Kayon

Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.

Kayon: lambang gunung, lambang hutan, isyarat untuk awal, isyarat untuk penutup. Dari jauh bentuk itu mirip sebuah siluet segi tiga di bawah cahaya. Tapi dari dekat akan kelihatan di gunungan itu tersembunyi (dalam ukiran yang renik) pohon-pohon rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul. Ada sebuah gapura dengan tempat kunci berbentuk teratai. Ada sepasang raksasa bersenjata yang tegak simetris. Ada harimau, banteng, kera, burung merak dan burung-burung lain. Juga wajah seram banaspati.

Dengan kata lain, di gunungan itu tersimpan bermacam hal, tapi bertaut dalam satu misteri, sesuatu yang angker, tapi juga teduh: sebuah wilayah kehidupan yang lain. Ketika arena di luarnya memaparkan kisah intrik, nafsu, dan perang yang tak henti-hentinya, di kerimbunan yang agung itu hidup berlangsung anteng dan syahdu. Dalam kayon, waktu yang mengalir detik demi detik seakan-akan tak ada lagi. Di dalam gunungan, arus menit dan jam seakan-akan diinterupsi dan distop. Segala hal seakan-akan berada di luar waktu.

Tapi manusia tidak. Ia akan kembali menghadapi, bahkan terlibat dengan, peristiwa-peristiwa yang berubah dan terkadang mengguncang. Terletak terpisah tapi tak jauh dari medan peristiwa, kayon adalah sebuah kontras.

Dalam wayang kulit, ketika dalang menghadirkan adegan majelis yang tertib di balairung atau sebuah pertempuran yang seru di tepi hutan, kayon akan terpasang di sisi layar, seperti menandai bahwa ada kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan manusia yang tak henti-hentinya berubah dan resah. Meskipun demikian, gunungan itu juga yang mengisyaratkan pergantian babak atau adegan. Ironis, bahwa yang berada di luar waktu justru jadi tengara perubahan waktu.

Bahkan sesekali ki dalang akan mengangkat dan menggerakkan kayon untuk melukiskan angin gemuruh, halilintar yang mengejutkan, dan saat keajaiban yang membuat seorang ksatria jadi makhluk yang dahsyat.

Dengan kata lain, dengan gunungan, waktu yang tak kekal dalam hidup manusia senantiasa dibayang-bayangi sebuah wujud rahasia yang hadir di awal dan terpacak di akhir.

Barangkali karena itu Bharatayudha adalah sebuah tragedi. Bukan karena perang besar itu sia-sia. Memang tak jelas apa sebenarnya arti kemenangan Pandawa dalam merebut kembali Kerajaan Hastina, jika akhirnya seluruh generasi kedua mereka terbunuh dan, ketika perang usai, seantero anggota keluarga dibantai Aswatama di sebuah malam yang lengah.

Tapi Bharatayudha terasa sebuah tragedi karena kontras dan ironi kayon tepat mengenai inti ceritanya. Lihatlah para ksatria itu. Mereka jalani hidup yang berubah-ubah, yang tak mudah, mereka masuk ke dalam sengketa yang menyakitkan dan buas, mereka ambil keputusan-keputusan yang rumit dan muskil, tapi mereka tak akan dapat membatalkan perang yang mengerikan itu. Sudah ditetapkan, Bharatayudha akan terjadi. Baik para Pandawa maupun Kurawa tak dapat memilih untuk mati dengan cara lain. Apa arti pilihan dan keputusan manusia di bawah Nasib dan Kutuk yang permanen?

Pada akhirnya memang tak pernah bisa jelas, dalam waktu yang manakah manusia ketika ia menanggung sengsara atau berlaku buas, merasa bahagia atau lupa daratan. Ada waktu dari Nasib, waktu sebagai Kala, yang tak berubah dan tak mengubah. Di dalam Kala, manusia tak dapat lepas memilih dan memutuskan masa depannya dengan bebas. Tapi sementara itu ada waktu sehari-hari: waktu ketika manusia menyakiti dan disakiti, membunuh dan dibunuh, rindu dan bahagia, heroik dan culas. Itulah waktu ketika manusia jadi subyek, biarpun sejenak, biarpun tak utuh.

Persoalannya tentu: mungkinkah subyek lahir, subyek yang melawan situasi tempat ia hidup, merombak kondisi yang membentuknya, subyek yang terlepas dari posisi obyek di bawah Sang Kala? Dalam Bharatayudha, contoh yang utama bahwa hal itu mungkin adalah Karna. Ia anak seorang sais. Ia anak sudra, tapi ia berani maju menandingi para ksatria. Ia, seorang pendekar yang diklaim sebagai saudara seibu para Pandawa, tetap memilih berpihak kepada Kurawa—meskipun tahu pihak yang dipilihnya akan hancur. Tapi ia bebas.

Mungkin ada saat-saat yang tak dikisahkan ki dalang ketika Karna berdiri sendiri memandang ke arah kayon. Wilayah itu tak akan pernah dijangkaunya: pohon-pohon dengan cabang yang agung, gapura yang selalu siap menyambut dan mengunci rahasia, sepasang raksasa yang berjaga entah atas titah siapa, dan macan, dan banteng, dan kera, dan burung merak… semuanya suasana angker yang tak mempunyai bahasa.

Pada saat seperti itu ia sadar, ia jauh dari sana, ia hidup dengan waktunya sendiri. Lebih radikal lagi, ia—yang merasa ada misteri yang membayang dari gunungan itu—memutuskan untuk bertindak, tanpa merasa siap mengetahui rahasia hidup. Nasib? Sang Kala? Baginya semua itu lebih baik ia tinggalkan. Terlalu pahit untuk ditanggung. Ia tak terikat dengan sebuah masa lalu dan sebuah masa depan. Ia hanya punya masa kini dan sebuah pertalian dengan orang lain: para Kurawa.

Dengan itulah Karna jadi subyek—justru karena ia, seraya melepaskan diri dari Waktu, Kala, menjangkau orang lain dan bertanggung jawab kepada mereka. Pada dirinyalah sebenarnya Bharatayudha jadi kisah kepahlawanan dan sekaligus tragedi.

Tapi entah kenapa, para dalang tak pernah mengatakan itu. Karna tewas dihunjam panah Arjuna, tapi tak ada yang bercerita bagaimana ia dikuburkan. Yang pasti bukan sebagai pahlawan. Mungkin sebab itu tiap kali gunungan ditancapkan, dan suara gamelan menghilang dari cerah pagi, kita tahu ada sesuatu yang belum diutarakan dan kita tak mengerti.

Goenawan Muhamad
sumber : Catatan Pinggir ~Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXVI/04 – 10 Februari 2008~

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 183 other followers

%d bloggers like this: