Senjata Pusaka Gugat

”BOOOM!’ Tiba-tiba suara itu terdengar. Kepanikan melanda warga sekitar gudang senjata Ngamarta. Para ibu berteriak memanggil anak-anaknya. Sebagian lagi mencoba menyelamatkan harta benda. Bau mesiu begitu dominan menyengat.

”Delapan Enam, siaga, ada ledakan di gudang senjata,” suara Gatotkaca terde­ngar di setiap HT prajurit Ngamarta. Daerah sekitar ledakan langsung dipasang police line. Densus 66 dan pasukan anti bahan peledak diturunkan.

Antareja dan Gatotkaca dengan seragam khusus menyeruak masuk gudang di te­ngah pekatnya asap mesiu. Dengan kacamata infra red, Ga­totkaca detail meneliti kondisi senjata. Dan keduanya sa­ling pandang. ”Gak usah dibesar-besarkanlah, ini kejadian biasa. Karena suhu panas saja, semuanya aman terkendali, masih pada tempatnya,” ujar Gatotkaca cepat sambil berlalu di bawah todongan puluhan lensa kamera.

Dengan mobil khusus, Gatotkaca dan Antareja menuju kediaman Panglima Tertinggi Puntadewa. ”Lapor boz! Ini agak nyolowadi, Rujak Polo, Sarotama, Lading

Mustika, dan Kunto Wijayandanu raib entah ke mana,” ujar Antareja sambil

kembali meneliti catatan. ”Lha terus yang barusan di breaking news?” selidik Puntadewa. Gatotkaca hanya nyengir kuda.

Puntadewa ambil langkah cepat, dikontaknya Jimat Kalimasada untuk mendeteksi keberadaan senjata-senjata itu dan membawanya kembali. Dengan permadani terbang Jimat Kalimasada melesat.

Sementara jauh di pinggiran Ngamarta, sosok tinggi besar Rujak Polo terlihat memimpin sesama rekan persenjataan. Rujak Polo dengan emosi tinggi menegaskan bahwa ini tidak bisa didiamkan terus menerus. Juragan mereka terlalu asyik bercuap-cuap di muka ribuan pendukung demi kursi Ngamarta Satu. Para juragan harus diingatkan bahwa mereka masih punya gegaman hasil lelaku me­reka yang perlu dijamasi juga. ”Ato katakan good bye sekalian, priben?” ujar Ru­jak Polo di akhir cerita.

Senjata-senjata itu ragu dan saling tatap. Tanpa keputusan yang jelas, peserta rapat bersenjata membubarkan diri. Panah Sarotama, senjata Arjuna Berbudi dengan kaca ray ban, berbalut tuxedo plus dasi yang serasi, ditemani senjata Srikandiwati, yaitu Lading Mustika yang lincah lenggak-lenggok seksi.

Mereka berjalan ke arah Tanah Abang, tempat di mana Arjuna Berbudi cuap-cuap di depan publik pendukungnya. ”Apa pun yang terjadi, perjuangan tetap harus dilanjutkan,” lantang Arjuna Berbudi semangat.

Dari samping podium, Sarotama utik-utik seragam Arjuna Berbudi yang hanya cuek kibas-kibaskan ujung kainnya. ”Boss.. nih Sarotama. Masa forget, sich?” bisik Sarotama.

Dasar Kunto Wijayandanu, ikut ngutik-ngutik dari celah bawah podium yang bolong. Sarotama dari balik kaca matanya melotot marah. Disikutnya Kunto. Kunto sedikit melengoskan badannya, mendarat di bokong Arjuna.

Lama kelamaan Arjuna Berbudi terganggu dan langsung mencengkeram senjata itu. Arjuna sesaat mengawasi Kunto Wijayandanu dan di-sibrat-kan ke lantai. Jatuhnya Kunto langsung dipapas tendangan kuat kaki Sarotama. Saling balas pukulan pun terjadi. Ada darah yang memercik, Lading Mustika mbli­rit ketakutan.

Lading Mustika lari terengah-engah sampai Hall Senayan City. Dari jauh, diamatinya Srikandi Berwibawa paparkan program di tengah ribuan perempuan. Lading Mustika pelan jalan menyeruak di tengah barisan. ”Perempuan yang baik ya seperti saya, capres yang mudheng harga cabe kriting, minyak tanah, pokoknya komplet,” suara Srikandi.

Hati Lading Mustika agak sedikit gamang melihat Srikandi dalam orasinya terus mengacung-acungkan pisau produk baru yang tajam tur anti karat sepanjang pemakaiannya.

Aksi potong bawang rame-rame pun dimulai. Wujud simbolisasi ekonomi kerakyatan, bahwasannya sebuah negara diibaratkan rumah. Salah satu nyawa dari rumah adalah tetap ngebul-nya dapur. Suara itu selalu keluar dari corong, coba menghipnotis semua perempuan yang hadir. ”Bunda Srikandi, saya Lading Mustika. Jangan lupain yang lama, dong Bun,” ujar Lading Mustika tepat di sisi telinga Srikandi.

Cek kemek, Lading Mustika cepat dicengkeram Srikandi dan langsung dibanting. Lading Mustika nangis sejadi-jadinya membelah kerumunan. Di pinggiran, dua sahabatnya yang telah akur, Sarotama dan Kunto menyambutnya. ”Kiranya, juragan telah lupa dengan kita,” ucapan Sarotama diiyakan Lading Mustika.

Tidak demikian dengan Kunto yang dengan tegas menolak semuanya. “Wow, beda dengan JK. Jendral Karno gak seperti itu,” tegas Kunto.

Sementara, di semenanjung Nanggroe Aceh Darussalam. JK alias Jendral Karno dalam balutan busana Aceh, berorasi di tengah-tengah eks korban tsunami. ”Bagaimana pun, tangan saya lebih cepat turun pada waktu itu, kita atasi bareng” teriak Jendal Karno.

Dengan jumawanya, tangan JK selalu memegang hulu Rencong dan sesekali mengacungkannya untuk menyemangati. Sekali waktu tepat Rencong lengah, Kunto Wijayandanu melepaskan pukulan maut. Rencong memapas dengan auranya, pukulan Kunto Wijayandanu mbalik menyerang dirinya, dadanya hitam legam.

Hasil jerih payah laku tapa yang dulunya dilakukan untuk kemaslahatan rak­yat Ngamarta sekarang tergantikan dengan sesuatu yang nisbi. Jimat Kalimasada merengkuh ketiganya naik ke permadani terbang, atas permintaan mereka diturunkan pada perkampungan-perkampungan yang masih asri dan gu­yub rukun. ”Kembalilah menjadi pusaka rakyat dan mengayomi,” bisik Jimat Kalimasada. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 210 other followers

%d bloggers like this: