Sri Rama, Wisnu Ngejawantah Profil Manusia Suci Yang Adil Wicaksana

Atas usul Kausalya, Dasarata memilih kedua permaisuri lagi, yaitu Kekayi dan Sumitra. Pada waktu ia akan menetapkan Kekayi menjadi permaisuri, ia jatuh sakit. Dan ternyata Kekayilah yang dapat menjadi penyembuh penyakit Dasarata. Maka bersabdalah sang prabu:

“Adinda Kekayi, engkau telah berhasil menyambung nyawaku, maka aku memberi janji kepadamu, ajukan satu permintaan kepadaku, pasti akan kukabulkan dan tak akan ku tolak.”

Kekayi hanya menundukkan kepala sambil merenung jauh kemasa depan. Setelah sampai titik puncaknya berkatalah ia:

“Duh paduka Yang Mulia Sri Baginda junjungan patik. Kiranya kurang bijaksana kalau patik lahirkan sekarang. Seyogyanya kita tangguhkan dahulu sampai waktu yang mengijinkan, yakni apabila Sri Baginda telah sehat dan kuat kembali.”

Pendek kata, kebahagian istana terpencar dalam wajah-wajah permaisuri Dasarata. Beberapa bulan kemudian Kausalya kelihatan sering muntah-muntah dan selalu mengutus membeli buah-buahan yang serba masam rasanya atau “kemrampo” tuanya, bahkan setiap hari selalu minta makan yang pedas-pedas, kecut terhitung rujak dan lotis.

Sebulan kemudian, ketiga permaisurinya tampak telah mempunyai selera makanan yang sama. Sehingga tidak mengherankan kalau tukang buah-buahan hampir setiap hari berkumpul dan menyerahkan “bulu bekti” berupa mangga “kemrampo”, belimbing, nanas, jeruk, jambu, rambutan dan duku. Pendek kata segala macam buah-buahan ada deh.

Benar juga, sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi yang lembut, halus dan bersinar wajahnya. Ia memancarkan cahaya kesucian. Itulah Roh Suci.

Karena itu bayi tersebut diberi nama oleh ayahnya dan oleh Resi Wasista “Rama”, Rama adalah Wisnu. Wisnu adalah Kebenaran. Kebenaran adalah suatu Realitas. Ia adalah sumber dari segala yang ada dan yang hidup. Ia adalah hidup itu sendiri. Memang Rama dan Wisnu adalah “loro-lorone atunggal”, tunggal cita, tunggal rasa dan tunggal hidup. Ibarat Wisnu adalah Sastra dan Rama adalah Gending. Sastra itu tampak dan dapat di baca oleh mata. Sedang Gending hanya dapat dimengerti dan dikenal dengan Rahsa. Itulah yang bernama Sejati. Memang Wisnu sejatinya Rama.

Sebulan kemudia, Kekayi-pun melahirkan seorang bayi juga bernama Bharata. Sedang Sumitra melahirkan Laksmana. Satu setengah tahun kemudian Laksmana mempunyai adik laki-laki Satrukna namanya.

Berkat pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, maka putra-putra Dasarata tersebut berkembang dan tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah, tampan, berbudi luhur, sopan santun tutur katanya, serta taat kepada ayah bundanya.

Tersebutlah, dalam sebuah sayembara yang diselenggarakan oleh Prabu Janaka di negeri Mantili, Rama mendapat kemenangan dan berhasil mempersunting Sinta sebagai isterinya. Ketika Rama akan dinobatkan menjadi raja Ayodya mengganti kedudukan ayahnya, tiba-tiba Kekayi mengingatkan janji raja Dasarata, bahwa putranyalah yang harus menggantikannya menjadi raja di Ayodya. Inilah permintaan Kekayi kepada Dasarata.

Raja Dasarta tak dapat menolak, karena kalah janji. Sabda Pandita Ratu. Sabda raja harus ditepati. Maka tak ada jalan lain kecuali mengabulkan permintaan Kekayi dan memerintahkan kepada Rama untuk meninggalkan Ayodya dan hidup di hutan Dandaka selama 13 tahun lamanya, sedang Sinta dan Laksmana mengikutinya dalam pembuangan itu.

Sekali lagi, manusia dihadapkan dua pilihan sama berat, yaitu mengusir Rama untuk mempertahankan nama baiknya, atau membiarkan Rama menjadi raja, tetapi mengingkari janji (hilang nama baiknya). Namun untung Bharata sadar bahwa ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan Ayodya, maka ia pergi mencari Rama dan memohon kepadanya untuk kembali dan bersedia menjadi raja di Ayodya. Karena Rama adalah anak yang selalu patuh kepada putusan ayahnya yakni raja Dasarata, maka ia menolak untuk kembali ke Ayodya. Untuk menyenangkan hati Bharata, diberikannyalah terumpahnya kepada Bharata sebagai lambang kemahkotaannya. Disamping itu Rama membekali Bharata dengan ajaran kepemimpinan yang disebut “Hasthabrata” atau delapan ajaran utama.

Cerita selanjutnya, semua orang telah tahu bahwa nanti Sinta ditawan oleh Rahwana raja negeri Alengka. Dan untuk seterusnya akhirnya Sinta dapat direbut kembali, tetapi untuk membuktikan kesuciannya ia harus dibakar. Namun malang bagi Sinta.

Beberapa bulan setelah Rama kembali dan bertahta di Ayodya, mereka tertimpa malapetaka. Ketika Sinta dalam keadaan hamil muda, diusirlah ia dan dibuang ke hutan, karena kesuciannya dicurigai oleh rakyatnya.

Akhirnya nasib Sinta setelah melahirkan putra kembarnya yang bernawa Lawa dan Kusya, Sinta mati terjepit tanah yang menganga.

Bagaimana kisah selanjutnya dan apakah artinya dari kejadian-kejadian dalam kisah tersebut. Baiklah kita ikut saja dalam kisah Sinta.

IR SRI MULYONO

YUDHA MINGGU, 26 SEPTEMBER 1976

About these ads

One Comment (+add yours?)

  1. bangkitjeparafurniture
    Nov 28, 2010 @ 00:19:17

    Kejujuran dan menyadari bahwasannya ada yang lebih tinggi dari tinggi ada yang lebih Maha sempurna dari sempurna … Dan ada TUHAN atas kuasa Alam Raya beserta isinya;
    Terima kasih semoga wacana ini bisa menjadi pedoman penghayatan makna kejujuran .

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 182 other followers

%d bloggers like this: