Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong

Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran

Pengantar kultural, dan aspek-aspek pragmatik lainnya.
Ia tumbuh alami di desa-desa pewaris dan
ayang Kulit gaya Jawa Timuran adalah
pelestari tradisinya sesuai dengan dinamika
sebuah seni pergelaran lakon yang
dan tataran pengetahuannya.
mempergelarkan lakon-lakon atau
Tokoh Semar dalam kehidupan seni
cerita dari wiracarita Ramayana dan
pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran
Mahabharata, sama halnya dengan seni
memiliki kedudukan dan fungsi yang penting
pergelaran wayang kulit di daerah lain (Jawa
dan agak berbeda dibandingkan perannya
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
dalam dunia pergelaran wayang Jawa
daerah lainnya). Secara geografis, tradisi
Tengahan dan Yogyakarta. Melalui tokoh
pedalangan Jawa Timuran berada di dalam
Semar, kiranya dapat dipahami bagaimana
wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara di
konstruk sebuah lakon dipergelarkan dan
sekitar wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik,
bagaimana lakon diberi makna atau
Mojokerto, sebagian wilayah Kabupaten
dikomunikasikan kepada publik. Sebaliknya,
Lamongan, dan sebagian wilayah Kabupaten
publik menghayati dan menangkap pesan
Pasuruan. Di wilayah Malang, terdapat tradisi
lakon melalui peran tokoh Semar.
pedalangan yang mirip dengan tradisi yang
James T. Siegel (1986), dalam buku
ada di Jawa Timuran, tetapi masyarakat
berjudul Solo in The New Order, mengamati
Malang dan kelompok masyarakat tradisi
dunia wayang kulit gaya Surakarta sebagai
Jawa Timuran menyebut sebagai tradisi
bahan kajian terhadap tatanan sosial,
Malangan. More

Wayang Dalam Fiksi Indonesia

Pengantar terbitnya cerpen panjang Sri Sumarah karya
Umar Kayam, dan beberapa tahun sebelum-
enulisan fiksi atau secara lebih luas
nya Danarto menulis cerpen Nostalgia yang
sastra Indonesia dewasa ini menunjuk-
bersumber pada cerita Abimanyu gugur.
kan adanya kecenderungan untuk
Setelah itu karya-karya berikutnya menyusul
mengangkat budaya tradisional. Keadaan itu
seperti Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi),
sebenarnya sudah terlihat sejak pertengahan
Burung-burung Manyar dan Durga Umayi
tahun 50-an walau belum seintensif sekarang. More

Silsilah Wayang Indonesia

Membayangi Sejarah Bangsa

Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap, hatur ning wang tresneng wisaya malaha tan wihikana, ri tatwan jan maya sahan-haning bhawa siluman. (Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara. Yang melihat wayang itu umpamanya orang yang bernafsu keduniawian yang serba nikmat, mengakibatkan kegelapan hati. Ia tidak mengerti bahwa semua itu hanyalah bayangan seperti sulapan, sesungguhnya hanya semu saja).
More

Wayang Kulit

Pertunjukan wayang kulit telah dikenal di pulau Jawa semenjak 1500 SM. Semasa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit, wayang mencapai puncaknya seperti tercatat pada relief di candi-candi serta di dalam karya-karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Tantular dan lain-lain. Epos Ramayana dan Mahabarata yang asli berasal dari India, telah diterima dalam pergelaran wayang Indonesia sejak zaman Hindu hingga sekarang. Wayang seolah-olah identik dengan Ramayana dan Mahabarata.
More

Wayang Ensiklopedi Kehidupan

Walaupun kita hidup pada era teknologi informasi namun sebenarnya wayang masih berperan dalam menjelaskan fenomena-fenomena modern, karena dalam ceritera wayang mengandung ajaran moral yang sifatnya universal dan berlaku sepanjang jaman. Bahwasanya wayang juga mengajarkan kita untuk mengekang hawa nafsu menahan dahaga , lapar dan agar “tapabrata” yang diartikan bukan untuk lari dari dunia nyata lalu hidup menyepi di pantai dan merendam diri di tempuran sungai. Tetapi dimaksudkan agar manusia tidak rakus, tidak menempatkan yang bersifat materiil di atas segala-galanya.
More

Wayang dan Negara

Sebuah Tinjauan Simbolik Ideologi-Politik[1]

A. Pendahuluan
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu tiada rasa jera untuk senantiasa membicarakan wayang dari masa ke masa, baik dalam kesempatan diskusi, seminar, kongres, terbitan buku, majalah, koran dan sebagainya. Ini dilakukan karena pengetahuan wayang yang demikian luas menarik untuk dibicarakan dan memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat, baik di Indonesia maupun mancanegara. Nilai-nilai kehidupan yang tergambar dalam wayang terbukti dapat dipergunakan sebagai renungan dan referensi hidup berbangsa dan bernegara.

Wayang dalam pengertian “bayang-bayang” memberikan gambaran bahwa di dalamnya terkandung lukisan tentang berbagai aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan; meski dalam pengertian harfiah wayang merupakan bayangan yang dihasilkan oleh “boneka-boneka wayang” dalam seni pertunjukan (Darmoko, 1999:1).
More

Wayang Cina di Indonesia

SEBAGAI WUJUD AKULTURASI BUDAYA DAN PEREKAT NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA1

1. Pendahuluan

Sejarah kehadiran bangsa Cina di Nusantara berkembang selama beberapa abad di dalam suatu konteks budaya yang reseptif dan menguntungkan, sebelum berubah arah sama sekali pada abad yang lalu, sebagai kelanjutan dari perkembangan baru di dalam politik kolonial. Golongan etnis Tionghoa di Asia Tenggara telah dicap sebagai ‘minoritas dagang’, seakan-akan mereka tidak mempunyai budaya ataupun sastra. Sesungguhnya hal ini menyesatkan, karena orang-orang Tionghoa ini tidak saja memiliki karya-karya sastranya sendiri dalam bahasa Tionghoa, tetapi juga dalam bahasa-bahasa setempat. Di Indonesia umpamanya, karya-karya sastra orang Tionghoa cukup mengesankan. Hal ini teristimewa demikian dalam kaitannya dengan karya-karya mereka dalam bahasa Melayu (atau bahasa Indonesia), bahasa Jawa, Bahasa Bugis, atau bahasa daerah lainnya di Nusantara.
More

WAYANG

Pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan juga dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.
More

Titik Singgung Wayang dan Keris

Dunia pewayangan tanpa sastra, karawitan, batik, candi, pertanian, falsafah, kesaktian dan keris tidaklah lengkap; dan juga tidak mungkin terwujud sebuah pakeliran yang agung.

Peranan sastra dan karavvitan sudah jelas, sedangkan unsur batiknya dimanifestasikan baik secara wantah maupun tergubah dalam pakaian wayang (wayang orang, golek dan kulit). Lebih dari pada itu, bentuk manifestasi visuaInya pun masih dilengkapi lagi dengan narasi oleh Ki Dalang yang berupa janturan dan pocapon, antara lain berbunyi : punapa to busana nira Sang Noto ing Ngastina … dan seterusnya.
More

Tinjauan Tentang Wayang Kulit

Wayang kulit adalah sebagian dari produk seni tradisionil klasik, yang secara sadar dikembangkan secara konsepsionil. Konsep ini kemudian berakibat adanya perumusan seni yang kemudian dipertahankan kelestariannya oleh pencintanya. Konsep tersebut dibuat oleh orang yang biasa kita sebut dengan istilah “empu”. Empu-empu ini merupakan orang yang dekat dengan orang yang mempunyai kekuasaan, misalnya raja-raja. Selain itu empu juga seorang yang menurut istilah sekarang disebut “all round”. Mumpuni dalam hampir segala bidang, dia seorang sastrawan, ahli politik, ahli hukum, ahli siasat, ahli pandai besi. Contohnya Empu Gandring.
More

Sistem Filsafat Jawa

Tulisan dr. Abdullah Ciptoprawiro dalam buku Filsafat Jawa menjadi sangat penting karena didalamnya merumuskan adanya sistem filsafat jawa. Beliau melihat pola-pola pemikiran di Jawa dari jaman ke jaman, mulai masa pra-sejarah, sampai masa kemerdekaan Indonesia terdapat pola-pola universal yang mendasari filsafat jawa. Beliau sampai pada kesimpulan bahwa pola universal itu adalah usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan atau kasunyatan. Oleh karena itu, pada era reformasi, dan demokratisasi pola-pola yang universal itu bisa dipastikan tetap ada.
More

Simpingan Dan Makna Keseimbangan

Penataan wayang simpingan kecuali mempertimbangkann besar kecilnya ukuran serta pengelompokan wayang, juga memperhatikan bentuk keseimbangan. Seperti yang dikemukakan A.A.M. Djelatik, bahwa sudah menjadi sifat alami manusia dalam menempatkan dirinya terhadap alam sekitarnya atau lingkungan hidupnya yang menghendaki keseimbangan.
More

Serat Ramayana

Serat Ramayana ini berbahasa jawa kuna dan banyak sarjana Belanda yang meneliti tentang umur serat Ramayana. Seperti DR.W.F. Sruttermheim (Die Rama –Legenden). Beberapa pendapat dapat ditarik kesimpulan bahwa Serat Ramayana kira-kira dibuat ketika masa pemerintahan Prabu Dyah Balitung , raja agung yang menguasai tanah jawa, yaitu jawa tengah dan jawa timur dan pusat pemerintahannya ada di Mataram (kira-kira 820-832) Caka. Pendapat ini berdasarkan kepada sejumlah keterangan yang ditemukan di Jawa, baik tertulis di batu maupun di tembaga.
More

Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII

Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII yg terdiri dari 37 jilid berisi 177 lakon dan terbagi 4:
1. Cerita dewa (7 lakon)
2. Cerita Arjuna Sasrabahu ( 5 lakon)
3. Cerita Ramayana (18 lakon)
4. Cerita Pendhawa Kurawa (147 lakon)
More

Seputar Wayang

Pertunjukan wayang kulit pada awalnya adalah pertunjukan bayangan. Penonton hanya melihat boneka wayang yang dimainkan dalang. Istilah bayangan itu lama kelamaan menjadi wayang. Hal demikian dikemukaan oleh Hazeu, bahwa kata wayang dalam bahasa jawa berarti bayangan. Bayangan itu dinentuk oleh lampu blencong yang selalu bergerak, maka banyangan tidak tetap, lalu lalang, samar-samar dan remang-remang. Oleh karena itu wayang kulit yang menghasilkan bayangan (wayangan) dinamakan wayang (1979:50-51).
More

Sastra Pedhalangan

Sastra pedalangan adalah rekabahasa dalang dalam pakeliran atau pergelaran wayang. Rekabahasa dalang tersebut adalah murwa atau pelungan, nyandra janturan dan pocapan, suluk, antawacana, sabetan, suara, tembang, lakon, dan mantra.

Murwa

Suluk pembuka pakeliran wayang, dalam pedalangan Jawa Timur dikenal dengan istilah pelungan, di Jawa Tengah dikenal dengan istilah ilahengan, dan di Jawa Barat dikenal dengan istilah murwa. Di bawah ini adalah contoh murwa pendek:

Kembang sungsang binang kunang
Cahaya nira kadya gilang gumilang
Sedangkan contoh murwa panjang seperti di bawah ini:
Adam adam babuh lawan
Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya
Dangiang wayang wayanganipun
Perlambang alam sadaya
Semar sana ya danar guling
Basa sem pangangen-angen
Mareng ngemaraken Dzat Kang Maha Tunggal
Wayang agung wineja wayang tunggal
Wayang tunggal
Nyandra
More

Perkembangan Seni Pewayangan

I

Setelah saya konfirmasikan kepada panitia, judul makalah ini saya terima dan gunakan sesuai dengan permintaan DPH SENA WANGI (Dewan Pimpinan Harian SEKRETARIAT NASIONAL PEWAYANGAN NASIONAL). Ada kesan (mudah-mudahan tidak benar) bahwa wayang bukan teater sehingga konsep seni teater diharapkan bisa memberi kontribusi terhadap perkembangan seni pewayangan.
More

Pakeliran Purwa Dalam Budaya Jawa

Wayang kulit purwo (pakeliran purwo) merupakan bentuk berkesenian yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini. Seni pertunjukan pakeliran purwo sebagai salah satu bentuk kesenian Jawa merupakan produk masyarakat Jawa (Hauser, Arnold, 1974:94). Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang bercerita, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/ irama gamelan, diwarnai dialog yang menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.
More

Misteri Uang Bergambar Wayang

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.
More

Mencari Jiwa Wayang

Abstraksi
“…yang pokoknya, harus mencari jiwa wayang, harus menjiwai wayang…”
-Ki Udreka, October 2004

“…dalang harus dilepaskan diri dari semua pikiran supaya semua perhatiannya
memfokuskan pada tokoh-tokoh wayang…”
-Pak Margiana, October 2004

“… dalang dan wayang adalah seperti keris dan sarungnya… segala sesuatu yang
mestinya bersama akan bersatu kalau bertemu…”
Sarah Weiss, 2003
More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers