Wayang Kulit Indramayu

Wayang Kulit Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang kulit Jawa dan Cirebon. Perbedaannya terletak pada perbedaan bahasa yang dipergunakannya. Penggunaan bahasa ibu (setempat) menjadi khas pula di dalam berbagai tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya. Bahasa ibu menjadi bahasa sosial dan komunikatif. Periwayatan tentang wayang kulit di daerah Indramayu tak terlalu berbeda dengan di daerah Cirebon. Hanya mungkin terdapat pengakuan bahwa wayang pernah menjadi media dakwah oleh Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati.

Adapun ceritanya, tak jauh pula bedanya. Wayang kulit Indramayu sama juga masih menggunakan dua cerita babon, yakni Ramayana dan Mahabharata. Tetapi, munculnya cerita karangan oleh para dalang di daerah Indramayu memiliki daya tarik tersendiri. Dewasa ini pertunjukan wayang kulit Indramayu ditampilkan dalam acara-acara tertentu, seperti: Ruwatan bersih desa, ngunjung, hajatan sunatan dan perkawinan.

Musik pengiring tak jauh berbeda dengan umumnya wayang kulit, yakni gamelan pelog-salendro yang ditambah dengan kemanak serta bedug yang cukup dominan, untuk efek tertentu. Adapun susunan adegan wayang kulit Indramayu sama dengan umumnya pola pengadegan wayang yang lain di Jawa Barat antara lain: Tatalu, dalang dan sinden naik panggung; Gending sejer / kawit, murwa, nyandra, suluk, kakawen dan biantara; Babak unjal, Paseban dan Bebegalan; Nagara Sejen; Patepah; lalu Perang Gagal; Panakawan / Goro-goro; Perang Kembang; Perang Raket; Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat Indramayu adalah ngaruwat, yaitu membersihkan orang atau benda dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal), Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia), Suramba (empat orang putra), Surambi (empat orang putri), Pandawa (lima orang putra), Pandawi (lima orang putri), Talaga tanggal kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.

Makna yang terkandung dalam pertunjukan wayang kulit, antara lain: Makna spiritual pertunjukan wayang kulit itu sendiri, yakni bahwa di mana pun kesenian ini berada, ia terkait dengan sistem kepercayaan yang diyakini oleh komunitas tertentu. Demikian juga masyarakat Indramayu di lokasi ngunjung. Dengan mengambil lakon leluhur Pandawa, masyarakat diingatkan tentang rasa hormat terhadap leluhur desa. Makna teatrikalnya ialah bahwa sosok-sosok dalam wayang kulit pada umumnya sangat teatrikal ditambah bentuk blencong yang berbeda dengan wayang kulit Jawa. Makna sosialnya, pertunjukan wayang kulit Indramayu dalam upacara ngunjung ikut serta di dalam proses interaksi antara anggota masyarakat yang masih percaya bahwa menghormati leluhur adalah perbuatan yang baik dan terpuji. Semua pertunjukan dan segala keperluan upacara ngunjung ditanggung oleh masyarakat, tanpa bantuan pemerintah.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-kulit-indramayu/

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: