Kara

Kara (Sansekerta: खरा; Kharā) adalah raksasa pemakan manusia dalam wiracarita Ramayana. Ia merupakan adik sepupu Rahwana. Ia menghuni pos penjagaan raksasa di Citrakuta yang bernama Janasthan atau Yanasthana. Makanannya sehari-hari adalah daging manusia, khususnya para resi yang menghuni daerah sekitar Citrakuta. Bersama dengan Dusana dan Trisirah, ia meneror hutan Dandaka. Konon angkatan perangnya tak tertandingi dan selalu memenangkan pertempuran.
More

Mandodari

Dalam wiracarita Ramayana, Mandodari (Sansekerta: मंदोदरी ; Mandodarī) adalah nama puteri seorang Danawa bernama Mayasura, dengan seorang bidadari bernama Hema. Konon Mandodari sangat cantik. Ia merupakan istri pertama Rahwana, dan merupakan ibu dari Indrajit. Kampung halamannya diduga terletak di Mandodari, ibukota negara bagian Jodhpur di India pada zaman kuno. Konon disana pula para keturunan Rahwana bermigrasi setelah kematian Rahwana.
More

Marica

Dalam wiracarita Ramayana, Marica (Sanskerta: मारीच; Mārīcha) adalah seorang rakshasa, putera Tataka dan Sunda. Ia tinggal di hutan Dandaka dan menjadi patih Rahwana. Kakek Marica adalah seorang yaksa bernama Suketu, ia tidak memiliki anak dan memohon anugerah dari Dewa Brahma. Brahma memberi anugerah bahwa Suketu akan memiliki seorang puteri saja, namun cantik nan kuat. Puteri tersebut diberi nama Tataka, dan menikahi Sunda. Dari pasangan tersebut, lahirlah Marica. Karena Sunda tewas akibat kutukan Resi Agastya, Tataka dan Marica marah lalu melukai Sang Resi. Kemudian Sang Resi mengutuk mereka berdua agar menjadi buruk rupa dan hidup dengan memakan daging manusia.
More

Rahwana

Nama lain: Raawan; Rewana; Ravan; Dasamuka; Dasagriwa; Dasakanta; Dasanana
Golongan: Rakshasa
Asal: Kerajaan Alengka
Senjata: Gada, pedang, tombak, panah, dan lain-lain.
Pasangan: Mandodari
More

Subahu

Dalam wiracarita Ramayana, Subahu (Sanskerta: सुबहु; Subahu) adalah nama seorang raksasa pemakan daging manusia, hidup di wilayah Dandaka. Ia merupakan putera dari seorang raksasi bernama Tataka. Bersama dengan saudaranya, yaitu raksasa Marica, ia membentuk suatu perkumpulan untuk mengganggu upacara yadnya yang dilakukan oleh para resi. Biasanya saat Resi Wiswamitra menyelenggarakan upacara yadnya, Subahu dan Marica beserta tentaranya terbang di angkasa dan memenuhi langit. Mereka melempar darah dan daging mentah untuk menodai kesucian sesajen untuk upacara.
More

Tataka

Dalam wiracarita Ramayana, Tataka (Sanskerta: ततका ; Tatakā) alias Taraka (Sanskerta: तरका; Tarakā) adalah seorang rakshasi, puteri seorang yaksa bernama Suketu, dan merupakan ibu dari raksasa Marica. Ia dikutuk oleh Resi Agastya agar rupanya buruk. Ia tinggal di hutan Dandaka di wilayah India Selatan bersama dengan anaknya. Setelah meneror para resi, ia dibunuh oleh pangeran Rama dan Laksmana dari Ayodhya yang sedang melakukan perjalanan ke Sidhasrama bersama Resi Wiswamitra.
More

Trisirah

Trisirah (bahasa Sansekerta: त्रिसिर; Trishira) merupakan anak Prabu Dasamuka (Rahwana), Raja Alengka. Ia merupakan adik Indrajit. Namanya dalam bahasa Sansekerta berarti “(Dia) Yang memiliki tiga kepala”.

Ia bertarung dengan Rama dan menyerang dengan ratusan panah. Menerima serangan itu, Rama berkata bahwa panah yang dilepaskannya tidak terasa apa-apa melainkan seperti bunga yang ditaburkan ke tubuh Rama. Kemudian pertarungan diakhiri, dan akhirnya Rama berhasil membunuh Trisirah.

Kepemimpinan Punakawan : Semar-Gareng-Petruk-Bagong

CONTOH LEADERSHIP PUNAKAWAN
ABDI KINASIH KESATRIA PENDHAWA LIMA
KI LURAH SEMAR BADRANAYA, NALA GARENG,
PETRUK KANTHONG BOLONG DAN KI LURAH BAGONG
More

Punokawan

Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).
More

Semar dan Wahyu

Di dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Batara Semar,” telah dipaparkan bahwa Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.
More

Petruk

Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa.
More

Semar

Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
More

Nala Gareng

Gareng lazim disebut sebagai anaknya Semar, dan masuk dalam golongan panakawan. Aslinya, Gareng bernama Bambang Sukskati, putra Resi Sukskadi dari padepokan Bluluktiba. Bertahun-tahun Bambang Sukskati bertapa di bukit Candala untuk mendapatkan kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia kemudian minta ijin pada ayahnya untuk pergi menaklukan raja-raja.
More

Bagong (Cepot)

Bagong terjadi dari bayangan Sanghyang Ismaya atas sabda Sanghyang Tunggal, ayahnya. Ketika Sanghyang Ismaya akan turun ke Arcapada, ia mohon kepada ayahnya seorang kawan yang akan menemaninya, karena Ismaya yang ditugaskan mengawasi trah keturunan Witaradya merasa tidak sah apabila sesuatu persaksian hanya dilakukan oleh seseorang. Sanghyang Tunggal kemudian menyuruh Sanghyang Ismaya menoleh ke belakang , tahu-tahu telah ada seseorang yang bentuk tubuhnya hampir menyerupai dirinya.
More

Wisanggeni

Wisanggeni berarti bisanya api. berasal dari wisa = bisa dan geni = api. Tak peduli siapapun pasti dibakarnya. Musuh atau sodara, teman atau tetangga, kriteriannya hanya satu, yang dibicarakan adalah kebenaran, dan kebatilan adalah musuhnya.
More

Wisanggeni Racut

Ketika Pandawa hendak bertempur melawan Korawa dalam Perang Bharatayuda, para dewa di kaendran Jonggring Saloka menuntut agar Wisanggeni dan Antasena harus tiada agar Pandawa menang di dalam peperangan itu. Pakem wayang ini memang agak unik dan sarat dengan piwulang yang amat luas pengertiannya.
More

Semar, Abdi Titisan Ilahi

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
More

Cakil, tokoh Perang Kembang


Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.
More

Cakil = Rakyat Vs Cakil Rakyat

Dalam dunia pewayangan ada tokoh yang bernama Cakil atau Gendir Penjalin atau Dityakala Marica. Tokoh ini tidak dikenal dalam kitab asli Mahabarata maupun Ramayana. Tokoh ini memang produk lokal Jawa (Nusantara) layaknya tokoh wayang Gareng, Petruk, Bagong. Barangkali butuh penelitian untuk mengetahui siapa pembuat tokoh ini. Kalau penulis wayang RM Sayid menyebut wayang muncul pertama kali seputaran abad 15-16, tokoh Cakil itu sudah muncul di seputaran kurun waktu itu.
More

Prasetya Basukarna

[Ketika mendekati Setyaki yang tengah duduk bersila di tempat kusir kereta Kyai Jaladara, Sri Kresna melihat Raja Awangga lewat. Maka ia segera mengejarnya sampai ke tepi bengawan Yamuna.]
More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 183 other followers