senapati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatahan gempuran (Haryanto, 1988: 204). Pada jaman Sinuhun Sekar Seda Krapyak, ayahanda Sultan Agung, terbit Suluk Wujil tahun 1529 Çaka atau 1607 Masehi dan Serat Nitisruti tahun 1534 Jawa atau 1612 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 94-100). Jasa Panembahan Seda Krapyak (1601-1618) dalam bidang kebudayaan adalah berusaha untuk menyusun sejarah negeri Demak, dan penulisan beberapa kitab suluk (Ricklefs, 1974: 14). Misalnya Suluk Wujil yang berisi wejangan mistik Sunan Bonang kepada abdi kekasih raja Majapahit yang bernama Wujil. Serat Nitisruti ciptaan Pangeran Karanggayam yang berisi tentang tuntutan budi pekerti luhur dan kandungan mistik. Sultan Agung memperpadukan antara tradisi pesantren (Islam) dengan tradisi kejawen dalam hal perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun Hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Çaka. Pada tahun 1633 Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun baru bagi seluruh kraton Mataram, yaitu perhitungan model ini hampir keseluruhannya menyesuaikan dengan tahun Hijriah, berdasarkan atas perhitungan bulan. Namun, awal perhitungan tahun Jawa ini tetap pada tahun Çaka, yaitu tahun 78 Masehi (Bambang Kusbandrijo, 1992: 81). Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan Serat Babad. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses Islamisasi tradisi dan kebudayaan Jawa, yang sudah terjadi sejak berdirinya kraton Jawa Islam Demak (Darsiti Soeratman, 1990: 5). Sultan Agung mendorong proses Islamisasi kebudayaan Jawa. Dia mengadakan pembaharuan tata hukum dalam usaha penyesuaian dengan hukum Islam, dan memberi kesempatan bagi peranan para ulama dalam lapangan hukum kraton (Van Den Berg dkk., 1954: 235). Kemudian dia mengambil gelar Susuhunan, yang sebenarnya gelar ini bagi masyarakat Jawa diperuntukkan bagi Wali Allah. Gelar ini kemudian dilepas pada tahun 1641 dan berganti menjadi Sultan, setelah mendapat restu dari penguasa kota suci Mekkah (Bambang Kusbandrijo, 1992: 82). Dinasti Mataram kenyataannya memang mampu mengindahkan amanat Sultan Agung, karena anak cucunya banyak yang menjadi raja sekaligus pujangga. Sultan Agung kecuali sebagai raja, juga berpredikat sebagai pujangga. Karya mistiknya yang terkenal yaitu kitab Sastra Gendhing. Sedang Kitab Nitipraja dibuatnya pada tahun 1563 tahun Jawa atau 1641 tahun Masehi. Serat Sastra Gendhing berisi tentang budi pekerti luhur, mistik, dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tentang moralitas penguasa dalam menjalankan kewajibannya, etika bawahan kepada atasan, hubungan rakyat dengan pemerintah, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Pada jaman Sinuwun Mangkurat, terbitlah Serat Sewaka, dengan sengkalan jalma paksa wayang buwana yang berarti 1621 Çaka atau 1699 tahun Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 102). Serat Sewaka ini berisi ajaran moral tentang tata cara menjadi seorang abdi yang baik.
Kraton Pajang Setelah wafatanya Sultan Trenggana, kekuasaan Demak bergeser ke Pajang dengan rajanya Mas Karebet, Joko Tingkir, atau Sultan Hadiwijaya pada tahun 1546-1586. Sultan Hadiwijaya dan para seniman menciptakan wayang Kidang Kencana, yaitu wayang yang lebih kecil ukurannya daripada ukuran wayang biasa (Haryanto, 1988: 203). Pada masa kejayaan Pajang, Sultan Hadiwijaya mempunyai seorang pujangga besar yang bernama Pangeran Karanggayam. Setelah kekuasaan Pajang bergeser ke Mataram, Pangeran Karanggayam mengabdi kepada Panembahan Senapati dan Sinuwun Seda Krapyak.
Kraton Singosari Kekuasaan Kraton Kediri pindah ke Tumapel atau Singosari pada tahun 1144 Çaka atau 1222 Masehi. Kejatuhan kraton Kediri ini akibat perilaku raja Kediri yang bernama Kertajaya atau Prabu Dhandhanggendhis yang terlampau sewenang-wenang terhadap para Brahmana. Ken Arok memanfaatkan konflik vertikal horisontal kraton Kediri untuk memperkokoh kekuatan kratonnya di Singosari. Para raja yang pernah memerintah di kraton Singosari yaitu :
1 Ken Arok (1222 – 1247)
2 Anusapati (1247 – 1248)
3 Tohjaya (1248)
4 Wisnuwardhana (1248 – 1266)
5 Kertanegara (1266 – 1292) Pada jaman Ken Arok memerintah dengan gelar Prabu Girindrawangsaja, Empu Tanakung mengarang Kitab Wrettasancaya dan Lubdhaka. Dengan demikian Kitab Wrettasancaya dan Lubdhaka ditulis setelah kekuasaan berpindah dari Kediri ke Tumapel sekitar tahun 1144 Çaka atau 1222 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 34-37). Serat Wrettasancaya berisi tentang pelajaran persajakan, metrum sekar ageng, dan contoh-contohnya (Kern, 1875: 67). Sebagian isi Serat Wrettasancaya itu dikutip dalam Serat Ajipamasa karangan Ranggawarsita (Poerbatjaraka, 1957: 34). Serat Lubdhaka berisi tentang kisah seorang pemburu yang berprofesi hina menurut pandangan agama, namun dia dapat masuk dalam surga nirwana. Empu Tanakung adalah pujangga istana kraton Singosari. Saat itu yang menjadi raja yaitu Ken Arok. Ken Arok dapat berkuasa setelah menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung dan memperistri jandanya yang bernama Ken Dedes. Ken Dedes diyakini Ken Arok sebagai perempuan yang menyimpan wahyu kekuasaan dan dapat menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Karya Empu Tanakung yaitu : Kakawin Wrettasancaya dan Kakawin Lubdhaka (Poerbatjaraka, 1957: 33-37). Keduanya dipersembahkan kepada Prabu Girindrawangsaja. Hal ini suatu kelaziman karena Empu Tanakung dalam berkreativitas seni sastra berhutang budi kepada Ken Arok. Rupanya Ken Arok saat itu juga bertindak sebagai raja yang suka mendukung kreativitas seni budaya. Namun dalam hal sastra budaya kraton Singosari kurang menghasilkan karya yang unggul. Kraton Singosari terlalu disibukkan oleh konflik intern dan konsolidasi yang selalu gagal. Hingga saat ini berita tentang Singosari masih berkisar antara konflik politik yang kelabu dan kurang menggembirakan prestasinya.
Kutara Manawa
Merupakan kitab hukum yang dipakai sebagai pedoman pada jaman Kediri dan Majapahit. Kitab
hukum ini digubah berdasarkan dua kitab Kutarasastra dan Manawasastra, sebagai salinan Kitab
Darmasastra karangan Empu Manu. Di tanah Jawa, ada beberapa kitab hukum lain, yakni Kitab
Siwasasana karangan prabu Darmawangsa Teguh, dan Kitab Adigama karangan patih
Mangkubumi Kanaka (1413-1430).

Laku Hambeging Candra
Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan
bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali. Orang
desa menyebutnya purnama sidi.

Laku Hambeging Dahana
Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun
pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak
membawa kerusakan di muka bumi.

Laku Hambeging Kartika
Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan.
Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan
cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan.

Laku Hambeging Kisma
Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Kisma artinya tanah.
Tanah tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu
memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malah memberi
subur dan menumbuhkan tanam-tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu.
Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran.

Laku Hambeging Samirana
Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus
diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja.
Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan
pimpinan.

Laku Hambeging Samodra
Maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang
siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudra mencerminkan pendukung
pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkharakter majemuk.

Laku Hambeging Surya
Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang
selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk.

Laku Hambeging Tirta
Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan
yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak
pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’.

Lila Legawa
Lila legawa dapat diterjemahkan dengan rela dan ikhlas. Yakni sikap seseorang yang lapang
dada, terbuka hati, berani kehilangan, dan tidak mau menyesali kerugian atas dirinya.
Bencana, kesulitan dan cobaan dari mana pun datangnya dianggab seolah-olah tidak pernah
terjadi. Dalam tembang Jawa ada pesan lila lamun kelangan nora gegetun, ‘rela bila kehilangan

tidak menyesali, diterima dengan hati ikhlas’. Kerugian yang terjadi karena orang lain hatinya memaafkan. Kerugian karena lingkungan, hatinya menganggap sesuatu yang alamiah. Kerugian karena bencana mendadak, hatinya menganggap sudah menjadi kehendak Tuhan. Orang yang lila legawa tidak pernah ada beban dalam pikirannya.
Layatan Layatan adalah ungkapan rasa simpati, empati atau bela sungkawa yang ditujukan kepada seseorang yang sedang terkena lelayu ‘musibah kehilangan anggota keluarganya karena meninggal dunia’. Para pelayat akan menyumbang apa saja agar yang ditinggalkan terhibur dan ringan beban pikirannya. Sanak famili, teman kerabat, tetangga kanan kiri, handai taulan biasanya akan datang tanpa harus diundang. Pemberitahuan cukup dengan gethok tular ‘omongan dari mulut ke mulut’, atau memukul kentongan. Suasana layatan jauh dari sendau gurau. Semua berjalan dengan serba spontan. Bahkan banyak hadirin yang berebut kerja. Dalam jaman modern ini, pemberitahuan lelayu lebih kompleks caranya mengingat sanak kerabat biasanya tersebar di berbagai tempat yang jauh. Oleh karena itu digunakan teknologi modern seperti mengumumkan dengan pengeras suara di masjid, pemberitahuan di media massa, faksimili, telepon dan sebagainya.
Loh Kata loh berarti kesuburan. Tanah yang subur dan dapat menumbuhkan segala tanaman dengan baik disebut tanah yang loh. Di wilayah nusantara tanahnya sangat subur. Palawija, palagandul, pala kependem di mana-mana subur menghijau dan menentramkan mata memandang. Ketentraman ini berbuah kenyamanan untuk setiap orang tidak akan bersaing secara tidak sehat. Kekerasan dan kecemburuan dapat dihindari. Sebagai wilayah agraris, maka menjadikan wilayah nusantara sebagai negara agraris maju, sejahtera dan disegani perlu diusahakan. Tanah tumpah darah yang sudah loh perlu manajemen oleh pemimpin negara secara profesional agar membuahkan kemakmuran yang sesungguhnya.
Mangkunegara I Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I lahir tahun 1738 di Kartasura. Nama lainnya yaitu Raden Mas Said dan Pangeran Sambernyawa. Beliau putra ketiga Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura. Raden Mas Said sejak muda sudah tampak sifat kritis dan kecerdasannya. Pada usia 16 tahun beliau keluar dari istana karena tidak setuju dengan sistem yang ada. Ketika terjadi pemberontakan Sunan Kuning dan laskar Cina, RM Said bergabung melibatkan diri. Pada usia 18 tahun Raden Mas Said diangkat menjadi panglima perang. Gelarnya Pangeran Prangwadana Pamot Besur. Pada tahun 1746 R.M. Said bergabung dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Beliau malah dijodohkan putri Pangeran Mangkubumi yang bernama Raden Ajeng Bruwok, Raden Ajeng Inten atau Kanjeng Ratu Bandara (Poerbatjaraka, 1957). Pada tanggal 15 Jumadil Awal 1682 H atau 4 Desember 1757 M diadakan perundingan di Kalicacing Salatiga sejak waktu itu Raden Mas Said diwisuda menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I yang bertahta di Pura Mangkunegaran. Hasil karya seni Mangkunegara I yaitu: Tari Bedhaya Anglirmendhung Senapaten, Bedhaya Dradamenta Senapaten, Bedhaya Sukapratama, Gendhing Udan Riris, Gendhing Udan Arum, Gendhing Kamput, Gendhing Mesem, Gendhing Carabalan Baswara, Seguran Tulisan Pegon. Kesatuan prajurit yang telah dibangun oleh Mangkunegara I yaitu : Ladrang Mangungkung (prajurit putri), Jayengsastra, Bijigan Prajurit, Kepilih Prajurit, Tatramudita Prajurit, Margarudita, Taruastra, Mijen. Dari data kesatuan prajurit itu dapat dikatakan Mangkunegaran mempunyai sistem militer yang tangguh. KGPAA Mangkunegara I wafat tahun 1795. Makamnya di Gunung Adeg, Mangadeg, Karanganyar, Surakarta. Ajaran Mangkunegara I terkenal dengan sebutan Tri Dharma yaitu rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib angrungkebi, mulat sarira angrasa wani itu menghendaki adanya partisipasi aktif rakyat secara langsung dalam penyelenggaraan negara. Sikap elitisme dalam sebuah organisasi seharusnya dihindari oleh pemimpin.
Mangkunegara IV Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV lahir pada tanggal 1 Sapar tahun Jimakir 1738 Çaka atau 1811 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Mas Sudiro (Kamajaya, 1992: 2). Pada usia 10 tahun beliau dititipkan pada saudara sepupunya, KGPAA Mangkunegara III. Raden Mas Sudira diberi nama baru yaitu RMA Gandakusuma. Karya tulis KGPAA Mangkunegara IV menurut Kamajaya (1992) di antaranya: Serat Wedhatama, Sendhon Langen Swara, Babad Wanagiri, Babad Giripura, Babad Tegalganda, Babad Tasikmadu, Babad Ngalamat, Babad Serenan, Werdining Bangsal Tosan, Bendungan Tambak Agung, Bendungan Tirtaswara, Srikaton Tawangmangu, Nyanjata Sangsam, Wanagiri Prangwadanan, Werdining Pandel Mangkunegaran, Pasanggrahan Langenharja, Piwulang Warayagnya, Piwulang Wirawiyata, Piwulang Sriyatna, Piwulang Nayakawara, Piwulang Paliatma, Piwulang Salokatama, Piwulang Darmawasita, Piwulang Salokantara, Serat Tripama, Serat Yogatama, Serat Paraminta, Serat Paliwara, Serat Pariwara, Rerepen Manuhara, Pralambang Rara Kenya, Pralambang Kenya Cendhala, Jaka Lala, Prayangkara, Prayasmara, Rerepen, Dhalang, Namining Ringgit Semarang, Sendhon Langen Swara, Sekar Ageng Citramengeng, Langen Gita, Sekar Ageng Kumudasmara, Gendhing Walagita, Sekar Ageng Pamularsih, Gendhing Rajaswala, Sekar Ageng Kusumastuti, Sita Mardawa, Sekar Ageng Mintajiwa, Gendhing Puspawarna, Sekar Tengahan Palungon, Gendhing Puspanjala, Sekar Tengahan Pranasmara, Gendhing Tarupala, Sekar Tengahan Pangajabsih, Gendhing Puspa Giwang, Kinanthi Sekar Gadhung, Gendhing Lebdasari, Sekar Sari Gadhing, dan Ladrang Manis Widara Kuning. Laku dalam arti ini dilakukan pula pada waktu orang menginjak usia tua dalam menghadapi dan mencari sampuraning pati. Contoh yang digemari sekali oleh orang Jawa tentang laku ini adalah usaha dan perjalanan yang dilakukan Harya Bratasena yang dengan mempertaruhkan jiwa raganya dengan patuh menjalankan perintah gurunya Sang Hyang Drona untuk kemudian menemukan diri-nya sendiri dalam Lakon Dewaruci. Ngelmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak dan hal ini dinyatakan di dalam bait yang terkenal di dalam bentuk tembang Pucung, termuat dalam Serat Wedhatama (Moertono, 1984: 162). KGPAA Mangkunegara IV wafat dalam usia 72 tahun, tepatnya tahun 1810 Jawa atau 1880 Masehi, dengan meninggakan 11 putra-putri (Kamajaya, 1992: 8). Karya-karya Mangkunegara IV hingga sekarang masih menyebar dan berakar kuat di lingkungan kebudayaan Jawa.
Mangkunagara VII Di antara pada adipati di Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII adalah seorang pujangga yang aktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916 – 1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII (Soetarno, 1995: 29). Pakem Serat Pedhalangan Ringgit Purwa terdiri dari 37 jilid, berisi 177 lakon yang terbagi menjadi 4 bagian yaitu: Cerita dewa-dewa (7 lakon), Cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), Cerita Ramayana (18 lakon), Cerita Pandawa Korawa (147 lakon) (Soetarno, 1995: 30). Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V. Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangkunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV.
Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim mempunyai beberapa nama, yaitu: Maulana Magribi, Seh Magribi, Sunan Gresik. Beliau termasuk salah satu dari Wali Sanga yang menyiarkan agama Islam di Gresik, Jawa Timur. Maulana Malik Ibrahim masih keturunan Ali Zainal Abidin Al Husein, Ibnu Ali Ibnu Abi Thalib. Sunan Gresik berasal dari daerah Magribi, Afrika Utara. Beliau datang ke Indonesia pada jaman Majapahit tahun 1379 untuk syiar Islam, bersama dengan Raja Cermin dan putra­putrinya. Raja Cermin adalah raja Hindustan. Syeikh Maghribi wafat tahun 1419 Masehi atau 882 H. Makamnya di Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Memayu Hayuning Bawana Pemimpin yang bijaksana berarti telah memayu hayuning bawana. Ayu-hayu dan rahayu menunjuk makna keselamatan. Memayu berarti membuat selamat. Sedangkan bawana adalah istilah lain untuk buana, dunia atau jagat. Upaya menjaga kelestarian lingkungan adalah wujud nyata memayu hayuning bawana. Polusi air, tanah dan udara harus dihindari demi masa depan. Kerusakan alam membawa bencana yang amat merugikan. Banjir, tanah longsor, kekeringan banyak disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam. Seandainya sejak taman kanak-kanak ditanamkan tentang lingkungan hidup maka Indonesia akan tampil sebagai taman sari dunia sesuai dengan konsep Jawa memayu hayuning bawana.
Menang Tanpa Ngasorake Setiap orang harus berjiwa atau memiliki konsep menang tanpa ngasorake. Menang tanpa ngasorake mempunyai arti menang tanpa mengalahkan. Menang tidak otomatis berlawanan dengan kalah. Menjadi pemenang tidak berarti harus mengalahkan. Pihak pemenang tidak akan merasa unggul dan sombong dan pihak yang kalah tidak jatuh harga dirinya. Dalam dunia politik persaingan sungguh keras. Oleh karena itu diperlukan sikap santun. Meskipun suasana panas, namun pikiran harus dingin. Kalau bisa, meraih kemenangan itu dengan dukungan luas. Bahkan lawan politik pun bisa mendukung jika mereka tidak merasa terganggu dan terancam. Kemenangan uang diperoleh tanpa harus mempermalukan lawan dan menghina pesaing sungguh merupakan hal yang anggun sebagaimana hukum air mengalir: tidak kalah, tidak mengalahkan, tetapi sampai tujuan.
Mendhem Jero Mendhem bukan berarti mabuk seperti mendem kecubung, tetapi berarti mengubur. Jero artinya dalam. Mendhem jero maknanya mengubur dalam-dalam keburukan dan kekurangan orang tua, aib keluarga dan kelemahan masyarakat. Sedapat-dapatnya anak atau warga negara harus menutupi apa yang menjadi rahasia keluarga dan masyarakat. Dalam lingkup yang lebih luas, pemimpin yang sedang memerintah sebaiknya dapat menyembunyikan kekurangan pemimpin terdahulu. Dengan demikian saling dendam tidak akan terjadi. Pemimpin berikutnya tinggal melanjutkan program yang sudah ada. Menjelek-jelekkan pendahulu sama saja dengan melestarian dendam dan permusuhan. Prinsip mendhem jero sangat mulia bila diterapkan dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Potret buram dan kenangan akan segera terhapus dan dapat menimbulkan rasa optimisme baru.
Meneng Meneng artinya diam. Namun diam di sini bukan dalam arti tanpa sikap dan tidak tahu persoalan. Seseorang harus diam di kala tertentu agar suasana tidak menjadi keruh. Suasana yang panas akibat dari ucapan yang bermacam-macam menambah potensi konflik menajam dan perselisihan meruncing. Pilihan untuk diam merupakan sikap terbaik dan bijaksana. Di sini bisa dikatakan: diam adalah emas. Apabila konflik memuncak dan ujung kompromi tak diketemukan, biasanya mereka akan berpaling kepada pihak yang tidak banyak bicara. Dan barulah pihak ini memberikan solusi yang jernih dan efektif. Tindakan diam juga bisa digunakan untuk menghadapi orang keras. Orang keras kalau dihadapi secara frontal akan bertambah beringas. Dengan diam, lama-kelamaan ia akan sadar diri.
Mikul Dhuwur Semua orang harus bersikap mikul dhuwur. Mikul dhuwur artinya memikul tinggi-tinggi. Arti etimologisnya bahwa seorang anak berkewajiban mengharumkan nama ayah dan ibu serta martabat keluarga. Menghindari perbuatan tercela dan selalu berbuat mulia adalah usaha anak dalam rangka mikul dhuwur nama baik orang tuanya. Menjadi pelajar yang pintar atau mahasiswa yang cerdas, menghias diri dengan sopan santun dan ramah tamah, berprestasi dan sukses adalah wujud dari perilaku yang menyenangkan hati orang tua. Demikian pula untuk masyarakat dan negara, seorang warga memiliki kewajiban mengharumkan nama baiknya dengan menjadi warga yang baik dan berprestasi gemilang di dunia internasional.
Mituhu Mituhu artinya berbakti, menurut, mempercayai dan meyakini ajaran orang tua atau guru. Murid atau anak yang baik tentu akan mituhu pada orang tua dan gurunya. Orang yang mau mituhu terhadap ajaran luhur hidupnya beruntung. Murid yang mituhu akan cepat meresapkan ilmu pengetahuan di otaknya. Dengan pelan-pelan dan tertib ilmu yang diperoleh dari guru diterima dengan baik. Sedikit demi sedikit ilmu akan berkumpul menjadi banyak. Lama-lama tanpa ada beban, orang yang mau mituhu itu menjadi menonjol. Kecakapannya diakui oleh orang lain. Masyarakat menggunakan kecakapan dan ketrampilannya sehingga dia menjadi orang yang bermanfaat.
Mitayani Mitayani berarti dapat dipercaya karena mampu menyelesaikan pekerjaan. Segala bentuk isi pikiran, ucapan dan perbuatan dapat dipercaya oleh orang lain. Apa yang diperbuat senantiasa dianggab benar dan dipercaya oleh orang lain. Supaya orang mendapat gelar mitayani, dia harus bersih, jujur, dan bebas dari kesalahan yang fatal. Sekali berkhianat terhadap perilakunya, saat itu juga kepercayaan orang akan buyar. Cobaan dan godaan untuk menyeleweng memang bertubi-tubi datang justru biasanya di saat sedang mendapat keberuntungan. Sungguh merupakan prestasi yang tinggi, ketika seseorang tetap dikenang jasanya sepanjang masa.
Momong Momong artinya mengasuh, membimbing dan menjaga supaya selamat berkembang dan tumbuh sesuai dengan harapan. Momong anak cucu berarti memelihara dan mengarahkan anak cucu itu menuju kehidupan yang lebih baik. Pemimpin harus bisa momong rakyatnya. Jangan sebaliknya rakyat yang harus momong pemimpinnya. Rakyat ibarat anak yang mempunyai kharakter bermacam-macam. Ada yang patuh, ada yang rewel. Untuk bisa momong perlu pengalaman, pengetahuan dan pendidikan. Orang yang diasuh itu kalau sudah berhasil akan merasa berhutang budi. Kewibawaan seorang pemimpin akan memancar ketika rakyat yang diasuh sejahtera, makmur dan bahagia. Bahkan sesudah wafat pun mereka tetap mengenang jasanya yang mulia itu.
Momor Momor artinya bergaul, berkawan dengan lingkungan sekitar. Pergaulan itu meliputi aneka kelas sosial yang berbeda kepentingan, kegemaran dan wataknya. Pemimpin yang sukses tentu didukung oleh berbagai golongan. Dia mesti pintar bergaul, sehingga tidak ada satu kelompok pun yang diasingkan. Kelompok yang diasingkan itu jiwanya akan terancam dan cenderung untuk menyusun kekuatan. Konsolidasi kekuatan dari kelompok oposisi ini bisa meledak sewaktu-waktu dan menimbulkan kejatuhan seorang pemimpin. Pendekatan yang humanis terhadap semua unsur masyarakat perlu dilakukan oleh pemimpin. Sikap momor merupakan salah satu sikap pemimpin yang luwes.
Momot Momot adalah memuat rupa-rupa beban atau akomodatif. Apa saja dan kapan saja beban dapat tertampung serta diwadahi sehingga tidak ada yang tercecer. Seorang pemimpin yang berjiwa momot akan menampung segala aspirasi. Dia terbuka atas kritikan dan usulan. Mereka yang berada pada posisi oposan pun mendapat perhatian dan santunan. Pemimpin yang bijaksana tentu mampu meredam konflik, gejolak dan menangani berbagai perbedaan secara akomodatif. Azas profesionalisme yang menghendaki kepakaran dan keahlian sangat dihargai. Sikap momot memang memerlukan kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi khalayak yang beragam. Masyarakat tentu menghendaki pemimpin yang akomodatif.
Muksa Pada usia senja, maut hampir menjemput, orang harus mawas diri. Segala rupa yang menjerat diri seperti harta dan pesona duniawi harus ditinggalkan. Pikiran dan perasaan harus dikerahkan pada alam kelanggengan dan bekal kelak hidup di alam akhirat, supaya akhir hidupnya benar-benar muksa atau khusnul khatimah. Persaingan duniawi yang berujung pada konflik dan kekerasan lebih baik dijauhi. Lengser keprabon madeg pandhita ‘melepas tahta menjadi pendeta’. Kesibukannya adalah ibadah dan mendidik anak muda menjadi insan yang tangguh di kemudian hari, suatu pengalaman yang diwariskan pada generasi di bawahnya.
Narima ing Pandum Setiap manusia diberi anugrah oleh Tuhan. Namun antara manusia yang satu dengan yang lain mempunyai bagian yang berbeda-beda. Orang Jawa menyebut beda-beda panduming dumadi. Kesadaran akan perbedaan bagian itu disebut narima ing pandum. Kesadaran ini sangat penting buat pengendalian diri. Kepada si kaya tidak akan pernah iri dan kepada si miskin tidak akan pernah sombong dan berbuat menghina, menghardik dan merendahkan. Ukuran penghargaan seseorang tidak semata-mata karena hasil materi, tetapi lebih dititiktekankan pada aspek usaha dan prosesnya. Dengan sikap narima ing pandum, seseorang tidak akan ngoyo dalam mengajar harta benda. Di sini yang dipentingkan kerja dan pasrah kepada panduming dumadi.
Nastiti Nastiti berkaitan dengan tindakan seseorang dalam mempergunakan harta bendanya. Orang Jawa sangat perhitungan dalam mempergunakan hartanya. Harta benda yang dikumpulkan dengan peras keringat itu dikelola agar pengeluaran tidak melampaui pemasukan sehingga menimbulkan banyak utang. Berbeda dengan gemi yang lebih condong kepada asal-usul harta, maka nastiti cenderung kepada bagaimana pemakaiannya. Sama-sama keluar uang akan lebih puas kalau mendapat untung yang lebih banyak. Sekali lagi gemi nastiti tidak mengandung unsur pelit, bakhil dan tamak. Keduanya tetap menggunakan pertimbangan rasional. Harta benda yang dikeluarkan dengan sia-sia dan tidak jelas arahnya akan mengundang kesengsaraan secara material. Apalagi penggunaan harta benda orang banyak dengan ceroboh, tentu akan membuat susah dan kesulitan.
Ngati-ati Sikap ngati-ati adalah keputusan pikiran dan perasaan yang berusaha untuk menghindari resiko terburuk baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Kecelakaan di jalan raya adalah terjadi karena faktor kurang hati-hati. Perhitungan rasional antara sebab dan akibat tidak menjadi bahan pertimbangan. Dorongan emosional untuk mengambil jalan pintas, cepat dan mudah akan menyebabkan perilaku ingin mendominasi orang lain. Bahwa tindakannya itu berbahaya, dia tidak peduli sama sekali. Main petasan yang beresiko kebakaran juga kurang dipikirkan pelakunya. Perbuatan yang hanya menekankan faktor rasionalitas kadang-kadang juga menyakitkan. Terjadinya penindasan di depan mata kalau hanya ditinjau dari segi rasional kepentingan, tentu mengandung perasaan kurang simpati dari orang lain. Apalagi ketika menjadi seorang pemimpin ngati-ati dalam mengambil kebijakan adalah sangat penting agar kebijakan itu benar-benar bijak dan tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Ngelmu Laku Ngelmu laku sebenarnya berasal dari nasehat dalam Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV. Ngelmu iku kelakone kanthi laku ‘ilmu itu tercapainya hanya dengan menjalani hidup’. Lekase lawan kas berarti bermula dari kas. Kas artinya nyantosani atau memberi kesentausaan. Setya budya pangekese dur angkara atau setia pada darma itu dapat menghindari sifat angkara murka. Orang yang mau nglakoni berarti dirinya bersedia untuk menjalankan prihatin, mempersakit diri, menghajar jiwa-raga dengan maksud mengolah dan mempertajam rasa batin.
Ngidoni Srengenge Tradisi kritik terhadap kepemimpinan yang dilakukan secara terang-terangan dalam budaya Jawa dinilai terlalu banyak menanggung resiko. Pancaran kepemimpinan diibaratkan dengan cahaya matahari. Orang yang mengritik secara vulgar dan konfrontatif sama halnya dengan ngidoni srengenge ‘meludahi matahari’. Sudah pasti ludahnya akan hanya mengenai muka sendiri. Memang dalam budaya Jawa dikenal tradisi pepe ‘berjemur’ di alun-alun antara dua ringin kembar. Tetapi itu bukan bersifat kritikan. Pepe hanya salah satu usaha permintaan keadilan warga kerajaan yang teraniaya oleh aparat bawahan raja. Beruntung jika raja memiliki belas kasihan, jika tidak, bukan menjadi tanggungan berat bagi raja.
Nglurug Tanpa Bala Nglurug tanpa bala maksudnya mendatangi lawan tanpa mengerahkan massa. Pemimpin politik, tokoh adat, dan pemuka agama pasti mempunyai pengikut. Kalau ada suatu masalah selalu mengerahkan massa, maka yang akan terjadi adalah konflik dan bentrok antar pengikut. Pemimpin yang menghindari pengerahan massa dan tidak pamer pengikut sebenarnya lebih efektif dan terhormat karena terhindar dari adanya korban dan perpecahan. Sementara itu orang lain yang melihatnya pun tidak merasa takut, terancam dan kuatir. Baginya yang terpenting adalah segala maksud tercapai. Esensi diplomat ulung memang menekankan hasil dengan cara menekankan hasil yang damai. Efektifitas dan efisiensi seorang diplomat dapat dicapai dengan menghindari pengorbanan.
Nulada Laku Utama Nulada laku utama artinya menauladani perbuatan yang utama. Setiap komunitas pasti memiliki tokoh tauladan yang bisa dijadikan panutan. Panutan masyarakat biasanya orang yang baik hati, luhur budi pekertinya, menyejukkan dan siap sewaktu-waktu dimintai pertolongan. Khalayak ramai berduyun-duyun minta nasehat dan bimbingan. Kalau punya hajat, pergi jauh, kesedihan, panutan itulah yang akan membantunya. Masyarakat sering memuji tokoh panutannya ketika sudah meninggal, bahkan kadang melebih-lebihkan. Pada tingkat tertentu panutan utama itu dianggab masih hidup arwahnya, sehingga perlu dimintai berkahnya.
Nyandhangi Nyandhangi berarti memberi pakaian. Kata ini diperuntukkan bagi suami kepada istrinya. Seorang suami berkewajiban memberikan sandang yang layak kepada istri semampunya. Dalam makna luas, setiap orang berkewajiban mewujudkan kesejahteraan, perlindungan, pengayoman dan kesejukan kepada rakyatnya yang disimbolkan dengan memberi sandang. Keperluan “sandang” bagi rakyat harus didahulukan daripada untuk dirinya sendiri. Anggota suatu kelompok akan setia, taat, dan mendukung kepada pembesarnya yang telah memperhatikan kesejahteraannya. Apabila kepentingan anggota terabaikan, mereka akan mencabut dukungan kepada pemimpinnya itu.
Nyandhingi Setiap suami, selain nyandhangi juga berkewajiban nyandhingi kepada istrinya. Istri yang disandhingi tentu akan merasa senang, aman dan bahagia. Demikian juga seorang pemimpin dalam masyarakat Jawa kepada rakyatnya. Ia harus mampu menciptakan suasana sejuk, tentram, aman dan damai. Dengan mendekati anak buah, akan mudah menangkap aspirasinya dengan tepat. Arti kata nyandhingi adalah sikap seorang pemimpin yang selalu hadir di tengah­tengah rakyatnya. Konsep seia sekata sehina semalu yang bersifat egaliter akan sangat mudah untuk diterapkan. Kalau pemimpin bertindak hanya berdasarkan laporan bawahan saja, akan punya peluang lebar untuk terjerumus karena laporan bawahan biasanya bersifat ABS (asal bapak senang). Kehadiran pemimpin selalu ditunggu-tunggu oleh rakyatnya. Apabila rakyat sedang kesusahan akan sejuk hatinya bila sang pemimpin mau menjenguk dan memperhatikannya.
Nyelengi Nyelengi bermakna menabung. Celengan berarti tabungan. Suka nyelengi berarti suka menabung yang merupakan pengendalian diri dari jiwa konsumerisme dan hidup boros demi masa depan seperti kata pepatah: sedia payung sebelum hujan. Masyarakat pedusunan mengajari anak-anaknya menabung dengan memasukkan uang pecahan logam ke dalam bumbung atau bambu, atau gerabah kecil. Setelah terkumpul banyak dan dalam jangka waktu lama, baru tabungan itu dibuka. Rasa puas dan bangga akan mengiringi proses bongkar uang tersebut. Ketika bumbung penuh uang, si penabung merasa dirinya mampu mengendalikan nafsu konsumtif. Semboyan rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya dapat dimulai dengan tradisi nyelengi. Jiwa konsumerisme tinggi dapat dicegah dengan menabung. Menabung secara nonmaterial pun bisa dikatakan sebagai nyelengi. Misalnya nyelengi amal kabecikan ‘menabung amal kebajikan’.
Padha Gulangen ing Kalbu
Pada gulangen ing kalbu artinya setiap orang hendaknya suka merenung, kontemplasi, refleksi
dan mempertajam batin agar hati lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Kepekaan ini
diperlukan oleh setiap orang agar cepat tanggap dalam menghadapi persoalan yang terjadi.
Pemimpin yang tumpul pikiran dan keras hatinya tentu akan berbuat otoriter dan semaunya.
Apabila kehendaknya tidak dituruti, dia akan cepat marah. Bawahan dan rakyatnya dicurigai
bila perlu diperangi. Refleksi dan introspeksi akan mencegah perbuatan yang tak terkendali.
Segala tindakan harus diukur baik dan buruknya.

Pakarti
Pakarti adalah berhubungan dengan hasil kerja. Karya diperoleh melalui kerja dan perjuangan
yang gigih, tak kenal menyerah dan prosesnya memerlukan waktu yang panjang. Kemajuan
suatu bangsa salah satu tolok ukurnya adalah mutu karya yang dihasilkan. Bahkan karya itu
merupakan merk yang mahal harganya. Orang luar mudah memberikan pengakuan dan
penghormatan. Dalam diplomasi dan percaturan dunia dengan hadirnya karya unggulan akan
diperhitungkan dan disegani. Bangsa yang banyak karyanya akan banyak devisanya pula
sehingga otomatis sejahtera penduduknya. Pendidikan yang mengarah pada kualitas dan
kuantitas karya perlu diberikan pada anak-anak. Setiap insan didik hendaknya diarahkan
kepada hasil karya, agar mereka mempunyai rencana yang rapi menyongsong masa depan.

Pakerti
Kata pakerti berkaitan dengan orang yang tekun bekerja. Orang yang tekun dengan
pekerjaannya akan memiliki harga diri dan kepuasan batin yang tinggi. Pekerjaan yang
dilakukan dengan istiqamah dan profesional akan mendapat pengakuan dari masyarakat.
Pengakuan masyarakat terhadap pekerja, karyawan, buruh, kuli, dan pegawai harus
ditindaklanjuti dengan kebijakan membuka kesempatan kerja dan lapangan usaha. Apabila
seseorang diakui keberadaannya karena di luar prestasi kerja, di situ akan terjadi pelanggaran.
Tindakan kebut-kebutan, ugal-ugalan, mabuk, pornografi adalah salah satu perilaku seseorang
yang menghendaki pengakuan di luar prestasi kerja. Hanya saja mereka salah jalur, keliru dan
menyesatkan diri dan lingkungannya.

Paku Alam I (1764 – 1829)
Atas keputusan Gubernur Jenderal Raffles kontrak politik dengan Gubernur Inggris dilakukan
pada tanggal 1 dan 7 Maret 1813. Residen Yogyakarta yang bernama John Crawford atas nama
Thomas Stanford Raffles mengadakan kontrak politik dengan Paku Alam I. Salah satu pasalnya
berbunyi bahwa “karena gubernur Inggris sepenuhnya yakin tentang kesetiaan dan jasa-jasa
Pangeran Paku Alam, maka gubernur Inggris akan memberi perlindungan secara langsung
kepada Sri Paku Alam dan keluarganya”. Bendara Pangeran Harya Natakusuma lahir tanggal 21
Maret 1764 di Yogyakarta. Nama kecilnya adalah BRMH Suyadi. Ayahnya yaitu Sri Sultan
Hamengku Buwana I dan ibunya Bendara Raden Ayu Srenggana. Beliau diwisuda menjadi KGPAA
Paku Alam I pada tanggal 29 Juni 1813. KGPAA Paku Alam I wafat tanggal 14 Oktober 1829.
Makamnya di Hastana Kota Gedhe Yogyakarta.

Paku Alam II
Kanjeng Raden Tumenggung Natadiningrat adalah putra sulung Sri Paku Alam I. Beliau lahir
pada tanggal 25 Juni 1786. Beliau diwisuda menjadi Sri Paku alam II pada tanggal 4 Oktober
1829. Sebelum beliau naik tahta mendapat gelar Kanjeng Pangeran Harya Suryaningrat. Karya
beliau yaitu: Serat Baratayuda, Serat Dewaruci, Beksan Bandayuda, Ladrang Anom, Lawung
Ageng, Gadhung Melathi, Puspawarna, Masjid Paku alaman. KRT Natadiningrat wafat tanggal 23
Juni 1858. Makamnya di Kotagedhe, Yogyakarta.

Paku Alam V

BRMH Notowilyo adalah putra Sri Paku Alam II. Ibunya bernama Resminingdyah. Beliau lahir
tanggal 23 Juni 1833. Sebagai putra mahkota beliau mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati Arya Praba Suryadilaga. Kemudian diwisuda menjadi Kanjeng Pangeran Adipati Arya
Paku Alam V. Karyanya yaitu : Cerita Babad Segaluh, Cerita Banjaransari, Mainan Gula Ganti,
Jalungan, Gobag Sodor. BRMH Notowilyo wafat pada tanggal 6 Nopember 1900. Makamnya di
Astana Giriganda, Kaligenting, Temon, Kulon Progo.

Paku Alam VII
Raden Mas Surarja lahir tahun 1882 di Yogyakarta. Ayahnya adalah Sri Paku Alaman VI. Ibunya
adalah Gusti Timur. Beliau naik tahta tahun 1906 dengan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati Arya Paku Alam VII. Permaisurinya adalah Gusti Bendara Raden Ajeng Retna Puwasa,
putri Sinuwun Paku Buwana X. Karya seninya yaitu: Wayang Rama, Biografi Paku Alam I – VI.
Beliau wafat pada tahun 1837. Makamnya di Hastana Girigondo, Kaliginting, Temon,
Yogyakarta. Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, terutama kalangan petani.

Paku Buwana III
Paku Buwana III memerintah di Kasunanan Surakarta pada tahun 1749-1788. Ibukota Mataram
dipindahkan oleh Paku Buwana II dari Kartasura ke Surakarta tahun 1743 (De Graaf, 1984: 264).
Saat itu kraton Kartasura penuh dengan konflik keras yang terjadi antar keluarga istana. Pada
masa pemerintahan Paku Buwana III ini terjadi proses sejarah Palihan Negari pembagian kraton
menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta pada tahun 1755. Babad Giyanti secara cermat
melukiskan peristiwa historis itu (Ricklefs, 1995: 84). Sinuwun Paku Buwana III aktif dalam
mengembangkan sastra dan budaya. Karya Paku Buwana III yaitu Serat Wiwaha Jarwa dengan
sengkalan: Tasik sonya giri juga yang berarti tahun 1704 Jawa atau 1778 tahun Masehi. Di
samping itu, Paku Buwana III juga ikut menyempurnakan Serat Iskandar dengan wajah baru.
Dalam bidang kesenian, beliau aktif melestarikan tari ritual kenegaraan, yaitu Bedhaya
Ketawang, yang diperagakan oleh sembilan penari putri. Perkembangan sastra Jawa semakin
pesat setelah ketegangan politik yang berakar dari konflik intern keluarga kraton mereda sejak
diadakan Perjanjian Giyanti dan Salatiga. Paku Buwana III ikut terlibat aktif dalam proses
perdamaian itu. Kemahiran Paku Buwana III dalam soal sastra budaya diwariskan kepada
putranya yang bernama Sunan Bagus atau Paku Buwana IV yang juga menjadi pujangga ulung.

Paku Buwana IV
Sinuwun Paku Buwana IV bertahta di Surakarta antara tahun 1788-1820. Gelar lainnya yaitu
Sunan Bagus, karena wajahnya memang tampan, lagi pula beliau memegang kendali
pemerintahan dalam usia yang sangat muda, yaitu 19 tahun. Nama kecilnya adalah Bendara
Raden Mas Sambadya. Warisan yang dibangun oleh Paku Buwana IV di antaranya: Masjid Agung,
Gerbang Sri Manganti, Dalem Ageng Prabasugasa, Bangsal Witana Sitihinggil Kidul, Pendapa
Agung Sasana Sewaka, Bangsal Ageng Marcukundha, dan Kori Kamandhungan. Hasil karyanya
dalam bidang kesusasteraan di antaranya: Serat Wulangreh, Serat Wulang Sunu, Serat Wulang
Putri, Serat Wulang Tata Krama, Donga Kabulla Mataram, Cipta Waskitha, Panji Sekar, Panji
Raras, Panji Dhadhap, Serat Sasana Prabu, dan Serat Polah Muna-Muni. Paku Buwana IV dalam
pandangan masyarakat Jawa namanya harum sekali.

Paku Buwana V
Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana V, terbitlah Serat Centhini. Serat Centhini ini
dikerjakan oleh sebuah tim yang dipimpin Sinuwun Paku Buwana V sendiri. Anggota tim itu di
antaranya yaitu Kyai Yasadipura II dan Kyai Rangga Sutresna.

Paku Buwana IX
Sinuwun Paku Buwana IX adalah putra kelima Paku Buwana VI. Ibunya bernama GKR Hemas.
Beliau lahir pada hari Rabu Kliwon tanggal 7 Saban 1758 H atau 22 Desember 1830 M. Ketika
lahir, Paku Buwana VI sudah diasingkan ke Ambon, karena terlibat mendukung perjuangan
Diponegoro. Pada tanggal 30 Desember 1861 beliau diangkat menjadi Paku Buwana IX. Sebagai
raja beliau juga aktif menulis karya sastra, di antaranya: Wulang Putri, Serat Jayeng Sastra,

Serat Darmarini, Serat Wirayatna, Serat Darmaduhita, Serat Menak Cina, Jayeng Sari, Wulang Dalem Paku Buwana IX, Serat Wira Iswara. Beliau wafat pada tanggal 17 Maret 1893. Makamnya di Imogiri Yogyakarta. Paku Buwana IX mempunyai 2 permaisuri: 1) GKR Paku Buwana, dan 2) K.Rt. Maduretna. Selain garwa prameswari beliau mempunyai selir sebanyak 53 orang, yang berputra 29 orang. Seluruh putranya berjumlah 58 orang (Partini, 2000).
Paku Buwana X (1893 – 1939) Sinuwun Paku Buwana X bertahta di Surakarta Hadiningrat antara tahun 1893 – 1939. Beliau adalah putra Sinuwun Paku Buwana IX. Kawula negari Surakarta memberi gelar Sampeyan Dalem Hingkang Minulya Saha Wicaksana Kanjeng Susuhunan Paku Buwana X. Seni ketoprak hasil karya RMT Wreksodiningrat mendapat dukungan penuh dari Sinuwun. Paku Buwana X lahir pada tanggal 21 Rejeb 1795 atau 29 Nopember 1866. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Gusti Sayidin Malikulkhusna. Ibunya bernama Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana. Sejak lahir diambil anak oleh eyang dalem Gusti Kanjeng Ratu Agung, permaisuri Sinuwun Paku Buwana VI. Menginjak umur 3 tahun, BRM Gusti Sayidin Malikulkhusna diangkat menjadi putra mahkota, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibya Raja Putra Narendra Mataram Ingkang Kaping V ing Nagara Surakarta Hadiningrat. Gerakan nasional yang tumbuh di Solo, yaitu Syarikat Islam sangat didukung oleh Paku Buwana X. Pendidikan pada masa itu pun berkembang pesat. Surat kabar juga hidup dengan subur, dengan beraneka ragam penerbitan yang maju idealismenya. Setelah wafat pada bulan Pebruari 1939, masyarakat Surakarta menganggap Sri Susuhunan Paku Buwana X sebagai raja terakhir. Saat beliau mangkat, suasana menjadi tidhem premanem, hening, sunyi, senyap, bahkan angin dan dedaunan tidak bergerak seolah-olah ikut berduka.
Panca Pandawa Disamping beberapa hal yang telah diuraikan tadi, seorang pemimpin hendaknya juga mampu mempersatukan 5 (lima) sifat-sifat utama luhur yang dimiliki oleh Panca Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) yakni : Aji, Giri, Jaya, Nangga dan Priyambada, yang mengandung maksud : Ngesthi aji, yakni mencari ilmu pengetahuan suci, artinya bijaksana dan mahir dalam segala ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan suci (Weda) atau agama (sifat Yudistira); Ngesthi Giri atau mencari kekuatan seperti gunung, artinya kuat iman, teguh, tangguh dalam menegakkan kebenaran serta tabah dan tegar dalam menghadapi segala kendala rintangan ataupun penderitaan (sifat Bima); Ngesthi Jaya atau mencari kemenangan, artinya dapat menundukkan musuh-musuhnya dan segala sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya, serta sempurna lahir dan batin (sifat Arjuna); Ngesthi nangga, mencari ketangguhan dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa diri, sehingga tidak mudah terjerumus dalam kehancuran atau hal-hal yang merugikan (sifat Nakula); Ngesthi priyambada, artinya selalu memberikan rasa kebahagiaan, ketentraman serta kedamaian lahir dan batin kepada masyarakat (sifat Sadewa).
Panca Tata Upaya Panca tata upaya adalah lima macam upaya yang harus dimiliki dan dilakukan seorang birokrasi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang menjadi tanggung-jawabnya atau dalam menghadapi persoalan kenegaraan. Ajaran ini terdapat dalam prasasti Siwa Budagama Tatwa memuat sebagai berikut : Lokika Wisaya, artinya setia tindakan dan ucapan seorang birokrat harus dipertimbangkan sebelumnya secara akal sehat, ilmiah dan logis serta tidak boleh berucap berdasarkan emosi semata. Maya Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang belum jelas faktanya sehingga didapat informasi yang akurat; Upeksa Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus berusaha untuk meneliti dan menganalisa secara mendalam semua informasi yang diperoleh guna dapat memecahkan masalah secara proporsional dan menarik kesimpulan yang obyektif. Indra Jala Wisaya, artinya seorang birokrat hendaknya senantiasa berusaha untuk mencari jalan keluar terhadap setiap permasalahan yang dihadapi secara maksimal dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Wikrama Wisaya, artinya seorang birokrat hendaknya berupaya untuk melaksanakan semua usaha yang telah diprogramkan/dirumuskan untuk mencapai tujuan, yakni kesejahteraan lahir batin.
Panca Titi Darmaning Prabu Prabu Arjuna Sasrabahu dalam pewayangan merumuskan ilmu kepemimpinan yang dikenal dengan panca titi darmaning prabu atau lima kewajiban sang pemimpin yang terdiri dari : Handayani Hanyakra Purana, maksudnya seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan kesempatan bagi para Generasi Mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu. Madya Hanyakrabawa, maksudnya seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Ngarsa Hanyakrabawa, maksudnya seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakatnya. Nir bala wikara, maksudnya seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya. Namun berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi, sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesaingnya. Ngarsa dana upaya, maksudnya pemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat.
Panjang Dalam suluk pedalangan diterangkan : panjang dawa pocapane berarti mempunyai sejarah yang lama. Suatu bangsa yang akar historisnya dapat ditelusuri akan menambah kepercayaan diri yang kuat. Dengan membandingkan peristiwa lalu dan peristiwa yang sedang berlangsung akan mudah mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang memiliki nilai kesamaan. Kegagalan dan keberhasilan masa lalu akan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Sebab-sebab kegagalan dan keberhasilan itu ada yang karena kesengajaan dan ada yang karena kebetulan. Faktor kesengajaan perlu dikelola dengan sebaik-baiknya.
Pangeran Diponegoro Keluarga kesultanan Yogyakarta selalu mewarisi jiwa kepahlawanan. Di antaranya yaitu Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah putra Sinuwun Hamengku Buwana III, Sultan Yogyakarta, dari garwa selir yang bernama Raden Ajeng Mangkarawati. Beliau sangat disayangi oleh eyang buyutnya, Sultan Hamengku Buwana I atau Sultan Swargi. Nama kecilnya adalah Raden Ontowiryo, yang lahir tanggal 11 Nopember 1785. Sejak kanak-kanak Diponegoro ikut eyang putrinya, Kanjeng Ratu Ageng, di luar istana, yaitu daerah Tegalrejo. Pada tanggal 6 Desember 1922 adik Pangeran Diponegoro, Sultan Hamengku Buwana IV atau Sultan Jarot wafat. Putra mahkotanya yang bernama Pangeran Menol masih sangat muda, lahir tanggal 25 Januari 1910. Hanya alasan konsitutional, Pangeran Menol yang masih balita ini diwisuda menjadi Sultan Hamengku Buwana V, dengan bimbingan Dewan Wali yang terdiri dari: Kanjeng Ratu Ageng (nenek), Kanjeng Ratu Kencana (ibu), Pangeran Mangkubumi (putra HB II), Diponegoro (paman), Patih Danureja. Dewan perwalian Kraton itu mudah menimbulkan konflik intern, karena ternyata Patih Danureja sangat dominatif atas dukungan penuh pemerintahan Hindia Belanda. Puncak dari ketegangan ini membuat pecahnya Perang Diponegoro yang terjadi antara tahun 1825-1830 (Ricklefs, 1995). Pada tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro ditangkap di Magelang sewaktu mengadakan perundingan dengan Belanda. Diponegoro kemudian dibuang ke Menado. Dari Menado kemudian dipindahkan ke Makassar sampai saat wafatnya, tanggal 8 Januari 1855. Selama dalam pengasingan itu Pangeran Diponegoro aktif menulis karangan, yaitu: Babad Diponegoro I, yang ditulis di Menado, Babad Diponegoro II, yang ditulis di Ujungpandang. Makam Diponegoro di Makasar sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Demikianlah Diponegoro bukan saja figur lokal, tetapi merupakan pahlawan yang pantas disegani dan diteladani oleh setiap anak bangsa di seluruh tanah air.
Pangeran Panjangmas Pada jaman Mataram ada seorang seniman dhalang yang terkenal bernama Pangeran Panjangmas. Pangeran Panjangmas adalah abdi dalem carik pada masa pemerintahan Sinuwun Anyakrawati atau Panembahan Krapyak, raja Mataram (1601 – 1613). Panembahan Krapyak meminta Pangeran Panjangmas agar menulis Babad Demak. Saat itu Pangeran Panjangmas merupakan tokoh seniman, sastrawan dan budayawan. Keturunan Pangeran Panjangmas banyak yang menjadi dalang terkenal di kawasan Jawa Tengah. Dalang keturunan Pangeran Panjangmas di antaranya: Marajaya, menurunkan dalang di daerah Wedhi, Gantiwarno dan Prambanan; Marasanta, menurunkan dalang daerah Wonogiri; Mayalesana, menurunkan dalang daerah Ceper, Delanggu dan Pedan. Hingga saat ini banyak seniman dalang merasa beruntung apabila dirinya masih keturunan Pangeran Panjangmas.
Pasir Dalam bahasa pedalangan pasir dimaknai samudra. Pencipta kata pasir ini tentu berdasarkan realita bahwa nusantara memiliki wilayah yang sebagian besar adalah samudra raya. Harus diakui bahwa samudra atau lautan merupakan sumber kekayaan alam yang berlimpah ruah. Di sana terdapat sumber daya laut yang sangat besar dan merupakan jalur perdagangan, pelayaran dan pelabuhan. Bahan tambang juga banyak terdapat di dalam laut. Produksi garam besar-besaran hanya bisa dilakukan di sekitar laut. Demikian pula keanekaragaman hayati, tumbuh-tumbuhan laut dan ikan-ikan tentu bisa mendatangkan kemakmuran. Oleh karena itu penting untuk masyarakat dan negara menguasai teknologi dan ilmu kelautan. Konsep pasir perlu mendapat pemaknaan lebih luas agar bisa mendatangkan keuntungan lebih banyak.
Pasrah Sumarah Sikap pasrah orang Jawa sangat menguntungkan. Mereka tidak pernah menuntut macam-macam kepada pemerintah. Hampir secara penuh mereka menyerahkan kedaulatannya kepada pemimpin. Bagi mereka pemimpin adalah orang yang dapat menjamin keamanan dan ketentraman. Bila ketentraman dan keamanan sudah mereka dapatkan, maka mereka tidak akan menuntut lebih. Sebenarnya sikap sabar nrima, pasrah sumarah, itu sudah lama berlangsungnya. Masyarakat kota yang modern mungkin heran mengapa orang Jawa bersikap seperti itu. Keadaan yang kurang menguntungkan secara ekonomi tidak dirasakan sebagai malapetaka. Sistem kepercayaan orang Jawa selalu berhubungan dengan agenda tindakannya. Semua hajatan penting mesti dicarikan hari pasaran yang baik. Tidak sembarang hari digunakan untuk perhelatan. Begitu religiusnya, maka di daerah pedusunan itu banyak dijumpai upacara tradisional yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pathet Manyura Merupakan jenis gending untuk mengiringi dalam adegan pewayangan. Periode ini berlangsung dari pukul 03:00-06.00, ditandai dengan gunungan (kayon) condong ke kanan. Pathet manyura ini dibagi menjadi tiga jejeran yaitu: a. Jejer Manyura. Tokoh utama adegan ini sudah berhasil dan mengetahui dengan jelas akan tujuan hidupnya. Mereka sudah dekat dengan sesuatu yang dicita-citakan; b. Adegan Perang Brubuh, yaitu suatu adegan perang yang diakhiri dengan suatu kemenangan dan banyak jatuh korban. Adegan ini melambangkan suatu tataran manusia yang sudah dapat menyingkirkan segala hambatan hingga berhasil mencapai tujuannya; c. Tancep Kayon, penutup pergelaran wayang tersebut, diadakan tarian Bima atau Bayu yang berarti angin atau nafas. Kemudian gunungan (kayon) ditancapkan di tengah tengah kelir lagi. Adegan yang terakhir ini melambang-kan proses maut, jiwa meninggalkan alam fana dan menuju kepada kehidupan alam baqa, kekal dan abadi . Wedharan pada pathet manyura berupa nasihat atau pernyataan pada jejeran menjelang perang brubuh. Setelah mendapatkan pengetahuan dan penghayatan dari wejangan pathet sanga seorang satria lalu memperlihat-kan kemampuannya untuk memberantas dur angkara. Tindakan yang dilakukan tanpa marah, tanpa pamrih yang melihat pada dirinya. Pathet manyura ditandai dengan posisi kayon sedikit miring ke kiri. Hal ini melambangkan bahwa manusia harus beramal, sehingga kehidupannya akan berbuah kebahagiaan.
Pathet Nem Merupakan jenis gending untuk mengiringi dalam adegan pewayangan. Gending ini berangkat dari ajaran yang bersumber pada lingkungan hidup lahir dan sebagian dari lingkungan hidup batin. Gambaran alam benda dan alam biologis di dalam janturan jejeran. Pada penggambaran keadaan alam ini diharapkan selalu mengingat kesatuan hidup, meliputi manusia, alam sekitarnya dan kekuasaan Tuhan. Periode yang berlangsung pukul 21.00-24.00 ini melambangkan masa kanak-kanak. Sesuai dengan suasana tersebut, maka gamelan dan lagu dalam pathet nem ini ditandai dengan kayon (gunungan) ditancapkan cenderung ke kiri. Periode pathet nem ini dibagi menjadi 6 adegan (jejeran) yaitu : a. Jejeran raja yang dilanjutkan dengan adegan kedhatonan. Setelah selesai bersidang raja diterima permaisuri untuk bersantap bersama. Jejeran ini melambangkan bayi yang mulai diterima dan diasuh kembali oleh ibunya; b. Adegan paseban jawi, melambangkan seorang anak yang sudah mulai mengenal dunia luar; c. Adegan jaranan (pasukan binatang, gajah, babi hutan). Adegan itu melambangkan watak anak yang belum dewasa dan biasa mempunyai sifat seperti binatang. Anak itu tidak memperhatikan aturan yang ada, tetapi hanya memikirkan diri sendiri; d. Adegan Perang Ampyak (menghadapi rintangan) melambangkan perjalanan seorang anak yang sudah beranjak dewasa yang mulai menghadapi banyak kesukaran dan hambatan, namun dapat dilaluinya dengan aman; e. Adegan sabrangan (raksasa), melambangkan seorang anak yang sudah dewasa tetapi watak-wataknya masih banyak didominasi oleh keangkaraan, emosi dan nafsu; f. Adegan Perang Gagal, suatu perang yang belum diakhiri suatu kemenangan, kekalahan, hanya berpapasan saja, atau masing-masing mencari jalan lain. Adegan ini me­lambangkan suatu tataran hidup manusia masih dalam fase ragu-ragu, belum mantap, karena belum ada suatu tujuan yang pasti .
Pathet Sanga Merupakan jenis gending untuk mengiringi dalam adegan pewayangan. Periode ini berlangsung pada pukul 24.00-03.00 dengan ditandai gunungan yang berdiri tegak di tengah-tengah kelir seperti pada waktu mulai pergelaran. Pathet sanga ini dibagi menjadi tiga jejeran yaitu : a. Adegan bambangan, yaitu adegan seorang satria ber-ada di tengah hutan atau sedang menghadap pendeta. Adegan ini melambangkan manusia yang sudah mulai mencari guru untuk belajar ilmu pengetahuan; b. Adegan Perang Kembang,Yaitu adegan perang antara raksasa Cakil berwarna kuning, Rambut Geni ber-warna merah, Pragalba berwarna hitam, Galiuk berwar-na hijau, melawan seorang satria yang diiringi panakawan. Adegan ini melambangkan suatu tataran manusia yang sudah mulai mampu dan berani mengalahkan nafsu angkara murka (sufiah, lawamah, amarah dan mutmainah); c. Adegan Jejer Sintren, Yaitu suatu adegan seorang satria yang sudah menetapkan pilihannya dalam menempuh jalan hidupnya. Wejangan pada pathet sanga ini disampaikan kepada seorang satria oleh dewa, pendeta, pertapa, Semar atau pinisepuh lainnya. Wejangan berisikan kesadaran dalam ngudi kasampurnan.
Patih Gajah Mada Dalam berbagai kepustakaan, Gajah Mada disebut juga dengan nama Empu Mada, Jaya Mada, atau Dirada Mada. Menurut Agama, namanya adalah Lembu Muksa yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Gajah Mada artinya gajah yang tangkas, cerdik dan energik. Barangkali pula, nama Gajah Mada hanya merupakan nama sebutan saja, sedangkan nama kecilnya tidak diketahui dengan pasti. Gajah Mada mengabdi sebagai punggawa kerajaan selama lebih dari 40 tahun. Ia wujudkan cita-cita besarnya dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. Ia mendidik putra-putra Majapahit menjadi prajurit yang cerdas dan tangkas. Ia ajar pada sarjana wirotama menjadi tamtama yang berhati mulia dan berwatak satria. Ia gembleng para abdi negara di bawah kekuasaannya menjadi abdi yang jujur dan setia. Gajah Mada sendiri adalah prajurit dan politikus pilih tanding sehingga berhasil mencapai kedudukan tinggi dan terhormat di sisi raja. Kitab Pararaton memuat sedikit sejarah tentang Gajah Mada. Gajah Mada dilukiskan sebagai pemuda sakti berhati bijak yang berhasil menjaga tahta yang hampir runtuh, bahkan menegakkannya dengan kokoh. Dialah tokoh pertama kali yang berhasil mempersatukan kepulauan nusantara di bawah satu payung agung bernama kerajaan Majapahit. Awal karir politik Gajah Mada adalah sebagai seorang kepala Prajurit Bayangkara. Sebagai kepala prajurit, ia sangat cakap dan disegani lawan. Ketika ia berhasil mencapai kemenangan dalam peperangan, maka ia diangkat sebagai seorang kepala daerah. Pengabdian Gajah Mada sudah dimulai pada masa pemerintahan Prabu Jayanegara (1309-1328). Di bawah raja Prabu Jayanegara ini, Gajah Mada menunjukkan banyak jasa istimewa, sehingga karir politiknya selalu menanjak. Dari waktu 11 tahun, yakni tahun 1319-1330, kiprahnya mendapat perhatian dari pemerintahan pusat. Kebijaksanaan Gajah Mada dalam mengatasi berbagai persoalan semakin lama semakin tersohor ke pemerintahan pusat, sehingga pada tahun 1330 ia ditarik untuk menguatkan pemerintahan Majapahit dengan dilantik sebagai Patih Mangkubumi. Pada saat menjabat sebagai Patih Mangkubumi yang menggantikan Arya Tadah ini, Gajah Mada berhasil mempersatukan kepulauan nusantara. Pada tahun 1319, ia diangkat sebagai bekel pasukan bayangkara raja. Tidak lama setelah ia diangkat sebagai bekel tersebut, terjadi terjadi pemberontakan besar yang menggoyangkan pemerintahan. Pada saat genting tersebut, Gajah Mada mengambil peran yang sangat sentral. Kebijaksanaannya dalam mengatasi berbagai pihak yang bertikai berkenan di hati Prabu Jayanegara. Pada tahun 1364, Gajah Mada meninggal dunia. Akan tetapi, di manakah beliau dikuburkan tiada yang tahu. Menurut sebagian sumber sejarah, beliau muksa di daerah Blitar. Namun benarkah informasi tersebut masih menjadi pertanyaan hingga saat ini. Beliau adalah tokoh yang menyejarah dengan gemilang, namun di mana beliau lahir dan dikuburkan tidak pernah diketahui. Hanya perjuangan dan cita-citanya yang tetap besar sepanjang masa, melekat di kalbu rakyat, menghunjam di jantung bumi. Ia mendapat tempat yang paling terhormat dalam sejarah perjuangan nusantara.
Pekerti Pekerti bersinonim dengan sopan santun, unggah-ungguh, tata krama, etika dan moral. Pekerti merupakan aturan seseorang dalam menentukan tingkah lakunya secara pribadi. Baik buruk tingkah aku seseorang inilah yang dinamakan pekerti. Istilah pekerti ingkang becik berarti tabiat yang baik. Ukurannya yaitu sejauh mana tindakan yang diputuskan itu bermanfaat bagi orang lain. Dalam hal ini termasuk juga apakah akibat dari tindakannya itu akan merugikan pihak lain. Pekerti yang baik, dan luhur senantiasa berguna dan menyejukkan semua pihak. Sejak di usia anak-anak, hendaknya ditanamkan soal keutamaan budi pekerti luhur sehingga setelah dewasa sudah terbiasa dengan tindakan yang dilandasi pertimbangan baik dan buruk. Kelakuan buruk orang dewasa biasanya akibat masa muda yang kurang terdidik.
Perwira Perwira adalah pahlawan yang selalu siap menegakkan kebenaran dan keadilan. Kebenaran berkaitan dengan olah pikir, kemampuan, penalaran dan kegiatan keilmuan. Keadilan menyangkut keseimbangan, kesetaraan, dan kenyamanan hidup bersama. Seorang perwira jauh berbeda dengan prajurit. Seorang perwira diharap mempunyai bermacam-macam kemampuan. Seorang perwira juga seorang konseptor, administrator, dan operator di lapangan. Otak perwira harus encer, tangannya harus cekatan, dan kakinya harus cepat melangkah. Kegagahan perwira tampak pada visi dan misi, intelektualitas, moral, ilmu-amaliah, dan iman-ihsannya sehingga patut diteladani.
Pesunen Sariranira Arti pesunen sariranira adalah agar seseorang mampu mengendalikan nafsu dirinya. Seorang pemimpin banyak kesempatan untuk berbuat baik seharusnya digunakan sebaik mungkin, jangan mengikuti hawa nafsu yang bisa merusak ke jurang kenistaan. Pemimpin memiliki banyak kesempatan untuk melakukan apa saja dan di situ pula godaan datang bertubi-tubi dan bermacam-macam. Kadang-kadang godaan itu hadir seolah-olah barang yang penuh daya pesona. Sebenarnya cuma maya dan menipu indra. Pengendalian diri dengan mengekang hawa nafsu termasuk cara yang dapat menghalau godaan yang menyesatkan. Kalau kuat godaan cita­cita akan tercapai. Dalam Lakon wahyu cakraningrat, karena Abimanyu kuat dalam menghadapi semua cobaan maka ia berhasil mendapatkan wahyu tersebut. Dalam Lakon Bimasuci, Bima pun berhasil mendapatkan air perwita sari karena ia kuat melawan segala halangan dan rintangan.
Petung Butuh Petung adalah musyawarah untuk memutuskan suatu acara penting dalam sebuah keluarga. Misalnya petung butuh adalah rapat yang membahas anggaran keluarga. Ada lagi petung yang sangat penting, yaitu petung dina. Petung dina lazim dilakukan untuk menentukan hari baik untuk suatu acara hajatan, misalnya hari pernikahan. Untuk mencari hari yang tepat itu diperlukan pertimbangan sesepuh yang bijak dan dianggab pintar. Orang yang diajak petung biasanya merasa dihargai. Dirinya diperlukan, diperhatikan, dihargai, dan dianggab ada yang akhirnya nanti mendukung kekompakan.
Prabu Jayabaya Di antara raja Kediri, Prabu Jayabhayalah yang paling terkenal. Prabu Jayabaya adalah raja di Kediri yang paling terkenal. Beliau memerintah antara 1130 – 1157 M. Pada jaman Prabu Jayabaya ini tumbuh pesat kegiatan tulis menulis, di antaranya: Empu Sedah mengarang Kakawin Bharatayudha, Empu Panuluh mengarang Kakawin Bharatayudha, Hariwangsa dan Gathotkacasraya. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabhaya dalam hal kesusastraan dan kebudayaan tidak tanggung-tanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh ke depan menjadikan Prabu Jayabhaya layak dikenang sepanjang masa. Kalau rakyat kecil hingga saat ini ingat pada beliau, hal itu menunjukkan bahwa pada masanya berkuasa tindakannya selalu bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Sampai saat ini ramalan Prabu Jayabaya sering menjadi rujukan untuk menganalisis perisitiwa kontemporer. Kalau ada keadaan kacau, masyarakat sering merujuk pada ramalan Jayabaya, tanpa mau meneliti apakah ramalan itu benar-benar dari Prabu Jayabaya atau sekedar omong kosong. Pada saat-saat tertentu makam Jayabhaya di daerah Mamenang, Kediri banyak dikunjungi oleh para peziarah dengan bermacam-macam tujuan. Yang jelas para peziarah itu meyakini bahwa Prabu jayabhaya mampu menangkap keluh-kesahnya. Bahkan bila perlu mereka datang minta doa restu agar cita-citanya dapat terkabul.
Pranata Mangsa Di balik keluguannya ternyata orang Jawa sangat paham terhadap pergantian musim atau pranata mangsa. Mereka mengerti sekali soal pergantian musim terutama berkaitan dengan masa tanam, dan masa panen (musim hujan, kemarau, labuh, mareng).
Prasaja Prasaja mempunyai banyak arti yaitu terbuka, hidup seadanya dan sederhana. Hidup prasaja bukan berarti kekurangan dan miskin, tetapi berusaha menyesuaikan dengan lingkungan. Orang yang menjalani hidup prasaja tidak mau menonjolkan diri, bermewah-mewahan dan menghindari pamer. Dia mampu bertingkah laku andhap asor, mengendalikan keinginan, suka mengalah, namun dalam hal prestasi mau berjuang secara sungguh-sungguh. Kerja keras dan jujur senantiasa menyertai kehidupan yang prasaja. Mencari uang itu sulit, mengumpulkan harta kekayaan itu memerlukan perjuangan yang gigih dan kerja keras yang tekun. Hidup prasaja memerlukan kehati-hatian. Prasasti Mantyasih Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 ditulis atas perintah raja Balitung. Prasasti ini memuat kondisi politik dan silsilah raja Mataram Kuno: “Rahyang ta rumuhun ri medang ri poh pitu, Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warah, Sri Maharaja Rakai Garung, Sri Maharaja Rakai Pikatan, Sri Raja Rakai Kayuwangi, Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan kemudian disusul oleh raja yang sedang memerintah yaitu Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung Dharmodaya Makasambhu.
Pulung Kepemimpinan dalam pandangan budaya Jawa diperoleh melalui proses turunnya wahyu, pulung atau ndaru. Di desa-desa sewaktu terjadi pemilihan kepala desa (pilkades), para calon kades itu biasanya saling berebut pulung. Mereka datang ke dukun-dukun, orang tua, atau tempat keramat semacam kuburan leluhur hanya demi mewujudkan impiannya untuk mendapatkan pulung kepemimpinan tersebut.
Punjung Arti kata punjung adalah luhur kewibawaannya. Kewibawaan suatu negara diperoleh dari pengakuan rakyat dalam negeri dan pengakuan kedaulatan dari negara-negara lain. Rakyat yang sejahtera lahir batin dan negara tetangga yang mendapatkan hutang budi merupakan modal pokok suatu negara untuk tampil terkemuka mendapat pengakuan dan kewibawaan. Lain halnya dengan suatu negara yang dirundung gejolak politik, kerusuhan, kemiskinan dan kesengsaraan warganya, tentu saja rakyat akan melakukan upaya-upaya penggulingan kekuasaan dan negara lain sulit mengakui kewibawaannya. Boleh jadi malah menjadi cibiran bangsa manca. Negara seperti itu tidak bisa dibanggakan lagi. Oleh karena itu sedapat-dapatnya masing-masing warga mau aktif dan kompetitif dalam membangun kemakmuran negara. Pemimpin negara juga dituntut memiliki visi yang cerdas, tidak korup dan memiliki supremasi hukum.
Pura Mangkunegaran Setelah Perjanjian Salatiga ditandatangani, maka secara resmi berdirilah Pura Mangkunegaran. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa sebagi pendirinya menjadi adipati pertama kali dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Para adipati yang pernah memerintah di Pura Mangkunegaran yaitu :
1 Mangkunegara I (1757 – 1795)
2 Mangkunegara II (1795 – 1835)
3 Mangkunegara III (1835 – 1852)
4 Mangkunegara IV (1852 – 1880)
5 Mangkunegara V (1880 – 1896)
6 Mangkunegara VI (1896 – 1916)
7 Mangkunegara VII (1916 – 1944)
8 Mangkunegara VIII (1944 – 1981)
9 Mangkunegara IX (1987 – Sekarang)
Pura Pakualaman
Kadipaten Paku Alaman secara administratif terlepas dari kekuasaan kesultanan Yogyakarta.
Para adipati yang pernah memerintah di Pura Paku Alaman:

1 Paku Alam I (1813 – 1829)
2 Paku Alam II (1829 – 1858)
3 Paku Alam III (1859 – 1864)
4 Paku Alam IV (1864 – 1878)
5 Paku Alam V (1878 – 1900)
6 Paku Alam VI (1900 – 1903)
7 Paku Alam VII (1903 – 1938)
8 Paku Alam VIII (1938 – 1998)
Purun Purun berarti kemauan, kehendak, tekad, semangat dalam menyelesaikan suatu kerja berat. Kemauan kuat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau masalah sangat vital dan merupakan perbuatan mulia. Para pelajar yang mempunyai kemauan keras untuk belajar tentu akan disukai oleh gurunya. Teman-temannya pun akan segan terhadapnya. Lebih-lebih lagi kemauan keras sangat penting untuk meraih cita-cita. Penghormatan dari orang lain akan muncul dengan sendirinya. Di mana-mana ia, akan selalu menjadi buah bibir. Itulah wujud dari nama harum karena purun ‘kemauan yang kuat’. Rangkaian kata guna, kaya lan purun dapat dijumpai dalam Serat Tripama karya Mangkunegara IV yang menceritakan kisah Patih Suwanda atau Raden Sumantri. Patih Suwanda selalu sukses dalam menjalankan tugas.
Raden Panji Notoroto Di kalangan budayawan dan politikus Jawa Raden Panji Notoroto sudah tidak asing lagi. Beliau adalah seorang ahli kebatinan dan sastrawan yang aktif menulis. Karangan R.P. Notoroto di antaranya: Serat Bayanullah, Musyawaratan Para Wali, Kancil Kridhamartana, Serat Purwakanthi. Murid R.P. Notoroto yang cerdas dan unggul adalah Ki Kusumowicitro, pendiri gerakan kebatinan Hardapusara. Ki Kusumowicitro mempunyai murid Ki Sujonorejo. Riwayat hidup Raden Panji Notoroto ditulis dalam buku Falsafah Siti Jenar oleh Brata Kesawa, seorang asisten wedana di Ngijon, Sleman, Yogyakarta. Beliau pernah mengabdi kepada Sinuwun Hamengku Buwana V, VI dan VII di Kraton Yogyakarta. Beliau banyak menyelamatkan naskah­naskah Jawa lama dengan digubah dan disalin dalam bentuk yang baru, sehingga bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.
Raden Wijaya Raden Wijaya menjadi raja pertama kerajaan Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309). Ia mempunyai 4 (empat) isteri, di mana yang tertua bernama Tribhuwana/Dara Petak dan yang termuda bernama Gayatri yang disebut juga Rajapatni dan dari padanya lah berlangsungnya raja-raja Majapahit selanjutnya. Raden Wijaya memerintah dengan tegas dan bijaksana, negara tenteram dan aman, susunan pemerintahan mirip Singhasari, ditambah 2 (dua) menteri yaitu rakryan Rangga dan rakryan Tumenggung. Sedangkan Wiraraja yang banyak membantu diberi kedudukan sangat tinggi ditambah dengan kekuasaan di daerah Lumajang sampai Blambangan. Majapahit berdiri tahun 1294, dua tahun sesudah runtuhnya kerajaan Singosari (1222-1292). Kerajaan Singasari berpusat di kota Malang sekarang ini. Kerajaan ini runtuh akibat serangan dari Kediri pada masa Prabu Jayakatwang. Maka turunan raja pertama, Rajasa atau Ken Arok (1222-1227) sampai raja yang terakhir yakni Kertanegara (1268-1292) habis sudah. Setelah dua tahun, Kerajaan Kediri di bawah Prabu Jayakatwang sempat memimpin tanah Jawa. Akan tetapi, rupanya pemerintahan Jayakatwang kurang legitimit di mata rakyat karena Prabu Jayakatwang bukan keturunan Ken Arok, sehingga ia kesulitan melakukan dalam konsolidasi pemerintahan. Bisa dikatakan, pada masa tahun 1292-1293 ini tanah Jawa sedang mengalami pancaroba. Kerajaan Majapahit sangat besar peranan dan artinya dalam sejarah persatuan nusantara.
Raharja Raharja berarti jauh dari kejahatan. Semua orang patuh pada hukum. Pencuri dan pencopet, maling dan kecu tidak mendapat tempat. Harta dan kekayaan, ternak dan hasil pertanian aman ditaruh di mana saja, tidak ada kejahilan dan kejahatan yang mengganggu. Mereka yang kecukupan membantu yang kurang kecukupan. Hal ini menjadikan yang kekurangan kerjanya menjadi lebih giat untuk mengejar ketinggalan. Antara kekayaan dan kemiskinan terjadi saling pengertian. Mereka tahu posisi dan kedudukannya sehingga hubungan harmonis terpelihara. Penonjolan kemewahan oleh yang kaya tidak terjadi dan meminta-minta oleh yang melarat tidak terlihat.
Rahayu Setiap kali para orator bahasa Jawa mau mengakhiri pembicaraan, senantiasa terdengar ungkapan: mugi rahayu ingkang sami pinanggih. Artinya semoga selalu bertemu dalam keselamatan. Rahayu di sini juga mengandung makna doa selamat. Ayu-hayu-rahayu adalah kondisi yang memungkinkan bagi terwujudnya keselamatan. Wanita ayu adalah wanita yang bisa menghadirkan suasana keselamatan, kesejukan dan kedamaian. Demikian juga kata hayu­dirgahayu adalah ungkapan yang menghendaki datangnya keselamatan. Untuk anak putri sering diberi nama rahayu. Misalnya Nanik Rahayu, Sulastri Rahayu, Prapti Rahayu dan Sulistya Rahayu. Harapannya agar si anak mendapat kecantikan fisik dan kecantikan batin, sehingga kehadirannya membawa keindahan dan kedamaian.
Rakai Pikatan Rakai Pikatan memerintah Kraton Mataram Hindu sekitar tahun 998 Çaka atau 856 Masehi. Istrinya adalah putri Raja Samaratungga yang bernama Pramodhawardhani. Pada jaman pemerintahan Rakai Pikatan itu dibangun Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang. Prasasti yang mengungkapkan tentang Candi Prambanan yaitu Prasasti Siwagraha yang berangka tahun 778 Çaka atau 856 Masehi, yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan (Moertjipto & Bambang Prasetyo, 1994: 30). Sekarang prasasti itu disimpan di Musium Pusat Jakarta. Nama Rakai Pikatan juga disebut dalam Prasasti Mantyasih. Begitu terkenalnya, Rakai Pikatan mendapat julukan Jatiningrat.
Rame ing Gawe Ungkapan rame ing gawe mengandung maksud suka bekerja atau cepat kaki ringan tangan. Orang yang berjiwa rame ing gawe selalu menggunakan maksudnya untuk bekerja serta pantang menganggur. Negara akan maju dan berkembang dengan keringat orang yang suka bekerja. Produktivitas kerja akan menolong orang lain untuk sama-sama merasakan rembesan keringat hasil kerjanya. Di mana-mana saja orang dapat memberi kalau dia mempunyai. Kalau tidak punya maka apa yang lantas akan diberikan, selain kerja yang tekun? Kerja keras juga merupakan sarana untuk berbuat baik dan berguna bagi masyarakat dan merupakan perilaku yang teramat mulia. Orang akan menghargai pihak lain yang mau bekerja dengan tekun dan tulus. Orang yang rame ing gawe tidak akan merongrong pihak lain, apalagi jika diimbangi dengan sikap sepi ing pamrih, tidak mengharapkan balas jasa.
Ranggawarsita Raden Ngabehi Ranggawarsita lahir pada hari Senin Legi, 10 Dulkaidah, tahun Be, 1728 Jawa atau 15 Maret 1802 Masehi. Beliau adalah putra sulung Mas Pajangswara yang berpangkat jajar, kemudian naik pangkatnya menjadi carik atau juru tulis di Kadipaten Anom (Kamajaya, 1985: 13). Nama mudanya yaitu Bagus Burham. Bagus Burham menjelang usia 12 tahun dikirim ke suatu pesantren untuk memperdalam pendidikannya. Tempat pesantrennya adalah pondok pesantren Gebang Tinatar, Ponorogo yang diasuh oleh kyai ternama, yaitu Imam Kasan Besari (Drewes, 1974: 202). Imam Besari masih menantu Sri Sunan Paku Buwana IV di Surakarta. Sesudah belajar agama di Ponorogo itu, Bagus Burham memperluas ilmunya dengan mengembara. Dalam laku pengembaraannya itu Bagus Burham juga berusaha untuk berdialog di berbagai tempat dengan guru-guru tersohor. Kegiatannya ini dilakukan sampai menyeberang ke Pulau Bali (Simuh, 1988: 39). Pada tahun 1845 beliau diangkat menjadi pegawai di istana sebagai pujangga kraton Surakarta. Selama hidupnya beliau mengabdi kepada 5 raja, Sinuwun Paku Buwana V – IX. Loyalitas beliau terhadap profesinya ditunjukkan dengan sejumlah karya­karyanya yang bermutu tinggi. Karya tulis Raden Ngabehi Ranggawarsita di antaranya: Serat Wirid, Hidayat Jati, Suluk Saloka Jiwa, Suluk Supanalaya, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Suksma Lelana, Serat Paramayoga, Serat Jayengbaya, Serat Jayengtilam, Pustaka Raja Purwa, Kalatidha, Sabdatama, Sabdajati, Cemporet, Joko Lodhang, Wedharaga, Wedhapurwaka, Sabdapranawa, Sadu Budi, Jitapsara, Candrarini, dan Witaradya. Silsilah R. Ng. Ranggawarsita dari pihak ayah menurut Komite Ranggawarsitan (1933: 6) yaitu: Pujangga kraton Kartasura-Surakarta, Raden Ngabehi Yasadipura berputra Raden Tumenggung Sastranagara atau Yasadipura II, Yasadipura II menurunkan Mas Ngabehi Ranggawarsita atau Mas Pajangswara, Mas Pajangswara menurunkan Raden Ngabehi Ranggawarsita. Silsilah R. Ng. Ranggawarsita dari garis keturunan ibu menurut Komite Ranggawarsitan III (1933: 7) yaitu: Pujangga Pajang, Pangeran Tumenggung Sujanapura atau Pangeran Karanggayam menurunkan Raden Wangsabaya, Raden Tumenggung Wangsabaya menurunkan Kyai Ageng Wanabaya, Kyai Ageng Wanabaya menurunkan Kyai Ageng Nayamenggala, Kyai Ageng Nayamenggala menurunkan Kyai Ageng Nayatruna atau Ngabehi Sudiradirja I. Ngabehi Sudiradirja I menurunkan Ngabehi Sudiradirja II atau Sudiradirja Gantang, Sudiradirja Gantang menurunkan Nyai Ageng Pajangswara, Nyai Ageng Pajangswara menurunkan R. Ng. Ranggawarsita. Pujangga sejak jaman pemerintahan Pajang sampai Surakarta di antaranya: Pangeran Tumenggung Sujanapura atau Pangeran Karanggayam, Ngabehi Dhadhaptulis, Tumenggung Jayaprana, Tumenggung Sujanapura, Tumenggung Surawadi, Ngabehi Saralathi, Ngabehi Wirasastra, Kyai Ageng Buyut, Tumenggung Janur, Tumenggung Tirtawiguna, Pangeran Wijil, Pangeran Sastrawijaya, Kyai Yasadipura I, Kyai Yasadipura II, R. Ng. Ranggawarsita. Mereka yang bergelar pangeran dan tumenggung berpangkat bupati. Mereka yang bergelar ngabehi berpangkat kliwon atau bupati anom (Komite Ranggawarsitan, 1933: 8-9). Ranggawarsita wafat pada tahun 1873, dimakamkan di Palas, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah berdekatan dengan makam orang tuanya. Sampai kini makamnya banyak dijadikan tempat ziarah yang amat keramat oleh masyarakat. Ranggawarsita termasuk seorang pujangga yang peka terhadap permasalahan sosial. Jaman Kali atau Kaliyuga yang oleh Ranggawarsita lebih populer disebut dengan istilah jaman edan merupakan sindiran
pada kekacauan waktu itu. Ranggawarsita melalui Serat Kalatidha di atas memberi peringatan
kepada manusia agar dirinya selalu eling lan waspada, mau mengendalikan diri, tidak terbawa
arus sehingga suatu saat dirinya mendapat ketentraman lahir dan batin. Keadaan masyarakat
yang penuh kekacauan hendaknya diselesaikan dengan arif bijaksana, sehingga tidak malah
menambah beban sosial. Di samping itu manusia perlu berserah diri kepada Allah Yang
Mahakuasa.

Rasa
Rasa dalam budaya Jawa mendapat apresiasi yang cukup tinggi. Adanya istilah bawa rasa,
angon rasa, rasa pangrasa menunjukkan orang Jawa sangat peduli dengan aspek perasaan.
Dalam istilah kefilsafatan rasa dekat dengan konsep estetika. Menjaga perasaan berarti
menghormati batin orang lain agar tidak sakit hati dan terluka. Pikiran, ucapan dan tindakan
yang selalu angon rasa berarti berhati-hati terhadap apapun produk ucapan dan sikap, jangan
sampai mengganggu perasaan orang lain. Orang yang egois dan materialis sulit sekali
memahami perasaan orang lain. Tentu saja, sikap yang kurang memperhatikan orang lain akan
membuat persahabatan menjadi mudah renggang. Persaudaraan yang hanya dilandasi pikiran
untung rugi biasanya tidak akan langgeng.

Rembug Desa
Rembugan berasal dari kata rembug yang artinya omong-omong. Orang yang rembugan berarti
melakukan aktivitas omong-omong dengan topik tertentu. Dalam pedusunan dikenal dengan
istilah rembug desa yaitu musyawarah yang diikuti seluruh warga desa. Mereka bebas
mengemukakan aspirasinya demi menuntaskan permasalahan bersama. Keputusan yang diambil
berdasarkan suara mufakat. Tidak ada yang merasa dipinggirkan. Semua keinginan sebisa-bisa
ditampung dan dihormati. Pemimpin Jawa penting untuk suka mengajak rembugan warga agar
mereka merasa dilibatkan. Dengan diajak rembugan maka warga akan mau berpartisipasi aktif
dalam mendukung setiap program pembangunan. Kalau pemimpin tidak mau mengadakan
rembugan, maka oposisi akan datang menghadang.

Rewang
Rewang berarti membantu orang lain, namun sudah menjurus pada pekerjaan profesional.
Dalam istilah pedusunan menunjuk pada urusan membantu pekerjaan rumah tangga. Tugas
pokok seorang rewang adalah membantu pekerjaan rumah tangga pada suatu keluarga.
Hubungan antara juragan dan rewang masih melibatkan unsur emosionalitas. Kadang-kadang
jaringan keluarga rewang juga membantu pekerjaan rumah tangga sang majikan. Penggajian
sering di atas atau melebihi harapan si rewang. Keduanya sudah terjalin sikap saling percaya.
Sifat kerja seorang rewang berbeda betul dengan cara kerja karyawan, buruh atau pegawai.
Cara kerja rewang lebih tulus, sungguh-sungguh, tanpa pamrih dan tanggung jawabnya jauh
lebih besar.

Rikat
Rikat berarti cepat dalam melakukan segala pekerjaan. Kalau orang lain dapat melakukan
pekerjaan satu maka ia harus dapat melakukan dua atau lebih. Kemajuan bangsa tentu saja
harus didukung oleh warganya yang bekerja secara rikat, supaya produksinya berlipat ganda.
Sungguh suatu tragedi bila ada kelompok bangsa yang warganya lamban dalam bekerja dan
menjadi beban negara lain. Permasalahan bangsa akan semakin menumpuk. Orang yang rikat
bekerja tidak berarti grusa-grusu ‘terburu-buru’, asal-asalan dan ceroboh. Untuk bisa rikat
segalanya harus diperhitungkan secara njlimet ‘detail’, tepat dan efektif dan efisien. Dengan
demikian rikat dapat digolongkan menjadi etika dan etos kerja.

Ripah
Kata ripah diterangkan Ki Dalang dengan pengertian mengacu kepada keramaian suatu negara.
Karena negara memiliki daya pikat, maka banyak orang manca berkunjung dan berbondong-
bondong untuk mencari penghidupan atau sekedar berdarma wisata ke situ. Di mana saja yang
banyak dituju orang biasanya di situ banyak rezeki. Hal ini sebagaimana pepatah: ada gula ada

semut. Namun untuk mengelola gula diperlukan ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan
dan kebijaksanaan yang memadai. Kesejahteraan merupakan hal yang membuat orang tergerak
untuk meraihnya. Beruntunglah wilayah atau negara yang dapat mewujudkannya.

Rukun
Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama
dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan. Dalam bahasa Jawa rukun
kuwi angedohi padu don rukun itu menjauhkan pertengkaran’. Misalnya cekcok antara suami
istri yang berlarut-larut diharap oleh banyak pihak agar bisa rukun kembali. Rukun merupakan
syarat mutlak untuk memperoleh keadaan rumah tangga yang harmonis. Ada ungkapan Jawa
demikian: crah agawe bubrah rukun agawe santosa ‘pertikaian membuat perceraian, rukun
membangun kekuatan’. Pertengkaran antara individu atau kelompok sesungguhnya akan
menguras banyak enerji. Tenaga yang terbang sia-sia akan menunda proses produksi apa saja.
Kemunduran suatu bangsa disebabkan karena antar unsurnya tidak rukun.

Rupadhatu
Merupakan simbol alam antara tempat bersemayamnya manusia yang sudah mencapai tingkat
kedewasaan. Manusia yang bertanggung jawab, sungguh-sungguh berusaha untuk mencapai
cita-cita, seimbang, dan humanistik.

Sabar Drana
Sikap sabar drana adalah kemampuan dalam mengendalikan diri berkaitan antara harapan
dengan kenyataan tidak sejalan. Cita-cita yang mulia sering kali tertunda dari waktu yang
direncanakan. Tujuan luhur pun kerap kali meleset karena suatu hak yang tidak diduga. Orang
Jawa sangat menghargai seseorang yang bisa mengendalikan emosi sinamun ing samudana,
sesadone adu manis. Biarpun tidak cocok hatinya, bahkan sampai tingkat marah, tetapi tetap
menyembunyikan perasaan lewat senyum manis dikulum. Kemarahan yang diledakkan memang
saru ‘jorok’. Nafsu amarah bila dituruti tidak akan pernah puas.

Sabda Pandhita Ratu
Sabda pandhita ratu tan kena wola-wali adalah konsep segala perkataan raja sebagai undang-
undang negara. Oleh karena itu apapun kata raja harus dilaksanakan oleh rakyat. Demikian
pula raja tidak boleh sembarangan dalam bersabda dan tidak boleh berubah-ubah. Jejer
pertama dalam adegan pewayangan, Ki Dalang mesti mengawali pagelarannya dengan
melukiskan keindahan, kemakmuran dan kewibawaan suatu negara. Cara pelukisan semua
negara dan rajanya boleh dikatakan stereotip. Untuk negara pasti menggunakan lukisan ingkang
panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja ‘suatu negara
yang terbentang luas lautan dan pegunungannya, ramai pelabuhan dan perdagangannya, murah
sandang pangan, subur makmur tertib tentram damai jauh dari laku kejahatan’. Tidak ada
dalang menceritakan keburukan atau cacat suatu negara. Jadi imajinasi orang Jawa terhadap
lembaga negara akan selalu indah, makmur, dan serba membahagiakan. Sedangkan lukisan
yang menunjukkan kewibawaan, keagungan, dan kebijaksanaan raja diceritakan: narendra
ingkang kinasih dewa, kinawula ing widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning
narendra. Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang
kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan ‘Raja yang dikasihi para
dewa, diperhamba bidadari, dekat dengan ulama, dan disegani sesama raja. Raja yang
menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi
payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang
yang kegelapan’. Di situ kepala negara atau raja dilukiskan sebagai orang yang adil berwibawa,
murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Oleh karena itu imajinasi orang Jawa terhadap
pemegang kepemimpinan adalah mengayomi.

Sad Guna Upaya
Sad Guna Upaya artinya enam macam upaya luhur yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin.
Ajaran ini terdapat dalam serat Niti Sastra yang memuat sebagai berikut : Winarya Wasesa,

artinya cakap dan bijak dalam memimpin sehingga memuaskan semua pihak. Gasraya Wasesa, artinya kemampuan untuk menghadapi musuh yang kuat dan tangguh dengan menggunakan strategi/muslihat dalam berdiplomasi atau perang. Stana Wasesa, artinya dapat menjaga hubungan dan perdamaian dengan baik dan memprioritaskan tentaranya untuk menjaga kedaulatan negara dan menjaga perdamaian serta menghindari peperangan. Sidi Wasesa, artinya pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menjalin persahabatan dengan rakyat, sesama dan negara tetangga. Wigraha Wasesa, artinya kemampuan untuk memilah-milah persoalan dan mampu untuk mempertahankan hubungan baik. Wibawa Wasesa, artinya pemimpin memiliki kewibawaan atau disegani baik oleh rakyat, negara tetangga ataupun musuh-musuhnya.
Sad Guna Weweka Adalah enam macam musuh dalam diri manusia. Enam macam musuh yang harus dihilangkan dan dimusnahkan dari diri setiap manusia. Karena manusia mempunyai pikiran, maka ia mempunyai cita-cita. Bahagia bila cita-citanya tercapai dan derita bila cita-citanya tidak tercapai. Cita-cita inilah yang dapat menyelewengkan tindakannya dari tujuan hidup, yaitu kelangsungan hidup pribadinya dan jenisnya. Bila cita-citanya gagal, orang sering bersikap nekad, bahkan bersedia untuk bunuh diri, Ini jelas bertentangan dengan tujuan hidup. Jadi cita-cita itu menyebabkan orang tergelincir dari rel tujuan hidup. Apabila orang mencita­citakan sesuatu, tetapi tidak mengerti cara bagaimana mencapainya, sering ia berpantang tidur atau berpantang hubungan istri/suami. Padahal semua yang dipantangnya merupakan kebutuhan hidup. Maka pantangan tadi ialah tindakan menyimpang dari jalan tujuan hidup. Adapun keenam musuh yang dimaksud adalah: Masarya (iri hati) Perasaan iri hati timbul, karena seseorang tidak senang melihat orang lain yang lebih dari padanya atau menyamai dirinya. Ia tidak senang melihat orang lain bahagia atau lebih beruntung darinya. Orang demikian merasakan dirinya dikalahkan, lebih rendah, malang, dll. Akibatnya muncul rencana jahat, untuk mencelakakan orang yang dianggap menyaingi dirinya. Kama (hawa nafsu) Hawa nafsu ada dalam diri manusia, dan menjadi musuh bagi setiap orang. Nafsu yang tidak terkendalikan akan membawa manusia ke jurang neraka. Loba (tamak, rakus) Loba atau tamak menyebabkan orang tidak peRenah merasa puas akan sesuatu. Orang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dari apa yang telah dimiliki. Orang seperti ini akan selalu gelisah karena didorong oleh kelobaannya. Kroda (marah) Kemarahan timbul karena pengaruh perasaan loba yang tidak dapat dikendalikan, sehingga timbul rasa jengkel, muak, tersinggung, dll. Orang yang suka marah tidak baik, sebab kemarahan menyebabkan orang menderita, dan pada umumnya orang tidak senang dimarahi. Sehingga orang yang sering marah, tidak akan disenangi orang lain. Moha (kebingungan) Kebingungan dapat membuat pikiran menjadi gelap, karena pikiran gelap sehingga tidak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Biasanya lebih cenderung untuk melaksanakan perbuatan yang terkutuk, seperti membunuh orang, atau membunuh diri sendiri. Untuk menghindari kebingungan dalam menghadapi segala persoalan, maka perlu pengendalian pikiran, kuatkan iman, dan harus memiliki rasa pasrah. Mada (mabuk) Mabuk karena minuman keras, terlalu banyak minum. Mmabuk dapat berakibat jelek seperti, merusak tubuh, merusak urat saraf, dll.
Sad Paramuka Prinsip kesucian Gajah Mada salah satunya dilukiskan oleh Prapanca dalam laku enam pembunuhan kejam. Keenam macam pembunuhan kejam itu adalah : Agnida (suka membakar milik orang lain) Milik orang lain adalah bukan milik sendiri, tetapi merupakan hak milik orang, dan orang lain pulalah yang mempergunakan dan memeliharanya. Semua orang patut menghormati milik orang lain. Tapi seringkali ajaran yang baik ini dinodai orang, karena perasaan iri hati, dengki, sentimen pribadi, dll, yang menyebabkan orang demikian melakukan perbuatan yang terlarang seperti membakar milik orang lain. Perbuatan ini adalah perbuatan kejam, karena itu kendalikan dan kontrollah perasaan dan hindari perbuatan-perbuatan yang terlarang ini. Wisada (suka meracun) Perbuatan meracun adalah suatu perbuatan jahat dan terkutuk, perbuatan ini disertai perencanaan untuk membunuh orang dengan mempergunakan alat berupa benda atau obat keras/cetik yang disebut racun. Orang melakukannya karena perasaan dendam, benci, dan menganggap oran glain itu musuh yang harus disingkirkan. Itulah sebabnya perbuatan ini sangat dilarang dan seharusnya tidak boleh dilakukan. Atarwa (melakukan ilmu hitam) Ilmu hitam (black magic) adalah ilmu yang dipergunakan untuk membuat orang lain menderita sakit, gila, dll. Ini dilakukan karena ia merasa kecewa, merasa dihina, sakit hati, dendam, putus asa, dll. Perbuatan seperti ini sangat dilarang oleh agama. Itulah sebabnya, ilmu hitam seyogyanya dihindari, karena berakibat menimbulkan dosa bagi pelakunya. Sastraghna (mengamuk) Mengamuk adalah perbuatan orang yang sedang bingung, putus asa, karena tidak daapt mencairkan suatu masalah, yang menyebabkan buntunya pikiran dan hilangnya kesadaran. Perbuatan ini dapat menimbulkan kepanikan bahkan pembunuhan. Orang yang mengamuk umumnya nekat, biasanya diakibatkan oleh pergaulan yang tidak baik. Oleh karena itu carilah pergaulan yang baik dari orang0orang yang berbudi luhur. Dratikrama (suka memperkosa) Memperkosa adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan antara kedua belah pihak. Perbautan memperkosa sama dengan perbuatan binatang, karena binatang melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsunya saja. Manusia yang berbuat demikian berarti kesadaran pikirannya hilang, karena nafsu yang tidak terkendalikan. Ia lupa dengan rasa malu, harga diri, nama baik keluarga. Perbuatan ini tidak mungkin akan membahagiakan, bahkan sebaliknya seringkali menimbulkan kesengsaraan. Raja Pisuna (suka memfitnah) Memfitnah berarti membunuh orang. Memfitnah orang disaat gawat dan panik, dapat membuat hilangnya nyawa seseorang yang tidak bersalah. Perbuatan ini dilakukan oleh orang yang memiliki perasaan benci dan dendam pada seseorang. Oleh karena itu jauhi dan hindarilah perbuatan-perbuatan rajapisuna atau memfitnah itu.
Sadumuk Bathuk Sadumuk bathuk artinya selebar dahi. Konsep sedumuk bathuk mempunyai makna yang sangat dalam. Meskipun hanya selebar dahi, tetapi di dahi itu terdapat otak di mana kreasi, inovasi, dan produksi seorang manusia dikembangkan. Otak harus diisi dengan bermacam-macam ilmu pengetahuan agar mudah digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Tidak hanya persoalan diri sendiri tetapi juga permasalahan kemasyarakatan. Orang yang mempunyai otak yang encer atau brilian akan mampu menyelesaikan banyak persoalan yang rumit sehingga sangat bermanfaat bagi orang lain. Dibanding dengan makluk lain, manusia memiliki kelebihan akal atau otak. Di sini pula yang membuat manusia terhormat. Kalau otaknya tidak jalan, maka pasti masa depan seseorang akan suram.
Sama Istilah sama atau persamaan cenderung pada pengertian egalitarianisme. Hanya saja istilah sama dalam bahasa diplomasi politik Jawa lebih mengacu pada status sosial seseorang. Dalam kisah pewayangan, lakon Sumantri Ngenger, setelah Sumantri merasa dirinya mencukupi kekuatannya, dia mau menantang rajanya, yaitu Prabu Arjuna Sasrabahu. Raja dan bawahan statusnya tidak seimbang. Prabu Arjuna Sasrabahu mau melayani setelah Sumantri ngrasuk busana keprabon ‘memakai busana raja’ seperti dirinya agar anggapan yang berkembang adalah raja berperang sesama raja, bukan dengan bawahan. Dalam diplomasi pun prinsip sama derajat harus digunakan. Kejelasan status berpengaruh pada diplomasi dan hasilnya. Kalau tidak hati­hati, seorang diplomat akan jatuh harga diri dan martabatnya.
Sanyari Bumi Sanyari bumi bisa diterjemahkan dengan sejengkal tanah. Tanah harus dikelola sebaik-baiknya agar bisa bermanfaat. Di atas tanah yang dimilikinya kedaulatan seseorang atau suatu bangsa bersandar. Tanah merupakan modal utama dan sangat berharga bukan saja bagi para petani namun juga semua orang. Sistem tumpang sari bagi petani adalah contoh pemanfaat tanah secara optimal. Adanya pola warung hidup, yaitu sekitar rumah ditanami sayur-mayur dan tanaman obat-obatan juga merupakan contoh pemanfaatan tanah yang efektif. Dengan demikian pengelolaan tanah sangat penting, harus dihindari konflik atas pemilikan dan pengusahaan tanah. Jika tanah hak milik diganggu sebagaimana dalam masa kolonial, maka harus dibela dan direbut kembali dengan darah juang dan seluruh kekuatan.
Sareh Pikoleh Sareh artinya sabar, pelan-pelan, tenang, hati-hati dan perasaan mengendap ketika mengerjakan sesuatu hal. Orang yang sareh memperhitungkan secara cermat sehingga dirinya terhindar dari kejatuhan. Kata pikoleh berarti hasil atau akibat dari suatu pekerjaan. Maka, kata majemuk sareh pikoleh ini merupakan hukum sebab akibat. Orang yang mengerjakan tugas dengan sareh akan memperoleh hasil yang baik, sesuai dengan rencana semula. Kalau sampai meleset pun tidak rugi sekali. Supaya dapat berlaku sareh seseorang harus berlatih dalam kehidupan sehari-hari. Kalau sudah terbiasa, untuk melakukan sareh itu tidak sulit karena sudah berjalan dengan sendirinya. Hasilnya pun akan datang tak mengecewakan.
Samaratungga Samaratungga adalah raja Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra, penganut agama Budha Mahayana. Raja Samaratungga ini mempunyai karya monumental, yaitu Candi Borobudur.
Sambatan Sambatan berasal dari kata dasar sambat yang berarti mengeluh. Jadi sambatan berarti keluhan. Dalam konteks kerja, sambatan mengandung arti membantu untuk mengurangi beban keluhan karena pekerjaan yang banyak. Pada jaman dulu, orang yang sedang punya hajatan mantu, tetangga kanan kiri sebagian menyumbangkan tenaga mencari kayu bakar ke hutan, mengumpulkan daun jati untuk bungkus makanan, membantu menyembelih hewan dan memasak makanan dan sebagainya. Demikian juga ketika tetangganya mendirikan rumah, menguburkan jenazah dan lain sebagainya. Semangat hidup sosial yang harmonis bisa dipupuk dengan cara sambatan. Sambatan mengacu kepada semangat hidup senasip sepenanggungan.
Sang Hyang Surya Candra Begitu dekatnya dengan alam, orang Jawa menyebut matahari dengan Sang Hyang Surya, bulan disebut Sang Hyang Candra, dan angin disebut Sang Hyang Bayu. Semua penyebutan itu bersifat penghormatan. Kalau ada gerhana matahari atau bulan, orang Jawa mengira bahwa matahari atau bulan itu dimakan oleh raksasa. Semua orang lantas melakukan kothekan dengan memukul lesung dan kenthongan dengan maksud agar raksasa itu segara melepaskan matahari dari mulutnya. Sebagian besar orang Jawa mata pencahariannya adalah bercocok tanam, yang selalu berkaitan dengan tanah. Tanah dalam bahasa krama adalah siti dengan akronim isine bulu bekti. Banyak upacara tradisional yang bertujuan untuk menghormati tanah. Contohnya upacara babak bumi.
Sasmita Narendra Untuk narendra atau raja, kritik tidak diekspresikan dengan senyuman atau kata-kata denotatif, tetapi dengan sasmita ‘lambang atau simbol halus yang bermakna konotatif’. Ambil contoh rangkaian kata-kata kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange ‘sungai hilang kedalamannya, pasar hilang keramaiannya’. Sesungguhnya idiom itu memiliki makna kiasan yang dalam. Seorang kepala negara yang berbudi bawa leksana harus mampu mengungkap dan menangkap makna simbolik seperti itu. Sasmita atau kritik dilakukan dengan tepat oleh Pujangga Yasadipura lewat Serat Wicara Keras-nya dan Ranggawarsita melalui Serat Kalatida­nya. Demikian pula Ki Dalang dengan gara-gara-nya. Ketiga contoh tersebut memuat kritik terhadap ketimpangan masyarakat dan kesewenangan kepemimpinan yang dilakukan dengan cara yang sangat halus dan hati-hati.
Sayuk Sayuk adalah tekad manunggalnya perasaan antar individu atau kelompok dalam menuntaskan kerja sama. Biasanya kata ini disertai dengan kata rukun. Dalam tembang Jawa ada ungkapan sayuk-sayuk rukun bebarengan sakancane ‘manunggal rukun bersama dengan teman-temannya’. Kata sayuk juga dapat berarti melakukan kerja bareng dalam suasana gembira ria. Kegembiraan karena tindakan sayuk ini jarang berakhir dengan rebutan hasil yang bisa melahirkan cekcok. Di sini kerja karena sayuk memang benar-benar ikhlas tanpa pamrih. Bahkan di antara mereka saling menyerahkan hasil kenikmatannya. Begitu indahnya konsep sayuk itu, tidak mengherankan kalau banyak orang yang kangen dan rindu, meskipun kadang kala rugi materi sebagaimana dalam ungkapan: rame ing gawe sepi ing pamrih ‘ramai bekerja, sepi berpamrih’.
Seh Siti Jenar Seorang tokoh mistik Jawa yang populer dan kontroversial hingga saat ini adalah Seh Siti Jenar. Nama Seh Siti Jenar yang lain adalah Seh Lemah Bang, Siti Abrit Siti Brit, dan Siti Rekta. Seh Siti Jenar pernah mendapat wejangan dari Nabi Kilir, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang. Konon ceritanya, Sunan Bonang memberi wejangan kelas tinggi, ilmu Hakikat atau ilmu kesempurnaan kepada Sunan Kalijaga. Begitu pentingnya ilmu ini, maka dicari tempat yang sangat sepi. Sunan Bonang memilih di atas perahu di tengah lautan untuk mbabar kawruh ini, dengan harapan agar dalam membeberkan ilmunya itu tidak akan menggoncangkan dunia. Karena perahu tadi ada bagiannya yang bocor, maka Sunan Kalijaga menambalnya dengan tanah liat. Di tengah-tengah kesunyian yang hening itu, Sunan Bonang memberikan ilmu hakikatnya. Tiba-tiba ada seekor cacing dari tanah liat itu yang berubah menjadi manusia, karena mendengarkan ilmu Sunan Bonang. Manusia baru itu diberi nama Siti Jenar oleh Sunan Bonang dan diakui sebagai muridnya. Seh Siti Jenar akhirnya menjadi tokoh yang cerdas dan terkenal ilmunya. Siti Jenar kemudian mendirikan peguron. Murid-muridnya yaitu Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir dan Pangeran Panggung. Di peguron-nya itu rupanya Seh Siti Jenar mengembangkan ilmu dengan aliran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dengan melakukan ittihad (persatuan mutlak). Ajaran kesatuan mutlak (ittihad) itu bagaikan api dengan nyalanya, laut dengan ombaknya, dan kembang dengan sarinya. Ajaran ini adalah pengaruh tasawuf Ibnu Arabi (1165 – 1240) dan Al Hallaj (858 – 922). Ajaran Seh Siti Jenar ini mendapat reaksi keras dari para wali. Seh Lemah Abang ini juga bergelar Prabu Satmata atau Raja yang tampak oleh mata. Seh Siti Jenar itu masih berpengaruh pada aliran kebatinan dan kejawen, yaitu konsep manunggaling kawula gusti. Pada waktu Seh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh para wali, dengan atas nama demi ketentraman Demak dan Raden Patah, tiba-tiba jenazah Seh Siti Jenar darahnya berubah menjadi putih. Orang yang melihat kejadian itu menafsirkan bahwa sesungguhnya Siti Jenar tidak bersalah. Ajarannya itu benar. Hanya kesalahpahaman saja yang membuat tragedi di atas. Menurut Seh Siti Jenar bagi mereka yang telah menemukan kesatuan dengan hakikat hidup atau dzat Tuhan, segala peribadatan adalah kepalsuan. Karena Tuhan bebas dari hukum kealaman, maka manusia yang telah menyatu dengan dzat Tuhan, dia akan mencapai keabadian yang tidak akan mengalami kerusakan. Konsep manunggaling kawula gusti oleh Seh Siti Jenar disebut dengan uninong aning unong. Ajaran Seh Siti Jenar menarik dikaji karena saat itu ajarannya benar-benar mengguncangkan kekuasaan kesultanan Demak yang didukung oleh ahli syariat yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga.
Sembada Sembada berarti berperilaku yang sesuai dengan kemampuan, perkataan, serba cukup, cocok dengan kenyataan dan selalu mengambil keputusan tanpa merepotkan orang lain. Orang yang sembada berarti segalanya sudah ditakar, diukur dan dikira-kira. Banyak orang yang suka menutupi kekurangan diri dengan berbuat berlebihan, sehingga pada ujung-ujungnya menimbulkan kesulitan. Berperilaku mewah agar mendapat wah, itu sama halnya dengan menabung masalah. Penampilan mewah boleh-boleh saja tetapi harus sembada dengan menakar diri. Prinsip sembada ini bila dilanggar maka seseorang akan kecele, kewirangan, dan menjadi buah bibir buruk bagi orang yang iri. Kadang-kadang menjadi luapan balas dendam dengan mengejek.
Seni Rakyat Salah satu penyebab orang Jawa mudah mengendalikan emosinya adalah karena cinta pada seni halus. Seni halus yang dimaksud adalah kethoprak dan wayang. Keduanya boleh di kata relatif halus daripada seni lainnya. yang hanya mengutamakan kesemarakan lahiriah. Di pelosok pedesaan dalam masyarakat Jawa orang akan betah duduk bersila semalam suntuk saat menonton pertunjukan wayang purwa. Adegan demi adegan mereka ikuti dengan serius untuk mendapat pencerahan batin. Wayang seolah-olah merupakan bumbu rohani masyarakat. Berbeda dengan pentas seni lainnya seperti jathilan, tayuban, ledhek, dan ronggeng, sulit kiranya pertunjukan wayang akan menimbulkan kerusuhan. Suguhan pentas wayang purwa yang adiluhung tidak mendorong pemirsanya untuk bertindak beringas, kasar dan brutal.
Sepi ing Pamrih Sepi ing pamrih artinya mengosongkan ambisi pribadi yang dapat merugikan orang lain. Orang yang terlalu banyak ambisi biasanya akan melakukan tindakan yang tega mengorbankan orang lain. Menjegal dan menyepak pada kawan seiring dan menjilat pada atasan adalah contoh buruk orang yang berambisi tinggi dengan memakai jalan ilegal. Karir yang diperoleh dengan mamakai orang lain sebagai tumbal tentu akan mendapat reaksi perlawanan. Rongrongan demi rongrongan akan menggerogoti legitimasinya. Seseorang yang secara ikhlas menjalankan tugas, beban hidupnya sangat ringan. Jika sukses ia akan bersikap wajar dan bila gagal dia tak patah arang. Pujian dan caci maki dianggab bukan faktor penentu oleh karena itu disikapi biasa-biasa saja.
Serat Ambiya Yasadipura juga menggubah Ambiya dengan sengkalan: Janma tri goraning aji yang berarti 1731 tahun Jawa. Kisahnya tentang kehidupan para nabi. Serat Ambiya berisi tentang Tuhan dalam menciptakan dunia, Nabi Adam dan Hawa. Selanjutnya Serat Ambiya juga mengisahkan kehidupan Nabi Idris, Nabi Nuh dan keturunan para nabi. Orang memperkirakan bahwa Kitab Ambiya itu dibuat pada awal jaman Surakarta. Hanya saja, cerita ini masuk ke Tanah Jawa jauh lebih awal lagi, yaitu kira-kira sebelum jaman Kartasura. Isi cerita Kitab Ambiya ini memperkaya batin orang Jawa waktu itu, karena visi ceritanya tentang kehidupan sangat menonjol. Dengan demikian proses penyebaran Islam lewat karya sastra yang dilakukan oleh Yasadipura dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan.
Serat Arjunawiwaha Jarwa Serat Arjunawiwaha Jarwa ini merupakan gubahan dari Kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa. Kakawin Arjunawiwaha yang berbahasa Jawa Kuno dialihbahasakan ke dalam bentuk bahasa Jawa Baru, sehingga isinya lebih mudah dicerna oleh kalangan yang lebih luas. Poerbatjaraka (1952: 130) mengatakan bahwa Serat Arjunawiwaha Jarwa ini bahasanya lebih bagus bila dibanding dengan bahasa Wiwaha Jarwa yang digubah oleh Sinuwun Paku Buwana III. Kitab Arjunawiwaha bagi orang Jawa dianggap sebagai karya sastra bermutu tinggi, yang mengandung nilai etik filosofis. Cerita Arjunawiwaha setelah digubah oleh Yasadipura I ke dalam bentuk bahasa Jawa modern menjadi sangat populer dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat Jawa. Palmer pada tahun 1868 telah menerbitkan Arjunawiwaha karya Yasadipura
I. Seno Sastraamidjaya (1968) juga menulis tentang cerita Arjunawiwaha dalam bahasa Indonesia dengan judul: Sekelumit Umur Filosofis Cerita Arjunawiwaha. Sanusi Pane, seorang tokoh jaman Pujangga Baru, juga menulis cerita dengan judul Arjunawiwaha. Kitab Arjunawiwaha ini dalam pentas pertunjukan wayang kulit purwa lebih terkenal dengan nama Lakon Mintaraga atau Begawan Ciptowening. Dalang-dalang terkenal seperti Almarhum Ki Nartosabdo, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudharsono, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Hadi Sugito, dan Ki Panut Darmoko sering menampilkan Lakon Begawan Ciptowening dengan penuh penghayatan. Kuntara Wiryamartana (1987) telah membuat karya ilmiah berupa disertasi dengan judul Arjunawiwaha : Transformasi Teks Jawa Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Dalam disertasi itu disertakan pula analisis, perbandingan, suntingan teks, dan terjemahannya.
Serat Babad Giyanti Serat Babad Giyanti disebut juga dengan nama Babad Paliyan Nagari. Babad Giyanti menceritakan pembagian kraton Mataram menjadi dua yaitu: Surakarta dan Yogyakarta. Menurut Poerbatjaraka (1958: 145) Serat Babad Giyanti ini bahasanya sangat hidup dan pelukisan masing-masing tokohnya juga hidup sekali; Ricklefs (1955: 84) menyatakan bahwa Babad Giyanti merupakan dokumen sejarah yang teliti yang mencakup kurun waktu antara tahun 1746-1760. Babad Giyanti telah dicetak oleh H. Burning tahun 1885, 1886, 1892 sebanyak empat jilid. Balai Pustaka menerbitkan sebanyak 21 jilid. Pembagian kraton Mataram menjadi dua itu tampak terasa hingga sekarang. Segala bentuk kehidupan hampir juga terjadi dikotomi, gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Mulai dari mode pakaian, peralatan upacara, dan kajian seni selalu bersaing keras yang kadang-kadang dapat menimbulkan persengketaan, meskipun berawal dari hal-hal yang bersifat sepele. Demi nasionalisme dan persatuan masalah ini seharusnya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.
Serat Bima Suci Serat Bima Suci merupakan karya Yasadipura I yang memenuhi standar etika, estetika, kebaikan dan keindahan. Ramuan antara unsur Hindu, Jawa, dan Islam yang penuh dengan makna simbolik membuatnya menjadi bahan kontemplasi bagi kalangan kebatinan dan kasepuhan yang berlaku relatif lestari. Bentuk penulisan Serat Bima Suci sesuai dengan tradisi pada masa itu adalah dalam bentuk têmbang macapat. Sebelumnya sastra Jawa kebanyakan ditulis dengan mengikuti metrum kakawin dan kidung. Konvensi metrum macapat di dalamnya termasuk guru wilangan, guru lagu, guru gatra, pedhotan, sengkalan dan sasmita tembang. Masing-masing unsur itu mengandung makna simbolik. Kata serat mempunyai beragam arti. Serat yang berarti tulisan, menandakan bahwa budaya membaca kehidupan dan merekamnya dalam bentuk deretan aksara adalah ciri dinamika suatu masyarakat yang menyejarah dalam hal pengelolaan informasi. Serat yang berarti goresan alamiah pada sebuah kayu yang menunjukkan bahwa pernik-pernik dunia akan tetap anggun bagaimana pun keadaannya, asalkan hukum daur ulang berjalan normal. Begitu populernya kata serat, sehingga digunakannya untuk memberi nama-nama kitab yang bernilai. Secara historis Serat Bima Suci berkaitan dengan Kitab Nawaruci yang ditulis pada jaman Majapahit yang bercorak Hindu. Kitab ini oleh Yasadipura digubah menjadi Serat Bima Suci yang sudah dipengaruhi unsur Islam. Sesudah Yasadipura I wafat, Serat Bima Suci terus disalin oleh beberapa tangan, sehingga keberadaannya menjadi banyak variasi. Adanya banyak variasi tidak perlu dirisaukan, justru patut disyukuri karena membuktikan bahwa masyarakat cukup responsif dan apresiatif. Pengalaman historis dapat memberi hikmah, bahwa perilaku bersama yang mengabaikan fungsi etika hanya akan membawa bencana yang menyengsarakan kehidupan. Pengajaran sejarah menjadi lebih inspiratif, persuasif, dan rekreatif apabil disajikan dengan logika sebab akibat, yang mengatakan bahwa kesalahan pada akhirnya digeser oleh kebenaran. Manusia yang tertarik pada masa lampau yang gemilang rasa-rasanya bebas masalah, membanggakan dan menyenangkan. Keemasan kraton Majapahit dengan rajanya Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada, misalnya, akan memberi sikap hormat inspiratif buat generasi sekarang yang mempelajari sejarah. Kegigihan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah memberi semangat patriotisme dan nasionalisme. Sebagai karya etik filosofis, Serat Bima Suci mengandung unsur filsafat ketuhanan, filsafat sosial, filsafat manusia, filsafat moral, dan filsafat keindahan. Unsur-unsur kefilsafatan itu semua secara hirarkis piramidal memberi sinyal adanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan. Apabila diteliti, sejarah sosial di Jawa pada masa lampau begitu nampak anggun dan agung, asal unsur-unsur kefilsafatan di atas telah membudaya dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Cara pandang terhadap unsur-unsur kefilsafatan yang meliputi ketuhanan, kemasyarakatan, kemanusiaan, kesusilaan, dan keindahan secara imbang dan utuh ternyata membuahkan ketentraman dan kedamaian. Jika prinsip tersebut dilanggar, ternyata berdampak pada kekacauan, kegalauan, kekerasan dan kesedihan yang sangat mahal ongkosnya. Orang Jawa gemar akan kehidupan yang penuh dengan perlambang, pasemon atau simbol. Simbol itu mencakup dalam kaitannya dengan bahasa, religi, dan tradisi. Cerita pewayangan itu sangat menarik karena di dalamnya kaya simbolisme. Demikian juga Serat Bima Suci, makna-makna simboliknya senantiasa kontekstual dan multi interpretasi. Tokoh Bima yang dipersonifikasikan sebagai tokoh satria pinandhita atau profesional sufistik, keberadaannya sarat perlambang. Makna yang dikandung dalam manunggaling kawula gusti, satria pinandita, mati sajroning ngaurip, pramana, dan pancamaya cukup mendapat tempat di hati orang Jawa. Simbol-simbol di balik ungkapan itu terdapat refleksi dan kontemplasi atas segala yang ada, demi kesempurnaan hidup. Dari dan ke mana kehidupan itu harus diarahkan, biar tidak terjerumus dalam limbah kehinaan. Cerita Bima Suci menguraikan ungkapan di atas secara tersirat dan tersurat.
Serat Bratayuda Jarwa Serat Bratayuda Jarwa digubah oleh Yasadipura I dari Kakawin Bharatayudha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada jaman Jayabaya di Kediri. Poerbatjaraka (1952: 134) menyatakan bahwa masyarakat Jawa wajib mengucapkan terima kasih kepada Yasadipura I yang sudi menggarap kitab-kitab kuno menjadi bacaan baru yang mudah dimengerti oleh generasi kemudian. Kakawin Bharatayudha memang ditulis oleh dua pujangga: Empu Sedah dan Empu Panuluh. Empu Sedah sudah keburu wafat sebelum menyelesaikan karyanya. Empu Panuluh kemudian melanjutkan pekerjaan Empu Sedah untuk menuntaskan Kakawin Bharatayudha. Serat Baratayuda berisi tentang kisah pertempuran antara Pandawa dan Korawa. Keduanya masih keturunan keluarga Bharata. Cerita ini aslinya berasal dari epos sansekerta Mahabharata. Karkono (1972) menulis cerita Baratayuda sebanyak tujuh jilid. Siswaharsoyo (1957) juga menulis cerita serupa dengan judul Babad Baratayuda. Cerita ini juga diuraikan panjang lebar oleh Ki Padmosukotjo (1985) dalam bukunya yang berjudul Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita. Kebanyakan keluarga Jawa menghindari lakon Baratayuda dalam pergelaran wayang, karena seolah-olah jika mementaskan lakon Baratayuda dapat mendatangkan mala petaka di kemudian hari.
Serat Cebolek Serat Cebolek ini menceritakan kisah Haji Mutamangkin yang bernama Ki Cebolek. Dia dituduh oleh para ulama yang dipimpin oleh Katib Anom Kudus sebagai Haji yang melanggar syariat Islam. Dia diadili pada masa Sunan Paku Buwana I, tetapi mendapat pengampunan (Poerbatjaraka, 1957: 144). Serat Cebolek menyangkut perselisihan agama tahun 1720-1730 (Ricklefs, 1995: 84). Cerita Cebolek yang berisi tentang pertentangan paham ini diilhami oleh cerita simbolik dengan dihukum matinya Seh Siti Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, dan Seh Amongraga. Semua dituduh karena menyebarkan ajaran sesat yang dapat meresahkan masyarakat, yaitu paham wahdatul wujud, manunggaling kawula Gusti, kesatuan manusia dengan Tuhan, dan mengaku sebagai Tuhan. Peristiwa Seh Siti Jenar terjadi pada jaman Giripura, Sunan Panggung terjadi pada jaman Kraton Demak, dan Ki Bebeluk terjadi pada jaman Pajang, dan Seh Amongraga terjadi pada jaman Mataram dengan rajanya Sultan Agung. Soebardi menulis tentang Serat Cebolek di Australian National University tahun 1967. Kuntowijoyo (1991) juga menulis Serat Cebolek dalam bukunya yang berjudul Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, dengan pendekatan historis diakronis. Dengan demikian Serat Cebolek dapat dijadikan salah satu referensi dalam penulisan sejarah asal mula terjadinya konflik antara kaum syariat dengan gerakan tarekat.
Serat Menak Serat Menak merupakan karya besar Yasadipura I yang jumlahnya mencapai 46 jilid setelah diterbitkan oleh Percetakan Balai Pustaka, sehingga perlu ketekunan dalam mempelajarinya. Penciptaan serat-serat Menak itu di antaranya : Menak Lare, Menak Malebari, Menak Biraji, Menak Kaos, Menak Lahat, Menak Kuristam, Menak Gandrung, Menak Purwakandha, Menak Kanin, Menak Kuwari, Menak Serandhil, Menak Sulub, Menak Ngrajak, Menak Demis, Menak Cina, Menak Taslamat, Menak Kanjun, Menak Kustup, Menak Kala Kodrat, Menak Sorangan, Menak Jamintoran, dan Menak Jaminambar. Serat Menak merupakan saduran dari Hikayat Amir Hamzah (Ricklefs, 1995: 84). Serat Menak yang digubah Yasadipura itu, induknya berasal dari Tanah Parsi. Mula-mula cerita itu ditulis dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Kemudian digubah ke dalam bahasa Jawa dengan judul Serat Menak. Materi yang digunakan sebagai permulaan cerita adalah perihal Nabi Muhammad saw yang bertanya kepada Baginda Abbas, bagaimanakah kisah Ambyah yang terdapat dalam Kitab Menak dengan gelar Wong Agung? Baginda Ambyah itu saudara Baginda Abbas, yang masih paman Nabi Muhammad saw (Waston, 1997: 42-43). Karya Yasadipura I itu telah diterbitkan oleh Raden Ngabehi Joyosubroto sebanyak 7 jilid, yang diterbitkan oleh Percetakan Van Dorp Semarang, pada tahun 1923. Serat Menak juga diterbitkan oleh Balai Pustaka sebanyak 46 jilid pada tahun 1933 dan 1941 (Soebardi, 1975: 23). Serat Menak merupakan kepustakaan Islam yang bersumber dari tradisi cerita Timur Tengah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan Yasadipura tentang kitab-kitab Arab cukup luas. Yasadipura selalu ingin menciptakan suasana harmonis antara posisi agama dengan posisi budaya, Islam dengan kejawen, sehingga tidak akan terjadi konflik keras dalam masyarakat.
Serat Panitisastra Serat Panitisastra digubah oleh Yasadipura I dan Yasadipura II dari Serat Nitisastra (Poerbatjaraka, 1952: 135). Serat Panitisastra memuat ajaran moral yang luhur. Varian Serat Panitisastra yaitu Panitisastra gubahan Paku Buwana V, Panitisastra gubahan Sastra Nagara, Panitisastra gubahan Sastrawiguna, Panitisastra Sekar Ageng, Panitisastra Jarwa, Panitisastra Jarwa dan Panitisastra Kawi Kajarwan (Alexander Sudewa, 1989: VIII). Raffles (1830) pernah menerjemahkan 13 bait dari Serat Panitisastra. Mounier, seorang penerjemah Injil di Surakarta pada pertengahan abad XIX menerjemahkan seluruh Kitab Panitisastra ke dalam bahasa Belanda yang dimuat dalam majalah Tijdschrift voor Neerlands Indië tahun 1843 (Alexander Sudewa, 1989: 8). Kenyataan di atas menunjukkan bahwa Serat Panitisastra mempunyai kedudukan yang cukup penting dalam membina budi pekerti masyarakat. Bahkan penguasa asing pun sangat berkenan untuk mengkaji ajaran moral yang dikandung dalam Serat Panitisastra.
Serat Rama Jarwa Serat Rama Jarwa merupakan gubahan Yasadipura I dari Kakawin Ramayana yang berbahasa Jawa Kuno. Poerbatjaraka (1952: 130) mengungkapkan bahwa Serat Rama Jarwa termasuk sangat bagus untuk dewasa ini, meskipun dalam menggubahnya ada kekurangan sana sini. Kakawin Ramayana yang berbahasa Jawa Kuno ditulis antara 898-910 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Mataram Hindu yang rajanya bernama Dyah Balitung. Keindahan Kakawin Ramayana dipuji oleh Poerbatjaraka yang mengatakan bahwa seumur hidup dia belum membaca kitab Jawa yang kehebatannya melebihi Kitab Ramayana. Winter telah menerbitkan Serat Rama dengan diberi kata pengantar yang menguraikan isi ringkas kandungan yang terdapat dalam Serat Rama. Cetakan Serat Rama yang dikerjakan oleh Winter tersebut melalui penerbit Van Dorp Semarang tahun 1875 dan 1884 Masehi. Balai Pustaka menerbitkan juga Serat Rama pada tahun 1925. Padmosoekotjo (1985) dalam bukunya yang berjudul silsilah Wayang Purwa Mawa Carita jilid II menempatkan cerita Rama itu dengan bahasan dan bahasa yeng mengagumkan keindahannya. Tradisi pewayangan dalam pentas wayang kulit purwa kerap menampilkan lakon yang bersumber dari Serat Rama, misalnya: Rama Tambak, Rama Nitik, dan Rama Nitis. Di kompleks Candi Prambanan bahkan secara rutin dipentaskan sendratari Ramayana.
Serat Tajussalatin Induk Serat Tajussalatin berasal dari bahasa Melayu yang bernama: Mahkota Segala Raja-raja. Serat ini digubah Yasadipura I pada tahun Jawa 1726 berbentuk tembang macapat (Poerbatjaraka, 1957: 143). Kitab Tajussalatin yang berbahasa Melayu itu ditulis oleh Bukhari dari Johor. Kitab ini berisi tentang ajaran moral dan tanggung jawab seorang raja, pejabat pemerintah, dan masyarakat umum. Kandungan filosofis Kitab Tajussalatin banyak dikenal di lingkungan masyarakat Melayu Sumatra dan Jawa. Serat Tajussalatin karya Yasadipura itu telah dicetak di Semarang tahun 1873 dan 1875, di Surakarta tahun 1905 dan 1922. Adi S. Dipodjojo dan Endang Daruni Asdi (1999) menerbitkan kitab Tajussalatin dengan disertai teks yang berhuruf Melayu Arab, alih huruf latin, deskripsi, analisis, dan interpretasinya. Serat Tajussalatin ini kandungan filosofisnya dapat digunakan sebagai perekat nasionalisme yang ada di kepulauan nusantara. Dengan demikian kontak budaya nusantara sebenarnya sudah berjalan selama berabad-abad. Salah satu caranya yaitu lewat penerbitan dan penerjemahan karya sastra.
Serat Wulangreh Serat Wulangreh sampai sekarang sangat populer di lingkungan kebudayaan Jawa. Orang Jawa sangat memperhatikan ajaran-ajaran dalam Serat Wulangreh itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketajaman moral dan intelektual diperlukan agar manusia tepat dalam meniti karier hidup. Sinuwun Pakubuwana IV memberi petunjuk orang yang mencari ilmu. Serat Wulangreh juga mengajarkan bahwa orang yang mengajarkan ilmu hendaknya juga berlandaskan dalil, hadis, ijma dan qiyas. Hal ini tentunya sesuai dengan tradisi yang diajarkan oleh pendidikan agama. Kalau tidak ada kaitannya dengan keempat landasan tersebut, maka pengetahuan yang diajarkan itu bisa terjerumus ke jurang kesesatan.
Setya Setiap orang harus memiliki jiwa setya. Setya artinya setia atau loyal. Memiliki dedikasi dan menjadikan dedikasi itu sebagai kehormatan dirinya. Orang yang setia pada janji berarti memenuhi janji itu dan tidak melanggarnya. Orang yang loyal pada atasan, adalah orang yang taat, hormat dan mematuhi perintahnya. Apabila atasan mendapat cobaan, ia juga ikut prihatin. Kalau atasannya jatuh, maka ia berusaha untuk menghibur. Duka atau suka dia akan tetap loyal. Kesetiaan yang murni, tulus dan jujur memiliki nilai yang tinggi. Kesetiaan tidak dapat ditukar dengan kenikmatan lahiriah. Jabatan dan harta benda tidak dapat menggoyahkan kesetiaan yang tulus pada seseorang. Kesetiaan merupakan simpul kehormatan yang perlu dijaga.
Sindusastra Salah satu pujangga Kasunanan Surakarta yang luas pergaulannya adalah Kyai Sindusastra. Kyai Sindusastra juga pujangga kraton Yogyakarta yang dekat dengan Pangeran Purbaya atau Sinuwun Paku Buwana VII. Karya-karyanya yaitu: Serat Arjuna Sasrabahu, Lakon Sugriwa Subali, Serat Partayadnya, Srikandi Maguru Manah, Sembadra Larung, Cekel Waneng Pati, dan Parta Krama. Sindusastra juga pengarang yang menggubah karya sebelumnya. Hanya perlu diketahui bahwa untuk mengubah suatu karya sastra diperlukan keahlian khusus yang tidak mudah. Penggubah mesti mengetahui latar belakang sosiohistoris dan kultural penciptaan karya yang digubahnya itu, sehingga mutunya menjadi lebih hidup. Pada masa Kasunanan Surakarta itu pertumbuhan sastra budaya memang mencapai puncak-puncaknya. Produktivitas dan kreativitas karang-mengarang tumbuh dengan pesat.
Slamet Kata slamet di tengah-tengah pergaulan orang Jawa sangat populer. Pengertian slamet adalah selamat dan terbebas dari segala aral rintangan. Begitu populernya sehingga banyak orang Jawa memberi nama anaknya dengan kata slamet. Misalnya Slamet Sutrisno, Slamet Raharja, Slamet Riyadi, dan sebagainya. Maksud utama pemberian nama demikian adalah agar anaknya mendapat keselamatan dan kedamaian hidup. Dalam pergaulan sehari-hari sering terdengar, “Piye kabare? Rak pada slamet ta?” Secara umum kata slamet digunakan untuk melukiskan keadaan, pemberian nama anak, menanyakan kabar seseorang dan menyebut suatu jenis upacara. Karena keselamatan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi manusia baik di dunia apalagi di akhirat.
Slametan Slametan adalah upacara sedekah makanan dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan. Biasanya untuk hajatan keberangkatan naik haji ke tanah suci, keberangkatan anak yang mau sekolah ke luar daerah, pendirian sebuah rumah baru, dan sebagainya. Harapan pada masa depan yang lebih cemerlang, di samping harus dilakukan dengan pendekatan yang ilmiah rasional dan yang serba kasat mata, perlu juga dilakukan pendekatan adikodrati atau supranatural yang bersifat spiritual. Upacara slametan termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapat ridha dari Tuhan. Kegiatan slametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Ada bahkan yang meyakini bahwa slametan adalah syarat spiritual yang wajib dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan.
Songsong Gilap Payung Agung Wewenang atau kepemimpinan yang bersumber dari pulung atau wahyu itulah yang menyebabkan kepemimpinan berubah menjadi magis, wingit, angker, gaib dan serba supranatural. Salah satu bukti pusat kepemimpinan yang berwajah wingit adalah sebagian besar pendapa kabupaten di Jawa. Di sana akan kita temukan beberapa simbol yang mendukung sifat keangkerannya, misalnya lampu yang sengaja dipasang nyala redup dan suram, pajangan pusaka tombak, keris, songsong gilap payung agung, patung Dwarapala dan sebagainya. Pulung sebagai sumber kepemimpinan diyakini hanya melekat pada satu orang. Pulung atau wahyu tidak terbagi-bagi dan tetap utuh wujudnya. Dengan demikian seseorang yang telah mendapatkan pulung kepemimpinan itu tidak mempunyai kewajiban moral bagi dirinya untuk mengadakan distribusi wewenang. Mereka percaya bahwa kepemimpinan yang terbagi-bagi akan mengganggu harmoni alam. Kepemimpinan yang otoriter diperkenankan asal tetap pada landasan ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.
Sopan Santun Setiap anggota masyarakat, apalagi seorang pemimpin harus berlaku sopan santun. Sumber malapetaka yang berasal dari mulut kadang-kadang lebih menyakitkan. Oleh karena itu kesopan-santunan dalam bertutur kata sangat perlu diperhatikan agar masing-masing pihak tetap terjaga kehormatannya. Kata-kata kasar, misuh, memaki-maki dan menghina sungguh dapat menjadi penghalang seseorang dalam menjalin persahabatan. Apabila terlanjur menyakitkan orang lain maka kata-kata itu tak dapat ditarik kembali. Ucapan minta maaf atau nyuwun pangapura tidak cukup mengobati sakit hati yang terluka. Hal inilah yang mendasari arti penting dalam bertutur kata dengan sopan. Sopan santun dalam berbicara pengaruhnya sangat besar terhadap kehidupan seseorang.
Sosrokartono Sosrokartono suka dengan lambang Sang Alif beliau mendapat gelar Joko Pring dan Mandor Klungsu. Rumusan ilmunya Catur Murti, yang merupakan integrasi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Beliau sangat dikenal di kalangan ahli kejawen. Raden Mas Sosrokartono adalah kakak kandung Raden Ajeng Kartini, yang lahir di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Beliau hidup antara tahun 1877-1952. Beliau termasuk pakar kebatinan dan filsuf yang menguasai 17 bahasa Eropa, 9 bahasa Timur, dan 18 bahasa daerah. Di Eropa beliau dikenal sebagai dukun pengobatan nonmedis. Selama 29 tahun beliau bermukim di luar negeri. Pada tahun 1925, beliau kembali ke tanah air dan tinggal di Bandung. Bersama dengan tokoh pergerakan nasional seperti Bung Karno, Mr. Sunaryo, Dr. Samsi, Usman Sastroamijoyo beliau mengajar di Perguruan Taman Siswa cabang Bandung. Buku-buku yang memuat ajaran Sosrokartono di antaranya: Ajaran-ajaran Almarhum Drs. Sosrokartono, Jasane Jiwa Besar Kartono – Kartini, Mawas Candhi Borobudur. Ucapan-ucapan Raden Mas Sosrokartono yang terkenal yaitu: Sugih tanpa bandha, Menang tanpa ngasorake, Nglurug tanpa bala, Digdaya tanpa aji. Pada saat-saat tertentu ungkapan di atas sangat disukai oleh berbagai kalangan karena meneunjukkan sikap yang kompromis dan akomodatif. Pihak yang menang tidak merasa unggul dan sebaliknya pihak yang kalah tidak merasa dihina.
Sudanen Guling Arti sudanen guling adalah mengurangi aktivitas tidur. Jika tidur terlalu banyak maka hidup menjadi tidak produktif. Tidur melebihi jam waktu normal itu bahkan membuat diri kurang tahan terhadap serangan penyakit baik fisik maupun mental. Setiap orang harus gesit, trampil dan menggunakan waktu secara efisien. Cara paling praktis dan penting adalah mengurangi aktivitas tidur. Dalam ajaran kitab Jawa kuno, waktu yang tidak tepat untuk tidur yaitu saat matahari terbit hingga bedhug dheng ‘matahari di atas tepat’. Badan akan terasa lemah lunglai jika tidur di saat tersebut, karena waktu itu adalah saat orang seharusnya bekerja. Saat yang tidak tepat untuk tidur lagi yaitu waktu seperempat siang hingga matahari terbenam. Kebiasaan tidur saat tersebut akan membuat pikiran tumpul. Bila bangun akan tampak kebingungan dan linglung.
Sugih Tanpa Banda Sugih tanpa banda mempunyai makna harfiah kaya tanpa harta. Hal ini menunjukkan Kekayaan tidak diukur dengan kepemilikan harta saja. Kekayaan hati dan kekayaan persaudaraan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan orang Jawa. Berlandaskan prinsip itu sebenarnya dapat menjadi kaya asalkan hatinya sudah memiliki sikap nrima, tidak membanding­mbandingkan dengan orang yang secara material di atasnya. Kalau menoleh seseorang yang berada di bawahnya, maka sebenarnya masih banyak orang yang jauh lebih miskin. Jika mau bersikap seperti itu maka seseorang akan merasa kaya, karena toh kekayaan tidak ada batasnya, orang akan selalu merasa kekurangan. Apalagi kalau mempunyai kawan yang beraneka ragam. Sewaktu dalam kesulitan banyak yang mau mengulurkan tangan untuk memberi pertolongan. Kadang-kadang tanpa diminta pun mereka berbondong-bondong membantu. Orang tersebut akan sangat berbahagia.
Sugeng Apabila ada sebuah resepsi pada keluarga Jawa, dengan mudah di sana ditemukan jajaran kata “Sugeng Rawuh”, yang berarti selamat datang yang ditujukan kepada para tamu. Kata sugeng itu merupakan bentuk krama dari akad slamet sehingga terkesan lebih halus. Untuk sapaan hangat dan hormat, kata sugeng digunakan demikian, “Sugeng rawuhipun, Pak.” Dan pihak yang disapa akan menjawab singkat, “Injih, pengestunipun.” Kata sugeng memang dapat menciptakan suasana hangat, hormat dan hikmat. Kata sugeng untuk memberi nama orang misalnya Sugeng Santosa, Sugeng Hartono, Sugeng Pamungkas, dan lain-lain.
Sultan Agung Sultan Agung adalah raja Mataram yang paling terkenal. Beliau termasuk pahlawan yang gigih menentang praktek penjajahan Belanda. Dua kali Sultan Agung menyerang VOC di Batavia, yaitu tahun 1628 dan 1629 (Ricklefs, 1995: 67). Wawasan politik Sultan Agung sangat luas dan jauh ke depan. Konsep politiknya yaitu doktrin keagungbinataraan yang berarti bahwa kekuasaan raja Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi, dan tidak terbagi-bagi (Moedjanto, 1994: 160). Keunggulan lain Sultan Agung yaitu kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomasi dengan kraton luar Jawa. Kesungguhannya dalam mengembangkan kebudayaan terlihat dalam penulisan tarikh Jawa, babad, dan pembangunan makam di atas bukit (Moedjanto, 1994: 157). Sultan Agung kecuali sebagai raja, juga mendapat julukan sebagai pujangga. Karya mistiknya yaitu Sastra Gendhing, Kitab Nitisastra, dan Serat Pangracutan. Pada jaman Sultan Agung pulalah, ada penyesuaian kalender Jawa dengan kalender Islam. Silang sengketa antara paham kejawen dengan keislaman dapat dikompromikan secara gemilang oleh Sultan Agung. Kalenderisasi baru ini berlangsung tahun 1633 (Bambang Kusbandrijo, 1992: 81). Sultan Agung mendorong proses Islamisasi kebudayaan Jawa. Dia melakukan pembaharuan dalam bidang hukum yang disesuaikan dengan hukum Islam, melembagakan kedudukan ulama secara proporsional, dan mengembangkan karya sastra Islam. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri. Kompleks makam Imogiri hingga kini merupakan tempat peristirahatan terakhir raja-raja Surakarta dan Yogyakarta.
Sumantri Ngenger Loyalitas pada negara dalam pewayangan terdapat pada lakon Sumantri Ngenger. Di situ tokoh Sumantri, seorang anak desa ingin mengabdikan diri kepada kerajaan Maespati yang diperintah oleh Prabu Arjuna Sasrabahu. Kesetiaan dan keteladanan Sumantri pada negara dilukiskan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama. Salah satu petikan syairnya “…. aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang ginelung tripakara, guna kaya purune antepi, nuhoni trah utama” ‘…namanya Patih Suwanda (gelar Sumantri), jasanya terikat tiga hal: kepandaian, kesaktian dan semangat mantab memenuhi keturunan utama’. Nilai kesetiaan yang tinggi terhadap negara itu kadang-kadang membuat seseorang harus menentukan keputusan yang kontroversial. Hal yang cukup dilematis ini juga dialami oleh Sumantri sewaktu dia dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi negara atau mengorbankan adiknya, Sukasarana. Keputusan Sumantri ternyata lebih berpihak kepada kepentingan negara meskipun harus kehilangan adiknya. Lakon Sumantri Ngenger tersebut mempengaruhi jalan pikiran sebagian besar orang Jawa bahwa urusan negara lebih utama daripada sekedar kepentingan keluarga.
Sumpah Palapa Gajah Mada Setelah menjabat sebagai Patih Mangkubumi, Gajah Mada menjabarkan agenda politiknya dalam sidang ketatanegaraan Majapahit. Seluruh gagasannya mendapat dukungan dari Prabu Hayam Wuruk dan para punggawa dan panglima-panglima prajurit. Dengan dukungan itu, Gajah Mada semakin tertantang untuk mewujudkan ide besar tersebut. Ide besar yang diusung Gajah Mada tiada lain adalah politik persatuan nusantara. Kerajaan-kerajaan dan wilaah-wilayah kecil yang tercerai-berai dalam kepingan-kepingan akan dipersatukan di bawah payung negara Majapahit yang agung. Sebagai pimpinan pelaksanaan politik persatuan nusantara tersebut tentu saja Gajah Mada pribadi. Sebelum menjalankan tugas, atas dukungan penuh para petinggi Majapahit dan seluruh rakyat, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang sampai saat ini terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Sumpah tersebut berbunyi, “Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jikalau nusantara sudah takluk di bawah kekuasaan negara Majapahit”. Seluruh kerajaan nusantara yang menjadi target penyerangana dalah Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik. Makna sumpah tersebut ialah belum akan minum air buah kelapa sebagai simbol kemewahan, sebelum cita-cita berhasil. Gajah Mada selalu berpuasa sampai cita-cita tersebut terlaksana dengan gemilang.
Sunan Ampel Anggota Dewan Wali Sanga berikutnya adalah Sunan Ampel. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401. Nama kecilnya adalah Raden Rakhmat. Beliau adalah putra Raja Campa. Raden Rakhmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tuban, yang menurunkan 4 putra: Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka, Dewi Sarah (istri Sunan Kalijaga), Beliau mendirikan Pondok Pesantren di Ampeldenta, Surabaya. Kader Sunan Ampel di antaranya: Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makdum (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), Raden Patah (Raja Demak), Sunan Kalijaga (Menantu), Maulana Iskak (Blambangan). Sewaktu pembangunan Masjid Agung Demak pada tahun 1401 Çaka atau 1479 Masehi, beliau berpartisipasi aktif. Untuk menghormati jasa-jasa Sunan Ampel dalam menyiarkan agama Islam, nama beliau diabadikan oleh IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Sunan Ampel inilah yang menjadi penerus perjuangan perintis dakwah Islam, Maulana Malik Ibrahim. Dalam syiarnya Sunan Ampel selalu menggunakan idiom-idiom budaya lokal. Puji-pujian yang merupakan ciri khas sastra pesantren berkembang di Ampeldenta. masyarakat Jawa Timur sangat menghormati Sunan Ampel. Bahkan ketika ada konflik antar warga di Madura, Haji M. Noer, mantan Gubernur Jawa Timur dapat mendamaikan pihak-pihak yang bertikai itu di depan makam Sunan Ampel.
Sunan Bonang Salah satu wali yang menjadi guru Sunan Kalijaga adalah Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra sulung Sunan Ampel. Sunan Drajat atau Syarifuddin itu termasuk adiknya. Adik bungsunya yang bernama Dewi Sarah menikah dengan Sunan Kalijaga. Nama lain Sunan Bonang yaitu Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. Beliau juga hidup di sekitar jaman akhir kraton Majapahit ± 1400 Çaka atau 1478 Masehi (Ensiklopedi Islam, 1985). Dalam bidang sastra Budaya beliau sumbangannya yaitu: membantu Raden Patah, ikut mendirikan Masjid Demak, dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong dan kempul, Tembang macapat, Suluk Wujil. Sunan Bonang termasuk Wali Sanga yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Ajaran Sunan Bonang disampaikan dengan pesan-pesan simbolik yang harus ditafsirkan secara jernih.
Sunan Drajat Anggota Dewan Wali Sanga yang perlu diketahui juga adalah Sunan Drajat. Kata drajat berasal dari bahasa Arab yaitu darajah yang berarti kualitas tingkatan. Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Nama lainnya yaitu Syarifuddin dan Raden Qosim. Beliau hidup pada jaman Majapahit akhir, sekitar tahun 1400 Çaka atau 1478 Masehi. Pada masa akhir Majapahit itu terjadi krisis sosial ekonomi dan politik. Sunan Drajat menjadi juru bicara yang membela rakyat tertindas. Beliau mengecam tindakan elit politik waktu itu yang hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Dalam bidang sastra budaya beliau menciptakan: berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Demak, membantu Raden Patah, Tembang Pangkur. Sunan Drajat menghendaki keselarasan lahir batin, jasmani rohani, dunia akhirat supaya hidupnya sejahtera. Hidup di dunia yang fana ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, yaitu untuk beramal saleh.
Sunan Giri Di daerah Gresik dan sekitarnya, Dinasti Giri sangat dihormati dan ditaati. Bahkan untuk urusan politik pun diserahkan kepada Dinasti Giri, sehingga di sana juga berdiri sebuah komunitas yang mirip kraton. Pada masa Mataram, Dinasti Giri ini merupakan oposisi yang cukup merisaukan para penguasa Mataram. Dinasti Giri ini mendapat sokongan dari para pedagang-pedagang di sepanjang pantai utara Jawa. Sunan Giri adalah salah satu dari Wali Sanga, yang bertugas menyiarkan agama Islam di kawasan Jawa Timur, tepatnya di daerah Gresik. Beliau hidup antara tahun 1365 – 1428. Ayahnya bernama Maulana Iskak, berasal dari Pasai. Ibunya bernama Sekardhadhu, putri raja Blambangan, Prabu Minaksembuyu. Nama kecil Sunan Giri adalah Jaka Samudra. Masa kecilnya diasuh oleh janda kaya raya, Nyai Gedhe Pinatik. Menjelang dewasa Jaka Samudra berguru kepada Sunan Ampel. Jaka Samudra diberi gelar oleh Sunan Ampel dengan gelar Raden Paku. Bersama Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Raden Paku pergi haji ke Mekkah. Di sana Raden Paku berjumpa dengan ayahnya, Maulana Iskak yang sudah bergelar Seh Awalul Islam. Sepulang dari Mekkah Raden Paku mendirikan pesantren di Giri, Gresik, sehingga orang menyebutnya sebagai Sunan Giri. Dakwah Islamnya menggunakan jalur budaya, Sunan Giri menciptakan : Permainan jetungan, Jamuran, Gula ganti, Cublak-cublak suweng, Tembang Asmarandana, Tembang Pocung.
Sunan Gunung Jati Masyarakat Cirebon dan sekitarnya sangat menghormati Sunan Gunung Jati. Banyak peziarah yang mendatangi makamnya. Di Jakarta berdiri pula IAIN Syarif Hidayatullah untuk mengenang jasa Sunan Gunung Jati dalam menyiarkan agama Islam. Nama lain Sunan Gunung Jati adalah: Syarif Hidayatullah, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Ismail, Said Kamil, Maulana Seh Makdum Rahmatullah. Menginjak dewasa beliau pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama selama tiga tahun. Waktu itu Bangsa Portugis sudah menguasai Malaka tahun 1511. Kemudian beliau merantau ke Jawa, yaitu Kraton Demak. Di Demak beliau diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Trenggana yang memerintah antara tahun 1521-1546. Kepribadian Fatahillah semakin menarik Sultan Trenggana sehingga beliau dikawinkan dengan adiknya, putri Demak (Hoesein, 1913). Ekspansi Portugis ke daerah Jawa Barat kurang berkenan di hati kraton Demak. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Demak membendung Portugal di Jawa Barat. Pada tahun 1526 Brantas dapat dikuasai Demak. Pada tahun 1527 Sunda Kelapa dapat dikendalikan Fatahillah memindahkan Cirebon. Kraton Banten diperintah oleh putra Fatahillah, Sultan Hasanudin. Fatahillah lantas tinggal di Cirebon untuk menyiarkan Agama Islam. Beliau wafat pada tahun 1570 di Gunung Jati. Oleh karena itu beliau lebih populer disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Beliau merupakan salah satu peletak pondasi syiar agama Islam di daerah Jawa Barat.
Sunan Kalijaga Di antara anggota Dewan Wali, Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer di mata orang Jawa. Bahkan sebagian orang Jawa menganggab sebagai guru agung dan suci di tanah Jawa. Sunan Kalijaga mempunyai nama kecil Raden Mas Syahid. Beliau putra Tumenggung Wilwatikta, bupati Tuban. Ibunya bernama Dewi Nawangrum. Beliau mempunyai isteri yang bernama Dewi Sarah dan berputra tiga orang: Raden Umar Said atau Sunan Muria, Dewi Rukayah, Dewi Sofiyati. Pada masa mudanya Raden Mas Syahid gemar berjudi dan merampok. Karena saktinya beliau mendapat julukan Lokajaya (Marsono, 1996). Suatu saat beliau bertemu dengan Sunan Bonang. Beliau disuruh menjaga tongkat di tepi kali. Maka beliau digelari Sunan Kalijaga. Gelar kewaliannya adalah Seh Malaya, yang artinya berkelana. Karya-karya beliau di antaranya yaitu: tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal, Gamelan Nagawilaga, Gamelan Guntur Madu, Gamelan Nyai Sekati, Gamelan Kyai Sekati, Wayang Kulit Purwa, Baju Takwa, Tembang Dhandhanggula, Kain Batik, Syair puji-pujian pesantren.
Sunan Kudus Di Kabupaten Kudus, Jawa tengah, juga berdiri sebuah padepokan keislaman yang cukup terkenal. Pendirinya adalah Sunan Kudus. Sunan Kudus atau Jakfar Shaddiq adalah ulama besar, salah satu dari Wali Sanga, yang bertugas melakukan syiar Islam di sekitar daerah Kudus, Jawa Tengah. Beliau lahir pada pertengahan abad 15 Masehi atau 9 Hijrah. Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, Blora. Beliau masih mempunyai garis keturunan dengan Husain bin Ali. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel, sehingga masih ada hubungan perrtalian darah. Sunan Kudus menciptakan karya sastra dan budaya: Tembang Maskumambang, Tembang Mijil, Masjid Menara Kudus. Sunan Kudus wafat tahun 1550 Masehi atau 960 Hijrah dan dimakamkan di Kudus. Di pintu makam Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna yang berangka tahun 1895 Jawa atau 1296 Hijriyah atau 1878 Masehi.
Sunan Muria Deretan anggota Dewan Wali Sanga yang lain adalah Sunan Muria. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ibunya bernama Dewi Sarah. Istrinya bernama Dewi Sujinah, kakak kandung Sunan Kudus. Putranya bernama Pangeran Santri. Nama kecil Sunan Muria adalah Raden Umar Saidi, Raden Said dan Raden Prawata. Disebut Sunan Muria karena wilayah syiar Islamnya meliputi lingkungan Gunung Muria. Karya Sunan Muria di antaranya: Tembang Sinom, Tembang Kinanthi. Sunan Muria ikut memindahkan Pesantren Ampeldenta ke Demak. Makamnya terletak di Gunung Muria. Pengaruh Sunan Muria hingga saat ini masih besar. Pada waktu tertentu masih banyak yang ngalap berkah di makam Sunan Muria.
Sunan Panggung Sunan Panggung dihukum oleh kraton Demak dengan dibakar hidup-hidup karena dianggap telah melanggar sarak dan menyebarkan ajaran sesat. Saat itu Sunan Panggung memang memimpin barisan oposisi yang selalu mengkritik kebijaksanaan Sultan Demak yang selalu didukung oleh para wali. Kraton Demak berdiri kokoh salah satunya karena sokongan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga. Kitab-kitab yang terbit pada jaman ini yaitu: 1) Suluk Sunan Bonang, 2) Suluk Sukarsa, 3) Suluk Malang Sumirang, 4) Koja-Kojahan, dan 5) Niti Sruti. Pengertian Wali Sanga dapat dipahami secara denotatif maupun konotatif. Dalam pengertian denotatif nama Wali Sanga berarti sejumlah guru besar atau ulama yang diberi tugas untuk dakwah dalam wilayah tertentu. Dalam pengertian konotatif bahwa seseorang yang mampu mengendalikan babahan hawa sanga (9 lubang pada diri manusia), maka dia akan memperoleh predikat kewalian yang mulia dan Selamat dunia akhirat.
Tanggab Sasmita Tanggap sasmita adalah responsif terhadap informasi simbolik. Orang yang tanggap sasmita mempunyai perasaan yang halus sehingga dirinya mudah menyesuaikan diri. Tanda-tanda yang bersifat semiotis memerlukan ketajaman perasaan untuk menangkap maknanya. Tinggi rendahnya kepemimpinan Jawa salah satunya ditandai dengan kemampuannya dalam mengolah isyarat alamiah. Bahkan untuk memberi instruksi pun kadang-kadang lebih mengena dengan pasemon atau perlambang. Semiotika Jawa mengandung makna yang menekankan pada perasaan. Ada ungkapan ing sasmita amrih lantip berarti supaya dapat menangkap arti simbolik dengan ketajaman batin.
Tat Twam Asi Tat twam asi artinya; Dikaulah itu, Dikaulah itu, semua makhluk adalah engkau. Engkaulah awal mula roh dan zat semua makhluk. Aku ini adalah makhluk yang berasal dari-Mu. Oleh karena itu jiwatmaku dan prakrtiku tunggal dengan jiwatma semua makhluk, dan Dikau sebagai sumberku dan sumber semua makhluk. Oleh karena itu aku adalah Engkau; aku adalah Brahma.
Tata Kata berjenjang tata-titi, tatas-titis, tatag-tutug berkaitan dengan komitmen suatu komunitas dalam ketaatan hukum dan norma yang telah disepakati bersama. Konvensi dan aturan main bersama harus dilaksanakan sebaik-baiknya agar keserasian dan keselarasan tetap terjaga. Pelanggaran terhadap tata tertib akan menunda keberhasilan. Di samping diri sendiri rugi, orang lain pun akan terkena dampaknya. Apabila pelanggaran itu dilakukan oleh orang banyak dan hal itu dianggab biasa berarti masyarakat itu telah menabung masalah. Suatu saat masalah itu akan membengkak dan berbuah pada penderitaan. Banyak contoh bahwa masyarakat yang menjunjung ketertiban akan unggul, produktif dan kompetitif. Dan banyak contoh pula masyarakat yang tak mengindahkan normanya sendiri akan jalan di tempat bahkan jumud ‘mundur’.
Tata Krama Setiap anggota masyarakat, apalagi seorang pemimpin harus memiliki tata krama. Tata krama berkaitan dengan cara mengerjakan sesuatu agar pantas dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Tata krama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna berjalan. Hal-hal yang ada hubungannya dengan perjalanan hidup perlu berpedoman dengan tata krama. Perjalanan hidup manusia secara bersama-sama akan harmonis hanya bila diatur dengan tata krama. Oleh karena itu setiap sendi kehidupan yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan akan berlaku secara alamiah, anggun dan tertib asalkan masing-masing berpegang teguh pada tata krama. Dampak dari pelanggaran tata krama adalah kerugian pada diri sendiri, terutama yang tampak secara fisik karena pelanggaran tata krama mudah dilihat oleh mata.
Tatag Tatag mengandung makna percaya diri, kukuh kemauan, berani dan tidak mengenal ragu. Ragu terhadap resiko besar yang dihadapi. Resiko yang besar berbanding lurus dengan keuntungan seorang pebisnis atau tingkat kemajuan karir seseorang pegawai. Melakukan pekerjaan dengan tatag berarti melakukannya dengan sungguh-sungguh, rasional dan maksimal agar berhasil sesuai dengan harapan. Kejadian yang menyedihkan seperti terjadinya kecelakaan, bagi yang tidak tatag mungkin malah membahayakan diri dan orang lain. Profesi kedokteran membutuhkan pribadi yang tatag. Sikap tatag jauh dari perilaku grusa-grusu, ceroboh atau emosional.
Tatas Tatas mengandung makna tuntas, selesai, rampung dengan sempurna atau paripurna. Sungguh mulia orang yang dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas atau sempurna. Kecuali optimal, orang tersebut akan puas jiwanya. Pekerjaan yang belum selesai dan ditinggalkan ibarat bangunan yang mengkrak. Sepet dipandang mata dan tidak memberikan daya guna. Atau seperti makanan yang tidak matang, tidak enak dimakan dan kadang menimbulkan penyakit. Lebih jauh yang menjalankan pekerjaan itu tidak memiliki tanggung jawab. Pekerjaan dilakukan asal-asalan yang hanya menghitung untung rugi. Tidak ada perasaan bersalah dan malu sedikit pun dilihat orang. Sikap demikian disebut ndableg yang mengundang kejengkelan dari pihak lain. Proyek-proyek bangunan negara yang cepat rusak dan kadang ditinggal di tengah jalan sering dijumpai. Di samping mengganggu pemandangan, juga hanya menghambur­hamburkan uang. Oleh karena itu prinsip yang harus dimiliki setiap orang khususnya pemimpin adalah mengerjakan sesuatu secara paripurna atau tatas.
Tekan Tekan berarti kesampaian. Teken, tekun dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Siapa yang mau tekun, maka ia akan mendapat teken dan ia akan segera tekan atau kesampaian apa
yang menjadi idamannya. Proses yang panjang yang harus dilalui seseorang agar sampai pada
tekan, penuh duri, derita, duka dan nestapa yang senantiasa mengiringi. Dari laku tekun saja
membutuhkan waktu yang tidak pendek. Kemudian mendapat teken yang bukan berarti
halangan dan cobaan usai. Teken yang digunakan itu harus digunakan secara sebaik-baiknya
agar sampai tanpa meleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil.
Teken
Teken secara harfiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang yang sedang
berjalan. Biasanya teken dipakai orang yang sudah lanjut usia. Dalam konteks piwulang dan
pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk dan tuntunan
hidup. Dapat juga berarti sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang
mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita-cita hidupnya. Agar
mendapat teken seseorang harus tekun. Dengan begitu teken berarti buah dari perbuatan
tekun. Bagaimana pun juga ketekunan yang telah melekat pada diri seseorang, lama-lama
orang tersebut akan diakui oleh masyarakat umum. Teken atau fasilitas itu akan didukung oleh
publik.

Tekun
Tekun mempunyai pengertian mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet dan tidak mudah putus
asa atau putus di tengah jalan. Orang yang tekun tidak goyah oleh godaan dan kritikan orang
lain yang tidak mendukungnya. Ketekunan terhadap suatu pekerjaan membuat bahagia orang
yang mengerjakan. Orang lain yang memperhatikan pun akan ikut senang. Dari sini lama-
kelamaan mengundang rasa hormat. Bila perlu banyak orang sanggup membiayai pekerjaan
yang ditekuni itu. Kepercayaan umum pada profesi seseorang bisa lewat jalan tekun. Pikiran
yang kurang cerdas dapat ditutupi dengan ketekunan. Malah banyak orang tekun lebih sukses
dibanding dengan orang yang cerdas tapi malas.

Telaten
Kata telaten mengandung makna sikap rajin, tekun, kontinyu dan ajeg. Orang yang telaten
tidak mudah putus asa, patah arang, nglokro, mutung, bosan atau jenuh. Ungkapan sing telaten
bakal panen artinya siapa yang rajin bakal memetik buahnya. Kecerdasan yang didukung oleh
sikap telaten akan memperoleh kesuksesan yang gemilang. Orang yang cerdas tetapi malas,
maka suksesnya akan selalu tertunda. Sebaliknya orang yang pas-pasan, namun gigih, tekun dan
telaten lama-kelamaan hasilnya akan nampak. Oleh karena itu sebaiknya orang tidak usah
minder, kecil hati, rendah diri dan malu terhadap tingkat kecerdasannya yang penting rajin,
ulet, telaten dan tertib.

Tentrem
Kata tentrem berarti tentram, aman, tenang, damai dan dapat membahagiakan lahir maupun
batin. Kata tentrem lebih menunjuk pada aspek kejiwaan. Untuk mencapai suasana tentrem,
maka antar unsur masyarakat harus menghormati hak dan kewajiban orang lain, terbuka,
toleran, tenggang rasa, tepa selira, tahu diri, mawas diri, introspeksi, kompromis dan humanis.
Di sini pengendalian diri terhadap pergaulan sangat diperlukan. Masyarakat yang tentram akan
membuat hidup kerasan dan betah. Dalam suasana tentram, tidak akan pernah orang merasa
dihina dan diremehkan, apalagi merasa terancam harta dan jiwanya.

Tepa Selira
Di pedusunan orang bertempat tinggal dengan derajat kerenggangan yang cukup jauh. Jarak
yang lebar itu dimaksudkan agar tidak terjadi persinggungan kepentingan. Dampaknya pada
perilaku adalah sikap toleransi. Segala kejadian di luar dirinya dibiarkan saja berjalan secara
alami. Orang mudah untuk memaafkan kesalahan pihak lain. Bahkan ada kecenderungan kuat
untuk menutup-nutupi kesalahan pemimpinnya. Korupsi yang dilakukan sang pemimipin kadang-
kadang dipahami sebagai uang lelah raja.

Titi
Titi atau teliti adalah sikap seseorang yang cermat, jeli dalam menyelesaikan segala pekerjaan.

Ketelitian ini sangat penting untuk menunjang kesuksesan dengan hasil yang memuaskan seperti yang diharapkan. Ketelitian waktu memungkinkan sukses tidak tertunda. Ketelitian tempat, memungkinkan pekerjaan selalu terarah. Ketelitian alat, memungkinkan terhindar dari senjata makan tuan. Ketelitian kerja, membuat pekerjaan menjadi sempurna. Banyak orang yang celaka karena alatnya sendiri. Contoh gampang adalah kecelakaan di jalan raya dikarenakan orang tidak teliti terhadap alat, tempat dan cara kerja. Musibah karena waktu contohnya adalah orang yang tertinggal pesawat atau kereta. Kalau itu terjadi betapa ruginya orang tersebut. Dana, daya, tenaga, pikiran dan waktu terbuang sia-sia. Sekali lagi ketelitian terhadap segala hal sangat penting untuk meraih sukses hidup.
Titis Kata titis mengandung makna tepat sasaran, efektif dan efisien sesuai dengan harapan yang telah diprogram. Kejelian dan ketelitian seseorang mempunyai andil besar dalam menyukseskan cita-cita. Tindakan yang titis akan membuat decak kagum, hormat dan bangga dari pihak lain. Dari sini akan muncul kepercayaan dan memupuk kewibawaan. Kebesaran seseorang berawal dari tindakan yang titis. Sejak dini semua orang harus berlatih. Agar seseorang dapat bertindak titis memerlukan proses yang panjang, tekun dan tidak mengenal putus asa. Belajar terus-menerus dan sering dibutuhkan kesabaran dan ketabahan.
Titen Kata titen berarti selalu ingat, tidak mudah melupakan sesuatu, jeli dan teliti. Sikap titen diperoleh dengan cara menganggab setiap hal walaupun sangat kecil menjadi sesuatu yang penting. Seseorang yang suka meremehkan kejadian-kejadian yang umum dia akan kehilangan pengetahuan yang bersifat alamiah. Dia akan mengamati semata, hanya berdasarkan untung rugi, suka benci dan kepentingan pribadi belaka. Kebodohan seseorang kemungkinan besar berpangkal dari sikap tidak mau titen. Tinenana wong cidra mangsa langgenga adalah pepatah yang berarti ingatlah bahwa orang yang suka khianat tak akan selamat. Ungkapan itu berdasarkan kejadian-kejadian buruk yang dilakukan seseorang yang akan berakibat penderitaan, kesengsaraan, dan kerugian terhadap banyak orang.
Trampil Trampil adalah keahlian dalam menangani pekerjaan. Ketrampilan merupakan kemampuan kerja yang diperoleh melalui latihan dan belajar yang tekun. Ketrampilan seseorang dapat digunakan sebagai bekal untuk mencari nafkah. Orang yang kurang jeli dalam analisis suatu masalah, maka dirinya harus mengimbangi dengan ketrampilan karena ketrampilan lebih bersifat teknis. Pendeknya, kalau pikirannya kurang cemerlang maka tangannya harus cekatan. Konsistensi terhadap suatu jenis pekerjaan akan mengantarkan seseorang kepada taraf profesionalisme yang tangguh. Latihan dan kebiasaan yang terus-menerus akan dengan sendirinya memupuk profesionalisme.
Trengginas Trengginas adalah kemampuan kerja dan kecakapan menghindari rintangan dan hambatan. Dengan trengginas kerugian dapat ditekan dan kesulitan dapat dipermudah. Jeratan dapat dilepaskan dan penghambat justru akan menjadi pendukung. Pekerjaan apa saja mesti ada tantangan dan hambatan. Seorang pekerja profesional tidak akan mengeluh hanya karena hambatan. Baginya kegagalan harus dicegah, kerugian harus dihindari, persoalan harus dipecahkan dengan mengerahkan segala daya upaya tanpa mengenal sifat putus asa. Orang besar dan terkenal bermula dari tekad kuatnya dalam mencapai cita-cita. Duka nestapa, peluh air mata merupakan pupuk hidup yang menyegarkan semangat juang.
Tri Hita Wacana Tri hita wacana adalah tiga penyebab bahagia, atau dengan kata lain tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan. Tri hita wacana terdiri dari : hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam atau lingkungannya.
Ketiga hubungan yang harmonis ini, yang diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini yang diwujudkan dalam tiga unsur, yaitu: Parahyangan atau tempat suci, Pawongan atau manusia itu sendiri, Palemahan atau alam semesta atau lingkungan.
Tri Jana Upaya Tri jana upaya adalah tiga macam cara bagi seorang pemimpin untuk menghubungkan atau mendekatkan diri dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir, dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati. Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya. Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong royong atau kemasyarakatan. Adapun cara bertindak untuk saling memberi dan mengambil faedah masing­masing ialah sebagai berikut: Misalnya tukang besi, pekerjaannya tidak lain hanya memukuli besi. Namun ia makan nasi walaupun tidak menanam padi. Ini hanya mungkin karena adanya saling memberi dan mengambil faedah masing-masing, antara pak tani dan si tukang besi. Tukang besi memperoleh padi dari pak tani dan pak tani memperoleh pacul dari tukang besi. Saling memperoleh kefaedahan di atas, memungkinkan masing-masing pihak merasa cukup dan enak. Ada contoh lain yang lebih jelas lagi. Misalnya ada nasi sepiring, orang bertanya, “Siapakah yang mengadakannya?” Bila dijawab bahwa pak tanilah yang mengadakannya karena ia yang menanam padi, maka jawaban itu kurang tepat; karena pak tani tidak dapat menanam padi tanpa pacul, garu dan bajak. Bajak dibuat oleh tukang kayu. Karena itu tukang kayu pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Bajak tanpa mata-bajak tidak dapat dipakai. Karena mata­bajak dari besi itu dibuat oleh tukang besi, maka tukang besi pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila pembagian aliran air untuk sawah tidak teratur, maka padi tidak akan tumbuh. Karena itu, pengatur aliran air pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila di antara petani timbul perselisihan dan tidak ada yang mendamaikan, maka mereka tidak sempat menanam padi. Dalam perselisihan itu jaksalah yang mendamaikan mereka. Ini berarti, jaksa pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Rupa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengenali atau mengamati wajah masyarakat yang dipimpinnya. Wajah masyarakat dapat menggambarkan apakah rakyat yang bersangkutan dalam keadaan senang, sejahtera atau kesusahan. Pemimpin yang dapat mengetahui keadaan masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat mengatasi permasalahannya yang dihadapi rakyatnya. Wamsa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengetahui susunan stratifikasi sosial masyarakatnya. Seorang pemimpin yang mengenali adat istiadat masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat menentukan sistem pendekatan atau motivasi yang harus digunakan dalam mencapai dan mendorong pembangunan menuju kemajuan. Guna Upaya, artinya seorang pemimpin hendaknya mengetahui tingkat intelektual masyarakatnya termasuk keterampilan dan skill. Dengan mengetahui tingkat kemampuan masyarakatnya seorang pemimpin akan lebih mudah berkomunikasi serta menawarkan ide-ide kepada rakyatnya. Dengan demikian program-program pembangunan akan lebih cepat terealisasi. Disamping program pemenuhan sandang, pangan dan papan, seorang pemimpin harus memprioritaskan program pendidikan kepada rakyatnya, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka membangun nusa dan bangsa di masa depan.
Tri Parama Arta Tri Parama arta artinya tiga macam perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tri Pararta terdiri dari : a. Cinta kasih artinya menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri. Manusia harus saling asah, saling asih, dan saling asuh. Tujuannya agar terwujud kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam hidup ini. b. Punia, Punia artinya perwujudan cinta kasih dengan wujud saling menolong dengan memberikan sesuatu atau harta benda yang manusia miliki secara ikhlas, dan berguna bagi yang diberi. Manusia harus melakukan dana punia. Walaupun pemberian itu berjumlah kecil, tetapi diberikan dengan hati suci dan ikhlas, maka pemberian itu akan membawa kebaikan yang tidak ternilai. Yang penting pemberian itu diberikan dengan ikhlas, dan pada waktu, tempat, dan pada orang yang tepat, tanpa mengharapkan balasan. c. Bakti, Bakti artinya perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orang tua, guru, dan pemerintah. Dalam ajaran Hindu salah satu jalan untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan yaitu dengan Bakti Marga yaitu cara atau jalan untuk melakukan hubungan kepada Tuhan dengan jalan sujud bakti kepada-Nya.
Tri Rena Tata Tri rena tata berasal dari kata tri yang berarti tiga dan rena yang berarti hutang. Jadi tri rena tata artinya tiga hutang yang dimiliki oleh manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia sebagai anggota masyarakat selalu hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Mereka saling memerlukan dan membutuhkan satu sama lainnya. Dengan hidup bersama dan berkelompok mereka saling keterikatan yang disebabkan oleh adanya rasa kasih sayang dan tolong-menolong. Mereka akan merasa berdosa bila tidak dapat membalas budi orang yang telah menolongnya. Manusia disebutkan memiliki tiga hutang yang terdiri dari :
a. Tuhan, artinya hutang jiwa kepada Tuhan. Tuhan memberi hidup kepada semua makhluk yang ada di dunia ini. b. Hutang jasa kepada leluhur yakni orang tua dan nenek moyang yang telah disucikan. c. Hutang ilmu pengetahuan kepada para guru. Para guru adalah orang yang bijaksana dan menurunkan ilmunya kepada siswanya.
Tutug Tutug adalah kelanjutan dari sikap tatag. Kata tutug mengacu pada keberhasilan kerja sebagai hadiah dari tindakan tatag, sehingga bagi yang melakukannya memperoleh kepuasan jiwani. Ada satu hal yang selalu membuat repot ketika pekerjaan tidak tutug. Tidak jarang mereka yang dulunya terlibat lantas mengaku paling berjasa, sehingga menjadikan solidaritas terpecah­belah. Tinggal menunggu pembagian kenikmatan saja banyak di antara kita tidak bisa. Antara satu dengan yang lain berebut tulang-belulang. Ini sudah sering terjadi. Alangkah mulianya kalau masing-masing pihak mengikis ambisinya. Pada akhirnya semua orang akan tahu, mana yang emas mana yang loyang, sebuah seleksi alam.
Unggah-Ungguh Selain tata krama, sopan santun, juga perlu dipahami istilah unggah-ungguh. Konsep luhur unggah-ungguh dan munggah-mungguh berkaitan dengan hubungan bersama orang lain yang tetap memperhatikan empan papan ‘waktu dan tempat’, posisi, status, jabatan dan kedudukan seseorang. Di dalam masyarakat di mana saja selalu ada kelas sosial. Kelas sosial mempunyai tata interaksi yang berbeda-beda. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dalam berbahasa pun senantiasa ada tingkat-tingkat kebahasaan yang disepakati secara umum. Kalau ada yang melanggar secara informal, maka pasti ada sangsi sosialnya. Memperlakukan seseorang sesuai dengan kedudukan dan status serta derajat dan martabatnya, merupakan tindakan yang mulia, karena seperti dianggab mempunyai unggah-ungguh.
Wahyu Cakraningrat Dalam pewayangan, lakon yang menceritakan pulung kepemimpinan dilukiskan dengan memperoleh wahyu cakraningrat. Siapa saja yang memperoleh wahyu cakraningrat, maka dia dan keturunannya akan berhak menduduki tahta kepemimpinan. Tiga pangeran putra mahkota dalam pewayangan yaitu Lesmana dari Hastina, Samba dari Dwarawati, dan Abimanyu dari Amarta bersaing sengit dalam memperebutkan wahyu cakraningrat agar tergenggam di tangannya. Karena Lesmana dan Samba tidak kuat menerima cobaan berupa wanita cantik, maka hanya Abimanyu yang kemudian berhasil memperolehnya. Akhirnya memang hanya Abimanyu yang bisa menurunkan raja di Hastina, yaitu Prabu Parikesit. Lakon wahyu cakraningrat ini di masyarakat Jawa sangat populer. Lurah, camat, bupati yang terpilih seringkali menanggap wayang dengan lakon tersebut. Harapannya mereka akan memerintah dan menerapkan kepemimpinan mirip Prabu Parikesit yang terkenal berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan. Sedangkan buat masyarakat yang diperintah akan mengakui eksistensi kepemimpinannya. Agaknya wahyu cakraningrat merupakan salah satu sarana yang ampuh sebagai sumber legitimasi kepemimpinan.
Wani Ngalah Wani ngalah berbeda dengan kalah. Wani ngalah hanya berusaha menyenangkan pihak lain. Orang yang suka mengalah biasanya selalu menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Pribadi yang baik tidak malu untuk wani ngalah ‘berani mengalah’. Prinsip orang yang wani ngalah adalah menang ora kondhang, kalah wirang. Bahkan semua orang Jawa mengakui orang padu don (bertengkar mulut) itu ibarat perang. Dalam perang berlaku prinsip: yang menang menjadi pindang, yang kalah menjadi rempah. Kedua-duanya pasti saling merugi, tak ada untung. Untuk bisa wani ngalah, seseorang harus bersedia menyingkirkan egoismenya. Bagi yang terlampau peduli gengsi, sikap wani ngalah tentu sangat berat untuk dilakukan. Demi harga diri lebih baik kalah wang daripada kalah wong. Berani berlaku garang walaupun keadaannya garing ‘kering’.
Widada Widada juga mengandung makna selamat. Hanya saja kata widada digunakan dalam suasana yang formal keistanaan serta lebih estetis dan puitis (bahasa Kawi). Kata widada yang bernilai estetis dan puitis lantas digunakan untuk memberi nama anak laki-laki, misalnya Jatmika Widada, Budi Widada, Jaka Widada, Endar Widada, dan sebagainya. Semuanya bermaksud agar anaknya mendapatkan keselamatan dan kewibawaan. Selain untuk nama orang, percakapan resmi dalam istana serta upacara, kata widada tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kata keseharian orang lebih biasa dengan istilah slamet yang merupakan tataran bahasa ngoko.
Wikrama Wardhana (1389-1429) Wikrama Wardhana adalah putra Prabu Hayam Wuruk. Salah satu putra beliau yang lain adalah Wirabumi. Wirabumi diberi kekuasaan di daerah bagian Jawa Timur. Mula-mula Wirabumi menerima pembagian ini, akan tetapi lama-lama ia ingin memiliki tahta Majapahit juga. Pertengkaran terjadi sejak tahun 1399. Waktu itu, putra mahkota yang bernama Hyang Wekas meninggal dunia. Ibunya adalah putri Prabu Hayam Wuruk, oleh karena itu ia berhak atas tahta. Oleh karena ia meninggal dunia, maka Wirabumi semakin dekat dengan istana, karena dia merasa patut menjunjung mahkota. Ia mengobarkan pendukungnya untuk ikut mendorong dirinya ke puncak tahta. Perseteruan ini membuat udara di ibukota Majapahit tidak sejuk lagi. Tipu muslihat di mana-mana dan muaranya selalu dituduhkan kepada intrik di antara kedua pewaris tahta.
Wilujeng Salah satu gendhing yang terkenal dalam kerawitan yaitu gendhing ladrang wilujeng. Lagu ini memberi suasana damai, ayem, tentrem, dan tenang. Ladrang wilujeng ini cocok untuk mengisi suasana santai namun agung dan hikmat. Kata wilujeng juga dapat digunakan untuk sapaan hangat bernada halus, “Kepripun Mas kabaripun?” Maka akan dijawab, “Pangestunipun, dhawah wilujeng.” Secara umum kata wilujeng bermakna selamat juga. Hanya saja kata ini jarang digunakan untuk memberi nama anak. Wilujengan berarti selamatan, yang sejajar maknanya dengan slametan. Dengan wilujengan atau selamatan itu, mereka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dalam kehidupannya diberikan keselamatan dan kesejahteraan, terbebas dari malapetaka, terhindar dari hal-hal yang menjebak mereka sehingga gagal meraih kebahagiaan hidup dunia dan akherat.
Wiratama Wiratama berasal dari kata wira yang artinya gagah berani dan utama yang artinya juga utama. Wiratama berarti gagah berani melakukan kebajikan, atau satria agung yang gagah berani membela kebenaran dan keadilan. Orang yang berjiwa wiratama berarti mementingkan kepentingan orang banyak. Dirinya merasa bermakna hidupnya apabila bermanfaat bagi masyarakat umum. Tenaga dan pikirannya disumbangkan kepada khalayak. Cepat kaki ringan tangan dalam beraktivitas sosial dan peduli dengan nasip orang lain yang membuatnya populer. Secara alamiah pemimpin akan muncul dari orang-orang yang peduli terhadap orang lain dan memperhatikan kepentingan umum. Akhirnya kepemimpinan yang demikian itu akan diakui.
Wukir Dalam pewayangan dikenal adanya dasa nama atau kumpulam istilah. Dasa nama dari wukir adalah gunung, arga, redi dan prawata. Adanya pegunungan menambah kesuburan tanah. Hutan belantaranya memuat kekayaan hewani dan nabati. Kayu-kayuan yang sangat mahal harganya terdapat di hutan. Sebagai contoh kayu Jati di Pegunungan Kendheng di Jawa dan rotan di hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan yang terbuka, adil, dan teratur tentu membuka lebar-lebar kesempatan pemakmuran rakyat. Hanya saja yang perlu dihindari adalah monopoli pengelolaan hutan yang berbuntut kesenjangan dan persengketaan yang tidak menguntungkan. Wukir juga bermakna pegunungan yang indah. Negara atau wilayah yang memiliki deretan pegunungan tentu akan menyajikan penorama indah dan udara sejuk yang membuat betah dan nyaman orang tinggal di sana. Apalagi dalam jaman modern di mana pariwisata sangat digemari, maka tentu keindahan panorama pegunungan akan menambah devisa negara dan kemakmuran rakyat, sebagai contoh Pegunungan Bromo di Jawa Timur.
Yasadipura I Salah satu tokoh sastrawan yang amat penting dalam masa penggubahan karya-karya yang berbahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Jawa Baru adalah Yasadipura I (Soepomo Suryohudoyo, 1980: 34). Pujangga besar Kyai Yasadipura I lahir di Pengging tahun 1729. Nama lainnya yaitu Bagus Banjar, Jaka Subuh dan Jenal Ngalim. Ayahnya bernama Raden Tumenggung Paduranegara, Bupati daerah Pengging. Pada usia 8 tahun beliau dikirim ke pesantren di daerah Kedu. Beliau mempelajari ilmu agama Islam, tasawuf dan kebatinan. Setelah usia 14 tahun beliau tamat belajar dan magang sebagai abdi dalem Kraton Kartasura. Karena bakatnya dalam dunia karang mengarang besar, maka beliau dinobatkan sebagai pujangga istana. Ini terjadi setelah berakhirnya Geger Pacinan. Ketika ibukota Mataram pindah dari Kartasura ke Surakarta, Yasadipura pun ikut boyongan dan bertempat tinggal di kawasan Kedung Kol, yang terletak di daerah Pasar Kliwon, sebelah timur benteng Kasunanan Surakarta. Daerah ini nantinya terkenal dengan sebutan kampung Yasadipuran. Di sini Yasadipura bermukim beserta istri, anak dan cucunya. Salah satu cucu Yasadipura yang sebagai pujangga agung adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita.
Yasadipura II Kyai Yasadipura II adalah putra Kyai Yasadipura I. Nama lainnya yaitu Raden Tumenggung Sastranagara. Raden Tumenggung Sastranagara berputra Raden Mas Pajangswara berputra Raden Mas Ngabehi Ranggawarsita. Dengan demikian Ranggawarsita adalah cucu Kyai Yasadipura II dan cicit Kyai Yasadipura I. Karya tulis Kyai Yasadipura II di antaranya: Serat Centhini, Serat Darmasurya, Serat Sasana Sunu, Serat Wicara Keras, Serat Panitisastra Jarwa, Serat Arjuna Sasra atau Lokapala, Serat Ambiya, Serat Dewaruci, Serat Babad Prayut, dan Serat Babad Pakepung. Kyai Yasadipura II sangat dicintai dan berteman akrab dengan Sinuwun Paku Buwana V, yang ketika masih menjadi putra mahkota bernama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Hampir tiap buah tangan Kyai Yasadipura II selalu atas ijin dan dukungan Pangeran Adipati Anom. Bersama dengan Pangeran Adipati Anom dan Kyai Rangga Sutrasna, Kyai Yasadipura II menggarap Serat Centhini. Beliau menjadi pujangga selama 43 tahun. Beliau termasuk pujangga beruntung karena secara langsung mendapat bimbingan dari sang ayah, Yasadipura I.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 222 other followers

%d bloggers like this: