Pentas Wayang Ukur: Ki Sukasman dalam Sosok Bisma

Pentas wayang ukur gaya baru dalam bentuk gagrak enggal dengan lakon ‘Bisma Maha Wira’ dimainkan oleh tiga dalang muda, Ki Catur Benyek Kuncoro, Ki Suharno dan Ki Nanang Kancil di Pondok Seni Wayang Ukur, Mergangsan Kidul Yogyakarta, Sabtu malam (10/4).

Pertunjukan wayang ukur versi anak muda tersebut sengaja digelar sebagai sarana mengenalkan kembali sosok kreator wayang ukur, almarhum Ki Sigit Sukasman atau Mbah Kasman yang selama hidupnya mengabdikan diri di dunia seni khususnya wayang ukur.

“Tokoh Bisma dipilih sebagai wujud representasi dari Mbah Kasman, karena mereka mempunyai kesamaan tujuan yang mulia, Bisma ingin membela negaranya sedangkan Mbah Kasman membela kesenian atau Wayang Ukurnya agar tetap hidup sepanjang massa,” kata salah satu dalang muda, Ki Nanang Kancil di Pondok Seni Wayang Ukur, Mergangsan Kidul Yogyakarta, Sabtu Malam (10/4).

Nanang menyatakan, wayang ukur versinya memang didisain sedemikian rupa hingga bisa digelar secara singkat dan praktis. Durasinya bahkan hanya sekitar separuh dari durasi pentas wayang ukur asli versi pakem Ki Kasman.

“Pentas baru ini hanya berdurasi 90 menit dan memang lebih singkat dari aslinya, karena telah dimodifikasi oleh generasi penerusnya sedemikan rupa dan dikemas dengan sentuhan teknologi tanpa mengurangi sisi keasliannya agar memikat anak muda,” ujarnya.

Dalang lainnya, Ki Suharno menyatakan dulu keberadaan wayang ukur mungkin meresahkan sebagian kecil seniman wayang kulit karena keunikannya yang dirasa mampu menjadi aset Kota Yogyakarta yang tidak ada di kota lain.

Untuk itu, wayang ukur banyak diadopsi sejak terlahir sejak tahun 1970-an, dan para penirunya tidak mengakui kalau itu adalah buatan Mbah Kasman. “Meskipun Mbah Kasman sudah meninggal, tetapi ke depan wayang ukur tetap punya nama. Dari generasinya, senior, saya dan teman-teman dan saya mengharapkan ada yang bisa mementaskan Wayang Ukur minimal satu kali setahun Di kalangan seniman dalang sendiri, wayang ukur mulai dilirik setelah keberadaannya mengusik eksistensi dalang muda,” tandasnya.

Suharno menjelaskan pada 1990-an, perkembangan wayang di Yogyakarta sangat pesat dengan dalang muda yang punya kreativitas, namun Wayang Ukur punya daya tarik tersendiri. Berbagai macam jenis kayon/gunungan juga lahir di tangan Mbah Kasman, padahal karya-karya ini banyak diadopsi para seniman wayang dengan mengambil coraknya.

“Saya merasa bertanggung jawab dengan keberadaan wayang ukur dan pelestariannya serta sangat merasa bangga bisa memainkan dan merasa tertantang bagaimana Wayang Ukur bisa dieksplorasi lebih luas lagi,” tambahnya.

Sementara penata musik digital, Anon Suneko yang sejak kecil sudah sering diajak menonton Wayang Ukur karena kebetulan ayahnnya penata musik Wayang Ukur angkatan Mbah Kasman mengatakan Jogja punya seniman seperti Mbah Kasman dimana karyanya dihargai ketika di luar.
Menurutnya, falsafah yang diangkat Mbah Kasman dalam Wayang Ukur menjadi lebih bernilai dan keberadaannya juga bisa saingan, terutama dalang-dalang populer.

“Di musik saya juga mengikuti konsep minimalis, selain membuat ilustrasi, tetapi dalam bingkai pijakan wayang ukur yang pantas, sebab sentuhan dalang sangat penting di sini. karena ketika musik sudah didigitalisasi maka harus mengikuti musiknya,” akunya.

Mengenai Wayang Ukur versi baru ini, Nanang mengatakan kalau dulu pakemnya narator yang bicara sekarang dalang menyuarakan sesuai tokoh yang dimainkan, demikian juga dengan gerak-gerak yang ditampilkan.

Pementasan ini di dukung penata musik digital, Anon Suneko beserta Anom Wibowo, Danang Rajiv, Sudaryanto, Wei Lin, Theresia Wulandari, Mio Nisihoka, Yuri Nishida. Dengan menampilkan penari Putri Sapto Raharjo yang didukung dengan penata cahaya Setyo Harwanto dan Yanto. Sementara naskah disusun oleh Ampri Bayu Saputro, Ardian Kresna dengan ide cerita yang sekaligus sutradara Ananto Wicaksono serta Pimpinan pimpinan produksi oleh Felix Blass.

http://gudeg.net/id/news/2010/04/5453/Pentas-Wayang-Ukur-Ki-Sukasman-dalam-Sosok-Bisma-.html

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 211 other followers

%d bloggers like this: