Ki Sutarko Hadiwacana

Sutarko lahir pada 25 Desember 1943. Agamanya Islam. Ia lulusan Akademi Bahasa Inggris, di Bandung. Sutarko terbilang sukses dalam pendidikan putra-putrinya, yang hampir semua adalah sarjana Sutarko dikaruniai lima orang putra putri, yaitu: Parikesit Dipoyono (STSI) , Endahsih (Sarjana Bahasa Inggris), Diah Shinta (Fak. Janabadra), Sinom Pradopo (Abayo, Yogyakarta), Putut Danardono (SMA). Dari kelima putra putrinya, Parikesit Dipoyono diharapkan bisa mewrisi keahliannya dalam mendalang.

Sutarko belajar mendalang dari orang tuanya, pada usia 14 tahun. Ia belajar mendalang pertama kali pada usia 18 tahun. Prestasi yang pernah dicapai Sutarko dalam pedalangan yaitu, ia pernah mendapat Juara II dalang ke Karesidenan Kedu. Kemampuan gaya pakeliran yang dikuasai yaitu gaya Yogyakarta dan Gaya pasisiran (Bagelenan). Kelebihan Sutarko dalam garap pakeliran antara lain dalam garap catur, dan melawak.

Rata-rata pentas dalam tiap bulannya kurang lebih 8 kali. Ia mendalang sampai antar propinsi, bahkan ke luar negeri antara lain di Jerman, Swiss dan Amerika. Beberapa daerah yang banyak penggemarnya antara lain: Purworejo, Temanggung, Parakan, Purwokerto, dan Lampung.

Sutarko belum punya sanggar pedalangan sendiri tetapi ia mempunyai kelompok karawitan dengan nama Aditya Laras. Untuk keperluan mendalang Sutarko sudah mempunyai perangkat gamelan sendiri. Sutarko belum pernah mengarang gending, tetapi ia pernah membuat sanggit lakon sendiri, antara lain: Ontorejo Balik, Arimboko, dan Semar Dadi Dalang.

Tokoh favoritnya di dalam wayang, yaitu Bima, Kresno, dan Karno, alasannya karena tokoh tersebut mempunyai nilai kepercayaan. Dalam lakon Dewa Ruci, Bima tetap mempercayai Druna sebagai Guru meskipun ada tipu daya untuk mencelakannya. Sedangkan, lakon favorit yang pernah dipentaskan antara lain: Wiratha Parwa, Gondomono Sayembara, Aji Bima Kurda.

Pengalaman yang menarik selama mendalang antara lain, sering pentas diundang oleh para pembesar untuk beberapa momen yang penting. Sedangkan, keluhannya selama menjadi dalang, yaitu jika sedang mendalang di daerah masyarakat kurang mengapresiasi wayangannya.

Sedangkan, keluhannya kepada para seniman dalang adalah persoalan idealisme. Pada masa sekarang pakeliran terkesan kembali ke masa pra 1965. Konsep seni pada waktu itu adalah teori seni dari Lekra, yaitu seni bukan untuk seni, tetapi seni untuk masyarakat. Adanya teori tersebut menyebabkan garap pakeliran disesuaikan dengan idiologi komunis. Beberapa perubahan antara lain: Pertama, menghilangkan sembah; kedua, bahasa tidak perlu bahasa Jawa; ketiga, memasukkan unsur musik dan lawakan; keempat, Kalimasada diganti dengan Polorito. Dalam pakeliran sekarang memenuhi kriteria satu, dua, dan tiga kecuali kriteria empat.

Kiatnya menjadi dalang yang tenar adalah kemampuan untuk mengetahui selera masa dan menguasai materi cerita. Untuk itu, seorang dalang harus terus belajar, tiada hari tanpa buku. Disamping itu, nglakoni sebagai usaha bersifat batiniah setiap dalang harus mengusahakannya.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 216 other followers

%d bloggers like this: