Slamet Gundono: Imajinasi Sebatang Ilalang

KETIKA lahir, orang tuanya hanya memberikan nama Gundono. Sementara “Slamet” merupakan nama pemberian guru SD-nya. “Biar panjang dan kelihatan gagah,” kata Slamet Gundono. Sejak kecil, Gundono memang sudah menyukai wayang. Orang tuanya adalah seorang dalang wayang kulit klasik di Tegal. Namun karena tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan yang dalam pandangannya saat itu dekat dengan minuman keras dan main perempuan, maka Gundono tidak menggelutinya secara serius. Pria bertubuh besar ini memilih sekolah pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Namun justru di pesantren itulah kecintaannya terhadap wayang semakin meletup-letup.

Sejak tahun 1999, ia mengembangkan Sanggar Wayang Suket di Solo. Di komunitas ini ia melakukan revolusi terhadap dunia wayang dan pedalangan yang oleh banyak pihak dinilai sudah lama mandek. Wayang suket temuannya berada di antara dunia teori teater Barat dan tradisi pewayangan Timur.

Dinamakan wayang suket, karena wayang, atau semacam boneka yang dimainkan oleh Slamet Gundono ini, terbuat dari suket, atau rumput dalam bahasa Indonesia. Namun, biasanya rumput yang dirangkai dan kemudian dijadikan wayang adalah rumput teki, rumput gajah, atau mendhong, alang–alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Selain memiliki tekstur kuat, jenis rumput ini juga panjang sehingga mudah dibentuk. Namun jangan salah, wayang suket tidak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya bentuk tokoh dalam wayang kulit. Sekilas memang rumput–rumput ini dibentuk sepertii wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun sulit membedakan tokoh yang satu dengan lainnya, karena bentuknya yang hampir sama.

Kini, Wayang Suket menjadi sebuah ikon bagi Gundono, alumni Jurusan Seni Pedalangan, Sekolah Tinggi Seni Indonesa (STSI) Surakarta tahun 1999, sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Padahal pria berpenampilan nyentrik dengan berat badan 150 kg ini semula dikenal sebagai dalang wayang kulit. Namun pada saat mulai laku manggung, dia malah menekuni wayang suket.

Lahir di Tegal, 19 Juni 1966, Gundono sama sekali tidak berpikir bahwa suket akan menjadi tren wayang suket. Wayang suket adalah pengalaman bawah sadar masa kecilnya. Bukan kesengajaan yang dimunculkan dan dieksplorasi di dunia seni. Dulu, hamper setiap hari di masa kecilnya, Slamet Gundono selalu pergi ke sawah. Saat itulah Gundono menyaksikan para petani menganyam menganyam rumput hingga menyerupai model wayang untuk mengisi waktu.

Pertama kali wayang suket dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Tiba-tiba ia harus mementaskan wayang. Padahal, di sana tidak ada wayang kulit. Juga tak ada gamelan. Kebetulan kakak saya punya studio lukis yang terletak ditengah alang-alang sawah. Muncullah pengalaman masa kecil tentang suket. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai suket, ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk wayang. Gamelannya pakai mulut, ala kadarnya dengan lakon “Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukkan wayang suket pertamanya.

Kelebihan wayang suket adalah ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Hingga ke imajinasi yang tak terbatas.

Filosifi suket sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah spirit yang membuatnya bangga. Suket hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya merupakan simbol grass root yang mempertanyakan tentang diri, bukan memberontak atau merusak. Konsep pertunjukannya adalah pelataran seperti lagunya, urip kuwi mung koyo bocah cilik dolanan nang pelataran.

Gundono mengemas Wayang Suket secara apik dan unik sebagai kreasi baru dunia pewayangan. Cerita yang diangkatnya bukan sekedar cerita-cerita klasik yang bersumber dari kitab Mahabarata, atau Ramayana. Melainkan juga mengangkat kisah-kisah keseharian, termasuk soal aksi peledakan bom atau tentang pemilu.

Tak seperti dalang umumnya, ketika tampil Slamet Gundono tidak menggunakan baju beskap, blangkon, dan keris di pinggang. Ia biasa tampil dengan pakaian setengah telanjang atau seperti koboi. Media pementasannya pun tidak menggunakan wayang, kecuali untuk gunungan atau beberapa tokoh. Malah kadang ia menggunakan buah-buahan hasil kebun; seperti cabe, mentimun, tomat, bawang merah, dan lain-lain yang tertancap di batang pisang; jika di panggung.

Dari pengalaman beberapa tahun mempopulerkan wayang suket, ia menandai orang-orang yang mengundang wayang suket tidak sekadar nanggap. Ia menangkap romantisme kuat pada mereka, yakni romantisme masyarakat agraris. Itu ada di ruang bawah sadar orang-orang kota. Tak hanya orang-orang asal Jawa yang antusias. Penonton di Berlin, Jerman, pun memberikan antusiasme serupa. Begitu terkesannya pada pertunjukan Slamet Gundono, beberapa penonton mengundangnya makan malam seusai pentas.

Selain lakon masternya, “Kelingan Lamun Kelangan”, ada lakon-lakon lain yang digarap Slamet Gundono, antara lain; “Sukesi atau Rahwana Lahir”, “Limbuk Ingin Merdeka”, dan “Bibir Merah Banowati” tergantung segmen dan keinginan pasar. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi tontonan yang enak, segar, dan penuh tuntunan.

“Saya selalu melihat wayang lengkap dengan sejarahnya, sama seperti teater Barat itu. Tapi saya tidak bermaksud menyatukan keduanya dalam pentas. Saya hanya melihat dua-duanya, kemudian membuat sesuatu di antara dua-duanya itu,” ujarnya.

Menurut Gundono, wayang suket itu ada di mana- mana. Hanya saja, para perajin wayang mengerjakannya secara halus sekali, dan menjadi perwujudan dari karakter yang sudah ada dalam wayang kulit.

“Wayang suket saya hanya sebatang ilalang. Gatotkaca ya seperti itu. Sama dengan Arjuna, Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Semuanya ya seperti itu. Saya membebaskan penonton untuk menemukan karakter wayangnya sendiri. Saya tidak ingin mendominasi.”

Dengan kata lain, lanjut Gundono, dirinya tidak mengambil wayang suket yang sudah ada. Maka, dia juga tidak ingin mengklaim bahwa wayang suket sebagai ciptaannya.

“Saya hanya mencoba memainkannya dengan cara saya sendiri,” ujarnya.

Melalui wayang suket ini, Gundono sebenarnya ingin membebaskan wayang dari bentuknya yang beku. Pada gilirannya memang bukan hanya suket sebagai media pentas Gundono. Bermacam benda, seperti batu, batok kelapa, ptongan kayu, dan sandal jepit pun bias menjadi anak wayang, agar penonton kaya imajinasi.

“Saya mencoba menyinergikan dunia teater dan tari dengan dunia pewayangan Jawa. Kisah-kisah dalam Mahabaratha dan Ramayana bukan sebagai cerita utama, tetapi hanya sebagai bungkus untuk mengungkap berbagai persoalan aktual,” kata Gundono yang kini tinggal di Sanggar Wayang Suket Desa Jomboran, RT 02, RW 7 No. 196, Karanganyar, Jawa Tengah .(Ganug Nugroho Adi)

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 210 other followers

%d bloggers like this: