Edan, Yudhistira pun Bisa Bohong


REMBUKAN ponokawan rampung sudah dan jelas. Kebijakan Prabu Yudhistira mereka nyatakan bermasalah. Mestinya dalam Bharatayuda pemimpin Pandawa itu blak-blakan. Bilang saja yang mati bukan Aswatama anak kinasih Pandita Durna. Yang menggelepar-gelepar terus matek hanyalah Gajah Hestitama. Dia bongko dikepruk gada Rujakpolo-nya Bima.

Tapi Prabu Yudhistira bilang yang tewas Aswatama. Kontan panglima Kurawa itu lemes lantaran menyangka anak kesayangannya gugur. Gumrojok tanpo larapan …dalam kelunglaian itu Thrustajumna mengendap-endap dari belakang. Ia penggal seketika kepala sang mahaguru… Thel…ubluk-ubluk-ubluk…

”Thel itu apa Pak Dalang?” penonton bertanya.

Leher Durna putus.

”Ubluk-ubluk…?”

Suara kepala Durna ngglundung di palagan Kurusetra… wis cangkemmu jangan tanya terus, Rek. Nanti ceritanya ndak rampung-rampung.

Lanjutane, Yudhistira menanggapi Remsus (rembukan khusus) Ponokawan. ”Kebijakan tidak bisa disalahkan. Saya bertanggung-jawab dunia akhirat,” begitu pidato Yudhistira yang disaksikan segenap hulubalang lengkap koalisi Sesaji Raja Suya. Yang mungkin bersalah, sekali lagi mungkin, adalah implementasi alias pelaksanaan di lapangan. Umpamane, kenapa Thrustajumna tidak secara ksatria dari depan memenggal Durna alias Resi Kumbayana? Itu masih patut diduga bersalah lho. Adapun kepastian salah atau tidaknya si Trustajumna biar proses hukum di pengadilan yang menentukan. Lembaga wakil para kawula alit seperti ponokawan tidak berhak menentukan seseorang bersalah atau tidak.

Lho, tapi terus apa gunanya dalam wayang sekotak itu perlu dibentuk lembaga ponokawan? Ya, pasti onok gunane-lah. Usus buntu saja ada gunanya. Kira-kira begitu celometan antarpenonton silih berganti, saur manuk, seperti betet sewu andum memangsan.

Sudah buang waktu bulan-bulanan rembukan, nyedot duit kawula miliaran buat sidang malam-siang, ma’ jekethek hasilnya tidak dipakai. Dipakai, ah. Dipakai sih dipakai. Dipakai apa coba? Ya, hasil Remsus Ponokawan bisa dipakai untuk menunjukkan bahwa pendapat ponokawan berbeda dibandingkan dengan pendapat sang Prabu. Wis, cuma’ gitu aja?

Yo wis. Ndak papa. Gak popo piye? Lho, memang dalam demokrasi, perbedaan pendapat sah-sah saja. Wah, wah, ne’ cuma’ sah-sah saja semua orang juga sudah mudeng. Bahwa di dalam demokrasi itu siapa boleh apa, si anu boleh anu, asal sesuai dengan apa yang sudah dianu…

Ah, moso’. Kalau gitu ndak perlu capek-capek bikin Remsus ponokawan. Gitu? Iya, gitu. Setuju. Ndak usah capek-capek bikin pidato tanggapan. Iya kan? Hehe…bener. Bener. Perbedaan pendapat memang sah-sah saja dan perlu dipertontonkan. Tapi yang lebih penting kita harus putuskan pendapat siapa yang akan dipakai.

Wah, teppa’ itu. Cocok, Cak. Ibarat kita mau bikin rawon. Maksudnya? Ya maksudnya boleh-boleh saja kita beda pendapat takaran kluwek-nya sa’ piro. Tapi kita harus putuskan pendapat siapa yang dipakai. Kalau ndak gitu rawonnya ndak jadi-jadi. Empat puluh hari empat puluh malam mung umyek karepe dewe di dapur. Akhirnya rakyat semua kelaparan. Kabeh do kaliren, ndak mbadog-mbadog, cuma’ nonton para pemimpin debat otot-ototan.

***

Di antara penonton wayangan semalam suntuk di lahan bekas tambak itu… ada yang jualan pecel Dharmahusada (lengkap mbarek pecel Ngawi Mbak Sum), jualan bakso Kepanjen… Kupang Jalan Ria. Pokoke macem-macem. Ada juga seorang bocah bernama Wisanggeni. Mungkin bapaknya maniak wayang. Sebuah nama kan sebuah harapan? Kayaknya bapaknya punya angan-angan anak itu jadi seperti anak Arjuna-Dewi Dersanala, Wisanggeni, bocah yang cerdas. Dan harapan bapak-bapak asli Blitar itu tercapai.

Melihat tontontan wayang malam itu Wisanggeni yang bersandar di pohon pisang sambil ngemut sate kerang bertanya-tanya. Menurut Prabu Yudhistira wajar-wajar saja terjadi perbedaan pendapat antara dia dan Dewan Perwakilan Kawula Ponokawan. Tapi kenapa kok waktu ponokawan masih sibuk buk-rembukan sang Prabu kirim orang untuk lobi sana-sini agar ponokawan berpendapat seperti pendapat sang Prabu? Berarti sebenarnya ndak wajar pemimpin berbeda pendapat dengan rakyatnya, karena yang mengangkat pemimpin itu rakyat kan?

Wisanggeni boleh cerdas, boleh rangkep-rangkep sekolahe, tapi ponokawan menang tua dan menang pengalaman. Ne’ misale Petruk dari panggung bisa lihat Wisanggeni di penonton belakang, Petruk pasti ketawa.

Hati Petruk akan berbisik, ”Sssttt…tahu ndak, anak muda, sebenarnya ponokawan itu pengin nurut ambek sang Prabu. Suaranya pengin distel sama. Tapi, saya, Gareng, dan Bagong masing-masing punya keperluan. Nanti pas pesta rakyat 2014 kami masih ingin laku dijual sebagai boneka. Pas pesta rakyat nanti kan pasti banyak juga orang jualan boneka. Sekarang saja boneka China makin menggempur pasar kita. Kalau kami, Petruk, Gareng, dan Bagong tidak belajar untuk disenangi rakyat saat ini bagaimana bisa laku di tahun 2014?”

***

Petruk agak keliru. Wisanggeni ternyata tidak segoblok itu. Wisanggeni ngerti bener bahwa penanggung jawab skandal ini sesungguhnya adalah Prabu Kresna. Kresnalah yang menyuruh Bima membunuh gajah Hestitama dan membisiki Yudhistira agar berbohong, bilang bahwa yang mati Aswatama, anak Durna. Dan itulah sekali-kalinya dalam seumur hidup Durna berbohong.

Tapi kalau Remsus Ponokawan mengarahkan penyelidikannya ke Kresna, ponokawan akan berhadapan dengan rakyat. Ingat, Kresna muncul sebagai atasan Yudhistira karena pilihan sebagian besar rakyat. Waktu pembentukan koalisi Sesaji Raja Suya, yang melawan Kresna, Sisupala, akhirnya dihakimi oleh rakyat. Lebih baik nyerang Yudhistira. Beliau bukan orang gaul. Bukan orang partai seperti diakuinya sendiri. Yudhistira itu ibaratnya pasar di mana, alun-alun di mana, ya ndak tahu. Kerjanya baca bukuuuuuuuuu….thok.

Makanya, sekali lagi, paling nyaman ponokawan menuding Yudhistira saja yang kebetulan orangnya lemah-lembut-gemulai. Toh Yudhistira bisa distel bilang, ”Kebijakan tidak bisa diadili.” Maka beralihlah tuduhan pada pelaku di lapangan. Dialah Thrustajumna.

Wisanggeni tahu, untuk membuktikan Thrustajumna bersalah bisa diperlukan waktu lebih daripada lima tahun. Pasti nanti akan ada kontroversi tanpa ujung. Thrustajumna dinilai berhak membunuh Durna tidak secara ksatria. Dahulu Durna toh pernah mempecundangi ayah Thrustajumna, Prabu Drupada, secara tidak ksatria pula.

”Lha terus kalau pengadilan Thrustajumna ndak rampung-rampung yok opo?” tanya penjual wedang ronde ke bocah yang nyandar di pohon pisang.

”Ponokawan sebenarnya ndak pathe’en pengadilan ini rampung sebelum lima tahun atau tidak. Yang penting ponokawan terus memantau jalannya proses hukum. Kalau perlu marah-marah terus. Galak. Yang penting ponokawan dapat simpati masyarakat, agar bisa dijual pada pesta rakyat 2014.”

”Tapi, Nak, apa benar satu-satunya orang yang berani terhadap Prabu Kresna itu cuma’ Wisanggeni?” (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 211 other followers

%d bloggers like this: