Trilogi Pewayangan part 1/3

DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDE BARU

Suatu gejala yang patut untuk diamati dalam masyarakat Jawa – yang punya pengaruh yang kuat dalam masyarakat Indonesia pada umumny a – adalah masih lestarinya budaya “wayang purwo/kulit” biarpun berbagai unsur budaya telah mempengaruhi bangsa Jawa/Indonesia termasuk unsur2 budaya Islam, dan budaya Barat. Bukti yang nyata dari masih besarnya pengaruh budaya “wayang purwo/kulit” ini dengan adanya siaran seminggu sekali di salah satu stasiun TV swasta (yang mendapat sambutan yang sangat positif dari penggemar budaya “wayang purwo/kulit” pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya). Mengingat bahwa budaya “wayang purwo/kulit” merupakan budaya tua yang masih bertahan sampai dengan saat ini yang meminjam istilahnya Alvin Toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai dengan gelombang ketiga yang merupakan abad informasi dengan komunikasi (termasuk Internet) sebagai tulang punggung pendukung utamanya.

Bertahannya budaya “wayang purwo” menjadi menarik mengingat bahwa:
1. “Wayang purwo/kulit” berbasis cerita Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari budaya Hindu dari India.
2. Masyarakat Jawa mayoritas beragama Islam.
3. Cerita dalam “wayang purwo” berbasiskan cerita tentang kerajaan yang raja dan ksatria sebagai focus utamanya yang berarti semangat dalam ceritanya adalah tata budaya feodal.
4. Masyarakat Jawa terpelajar umumnya berbasis pendidikan Barat yang mau tidak mau terpengaruh budaya Barat (mungkin juga terpengaruh sistim pemerintahan dinegara Barat-terutama Amerika Serikat).

Jelas bagi masyarakat diluar Indonesia akan terkejut melihat segala kontradiksi yang mungkin timbul dalam kompleksitas masyarakat Jawa / Indonesia. Oleh karena itu masyarakat diluar Indonesia tidak mungkin bisa menyelami sepenuhnya manusia Jawa /Indonesia tanpa mempelajari lebih jauh pengaruh budaya masa lalu termasuk yang sangat besar pengaruhnya seperti “wayang purwo” (Dalam hal ini penulis sangat kagum kepada Prof. Danys Lombard yang dalam bukunya “Nusa Jawa – Silang Budaya” menyadari betul pengaruh “wayang purwo/kulit” juga tulisan klasik Jawa lainnya seperti Babad Tanah Jawi, Serat Centini, dll. dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini).

Kajian subyektif (opini) kenapa “wayang purwo”masih bisa bertahan sampai dengan saat ini.

Dimasa yang lalu “wayang purwo/kulit” dipergunakan oleh masyarakat Jawa untuk keperluan “ritual” seperti upacara ruwatan (ruwatan adalah upacara yang diadakan untuk menolak bala – sial – yang dikarenakan secara alami seseorang dilahirkan dengan kondisi membawa kearah malapetaka – atau yang dipercaya akan membawa malapetaka – umpamanya: anak tunggal, anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak perempuan dsb.). Upacara lainnya yaitu untuk keperluan keselamatan desa yang setiap bulan Suro (awal bulan tahun Jawa atau bulan Muharam dalam tahun Islam) setahun sekali diadakan upacara pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan cerita “Baratayuda”agar dalam tahun berjalan desa akan diberi panen yang banyak dan keselamatan seluruh warganya (cerita “Baratayuda”, yaitu kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa yang sesama darah Bharata untuk memperebutkan kerajaan Hastina, dianggap cerita yang sakral yang tidak setiap dalang bisa melaksanakan dan tidak setiap saat bisa dipentaskan).

Jelas bahwa wayang tidak lepas dari keseharian kehidupan manusia Jawa dimasa lalu (yang juga masih hidup di pedesaan masa kini) dalam ritus kehidupan sehari-hari. Dipercaya bahwa budaya wayang sudah ada bahkan sebelum pengaruh agama Hindu datang dengan bukti adanya unsur panakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang tidak ada dalam cerita asli baik Ramayana ataupun Mahabharata. Walaupun basis cerita wayang adalah Ramayana dan Mahabharata tetapi dalam kenyataannya cerita yang dibawakan sudah bercampur / dirubah dengan cerita yang diperhalus dan disesuaikan dengan budaya Jawa, sebagai contoh :

1. Dewi Drupadi dalam cerita Mahabharata yang asli bersuami lima yaitu semua Pendawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dalam pewayangan diceritakan adalah hanya istri Puntodewo/Yudistira.
2. Gatutkaca adalah anak Bima yang raksasa di Mahabharata dan hanya muncul pada saat perang Baratayuda, dijadikan idola pahlawan yang gagah perkasa dalam pewayangan dengan berbagai cerita kesaktiannya dengan ajian2 seperti Brajamusti yang sampai saat in masih bisa dipelajari gikalangan masyarakat Jawa.

3. Dalam Mahabharata tidak diceritakan bahwa masing2 Pandawa Lima diberi daerah kekuasaan, didalam pewayangan diceritakan bahwa Arjuna punya teritori namanya Madukara, Bima dari Jodipati, Gatutkaca dari Pringgodani dsb.
Dari indikasi diatas jelas bahwa cerita Ramayana dan terutama Mahabarata telah diberikan kandungan lokal sedemikan rupa sehingga mengalami internalisasi dan sangat dekat dengan masyarakat Jawa, termasuk memasukkan unsur panakawan didalamnya. Bahkan dibeberapa tempat di Jawa diberi nama tempat yang mengesankan se-olah-olah kejadian cerita Mahabharata itu memang betul2 terjadi ditanah Jawa (sebagai contoh didaerah yang sekarang dijadikan waduk Sempor, Gombong, Jawa -Tengah, nama asli desa tersebut adalah Cicingguling yang oleh penduduk setempat dipercaya sebagai tempat dimana Bima berperang melawan Duryudana dengan menghantamkan gadanya dibagian pahanya sehingga Duryudana terpaksa menyisingkan kainnya/celananya – bahasa jawanya menyisingkan adalah cicing – dan berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tersebut diberi nama Cicingguling).

Ketika agama Islam datang ke Indonesia, bahkan oleh salah satu wali songo (sembilan wali) – Sunan Kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata, sebagai contoh: Puntodewa/Yudistira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat/pusaka yang bernama “Jamus Kalimasada” yang merupakan pegangan/lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat” yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan “tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya”. Konon diceritakan Puntadewa belum bisa meninggal sebelum ada yang bisa menjabarkan jimat “Kalimasada” yang kemudian dalam pertapaannya bertemu dengan Sunan Kalijaga di hutan Ketangga yang menjabarkan “Kalimasada”sebagai “Kalimat Sahadat”dan yang meng-Islamkan Puntodewa/Yudistira yang kemudian bisa menemui ajalnya dalam Islam (apabila dipikirkan secara “rational”tentu saja tidak masuk akal karena Puntadewa bagaimanapun adalah produk dari budaya Hindu tentu saja ini adalah kepandaian dari wali songo untuk meng-Islamkan masyarakat yang pada saat itu masih mayoritas Hindu). Dalam hal seberapa besar Islam betul-betul secara effektif mempunyai pengaruh yang besar dalam “wayang purwo / kulit” masyarakat Islam masih banyak meragukan, oleh karena itu ada sebahagian masyarakat Islam bahkan mengharamkan “wayang purwo/kulit” yang jelas nafas Hindunya atau Jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas Islamnya, lepas dari kenyataan bahwa “wayang purwo/kulit” masih tetap digemari masyarakat Jawa yang Islam maupun yang bukan Islam.

“Wayang Purwo/Kulit” seperti juga namanya sebagai “wayang” yang juga bisa berati “bayangan”ataupun”simbol” , bisa saja sebagai sekedar tontonan buat masyarakat awam, bisa juga memang sangat sarat dengan “simbol-simbol” yang secara luas bisa diterjemahkan menurut selera ataupun peresapan dari masing2 pengamat maupun penggemar “wayang purwo/kulit”. Peresapan dan penangkapan arti “simbol-simbol” dalam cerita “wayang purwo/kulit” begitu luas jangkauannya sehingga bisa dijadikan suatu sumber yang tak terbatas dalam interpretasinya sebagai suatu refleksi kehidupan seseorang sebagai individu, bermasyarakat, bernegara, bahkan juga hubungan dengan Tuhannya tanpa batasan agama besar yang ada (Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha).
Peresapan dan penangkapan “simbol-simbol” dalam “wayang purwo/kulit” hanya dimungkinkan kalau seseorang betul betul memahami dan meresapi cerita-cerita dan tokoh-tokoh dalam dunia “pewayangan”.

Beberapa contoh “wayang” sebagai refleksi atau simbol2 dari tokoh ataupun ceritanya :
1. Dalam salah satu artikel diharian Kompas beberapa tahun yang lalu (penulis lupa siapa yang menulis) dikatakan bahwa Parikesit(Parikesit adalah cucu Arjuna yang akhirnya menjadi raja di Hastinapura) adalah simbol dari “penyangkalan /perlawanan manusia terhadap kematian”kenapa dikatakan begitu : Diceritakan bahwa Parikesit sedang berburu ditengah hutan dan tersesat dari pengiringnya. Kemudian dia bertemu dengan seorang brahmana yang sedang bertapa bisu. Dia menanyakan arah keluar dari hutan tersebut yang didiamkan saja oleh brahmana tersebut maklum dia baru bertapa bisu. Parikesit timbul marahnya karena sebagai raja yang sangat dihormati, pertanyaannya tidak dihiraukan oleh seorang brahmana.

Kebetulan didekat situ ada bangkai ular, dengan kemarahan yang sangat Parikesit mengalungkan bangkai ular tersebut kepada brahmana tersebut. Karena merasa diperlakukan diluar kewajaran akhirnya brahmana tersebut menyatakan kekecewaannya terhadap sikap raja yang sangat angkuh tersebut dan mengutuk bahwa dalam waktu empat puluh hari ini Parikesit akan mati digigit naga Tatsaka (kalau tidak salah nama). Nasi telah menjadi bubur biarpun Parikesit meminta maaf, kutukan sudah diucapkan. Sepulangnya kekerajaan dia memerintahkan membuat pangggung yang tinggi sehingga dia bisa bersiap-siap apabila naga Tatsaka datang dia bisa melihat dan melakukan perlawanan-dan dia sangat yakin akan kesaktiannya. Sampai dengan menjelang hari terakhir tidak kelihatan tanda-tanda ada naga yang datang, dan Parikesit menyimpulkan bahwa kutukan brahmana tersebut mungkin tidak akan berlaku. Sampai pada saat2 terakhir pada hari yang keempatpuluh tersebut datang seorang pendeta yang membawa persembahan berupa buah jambu, Parikesit memerintahkan untuk menerima perembahan tersebut.
Ketika raja menerima buah jambu tersebut,jambu tersebut ada ulatnya, tiba-tiba Parikesit tertawa terbahak – bahak: “Hoi, rupanya ini yang disebu naga Tatsaka, yang tak lebih hanya seekor ulat” dan kemudian berubahlah sang ulat menjadi naga Tatsaka yang menggigit sang Parikesit dan wafatlah sang raja. Kenapa dikatakan bahwa Parikesit simbol dari “penyangkalan/perlawanan manusia terhadap kematian ?” Parikesit tidak mau menerima begitu saja kematian yang dipastikan untuknya dengan membuat panggung dan pertahanan diri, begitulah simbol dari manusia pada umumnya bahwa manusia tidak akan menyerah begitu saja dengan takdir kematiannya.
2. Dalam cerita “Sumantri ngenger” (Sumantri mengabdi pada raja) bahwa Sumantri adalah simbol “pencaharian manusia akan Tuhannya”.
Diceritakan bahwa Sumantri adalah anak seorang pertapa yang dianjurkan oleh orang tuanya untuk mengabdi kepada raja Arjuna Sasra Bahu yang konon adalah titisan Wisnu (Wisnu adalah Tuhan di agama Hindu). Pada saat mulai mengabdi kepada raja, Sumantri diberikan pekerjaan untuk memerangi musuh kerajaan, dengan kesaktiannya segala musuh bisa dimusnahkan dan kembali ke kerajaan dengan membawa kemenangan.

Pada saat dia kembali dengan kemenangan Sumantri berpikir, kenapa tidak raja Arjuna Sasra Bahu sendiri yang berperang, timbul keraguannya terhadap kemampuan dan kesaktiannya rajanya dan timbul kesombongan dalam dirinya dengan keberhasilanya. Oleh karena itu dia tidak mau menghadap raja, dan meminta raja untuk menjemputnya dan menantang raja untuk mencoba kesaktiannya. Arjuna Sasra Bahu sebagai titisan Wisnu tahu apa yang terjadi dan mendatangi Sumantri dalam wujud Wisnu yang sebenarnya yang dilambangkan sebagai Raksasa yang luar biasa besarnya (Tiwikrama) yang akhirnya Sumantri tidak berdaya menghadapinya.

Sumantri adalah lambang kesombongan manusia dalam keberhasilannya tapi juga lambang pencarian/penemuannya kepada Tuhannya bahwa apapun yang diperbuat manusia dimuka bumi tidak akan bisa terjadi tanpa kehendakNya.
Jelas dalam dua contoh diatas bahwa “wayang purwo /kulit” sebagai simbol menyelam jauh dalam inti permasalahan manusia yang sangat universal dan hidup dari waktu kewaktu yaitu :

a. Masalah etika dalam pergulatan manusia mencari nilai antara baik dan buruk.
b. Masalah hubungan manusia dengan alam dan penciptaNya.
c. Masalah hubungan manusia dengan kekuasaan yang sifatnya fana maupun Yang Mutlak.
Dan alasan diatas itu kenapa “wayang purwo/kulit” masih bisa bertahan sampai dengan saat ini, dikarenakan kandungan simbolik yang tidak akan pernah kering untuk suatu interpretasi yang hampir tak terbatas dalam kebutuhan manusia melakukan refleksi dengan dirinya sendiri, dengan alam sekitarnya, dengan masyarakatnya,dengan negaranya, dengan penciptaNya. Penulis merasa perlu untuk memberikan gambaran umum tentang “wayang purwo/kulit” diatas sebelum memasuki bahasan utama hubungan antara dunia pewayangan dengan kekuasaan orde baru agar pembaca yang tidak punya latar belakang budaya Jawa mempunyai sedikit gambaran untuk bisa mengikuti logika analisa hubungannya dengan situasi kekuasaan saat ini yang tidak bisa lepas dari produk budaya Jawa masa lalu.

Dunia Pewayangan dan Kekuasan Order Baru – suatu refleksi.

Dunia pewayangan tidak akan pernah bisa lepas dengan dunia kekuasaan dan kenegaraan karena pada saat yang paling awal “sang dalang” selalu mulai dengan suatu utopi tentang masyarakat / negara ideal yaitu situasi masyarakat/negara yang “panjang punjung pasir wukir loh jinawi tata tentrem gemah ripah karta raharja “. Panjang berarti termasyhur, punjung – tinggi kewibawaannya, pasir – luas jangkauannnya, wukir-teguh dan kuat,loh-subur, jinawi murah sandang pangan, tata – tertib, tentrem – tenteram, gemah -perdagangan maju, ripah- erba tersedia, karta-aman, raharja – makmur. Yang pada hakekatnya saat ini diterjemahkan sebagai visi bangsa Indonesia untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Dunia pewayangan juga tidak bisa lepas dari dunia kepemimpinan yang ideal, yaitu syarat yang berat untuk seseorang menjadi seorang raja/pemimpin negara karena hanya pemimpin yang ideal bisa mewujudkan masyarakat yang ideal. Salah satu ajaran yang paling umum diceritakan dalam pewayangan syarat pemimipin ideal adalah “hastabrata” atau delapan sikap/laku yang diambilkan dari sifat alam, yaitu pemimpin harus mempunyai sikap :
a. mahambeg mring kismo (sifat bumi): setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja.
b. mahambeg mring warih (sifat air): selalu turun kebawah rakyat dan memberikan kesejukan atau rasa ketentraman kepada semua rakyat.
c. mahambeg mring samirana (sifat angin): ada dimana saja atau bersikap adil kepada siapa saja.
d. mahambeg mring candra (sifat bulan): memberi penerangan yang sejuk dan indah (kebahagian dan harapan).
e. mahambeg mring surya (sifat matahari):memberi sinar hidup keseluruh jagat raya atau sebagai sumber petunjuk hidup.
f. mahambeg mring samodra (sifat laut / samudra): luas, tempat membuang apa saja atau sifat kasih sayang, pengertian, dan kesabaran.
g. mahambeg mring wukir (sifat gunung): kukuh, teguh, tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun rakyatnya.
h. mahambeg mring dahono (sifat api): mampu membakar semangat dan memberi kehangatan atau mampu memerangi kejahatan dan memberikan ketenteraman / perlindungan buat rakyatnya.

Dunia pewayangan juga tidak lepas dari dunia ksatria utama (ksatria dalam artian yang luas adalah seseorang yang mempunyai kemampuan /kesaktian untuk membela kebenaran – dalam artian yang terbatas saat ini bisa berarti ABRI). Karena epic Ramayana dan Mahabharata adalah cerita tentang kepahlawan, ksatria menjadi focus cerita dan kstaria utama selalu menjadi idola penonton “wayang purwo / kulit” yang tokohnya sangat banyak sekali yang bisa dijadikan contoh sifat-sifatnya (Bima, Arjuna, Gatotkaca, Tripama – Sumantri, Kumbokarno, Karna – dsb.) Salah satu yang cukup banyak dikutip adalah “Ajaran 15″ yaitu ksatria utama bersifat:
a. Wijaya : bijaksana dalam berbakti kepada negara.
b. Mantriwira : dengan senang hati berbakti kepada negara.
c. Wicaksana maya : bijaksana dalam berbicara dan bertindak.
d. Matangwan : dikasihi dan dan dicintai rakyat.
e. Satya bakyi prabu : setia kepada negara dan raja.
f. Wakniwak : tidak berpura-pura, mulut dan hati harus satu.
g. Seharwan pasaman : sabar dan sareh – tidak gugup dalam hati.
h. Dirut saha : Jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia.
i. Tan lelana : baik budi dan mengendalikan pancaindra.
j. Diwiyacita : menghilangkan kepentingan pribadi.
k. Masisi samasta buwana : memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia.
l. Sih samastha buwana : setia kepada negara agar rakyat tertib dan makmur.
m.Dinrang pratidina : meninggalkan tindak yang jelek dan mengutamakan tindakan yang baik.
n. Sumantri : menghamba seumur hidup.
o. Hanaya ken musuh : mengorbankan jiwa untuk negara berlandaskan kebenaran dan keadilan.

Dunia pewayangan adalah sarat dengan petuah-petuah perbuatan yang utama sebagai pegangan hidup maupun dalam bertindak baik seseorang sebagai raja / pemimpin, ksatria, pendeta, maupun orang biasa yang intinya adalah pelajaran etika agar seseorang selalu berbudi luhur untuk selalu berbuat luhur dan menjauhi perbuatan yang merusak diri maupun lingkungan sekitarnya dan ini sebetulnya juga inti dari pelajaran keagamaan dan kepandaian “sang dalang” yang menjadi faktor utama agama yang mana atau ajaran etika yang mana yang akan ditonjolkan. Dan etika pedalangan bahwa tidak seorang dalangpun yang akan lebih menonjolkan/memenangkan perbuatan tercela dalam penampilan cerita/lakon yang dibawakan.

Kembali kepada pokok persoalan: seberapa pengaruh dunia pewayangan dalam kehidupan kenegaraan dan kepemimpinan orde baru :

1. Negara/masyarakat ideal :
Visi dari bangsa Indonesia untuk mencapai masyarakat adil dan makmur pada tahun 2020 tidak terlepas dari pengaruh utopi dunia pewayangan. Dalam Mahabharata ada dua negara yang saling berhadapan sebagai pihak yang tercela dan pihak yang patut ditiru yaitu:
Hastinapura – dengan Duryudana sebagai rajanya dan Amartapura-dengan Puntadewa /Judistira sebagai rajanya. Dalam Ramayana negara Alengkadiraja – dengan Rahwana sebagai rajanya dan Ayodya – Ramawijaya sebagai rajanya. Kaitannya dengan negara dalam pewayangan “sang dalang” selalu menceritakan keberadaan negara ideal baik itu di Hastinapura, Amartapura, Alengkadiraja, atau Ayodya. Yang membedakan sifat negara tersebut adalah sifat pemimpin2-nya yang menjadikan ciri negara tersebut bisa dikatakan sebagai negara panutan atau bukan. Adalah tidak bisa memberikan suatu analogi yang tepat dengan mengatakan negara Indonesia menganut utopi Indonesia-Amartapura, Indonesia – Hastinapura, Indonesia Alengkadiraja, atau Indonesia-Ayodya. Karena yang tercela adalah Hastinapura pada saat dipimpin oleh Duryudana (tidak pada waktu dipimpin oleh Panduwinata, ataupun Parikesit)begitu juga Alengkadiraja pada saat dipimpin oleh Rahwana tidak pada saat dipimpin Prabu Somali , ataupun Gunawan Wibisana). Pewayangan telah memberikan simbol yang tepat tentang suatu negara panutan sangat tergantung dari etika dari para pimpinannya, negara adalah negara sekedar suatu wilayah tertentu, kesatuan bangsa tertentu, dan dengan suatu visi utopi tertentu, yang memberikan ciri apakah bisa menjadi negara ideal/panutan adalah pelaku2-nya atau pimpinan2-nya.

Sebagai contoh bahwa “image” Negara tergantung para pemimpinnya seperti Pemerintahan Orde Baru saat ini :
a. Apabila sang pemimpin memberikan kesan-mungkin juga melaksanakan- bahwa menerima komisi berdasarkan jasa2 yang diberikan
berhubungan dengan jabatannya itu adalah sah, semua jajaran dalam pemerintah sampai dengan yang paling rendah tanpa rasa bersalah menerima komisi /uang jasa (padahal untuk pekerjaannya itu ia sudah diberi imbalan gaji)

b. Kalau sang pemimpin menghalalkan anak dan cucunya menjadi pengusaha dengan mendompleng fasilitas ayahnya – bahkan termasuk mendapatkan kucuran kredit dengan mudah dari bank pemerintah untuk pembeyaan proyek2-nya – maka ramai-ramai anak Menteri, anak Gubernur, anak Dirjen, anak Bupati, anak Camat, anak Lurah jadi pengusaha muda dadakan dengan segala fasilitas orang tuanya.

c. Kalau sang pemimpin dengan mudahnya meminta sumbangan kepada konglomerat untuk mendirikan Yayasan yang katanya untuk mempercepat kesejahteraan rakyatnya konon khabarnya yang dikucurkan untuk keperluan sumbangan hanya sebahagian dari bunganya), dan ramai2-lah dalam setiap kesempatan dan segala alasan yang dibuat setepat-tepatnya kalangan pejabat pemerintahan meminta sumbangan kepada para pengusaha (dan pengusaha tidak bodoh karena struktur harga produk yang dijual akan disesuaikan dengan segala pengeluaran tak terduga yang akan membebani konsumen yang kebanyakan adalah rakyat kecil, dan logikanya sebetulnya para pemimpin tersebut secara tidak langsung meminta sumbangan kepada rakyat kecil). Dan pembaca bisa menambahkan sendiri kalau mau – barangkali pemimpin2 mengira bahwa rakyat tidak tahu hal2 tersebut diatas – dan bisa menyimpulkan sendiri bagaimana “image” negara kita yang tercinta Indonesia dengan kelakuan para pemimpin2 Orde Baru dibandingkan dengan tujuan visi negara /masyarakat ideal dalam dunia pewayangan.

2. Pimpinan ideal (seberapa jauh pimpinan orde baru merupakan refleksi pimpinan ideal seperti dalam pewayangan): Adalah kajian yang menarik apabila melihat pimpinan Nasional bangsa Indonesia saat ini (istilah pimpinan disini bisa berarti kelompok dalam kaitan yang luas termasuk pimpinan nasional didalamnya). Apakah kekuasan orde baru adalah refleksi dari Amartapura pada masa kepemimpinan Puntadewa/Judistira ataukah refleksi dari Hastinapura pada masa kepemimpinan Duryudana (dengan tidak ada maksud memberikan garis lurus hitam – putih, setidaknya ciri-ciri utama yang nampak dalam opini penulis).
Adalah menjadi ciri-ciri utama dalam ruang tamu pimpinan2 nasional yang Jawa untuk mempunyai hiasan penyekat ruangan dengan dekorasi tokoh “wayang purwo/kulit” dan umumnya tokoh yang digambarkan adalah tokoh PendawaLima dan Kresna. Ini adalah refleksi positif bahwa yang ditokohkan adalah tokoh yang mempunyai sifat2 kepemimpinan yang terpuji :

a. Yudistira : Sang raja yang konon kabarnya mempunyai darah putih, dengan ciri utama kejujuran dan kesabaran, begitu jujurnya Yudistira sehingga dia dikaruniai Dewata kereta yang tidak merambah bumi. Saat pertama kali, dalam kisah Baratayuda, Yudistira mengucapkan kata yang tidak jujur adalah ketika dia diminta oleh Sri Kresna untuk mengatakan bahwa Aswatama telah gugur apabila ditanya oleh Pendita Durna (ayah Aswatama), padahal yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama. Pendita Durna tidak percaya bahwa Aswatama telah gugur oleh karena itu dia menanyakan ke Yudistira yang terkenal kejujurannya. Yudistira menjawab dengan melirihkan suara Gajah dan menekankan kata Aswatama sehingga memberikan kesan bahwa Aswatama telah gugur dan pada saat itu juga kereta Judistira merambah bumi karena Yudistira tidak lagi sempurna kejujurannya. Yudistira adalah ksatria yang lebih menonjol sifat kependetaannya dan kepemimpinannya sangat dihormati oleh adik2-nya maupun oleh Sri Kresna.
b. Bima/Werkudoro : Jujur, tegas, disiplin, berani karena benar
c. Arjuna : senang bertapa dan menuntut ilmu oleh karena itu sangat sakti
d. Nakula : ahli dibidang pertanian dan kesejahteran rakyat
e. Sadewa : ahli dibidang peternakan dan industri
f. Sri Kresna : bijaksana, ahli strategi, antisipatif oleh karena itu sering dikatakan bisa mengerti sesuatu kejadian yang belum terjadi

Apakah pimpinan2 orde baru yang Jawa pada saat ini memang mengidolakan Pendawa Lima dan Sri Kresna dan kemudian mencoba meniru sifat2 yang terpuji dari tokoh2 tersebut secara konsekwen ? Kalau indikasi yang ada jauh dari sifat2 yang diidolakan dalam gambar wayang yang dipajang diruang tamu pimpinan2 Nasional yang Jawa maka keadaan ini justru suatu sikap hipokrit (ke-pura2-an) yang sangat nyata. Pada saat perang Baratayuda (perang antara Pendawa Lima dan Kurawa yang sama2 masih keturunan Barata) Resi Bisma yang sesepuh dari kedua belah pihak mengingatkan pihak Kurawa tidak akan mungkin menang melawan Pandawa karena di pihak Pandawa ada Yudistira, Sri Kresna, dan Semar. Dan sifat2 nyata dari ketiganya yang merupakan kekuatan suatu negara :

a. Yudistira sebagai raja yang sangat jujur dengan sifat yang “ambeg paramarta berbudi bawalaksana” – ambeg para marta berati murah hati / suka memberi, berbudi – mempunyai budi pekerti yang luhur, bawalaksana – satunya kata dengan perbuatan. Refleksi ini seharusnya yang dipunyai oleh pimpinan yang berada dibidang eksekutif negara kita.

b. Sri Kresna yang sangat adil dan bijaksana sebagai penasehat Pendawa – refleksi dari fungsi lembaga strategis, dewan pertimbangan agung, dan lembaga peradilan yang netral / judikatif.

c. Semar sebagai simbol rakyat yang bisa memberikan suara hati nurani rakyatnya, yang juga sangat menentukan dan didengar oleh rajanya – refleksi dari lembaga perwakilan rakyat /legislatif.

Dari interpretasi simbolik dari dunia pewayangan tidak benar adanya bahwa kita tidak mengenal suatu konsep yang mirip dengan konsep “trias politika”, tidak benar juga kalau kita tidak mengenal oposisi, dalam cerita pewayangan banyak cerita yang Semar dan panakawan sebagai simbol dari rakyat tidak sependapat dengan para Ksatria dan raja yang menyimpang dari budi pekerti luhur yang akhirnya bisa diingatkan kembali (cerita/lakon seperti Jamus Kalimosodo, Petruk Jadi Raja, Semar Barang Jantur, dll.). Dan dalam pewayangan biarpun namanya Dewa, Raja, dan Ksatria mempunyai kelemahan2 yang juga pada saat tertentu mempunyai perilaku yang tercela yang perlu diperbaiki. Justru pewayangan memberikan tempat paling terhormat kepada Semar (rakyat) yang selalu mengingatkan Raja dan Ksatria untuk tetap berjalan pada garis yang lurus dan berbudi luhur. Jelas faktor utama kepemimpinan dalam pewayangan yang dinilai adalah faktor etika yaitu seberapa pemimpin menunjukan keluhuran budi dan bisa membedakan antara baik dan buruk, karena pemimpin yang berkelakuan buruk tentu akan menghasilkan masyarakat yang buruk pula.

Kembali kepada refleksi kepemimpinan Nasional Orde Baru saat ini:

1. Apakah ciri-ciri utama pimpinan Nasional negara Indonesia yang tercinta ini refleksi dari Amartapura dibawah kepemimpinan bijaksana dari Judistira, Sri Kresna, dan Semar? Dan ini secara nyata yang di-idealkan oleh masyarakat Jawa dalam dunia “wayang purwo/ kulit” (dan ini pasti dicita-cita kan oleh pemimpin2 Nasional yang Jawa sebagai pegangan ideal – lepas secara nyata bisa dilaksanakan atau tidak). Dari indikator pengamatan penulis kelihatannya sifat2 kepemimpinan Orde Baru saat ini tidak ada miripnya dengan kepemimpinan ideal Judistira, Sri Kresna, dan Semar.

2. Apakah ciri-ciri utama pimpinan Nasional negara Indonesia yang tercinta ini refleksi dari Hastinapura dibawah pimpinan Duryudana dengan penasehat Patih Sengkuni, Pendita Durna yang banyak tipu muslihat dan mengagungkan angkaramurka? Kalau ini disamakan sifat kepemimpinan Nasional Orde Baru saat ini seperti sifat Duryudana, pasti akan banyak yang marah besar (apalagi kalau dikatakan seperti Rahwana / Dasamuka yang bermuka sepuluh dari Alengkadiraja). Kalau pemimpin2 Orde Baru berani melakukan intropeksi barangkali indikasi ini memang benar adanya mengingat dengan sistim kolusi dan korupsi yang merajalela, yang ukuran materi menjadi lebih utama dari budi yang luhur, yang kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompok melebihi kepentingan rakyat banyak.

Terus terang penulis berhenti sejenak, tanpa terasa mengalirkan airmata – sebagai manusia Jawa – apakah betul sudah sejauh itu penyimpangan yang telah dilakukan oleh manusia yang dipercaya sebagai pimpinan2 Nasional yang Jawa meninggalkan “uger-uger” atau petuah etika Jawa yang dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun diceritakan dalam bentuk pementasan “wayang purwo/kulit” yang merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk mengingatkan manusia, terutama para pemimpinnya memegang teguh etika berbudi luhur. Apakah etika Jawa itu hanya utopi yang sangat sulit untuk dilaksanakan? Atau sekedar kesombongan manusia yang mabuk keberhasilan yang lupa bahwa kesombongan dan keangkara-murka-an akan selalu mencari jalan “karma” nya sendiri dan akhirnya segala sesuatu hal apapun tidak bisa terjadi tanpa izinNya.

3. Ksatria ideal dan dwifungsi ABRI: Sangat menarik untuk dikaji bahwa peranan Ksatria Utama – dalam arti yang terbatas pada saat ini bisa berarti kalangan ABRI – dalam “wayang purwo / kulit” meniru model Ksatria Pandawa Lima terutama yang menjadi tulang punggung dalampeperangan adalah Bima/Werkudoro dan Arjuna. Disamping sebagai panglima perang Bima / Werkudoro juga diberikan teritori yang namanya Jodipati dan Arjuna diberi teritori yang namanya Madukara (Kemungkinan besar pemberian teritori ini pengaruh pada masa Mataram mengingat model Panglima yang merangkap Bupati yang mengelola pemerintahan daerah adalah terjadi pada masa kekuasaan Mataram – dalam cerita asli Mahabharata tidak pernah diceritakan tentang kekuasan teritori dari Bima ataupun Arjuna). Makanya sangat tidak mengherankan kalau pelaksanaan dwifungsi ABRI, banyak kalangan Ksatria / ABRI mendapat jabatan Gubernur, Bupati, Camat dan lain2-nya. Dan kalau interpretasi tentang fungsi rangkap di pewayangan tidak diluruskan kembali, dwifungsi ABRI akan tetap ada selama pengaruh “wayangpurwo/kulit” dalam masyrakat masih ada – dan tetap dianggap suatu kewajaran meniru idola Bima dan Arjuna sebagai Ksatria Utama terpanggil untuk ikutjuga mengelola pemerintahan (walaupun belum tentu punya penguasaan yang cukup dibidang ini – dan mempersempit ruang gerak orang sipil untuk menduduki fungsi penting dalam pemerintahan). Model ini sebetulnya tidak lebih model negara kerajaan bukan model peranan tentara dinegara demokrasi.
Barangkali interpretasi simbolik dari dunia “wayang purwo/kulit” berkaitan dengan fungsi rangkap dari Ksatria Utama bisa kita koreksi dan luruskan :

a. Meskipun Bima dan Arjuna adalah panglima perang andalan Pandawa, yang menjadi raja di Amartapura adalah Puntodewa/Judistira dibantu penasehat Sri Kresna dan Semar.
b. Bima dan Arjuna selalu akan tunduk pada perintah sang kakak/sang raja Puntadewa/Judistira. Tidak akan maju perang atas maunya sendiri.
c. Bima dan terutama Arjuna selalu mendapat nasehat dari Sri Kresna dan bimbingan dari Semar maupun punokawan yang lainnya.
Secara simbolik bisa diartikan :
a. Ksatria Utama dalam hal ini Bima dan Arjuna sebagai refleksi dari ABRI tidak pernah mempunyai kekuasaan yang mutlak. Dia akan selalu tunduk pada kepemimpinan eksekutif sang kakak yang memerintah dengan asas etika yang luhur.
b. Tidak ada sedikitpun ambisi dari Bima dan Arjuna untuk menggantikan sang kakak menjadi raja. Menyadari bahwa peran utamanya adalah sebagai Ksatria Utama.
c. Bima dan terutama Arjuna sangat dekat dengan Semar sebagai lambang rakyat sehingga tidak mungkin menganiaya rakyat atau memusuhi rakyat (kalau ini terjadi, dalam pewayangan Semar tetap akan menang)
d. Bima dan Arjuna selalu tunduk dan meminta nasehat Sri Kresna dan tidak mungkin untuk menggantikan peranan Sri Kresna dengan dirinya sendiri. Bagi Ksatria Utama – Indonesia yang Jawa yang kebetulan membaca tulisan ini, mohon direnungkan apakah peranan dwifungsi ABRI yang sedang dilaksanakan saat ini memang sudah sesuai dengan prinsip Ksatria Utama seperti yang pernah diajarkan nenek moyang kita dalam dunia pewayangan atau memerlukan koreksi sehingga jangan sampai membawa “karma” yang negatif terutama dalam bersikap menghayati nurani rakyat – dan kenyataannya ABRI juga berasal dari rakyat. Jangan sampai interpretasi secara dangkal peranan ganda Bima dan Arjuna didalam pewayangan hanya diterjemahkan satu sisi yang menguntungkan saja karena mendapatkan kekuasaan tambahan dan rejeki tambahan tanpa melihat sisi lain dari hubungannya dengan Yudistira, Sri Kresna, dan Semar maupun sifat2 utama yang harus dikembangkan dan dipegang teguh berkaitan dengan etika sebagai Ksatria Utama.

Kesimpulan

“Wayang purwo / kulit” adalah sumber yang tidak pernah kering untuk sarana refleksi bagi seseorang sebagai individu, sebagai pemimpin, sebagai ksatria atau apapun peran sosial dari seseorang di masyarakat yang dalam cerita/lakon yang diceritakan maupun tokoh2-nya mengajarkan pada kita
:
1. Pada akhirnya peran seseorang harus diuji terhadap nilai etika antara perbuatan yang baik dan yang buruk.
2. Apapun perbuatannya baik atau buruk seseorang akan menanggung “karma” nya sendiri-sendiri.
3. Nilai2 yang ideal agar kita berusaha secara optimal untuk mencapainya.
4. Nilai religius yang terdalam bahwa apapun yang terjadi hanya akan terjadi atas kehendakNya.
Mudah-mudahan tulisan ini mengetuk hati pembaca untuk menghayati nilai luhur budaya bangsa kita sendiri dan memberi kesadaran kepada pimpinan2 Nasional Orde Baru untuk melaksanakan koreksi dalam membimbing bangsa kita ini kearah etika yang luhur dengan memberi contoh yang nyata mulai dari dirinya sendiri untuk lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak dibandingkan dengan kepentingan dirinya sendiri, keluarganya , dan kelompoknya sendiri sebelum “karma” mencari jalannya sendiri.

Dan juga porsi pendidikan etika maupun perbuatan etika yang luhur tidak pernah mendapat porsi utama dalam pembangunan bangsa yang secara simbolik didalam pewayangan justru menjadi faktor yang utama sehingga menunjang terjadinya unsur “panjang-punjung” – panjang berarti termasyur dan punjung berarti mempunyai kewibawaan yang tingi – didalam negara / masyarakat ideal yang akan menjadi contoh untuk negara lain betapa tingginya etika yang dijunjung oleh bangsa Indonesia, dan tidak perlu dengan susah payah selalu membantah bahwa “tidak pernah ada korupsi dan kolusi di Indonesia”, “pelaksanaan hak-hak asazi manusia di Indonesia sudah sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sendiri” dan banyak faktor etika yang lainnya yang selalu membuat malu bangsa Indonesia dan sorotan negatif didalam pergaulan international yang se-mata-mata bukan Indonesia sebagai bangsa dan negara tetapi lebih disebabkan oleh tingkah-laku dari pelaku2/pimpinan2 Nasional Orde Baru pada tingkat yang mayoritas..

Ki Ageng Mangir

Referensi :
1. Dr. Hasim Amir M.A. – 1991. Nilai-Nilai Etis Dalam Wayang.Penerbit
Pustaka Sinar Harapan
2. Nyoman S. Pendit – 1970. Mahabharata. Penerbit Bhratara
3. Prof. Danys Lombard – 1996. Nusa Jawa – Silang Budaya Jilid
1,2,3. Penerbit P.T.Gramedia Pustaka Utama
4. Prof. Drs. Suwadji Bastomi
– 1992. Gelis Kenal Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press
– 1996. Gemar Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press
– 1996. Gandrung Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 222 other followers

%d bloggers like this: