Kidung Malam (71) Derita Tidak Berhenti

Kunthi menghetikan pikirannya yang mengembara dari peristiwa
yang satu ke peristiwa.yang lain. (karya Herjaka HS)

Setelah bertemu dengan Harjuna, Bima kembali berkumpul dengan Ibu dan saudara-saudaranya. Di hadapan mereka, Bima bercerita peri hal pertemuannya dan pertempurannya dengan Arimba kakak dari Arimbi, anak Prabu Tremboko. Prabu Arimba raja Negara Pringgandani yang sakti tersebut ingin menumpas anak-anak Pandudewanata, sebagai balas dendam atas meninggalnya Prabu Tremboko.

Mendengarkan cerita Bima si kembar Nakula dan Sadewa menampakan ekspresi ketakutan. Kunthi prihatin bahwa kepergian Pandudewanata suaminya ke alam baka, masih meninggalkan dendam. Dendam itu ditanam pada waktu terjadi perang besar yang bernama perang Pamukswa. Dendam tersebut kini diwarisi oleh Prabu Arimba, dan akan ditumpahkan kepada keturunan Pandu sang pembunuh Prabu Tremboko. Kelima anaknya yang tidak tahu-menahu atas perbuatan orangtua sebelumnya, menjadi sasaran dendam.

Kunthi teringat masa lalu, disaat perang besar Pamukswa terjadi. Ada satu hal yang sampai sekarang masih diselubung misteri, yaitu surat penantang Perang yang dilayangkan Prabu Pandudewanata kepada Prabu Tremboko. Menurut pengakuan Prabu Pandu, ia tidak pernah menulis surat penantang perang. Hubungan keduanya pada waktu itu cukup baik. tidak ada masalah yang berarti. Sehingga cukup mengherankan jika gara-gara surat tantangan perang yang belum jelas asal-usulnya, kedua negara sahabat itu saling menghancurkan dan saling membinasakan. Ada kuasa gelap yang merasuki raja Hastinapura dan Raja Pringgandani, sehingga pecah perang besar yang dicatat sebagai tragedi kemanusiaan dan disebut perang Pamukswa.

Kunthi mencoba menghubungkan antara kejadian yang satu dengan kejadian yang lainnya. Mulai kabar resmi dari perajurit sandi yang menyatakan bahwa Negara Hastinapura akan diserang oleh Negara Pringgandani. Kemudiaan ada wacana dari para petinggi raja Hastina, bahwa dari pada menunggu diserang, lebih baik menyerang lebih dahulu.

Patih Gandamana diperintahkan untuk mengatur barisan dan memimpin penyerangan ke Pringgandani. Sementara itu Negara Pringgandani juga telah menyiapkan perajuritnya untuk menyerang Negara Hastina. Maka kemudian Perang besar pun tak dapat dihindarkan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Didalam perang bubruh yang kacau itu tersebar kabar bahwa Patih Gandamana berhasil diringkus dan menjadi tawanan. Pandu terbakar kemarahannyanya. Ia mengerahkah semua kekuatan Ngastinapura dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Pringgandani, dan membebaskan Patih Gandamana

Pringgandani berhasil dbedah, Prabu Tremboko Gugur di tangan Pandu, namun Patih Gandamana tidak ditemukannya. Ia hilang bagai ditelan bumi Perajurit sandi telah disebar, tetapi tidak ada yang mendapatkan jejak Patih Gandamana, baik hidup ataupun mati.

Pandudewanata sangat berduka kehilangan Patih Gandamana yang sangat disayangi. Ketidak beradaan Patih, apalagi Patih seperti Gandamana yang sakti, negara Ngastina berkurang kekuatannya. Pandu tidak menginginkan jabatan patih kosong terlalu lama. Mengingat masih dalam suasana perang, kekosongan jabatan yang strategis sangat beresiko. Maka diangkatlah Trigantalpati sebagai Patih menggantikan Patih Gandamana.

Pengangkatan Trigantalpati cukup mengherankan banyak pihak, mengapa Prabu Pandudewanata memilih Trigantalpati? Kunthi tahu bahwa Kakanda Pandu sangat mencintai dan mengormati kakak sulungnya yang bernama Destarastra. Maka ketika Destarastra mengusulkan Trigantalpati, adik iparnya menduduki jabatan patih, Prabu Pandudewanata tak kuasa menolaknya.

Kunthi menghetikan pikirannya yang mengembara dari peristiwa yang satu ke peristiwa.yang lain dimasa lalu. Nama Trigantalpati yang kemudian menjadi popular dengan julukan Patih Sengkuni, ternyata telah benyak membuat anak-anaknya sengsara.

Kakanda Prabu Pandu, aku tidak sampai hati melihat anak-anak sengsara. Namun aku juga lebih tidak sampai hati jika aku meninggalkan mereka untuk menyusulmu di alam keabadian. Dosa siapakah ini Kakanda Prabu?. Jika Patih Sengkuni yang diangkat kakanda ternyata telah berulang kali menyengsarakan anak-anak kita. Ditambah lagi saat ini, anak Prabu Tremboko yang telah Kakanda bunuh, sekarang menuntut balas. Besok bersamaan dengan merekahnya fajar Ia yang bernama Arimba akan membinasakan Bima dan saudaranya.

Ibunda Kunthi sangat prihatin, hatinya berduka, melihat anak-anaknya belum bahagia. Ia tidak mengingkari bahwa Pandu suaminya yang dulu menjadi raja besar di Hastinapura, tidak meninggalkan tahta dan kekayaan Hastinapura kepada anak-anaknya, melainkan meninggalkan dua hal buruk yang berdampak kepada anak-anaknya. hal buruk yang nomor satu adalah pengangkatan Patih Sengkuni dan hal buruk yang lainnya adalah membunuh Prabu Tremboko. Kedua hal buruk itulah yang menjadi batu sandungan, bahkan menjadi sumber penderitaan bagi anak-anak Pandudewanata.

Anak-anakku maafkan Prabu Pandudewanata yang telah menimpakan beban kesalahan kepada kalian. Hanya satu kalimat pendek yang meluncur dari bibir Ibunda Kunthi yang kering dan pecah. Tidak ada tanggapan atas kata-kata itu. Semuanya diam dan beku.

Kidungan binatang malam justru semakin jelas terdengar, memecah gelapnya malam. Bersautan tak putus-putusnya, seperti derita yang dialami anak-anak Pandudewanata.

Herjaka HS

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 210 other followers

%d bloggers like this: