Wayang Kulit Indramayu

Wayang Kulit Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang kulit Jawa dan Cirebon. Perbedaannya terletak pada perbedaan bahasa yang dipergunakannya. Penggunaan bahasa ibu (setempat) menjadi khas pula di dalam berbagai tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya. Bahasa ibu menjadi bahasa sosial dan komunikatif. Periwayatan tentang wayang kulit di daerah Indramayu tak terlalu berbeda dengan di daerah Cirebon. Hanya mungkin terdapat pengakuan bahwa wayang pernah menjadi media dakwah oleh Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati.
More

Wayang Madya

MADYA, WAYANG, adalah salah satu jenis seni pertunjukan wayang di Indonesia khususnya di Jawa. Bentuk figurnya merupakan perpaduan antara Wayang Purwa dan Wayang Gedog yakni bagian bawahnya meniru Wayang Gedog (berkain rapekan dan memakai keris).

Wayang Madya diciptakan oleh K.G.P.A.A. Mangkunegara IV di Surakarta pada tahun 1870 – 1873 M, karena beliau tertarik dari isi buku Pustaka Raja Madya karangan R. Ng. Ranggawarsita. Mangku-negara ke IV berkeinginan membuat tokoh yang baru untuk mewujudkan isi cerita tersebut dan setelah jadi disebut Wayang Madya.

Dalam manuskrip Wiwit Jawa Ringgit Madya dijelaskan sebagai berikut: More

Wayang Wahyu

Wayang Wahyu diciptakan oleh Temotheus Mardji Subrata pada tahun 1960. Ia berasal dari Malang, Jawa Timur. Ia lahir pada tahun 1960 dan wafat pada 17 Juli 1976. Generasi dalang yang meneruskannya antara lain Paulus Harsono dan Lucia Siti Aminah. Mereka adalah dalang wayang kulit purwa yang tertarik untuk mementaskan wayang wahyu.

Wayang Wahyu diciptakan dalam rangka untuk penyebaran agama Katolik. Kisah cerita yang diambil berdasarkan atas Kitab perjanjian lama yang menceriterakan kisah-kisah zaman para Nabi yang berkaitan dengan Kitab Injil, dan dilanjutkan dengan cerita-cerita dalam Perjanjian Baru yang mempunyai fungsi untuk pendidikan umat Katolik. More

Wayang Kancil

KANCIL, WAYANG, termasuk wayang modern, diciptakan tahun 1925 oleh seorang peminat seni wayang keturunan Cina bernama Bo Liem. Wayang yang juga terbuat dari kulit itu, menggunakan tokoh peraga binatang, dibuat, ditatah dan disungging oleh Lie Too Hien. Lebih kurang 100 tokoh peraga Wayang Kancil berupa binatang hutan, dibuat Lie Too Hien saat itu. Meskipun ia seorang keturunan Cina, tetapi gaya lukisan dan seni kriyanya tetap menganut aliran seni kriya pewayangan tradisional Jawa. More

Wayang Papak

Wayang Golek Papak merupakan seni pedalangan di daerah Cirebon. Wayang Golek Papak sering disebut dengan Wayang Cepak, karena mempunyai kemiripan arti istilah “papak” dalam bahasa Sunda berarti “Cepak”. Ini membuktikan bahwa wayang Papak berkembang juga di Sunda.

Dalam Wayang Papak menyampaikan cerita babad, legenda, mitos, riwayat para leluhur di Jawa Barat atau di Jawa pada umumnya. Cerita-cerita Panji dan Menak sering kali ditampilkan.
More

Wayang Calonarang

Siapa dan kapan Wayang Calon Arang diciptakan tidak dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas diketahui adalah sumber cerita Wayang Calon Arang ini diambil dari babad Calon Arang. Babad menceriterakan peperangan antara Prabu Erlangga melawan Ni Calon Arang dengan setan-setannya. Kekalahan berakhir di pihak Calon Arang. Unsur yang menonjol dalam cerita ini berkisah adanya ilmu hitam yang dimiliki oleh Calon Arang, tetapi ilmu tersebut dapat dikalahkan dengan ilmu putih. Prabu Erlangga mendapat bantuan dari Empu Baradah. Versi-versi lain berkembang dari cerita Calon Arang ini. Ki dalang bebas untuk mengembangkan cerita. More

Wayang Sadad

Wayang Sadad diciptakan oleh Suryadi Warnosuhardjo pada tahun 1985. Ia berasal dari Desa Mireng, Kecamatan Trucuk, Klaten. Ia adalah seorang guru matematika di SPG Muhammadiyah Klaten sekaliguas dalangnya.

Ia mendapat gagasan dalam pembuatan wayang ini dari ayahnya, bahwa umat Islam harus mempunyai wayang yang tidak berdasarkan cerita Hindu. Maka, Suryadi tergugah untuk mewujudkan gagasan tersebut. Untuk itu, ia berusaha untuk belajar mendalang yang ditekuninya sejak SMA. More

Wayang Suluh

Orang-orang yang termasuk dalam Generasi Baru Angkatan Muda RI dan tergabung dalam Badan Konggres Pemuda RI di Madiun tahun 1947 telah berusaha menciptakan wayang suluh sebagai sumbangan kepada perjuangan pada waktu itu. Wayang Suluh yang diciptakan Badan Konggres Pemuda tersebut telah melepaskan diri dari tradisi wayang-wayang sebelummnya dan cukup representetatif untuk memberi penerangan mengenahi dasar dan tujuan revolusional Indonesia. More

Wayang Sasak

Wayang Sasak adalah wayang kulit yang berkembang di Lombok. Wayang kulit di Lombok diperkirakan masuk bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Agama Islam masuk Lombok pada abad 16 yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri. Sunan Giri menggubah wayang Gedog dan bersama Pangeran Tranggono menciptakan wayang “Kidang Kencana” pada tahun 1447. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa Sunan Prapen juga membawa wayang ke Lombok. Disamping itu, wayang di Lombok diciptakan pula oleh pangeran Sangupati. Ia adalah seorang mubalik Islam. Tentang siapa pencipta wayang Lombok ini masih dalam praduga. Belum ada data historis yang meyakinkan kapan wayang ini dibuat dan dipergelarakan. More

Wayang Beber

BEBER, WAYANG, adalah wayang yang bukan dimainkan dengan gerak, melainkan drama suara yang dibantu dengan sederet lukisan adegan wayang di atas kain memanjang. Lukisan itu digulung, dan selama Ki Dalang bercerita mengenai kisah yang dilakonkannya, gulungan itu dibuka sehingga adegan demi adegan yang dilukiskan pada kain itu dapat disaksikan penonton. Urutan adegan yang dilukiskan pada kain itu mirip dengan cara melukis komik masa kini. Disebut Wayang Beber, karena pergelaran wayang itu dilaksanakan dengan cara membeberkan gulungan gambar adegan- adegan itu. More

Wayang Klitik

Wayang ini diciptakan orang pada adad ke-17, tetapi siapa penciptanya tidak diketahui. Seperti diketahui manusia Jawa menganggap wayangan sebagai upacara ritus komunikasi antara yang hidup dengan roh-roh leluhurnya yang di datangkan berupa perwujudan bayangan wayang. Mereka percaya bahwa kepercayaan Animisme yang berhubungan budaya Hindu ini menganggap bahwa permulaan adanya Negara dalam bentuk kerajaan di Jawa, sesuai apa yang tertera dalam cerita Ramayana dan Mahabharata, dilanjutkan ke masa Kediri Pejajaran sebagai jaman Madya dan berakhir dengan jatuhnya kerajaan Hindu Jawa Majapahit. Masing-masing jaman diwakili dengan bentuk wayang senddiri-sendiri. Jaman Purwa, Ramayana, Mahabharata diwakili wayang Purwa. Jaman Madya diwakili oleh Wayang Gedog Madya dengan cerita panji dan Jaman Wasana diwakili Wayang Wasana yang disebut wayang klitik. More

Wayang Gedog

GEDOG, WAYANG, bukan mengisahkan cerita Ramayana atau Mahabarata, melainkan mengambil inti cerita Kisah Raden Panji. Dalam wayang itu, kerajaan-kerajaan yang menjadi latar belakang pemerannya antara lain Jenggala, Singasari, dan Kediri atau Daha.

Pergelaran Wayang Gedog juga lazim dilaksanakan pada malam hari, dengan bahasa Jawa sebagai pengantar. Gamelan pengiringnya memakai laras pelog. More

Wayang Parwa

Lawanta weh wwangagawe hala salwiranya,
Byakta geseng ta ya wicirna ri saksanatah,
Dening pawitra nikaning katha saha tantra,
Mogha luput pwa ya ri papa pataka denya.

 

More

Wayang Menak

MENAK, WAYANG, sejenis Wayang Golek. Itu sebabnya, Wayang Menak sering disebut Wayang Golek Menak. Sebagian orang menyebutnya Wayang Tengul. Wayang ini menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil terbuat dari kayu yang kemudian disungging dan diberi warna. Kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan Wayang Golek Menak dipilih yang ringan dan tidak gampang retak. Biasanya orang menggunakan kayu randu alas.
More

Wayang Purwa Gaya Palembang

“bagai kerakap tumbuh di batu,
hidup enggan mati tak mau.”

Kondisi sosial budaya Palembang mempunyai strukturnya sendiri yang jelas sosoknya. Secara alamiah mempunyai daya tahan terhadap pengaruh luar. Walaupun diintervensi dan mendapat penetrasi kebudayaan dari luar namun daya tahan budaya asli Palembang sebagai local genius memiliki daya tahan yang luar biasa. Budaya Palembang dibentuk dalam rentang sejarah yang panjang. Kondisi-kondisi yang khas sehubungan dengan lingkungan geografis, kondisi alam, sistem ekonomi dan lingkungan sosial serta pertemuan dengan budaya lain membentuk kebudayaan Palembang sehingga mempunyai strukturnya sendiri yang khas. Perjuangan wayang purwa yang datang dari Jawa sebagai budaya luar yang berjuang melakukan penetrasi budaya hanya mampu menembus kulit luarnya saja. Tidak terjadi proses akulturasi budaya yang pekat apalagi terjadi asimilasi budaya. Seni Pedalangan Wayang Purwa tidak bisa mengakar pada kebudayaan Palembang. Masyarakat pendukung budaya itu hanya sebatas komunitas keluarga dekat dari leluhur dalang Palembang dari generasi ke generasi. Kalaupun terjadi akulturasi hanya selapis tipis pada salah satu unsur kebudayaan, yaitu pemakaian bahasa Palembang dalam pagelaran wayang Palembang. More

Wayang Purwa Gaya Banjar

Asal mula wayang Banjar adalah berasal dari wayang kulit purwa yang ada di Jawa. Mengenai kapan masuknya wayang kulit purwa ke Banjar sehingga menjadi wayang Banjar, ada beberapa argumentasi yang berkembang di masyarakat.

Menurut Suwedi Montana, berdasarkan Hikayat Banjar atau Lambung Mangkurat menyatakan bahwa masuknya wayang kulit purwa ke Banjar adalah pada jaman pemerintahan Majapahit, yakni lewat ikatan perkawinan antara Pangeran Suryanata dari Majapahit-Jawa dengan Putri Junjung Buih dari negara Dipa-Kalimantan. Dalam Hikayat Banjar dinyatakan bahwa terdapat tiga episoda yang berkenaan dengan pertunjukan wayang dan upeti berbentuk wayang yakni : More

Wayang Purwa Gaya Betawi

BETAWI, WAYANG, secara umum serupa dengan Wayang Kulit Purwa. Wayang Kulit Betawi, menggunakan bahasa Betawi Ora, yakni bahasa Betawi yang bercampur logat Jawa, kini sudah sangat jarang dipergelarkan. Penduduk Jakarta, yang terdiri atas berbagai macam suku bangsa, pada umumnya lebih menyukai Wayang Kulit Purwa. Walaupun demikian, pertunjukan Wayang Kulit Betawi pun selalu penuh dengan penonton. More

Wayang Purwa Gaya Sunda (Golek)

Wayang Trimatra Tatar Pasundan

Nihan sembah nirang hulun, ka purba ring sang Murbeng rat
sahan nikang, rikanang sihing dasih maweh boga sawegung masih ring delahan,
dyan kanang mamudyengan ri jeng nayaka ring rat diteng nata kotama,
mungguh hamanugrah len siswanta sagotro tan huwus minulya.
More

Wayang Purwa Gaya Banyumas

Sebutan Wayang Banyumas secara masih menimbulkan perdebatan. Banyak kalangan pakar wayang baik mereka yang berasal dari luar maupun dari banyumas sendiri mengatakan bahwa Wayang Banyumas merupakan Wayang dengan gaya Surakarta atau Yogyakarta yang mendapatkan tambahan tokoh Bawor dan lagu Kembang Lepang serta gendhing-gendhing Banyumasan.

Sejarah perkembangan Wayang Banyumas tidak terlepas dari kerangka besar penyebaran Wayang Kulit Purwa di Jawa. Kapan dan siapa yang membawa wayang itu ke Banyumas sehingga menjadi sebuah gaya yang mandiri sangat susah untuk melacaknya. Hal tersebut disebabkan karena sumber-sumber sejarah yang kurang memadai. More

Wayang Purwa Gaya Cirebon

Wayang Kulit Cirebon, hidup dan berkembang bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Cirebon yang dibawa para Wali. Berdasarkan sejarah (babad Cirebon), Pakeliran wayang Kulit pertama di Cirebon dilakukan oleh Sunan Panggung atau Sunan Kalijaga sebagai dalangnya diringi gamelan sekaten Cirebon. Dari pengaruh ajaran agama yang dibawa Wali Saga itulah sehingga muncul tambahan tokoh panakawan menjadi sembilan yakni : Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Kehadiran sembilan panakawan ini didasarkan pada lambang Wali Sanga, hal ini disebabkan masyarakat Cirebon percaya bahwa awal keberadaan agama Islam di Indonesia ini karena jasa-jasa para Wali Sanga. More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers