Trilogi Pewayangan part 3/3

SEMAR DAN SENJATA “KENTUT”-NYA

Melanjutkan refleksi budaya pewayangan pada tulisan pertama yaitu
“DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAN ORDE BARU” yang membahas tentang etika Jawa
berkenaan dengan pimpinan ideal dan kekuasaan, tulisan kedua “MAKNA
PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN” yang membahas tentang
ketidak sempurnaan manusia dan hakekat perang saudara dalam
kerangka menegakkan kebenaran melawan keangkara-murkaan agar terjadi
perubahan yang nyata untuk menuju pada tata masyarakat yang lebih baik,
pada tulisan kali ini penulis akan membahas tokoh yang sangat menarik
didunia pewayangan yang paling banyak mendapat perhatian dan berbagai
intrepertasi simbolik yang sangat bervariasi yaitu tokoh Semar dengan
senjata ampuhnya “Kentut”yang merupakan bagian terakhir dari trilogi
pewayangan.

Semar adalah tokoh utama panakawan – arti dari panakawan adalah pana
yang berarti bijaksana dan kawan berarti teman jadi artinya adalah teman
yang bijaksana – bersama-sama ketiga anaknya yang bernama Gareng, Petruk,
dan Bagong, secara umum dalam pewayangan digambarkan sebagai berikut :

1. Semar selalu muncul pada tengah malam pada pagelaran “wayang
purwo / kulit” semalam suntuk yaitu setelah episode yang dinamakan
“goro-goro” yang dalam “goro-goro” diceritakan terjadi banyaknya
kekacauan dimuka bumi ini yang secara simbolik kemunculan Semar dan
punokawan meredakan kekacauan tersebut.
2. Pada saat pemunculannya Semar sang Dalang akan bercerita bahwa:
“Semar punika saking basa “samar”, mapan pranyoto Kyai Lurah Semar
punika wujudira samar. Yen den wastani jalu wandanira kadi wanita.Yen
sinebat estri, dadapuranira teka pria. Pramila katah ingkang klentu
mastani. Yen ta wonten ingkang hatanya menggahing sasipatanira hirung
sunti mrakateni, mripat mrembes mrakateni, lan sak panunggalnipun
sedaya sarwa mrakateni ” yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia
adalah: “Semar berasal dari kata samar. Memang sesungguhnya wujud dari
Kyai Lurah Semar juga samar. Kalau dikatakan laki-laki wajahnya
mirip wanita. Kalau disebut wanita perawakannya seperti laki-laki.
Oleh karena itu banyak orang keliru menilai. Jika ada yang mencoba
memerinci anggota badannya akan melihat hidungnya mancung seperti wanita
yang mempesonakan, matanya yang basah juga mempesonakan, dan yang
lain-lain-nya juga serba menarik perhatian”.
3. Semar dan panakawan lainnya bukan berasal dari epic
Ramayana dan Mahabharata sehingga banyak pakar yang menyimpulkan bahwa
tokoh tersebut asli Jawa / asli Indonesia yang sudah ada sebelum agama
Hindu dan Budha datang ke Indonesia.
4. Diceritakan asal usul Semar adalah dari telor yang :
a. Kulitnya menjadi Togog yang menjadi simbol hidup laksana kulit
tanpa isi yang mementingkan duniawi semata oleh karena itu ia mengabdi
pada raksasa sebagai simbul angkaramurka.
b. Putihnya menjadi Semar yang menjadi simbol hidup yang penuh kesucian
yang mementingkan isi dari pada kulitnya. Ia selalu memihak kepada
kebenaran dan keadilan dan meluruskan segala bentuk penyelewengan oleh
karena itu ia mengabdi kepada raja dan ksatria utama.
c. Kuningnya menjadi Manikmaya yang mencerminkan kekuasaan karena itu ia dinobatkan menjadi rajanya dewa di Kahyangan “Junggring Salaka” sebagai Bhatara Guru.

Biarpun Semar itu manusia atau rakyat biasa yang menjadi panakawan para
raja dan ksatria, tapi dia memiliki kesaktian yang melebihi Bhatara Guru
yang rajanya para Dewa. Semar selalu bisa mengatasi kesaktian dari
Bhatara Guru apabila ingin mengganggu Pendawa Lima yang dalam asuhannya.
Banyak arti simbolik dalam masalah ini yang penulis percayai
mungkin mendekati kebenaran adalah :
Bhatara Guru dalam agama Hindu adalah Dewa Shiva yang dipuja
oleh pemeluk agama Hindu, sedangkan Semar adalah tokoh asli
Jawa / asli Indonesia yang mungkin juga dipuja saat sebelum kedatangan
agama Hindu. Secara simbolik bisa diartikan bahwa existensi dari budaya
atau nilai2 luhur dari Jawa kuno selalu akan bisa mengatasi dari
pengaruh Hindu dan secara simbolik selalu memenangkan tokoh Semar
terhadap tokoh2 dewa Hindu. Dan hanya dengan menerima tokoh Semar agama
Hindu bisa berkembang di Indonesia. Hal ini sekali lagi dibuktikan
dengan apa yang dilakukan oleh
Sunan Kalijaga yang menggunakan senjata Puntadewa jamus “Kalimasada”
sebagai transisi dari Hindu menjadi Islam yaitu dengan menimbulkan
kisah hutan Ketangga yang mengisahkan pertemuannya dengan Puntadewa dan
meng-Islamkan dengan menjabarkan jamus Kalimasada sebagai Kalimat
Sahadat. Dan peng-Islaman masayarakat Jawa tidak melepas sama
sekali tokoh yang sudah ada dari zaman sebelum Hindu dari sekarang seperti Semar
yang perilakunya dijadikan teladan ataupun panutan masyarakat Jawa. Dan
disadari oleh Sunan Kalijaga bahwa Islam hanya akan bisa diterima
oleh masyarakat Jawa apabila kesenangan orang Jawa akan “wayang purwo /
kulit” tidak diganggu yang sebetulnya kesenangan orang Jawa kepada
“wayang kulit / purwo” bukan sekedar sebagai tontonon tapi suatu upaya
pelestarian dari petuah atau etika atau budaya Jawa yang berumur sangat tua
yang masih hidup sampai sekarang oleh karena itu wajah Islam di Jawa atau
mungkin juga di Indonesia mempunyai ciri budaya yang berbeda dengan
Islam di Saudi Arabia tanpa mengurangi makna Islam yang mendasar.
5. Dengan berjalannya waktu tokoh Semar dan panakawan
diterjemahkan sebagai simbol kesederhanaan dari rakyat jelata, dikarenakan
kehidupannya sebagai Lurah / Kepala Desa yaitu suatu jabatan kepemimpinan
yang paling dasar/bawah dalam sistim pemerintahan yang dipilih secara
demokratis oleh masyarakat pedesaan pada masa lalu, tokoh Semar
selalu berada diantara rakyat kecil dan kesederhanaannya telah membawa
kepada sifat kearifan dan kesucian pandangan yang bisa memberikan
pandangan yang lebih murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan
sehingga bisa menangkap kebenaran seperti apa adanya. Oleh karena itu
diceritakan dalam “wayang purwo/kulit” Semar selalu bisa mengatasi
permasalahan yang tidak mampu diatasi oleh asuhannya Pendawa Lima
ataupun para raja dan ksatria lainnya.
Contoh-contoh diatas adalah memberikan suatu gambaran bahwa tokoh
Semar merupakan tokoh yang paling banyak mendapat sorotan
interpretasi simbolik dikarenakan keunikan, kesamaran dan
ketidakjelasannya dan yang lebih lagi
karena sebagai tokoh yang asli Jawa / asli Indonesia yang oleh
cendikiawan ataupun budayawan Jawa dimasa lalu disisipkan dalam
epic Ramayana dan Mahabharata dalam cerita “wayang purwo / kulit”
tanpa harus merusak kisah kepahlawan yang ingin ditonjolkan bahkan
malahan memperkaya nuansa etika yang lebih mendalam. Contoh-contoh
diatas belum lagi membahas intepretasi tokoh Semar yang bersifat mistik
yang penulis tidak akan bahas disini.

Semar dengan senjata ampuhnya “Kentut”

Diceritakan dalam pewayangan bahwa Semar mempunyai senjata yang
sangat ampuh yaitu berupa “Kentut” dan hal ini yang penulis ingin
bahas kandungan simbolik yang semata-mata adalah menurut keterbatasan
pandangan penulis sendiri. Sebagai suatu kisah kepahlawanan “wayang
purwo/kulit” tidak lepas dari kisah kesaktian senjata dari para
pahlawannya untuk bisa memenangkan peperangan, seperti Arjuna
dengan senjata panahnya Pasopati, Bima dengan
kuku Pancanaka, Sri Kresna dengan Cakra dan sebagainya. Bahkan
dalam pewayangan juga dimasukkan unsur keris yang nyata2 bukan senjata
dari Hindia tapi asli dari Jawa. Tradisi memuja senjata ini berlanjut pada
budaya/sejarah Jawa dengan pada masa-masa kejayaan kerajaan Hindu dan
Islam seperti Ken Arok dengan keris Empu Gandring, Raja Balambangan
dengan gada Besi Kuning, Panembahan Senopati dengan tombak Kyai
Plered, dsb. Senjata sebagai alat memenangkan peperangan akan tetap
penting artinya bahkan sampai pada masa kekinian seperti bagaimana
Sekutu menggunakan senjata nuklir untuk memenangkan peperangan
melawan Jepang. Juga dengan terjadinya perlombaan kecanggihan
persenjataan pada masa perang dingin antara Rusia dan Amerika pada
masa beberapa tahun yang lalu. Apabila senjata itu kita terjemahkan sebagai
tools atau peralatan untuk memenangkan suatu peperangan ataupun
persaingan, pengembangan peralatan ini tidak hanya terbatas kepada
sesuatu yang bersifat phisik peralatan peperangan militer tapi juga
menyangkut peralatan atau sumber daya (resources) untuk memenangkan
persaingan dibidang bisnis dan politik. Sedangkan peralatannya atau
tools bisa bervariasi dari penguasaan informasi, sistim, strategi,
prosedur/peraturan, sumber daya manusia yang berkwalitas dsb.

Yang memerlukan kajian lebih lanjut kenapa Semar mempunyai senjata
“Kentut” dan bukan senjata yang bersifat phisik seperti panah, pedang,
tombak ataupun sejenisnya. Beberapa sifat senjata “Kentut” nya Semar:
1. Kentut berasal dari dalam diri Semar sendiri, jadi senjata ini
sifatnya adalah kekuatan yang muncul dari pribadi Semar bukan alat
yang diciptakan atau dibuat.
2. Semar menggunakan senjatanya bukan untuk mematikan tapi lebih
untuk menyadarkan. Dalam beberapa lakon/cerita pewayangan Semar menggunakan
senjata “Kentut” nya melawan resi/raja/ksatria yang tidak bisa
dikalahkan
oleh Pandawa Lima yang akhirnya “badar” atau sadar
kembali pada perwujudannya yang semula, yang biasanya adalah Bhatara
Guru, Bhetari Durga dsb.
3. Semar akan menggunakan senjata “Kentut” nya apabila para raja
/ ksatria asuhannya tidak bisa mengatasi masalah dengan cara yang
konvensional / menggunakan senjata biasa.
Sebagai makna simbolik “Kentut” itu sendri mempunyai sifat-sifat:
1. Selalu mempunyai nuansa bersuara dan berbau.
2. Biasanya baunya busuk atau tidak enak.
3. Jadi “Kentut” itu juga bisa berati suara yang berbau atau
bernuansa kurang enak didengar maupun dirasakan.
Jadi kalau kita kombinasikan dengan dengan simbolik Semar
sebagai suara “rakyat” kecil yang bercirikan kesederhanaan yang
membawa kepada sifat
kearifan dan kesucian pandangan yang bisa memberikan pandangan yang
lebih murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan sehingga
bisa menangkap kebenaran seperti apa adanya.
Maka senjata “Kentut” nya Semar adalah bisa punya arti simbolik suara
“rakyat” yang menyuarakan kebenaran yang sifatnya memberikan kesadaran
kepada para pimpinannya agar kembali pada jalan yang benar sehingga
suaranya bagi sang pimpinan adalah suara-suara yang tajam dan tidak
enak didengar dan kalau dirasakan sangat bau busuk karena keterus
terangannya melaksanakan kritik yang cenderung untuk menyakitkan kalau
dirasakan bagi sang pemimpin. Dan kenyataannya apabila rakyat
sudah mengutarakan isi hatinya, apalagi kalau menyampaikan
kemarahannya akan lebih dahsyat seperti laiknya “Kentut” Kyai Lurah
Semar yang mau tidak mau pemimpin harus sadar untuk memperbaiki diri
(atau kepemimpinannya sebetulnya tidak diakui oleh mayoritas rakyat dan
rakyat mengakuinya semata-mata berdasarkan rasa takut).
Dalam kondisi kekinian, suara rakyat yang murni tidak terdengar
dalam tata masyarakat Indonesai dikarenakan ada hambatan2 dalam
penyampaiannya atau tidak ada kebebasan dalam menyuarakan
pendapatnya/keinginannya (termasuk didalamya kemandulan media masa,
lembaga perwakilan rakyat untuk dijadikan sarana rakyat menyatakan
pendapatnya yang mungkin saja tidak sejalan dengan pendapat yang sedang
berkuasa).
Sebagai akibatnya para pimpinan negara hanya mendengarkan suara-suara
yang merdu dan enak didengar saja yang mungkin jauh dari kenyataan yang
ada. Oleh karena itu “rakyat” mencari jalannya sendiri untuk menyuarakan
hati nuraninya.
Kalau kita membaca Internet – seperti Indonesia-L – barangkali
ini lambang “Kentut” nya Semar dengan segala suara yang tidak enak
didengar ditelinga oleh para pimpinan Negara kita (kalau mereka baca
Internet – mengingat accesnya
yang masih terbatas di Indonesia) yang mungkin lebih mendekati
realitas dan
suara rakyat yang sebenarnya yang menghendaki keterbukaan dan kearifan
para pimpinan Negara untuk menerima saran dan kritik agar melakukan
perbaikan dan “badar” atau sadar kembali untuk menuju cita-cita masyarakat
Indonesia yang adil makmur bagi semua rakyat (bukan buat sebahagian
kecil rakyat yang dengan kedekatannya dengan kekuasaan mendapat
kesempatan yang lebih dari yang lain)

Kesimpulan

Senjata “Kentut” nya Semar adalah secara simbolik bisa
diartikan senjata pamungkasnya “rakyat” untuk menyadarkan pemimpinnya
agar kembali kepada jalan yang benar yaitu etika berbudi luhur yang harus
dipegang teguh. Mencapai tujuan yang benar haruslah dengan cara yang
benar, adalah sangat disayangkan apabila kita dipimpin oleh pimpinan
yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (tanpa maksud
untuk mengurangi nilai keberhasilan secara phisik yang telah dicapai selama
ini). Nilai-nilai luhur etika Jawa pada khususnya dan bangsa
Indonesia pada umumnya selalu mengajarkan mencapai tujuan yang baik menuju
Indonesia yang adil dan makmur harus dengan sekaligus mempraktekkan etika
budi luhur agar terjadi Negara ideal yang “panjang-punjung”,
panjang
berarti menjadi panutan negara lain, punjung berarti mempunyai
kewibawaan
yang tinggi.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan
(siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk
kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Ki Ageng Mangir.

Referensi:

1. Ir. Sri Mulyono Djojosupadmo , Apa dan Siapa Semar, 1975,P.T. Gunung Agung

About these ads

1 Comment (+add yours?)

  1. ketut arianta (@pacung4121)
    Apr 24, 2012 @ 16:11:29

    makasi ya atas kisah kisahnya

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: