Karno Tanding 4/7 Kini giliran Basukarno

Kini giliran Basukarno

Bau amis kabar tewasnya Dursasana seamis darahnya yang mengalir, menerpa menusuk tembok gapura pasanggrahan bulupitu. Jagad dirasakan runtuh oleh Doryudono begitu mendengar khabar tewasnya adinda tersayang, Raden Dursasana. Otot tulangnya terasa dilelesi, Duryudona roboh seketika tidak kuat menahan diri dan emosi, pingsan. Sangkuni hanya bisa mengaduh dan mengeluh. “Sabar anak prabu….., ini cobaan dari Yang diatas yang akan memenangkan kita dalam perang tanding ini…”. Adipati Karno diam seribu basa. Dalam batin dia sudah merasa hal ini akan terjadi, satu per satu saudara Kurawa akan gugur dan diujungnya nanti Kurawa akan kalah. Hanya karena darma kasatrian dan keteguhan memegang komitmen dan janji sajalah yang membuat adipati Karno mendukung Kurawa, meskipun dia tahu mereka akan binasa. Tapi bagi Karno, hidup tidak hanya di dunia saja. Darma bakti sebagai satria lebih dari sekedar kemenangan dan keseangan duniawi.

Prabu Salya, mungkin dalam hatinya tersenyum kecut. Kematian Dursasana tidak berarti apa – apa buatnya. Dia membantu Kurawa hanya karena mereka adalah menantunya. Dirasa tidak sepenuh hati dan tulus sokongan dan bantuan yang diberikannya. Kalau tidak karena Dewi Banowati putri kesayangannya, mustahil rasanya Sang Raja ada di sini menemani Kurawa. Bahkan, kemungkinan dendam dan rasa syukur sedikit membuncah di dadanya demi dilihatnya jasad terkoyak Sang Dursasana. Orang yang menghinakan putri kesayangannya beberapa saat yang lalu.

Citrakso, Citraksi, Citragada, dan para Kurawa yang lain. Entah apa yang dipikirkan mereka. Mereka hanya anut grubyuk saja kemana angin mengalir, ke situlah mereka akan condong. Hanya karena kakaknya ingin perang, mereka ikut perang. Namun di antara mereka terucap juga kekesalan, penyesalan, dan umpatan meskipun tertahan. ”Ini gara – gara paman Sengkuni, kalau tidak karena bujukan paman Sengkuni, Kakang Duryudono tidak akan menantang perang. Dan kakang Dursasana tidak akan mati sia – sia dan dihinakan seperti ini”. Yang lain menyahut ”Kamu diam lah…ini salah kita sendiri. Mengapa kita semua seperti kerbau dicocok hidung. Kita tidak pernah sekalipuan mau berpikir sendiri, nasip kita kita serahkan sepenuhnya kepada Kakang Duryodana dan Paman Haryo Syuman. Salah sendiri mengapa kita kosongkan otak kita dari penderitaan berpikir dan kita penuhi dengan kesenangan – kesenangan duniawi sementara. Selama ini kita hanaya diam, selama ini kita hanya menonton, selama ini kita hanya mengangguk karena kita terlalu kenyang. Jadi sudahlah…kita tidak akan bisa mengembalikan bubur menjadi nasi…”

Untuk beberapa saat susana gaduh di Bulupitu. Sebagian besar berusaha membuat Prabu Duryodono siuman. Yang lain masih menangis meratapi apa yang baru mereka alami. Tidak sedikit juga yang sudah bebal otaknya, cuek, dan masa bodoh. Apa yang terjadi terjadilah.

Duryudono pun perlahan siuman dari pingsan dan kekagetannya. Beberapa saat dia berusaha menguasai diri dan keadaan. Setelah semuanya dirasa nyaman, dia mulai berucap “Wahh…..Dursosono mati…Terang saja..yang dilawan Wrekudoro yang bukan musuhnya. Ini yang goblok adalah orang – orang para jago Hastina pura. Mana para jago itu, yang katanya sakti mandraguna??? Mengapa membiarkan anak kemarin sore melawan Wrekudara…..? Tidak ada gunanya Hastina memelihara para senopati dan pinisepuh yang tidak berguna seperti itu. Yang mereka pikirkan hanya perut dan kesenangan pribadi. Ya sudah kalau para jago dan agul – agul astina ini tidak ada yang berani menjadi senopati menghadapi Pandawa, minggir semua……….Paman Sangkuni siapkan gada senjataku, gajah tungganganku..Aku sendiri yang akan melabrak pandawa dan menjadi senopati Hastina…”

Sangkuni, Patih Hastina itu sudah tidak bisa berfikir lagi. Otaknya buntu, yang bisa dikatakan hanyalah ”Sendika sinuwun, segera kami siapkan..”. Sebenarnya dia tidak paham apa yang dikatakannya itu.

Adipati Karno menyela “Adi Prabu…mohon maaf saya menyela matur yayi. Kalau saya rasakan, jelas apa yang Adi Prabu maksudkan. Adi prabu menyindir saya !!!. Adi Prabu memang tidak secara jelas menunjuk muka saya, tetapi buat orang yang sudah tua seperti saya ini harusnya tahu apa yang Adi Prabu maksudkan. Kelihatannya Adi Prabu menunjuk utara, tetapi sebenarnya terkena selatan. Adi prabu sedekap bersilang tangan, sebenarnya bermaksud ngawe – ngawe menyeru kepada saya. Adi Prabu pasti tahu siapa Basukarno itu ? Basukarno adalah saudara pandawa seibu dari Ibu Dewi Kunti. Jadi di tubuh Basukarno ini mengalir darah yang sama dengan darah adik – adik saya Pandawa. Daging di tubuh adipati Karno ini, juga irisan dari daging adik – adik saya pandawa. Tetapi adi Prabu…Mengapa dalam perang besar baratayuda jayabinangun ini saya ada sini ? Mengapa tidak di padepokan pandawa ? Karena dari dulu Adipati Karno memegang janji memenuhi komitmen. Saya tahu dari saya bayi sewaktu diasuh bapak – ibu angkat saya sampai dengan gerang gaplok seperti ini udara yang saya hirup adalah udara hastina, air yang saya minum adalah air hastina dan bumi di mana Karno berpijak adalah tlatah Hastina pura. Oleh karena itu Adi Prabu….., Karno tidak akan lari dari janji yang pernah Kakang ucapkan sewaktu tanding panah masa remaja dulu. Jadi adi prabu, sejatinya Karno diam disini karena sedang menunggu titah adi prabu kapan saya harus ka palagan. Adi prabu, bukan watak Karno untuk menonjol – nonjolkan diri untuk meminta jabatan dan kekuasaan. Begitu pula, bukan watak Karno untuk mengagulkan diri dan berkoar – koar siap menjadi senopati. Karena Karno tahu aturan perang, masing – masing pihak mempunyai pimpinan yang wajib diikuti. Dan pimpinan itu di sini adalah paduka. Maka, sekali lagi sebenarnya Kakang menunggu dengan penuh harap kapan saya diperintahkan untuk menjadi senopati perang ini ??!!!. Karena yang saya tunggu – tunggu tidak juga saya dapatkan, maka ijinkanlah saya saat ini juga maju perang menjadi senopati Hastina yayi..”

Mendengar apa yang diutarakan Basukarno, Duryudono serasa mendapat siraman air segar grojogan sewu. Segar dan lega rasanya. Sebenarnya dari banyak apa yang diucapkan Basukarno, tidak banyak yang diperhatikannya. Entah karena tidak terbiasa mendengar atau entah karena kepalanya sudah bebal karena permasalahan perang yang dihadapinya ini. Dirangkulnya Basukarno dengan penuh kegirangan.

”Duh kakang Adipati…Tidak terkira rasa gembira saya mendengarkan apa yang kakang sampaikan. Terbukti cinta kakang kepada kami dan negara ini tulus dan suci. Kakang…apa yang Kakang niatkan dan utarakan membangkitkan rasa percaya diri saya menghadapi perang ini. Sebab saya yakin dengan kesaktian dan kelebihan yang kakang punyai, tidak akan ada jago pandawa dan pandawa sendiri yang mampu menandingi Kakang. Dan pada akhirnya Kurawa akan memenangi perang ini dengan gilang gemilang. Kakang……untuk merayakan kembalinya rasa percaya diri ini dan untuk menyemangati Kakang Karno, apa perlu kita adakan jamuan mewah Kakang ??”

”Adi prabu…tidak perlu itu semua adi. Hanya saja kakang mohon ijin pulang sebentar ke Awonggo untuk pamitan dengan istriku, yayi Surtikanti. Satu lagi yayi….saya butuh kusir kereta perang?”

”Baiklah Kakang…, Kusir Hastina banyak….siapa kira – kira yang kakang kehendaki untuk mengendalikan kereta perang Kakang Adipati ???”

”Adi Prabu, sudah menjadi pembicaraan jagad seesinya…Suatu saat jika terjadi perang baratuyad jayabinangun, Basukarno akan perang tanding melawan adikku tersayang ya Arjuna. Dan jika Arjuna perang tanding, maka yang akan menjadi kusir keretanya adalah Raja Agung Dwarawati Prabu Sri Kresna. Oleh karena itu yayi….Kakang inginkan kusir kakang paling tidak yang mempunyai derajad dan keagungan seatara dengan Kakang Prabu Sri Kresna yayi…”

Kaget Doryudono mendengar permintaan Basukarno. Doryudono tahu bukan hanya ada jarak di antara mereka berdua, namun lebih dari itu. Meskipun mereka berdua adalah anak menantu, Prabu Salya masih menyimpan rasa sesak, dendam dan kebencian kepada Adipati Karno. Banyak alasan yang membuat Prabu Salya bersikap begitu. Dari asal – usul Basukarno yang tidak jelas itu saja sudah membuat Prabu Salya memandang sebelah mata kepada menantunya itu. Dianggapnya Karno hanyalah seseorang sudra yang datang entah dari mana. Kemudian ditengah Kerajaan Matswapati mempersiapkan pernikahan agung Dewi Surtikanti dengan Raja Mudah Hastina Pura, Basukarno datang membuat masalah dan mencuri hati calon pengantin perempuan. Terakhir setahun lalu sebelum perang baratayuda jayabinangun, sewaktu Sri Kresna menjadi duta pandawa di pertemuan agung Hastina pura, mereka berdua bersilang pendapat dengan sangat tajam dan hampir saja terjadi adu fisik antara keduanya jika tidak dilerai oleh para pinisepuh.

Prabu Salya juga membatin bahwa, dialah yang dimaksud Basukarno untuk menjadi kusir meskipun tidak secara lansung menyebut namanya. Bisa ditebak, benci, permusuhan dan kekecawaan dirasakannya hatta mendengar ucap Sang Karno. Dianggapnya Basukarno telah -lagi – lagi- merendahkan martabatnya. Dia adalah Raja Agung, penguasa tlatah Matswapati, mengapa kali ini harus menjadi Kusir seseorang yang tidak jelas asal – usulnya. Orang ini menjadi Adipati Awangga hanya karena belas kasihan Ratu Hastina. Meskipun Basukarno adalah menantunya, dalam hatinya masih tidak bisa menerima kehadirannya. Anaknya, Surtikanti, dulu sebenarnya dijodohkan dengan Joko Pitono ya Prabu Kurupati. Tetapi Surtikanti tidak menanggapi cinta Sang Kurupati, sebaliknya cintanya hanya kepada Basukarno yang sewaktu muda menggunakan nama Surya Admaja. Ujung – ujungnya Surya Admaja telah mempermalukan Prabu Salya dan Matswapati seluruhnya dengan memasuki keputren dan mencuri Surtikanti yang sudah menggunakan riasan pengantin, siap naik ke pelaminan dengan calon pengantin pria Joko Pitono.

Tetapi kali ini, Duryudono tidak mempunyai pilihan lain kecuali merendahkan diri di hadapan Adipati Karno dan Prabu Salya. Dia tahu, harapan satu – satunya saat ini adalah Adipati Karno. Setelah Resi Bisma dan Pandita Druna gugur, hanya Karno yang bisa menandingi kesaktian para senopati Pandawa. Maka, kalau perlu menyembah tapak kaki Sang Prabu Salya, itu akan dilakukannya agar permintaan Adipati Karno direstui sang mertua. Jangankan hanya glosoran telapak kaki Prabu Salya, ”pengorbanan” lebih besar dari itu pernah dilakukannya. Dia pernah mengorbankan cintanya untuk Sang Suryaadmaja waktu itu demi mendapatkan dukungan Adipati Karno melawan Pandawa. Waktu itu dia sudah siap naik ke pelaminan dengan pujaan hati Dewi Surtikanti. Namun itu semua persiapan perkawinan yang sedianya disiapkan untuknya rela ditanggalkannya. Semua pengiring, srah – srahan, berupa mas picis raja brana dari calon pengantin pria dialihkan menjadi atas nama Basukarno. Dipersilakannya Suryaadmaja menduduki kursi pelaminan untuk menggantikannya. Dia sendiri pada gilirannya menikah dengan saudara muda Surti Kanti, Dewi Banowati. Tidak hanya itu, diangkatnya dan diberikan kekuasaan atas tlatah Awonggo sepenuhnya kepada Basukarno. Maka kalau sekarang hanya untuk menangis memelas dan memohon agar Prabu Salya menuruti kehendak Sang Karno, akan dilakukkanya.

Dengan bersimpuh, Duryodono merendahkan dirinya dihadapan mertuanya.

”Duh Rama Prabu Salya, saya kira tidak ada lain Raja Agung yang setara dengan Kakang Kresna kecuali Paduka. Oleh karena itu Rama, dengan sangat hamba mohon Rama Prabu bersedia menuruti keinginan Kakang Karno. Rama prabu….jika tidak, lebih baik hamba mati saja Rama….”

”We lah kok begini…..??? Anak prabu, saya ini memang apes. Mempunyai menantu yang kurang susila seperti itu. Bukan penghormatan yang diberikan kepada saya sebagai mertua, eh malah merendahkan martabat dengan menjadikannya kusir kereta perang. Apa seperti itu pantes??”.

”Rama prabu, mohon kesabaran paduka. Jikalau saya juga tidak ada artinya di hadapan Rama, mohon Rama ingat kepada yayi Ratu Banowati…”

”Anak Prabu…..!! Apa Karno itu satrio yang tidak punya mulut ?? Hemm…Mengapa tidak menggunakan mulutnya sendiri untuk meminta kepada Prabu Salya ini ??”

Adipati Karno”Mohon maaf Rama Prabu….Saya ini di Hastina hanya sebatas ngenger, numpang hidup. Tidak pantas bagi saya untuk nglamak menunjuk nama Rama Prabu. Meskipun sudah ngenger, ngenger saya ini jauh dari nyaman. Sudah dari dulu saya tahu, tidak ada pinisebuh dan orang penting Hastina yang senang dengan keberadaan saya. Rama Pendita Druna hanyalah manis di mulut penerimaannya terhadap hamba. Tetapi sejatinya beliau benci dengan Basukarno. Sama saja dengan Pendeta Talkanda Eyang Resi Bisma, sikap baiknya kepada Basukarno tidaklah bulat, namun lonjong tidak utuh. Rama Prabu, hamba ini tahu diri”.

Sekali lagi Duryidono memohon ”Sudah – sudah Kakang Karno,.. Rama Prabu Salya, sekali lagi saya memohon kesediaan paduka Rama, demi saya dan Ananda Banowati…”

”Hmmmm…..ya sudah..Karno, aku bersedia menjadi kusirmu di palagan perang. Tetapi meskipun aku kusir, jangan sekali – kali kamu memerintah aku nantinya..”

”Baik lah Rama Prabu……”

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 216 other followers

%d bloggers like this: