Mengenang Pengabdian Ki Hadisugito di Jagad Pewayangan

Dalang, Faktor Utama Keadiluhungan Wayang Kulit

PAKEM pewayangan adalah paugeran pergelaran wayang yang harus dipatuhi oleh para dalang. Meskipun demikian, isen-isen ajaran dalam pergelaran wayang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nut jaman kelakone. Bahkan dalam adegan tertentu, omongan tokoh-tokoh tertentu juga tidak ditabukan glenyengan atau dleweran ke permasalahan yang sedang aktual di masyarakat. Bahkan ketika sedang dalam jejeran, tiba-tiba Janaka terkentut, sebenarnya juga bukan hal yang tabu. Bukankah Janaka itu juga gambaran sesosok manusia biasa?
More

Sabetan Tangan Setan Ki Manteb

TAHUN 1987, mantan menteri penerangan Boedihardjo menjuluki Ki Manteb Soedharsono “dalang setan” seusai menyaksikan dalang asal Karanganyar, Surakarta, ini, mendalang. Julukan itu bukan karena sang dalang jahat, tetapi justru sebagai bentuk kekaguman Boedihardjo terhadap sabetan (cara menggerakkan wayang kulit) yang dimiliki Manteb. Menurut Boedihardjo ketika itu –seperti diceritakan oleh Manteb– “dalang setan” merupakan singkatan dari dalang dengan sabetan yang tidak ada tandingannya. Sejak itulah julukan “dalang setan” melekat pada dirinya.
More

Slamet Gundono: Imajinasi Sebatang Ilalang

KETIKA lahir, orang tuanya hanya memberikan nama Gundono. Sementara “Slamet” merupakan nama pemberian guru SD-nya. “Biar panjang dan kelihatan gagah,” kata Slamet Gundono. Sejak kecil, Gundono memang sudah menyukai wayang. Orang tuanya adalah seorang dalang wayang kulit klasik di Tegal. Namun karena tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan yang dalam pandangannya saat itu dekat dengan minuman keras dan main perempuan, maka Gundono tidak menggelutinya secara serius. Pria bertubuh besar ini memilih sekolah pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Namun justru di pesantren itulah kecintaannya terhadap wayang semakin meletup-letup.
More

Ki Purbo Asmoro: Dan Wayang pun Kembali ke Istana…


foto: persinggahan.wordpress.com

NAMANYA Purbo Asmoro. Banyak penggemarnya yang mananyakan nama asli dalang wayang purwo ini. Padahal nama aslinya atau nama pemberian orang tuanya ya Purbo Asmoro itu. Ia mulai dikenal sebagai dalang sejak tahun 1990-an. Sebagai seorang dalang, ia mempunyai prinsip harus berpijak di atas semua kelompok dan golongan. Sebab pedalangan adalah media yang menyajikan nilai-nilai kemanusiaan secara universal.”Sebagai kesenian adiluhung, pedalangan tidak harus dipersepsikan dengan menengok masa lalu. Tapi justru bagaimana kita memandang adiluhung itu sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar dalang yang juga dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.
More

Wayang Warisan Filsafat Nenek Moyang Bangsa Indonesia

SURABAYA _ Wayang yang diambil dari kata bayang merupakan salah satu bukti kekayaan khazanah budaya Indonesia. Berbagai jenis dan cerita wayang telah begitu dikenal luas oleh dunia Internasional sehingga Unesco (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) pada 7 November 2003 mengakui pertunjukan wayang sebagai karya budaya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang sangat berharga (masterpiece of oral and intangible heritage of humanity). Cerita dan keindahan wayang ini dapat disaksikan dalam pameran wayang yang di selenggarakan di Galeri seni di House of sampoerna pada 15 Agustus – 06 September 2009.
More

Wayang Sawah Perkaya Dunia Perwayangan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Wayang sawah yang dibuat dari limbah batang padi atau “damen”, kian memperkaya dunia perwayangan di Indonesia, kata salah seorang relawan seni Balai Budaya Minomartani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kuncoro.
More

Ki Ledjar Subroto, pencipta wayang Kancil yang tetap semangat berinovasi

Ki Ledjar Subroto berpose didepan karya mural wayang Sultan Agung di bawah jembatan layang Lempuyangan pada November 2007. (Sumber foto: http://www.flickr.com)

“Saya akan tetap berjuang dan apa yang saya kuasai akan saya lestarikan. Saya tetap ingin berkarya demi Jogja,” kata Ki Ledjar Subroto sesaat usai menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Suwarno Wisetrotomo mewakili panitia Biennale Jogja sebagai pihak pemberi penghargaan dalam penutupan Biennale Jogja X-2009, Minggu (10/1) di Jogja Nasional Museum.
More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 211 other followers