Bayi Dampit Ikan

Di negara Astinapura, Dewi Gangga yang bidadari memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya Prabu Sentanu Raja, karena pelanggaran sumpah dari Prabu Sentanu , untuk tidak menanyakan atau melarang apapun yang dilakukannya, termasuk atas perlakuannya membuang ketujuh anaknya berturut-turut ke sunggai Gangga. Dewi Gangga pergi dengan meninggalkan bayi Dewa brata .
More

Pandawa Seda

Setelah Parikesit dinobatkan sebagai raja Hastina, Yudistira berniat untuk mendaki puncak Mahameru. Saudara2nya tidak bersedia ditinggal oleh Yudistira dan ngotot untuk ikut. Sementara itu Yudistira berusaha mencegah Drupadi untuk ikut karena mendaki Mahameru bukanlah tugas yang mudah. Tapi Drupadi menjawab bahwa kini Pendawalah keluarganya, ayah dan saudara2nya telah gugur di Bharatayuda, begitu juga dengan anaknya. Drupadi telah ikut dengan Pendawa sejak dibuang ke rimba dan selamanya berniat ikut dengan mereka. Mendegar tekat istrinya yang bulat Yudistira tidak berani memaksa.
More

Pandu Surga

alkisah werkudoro menerima wangsit bahwa ayahnya pandu tidak dapat masuk surga dan dimasukan neraka karena dosa dosanya, maka werkudoro kemudian mengundang saudara saudaranya untuk datang ke hutan dekat kurusetra. pandawa kemudian memenuhi panggilan werkudoro dan tanpa pamit langsung bergegas datang ke tempat yang ditetapkan.
More

Dewi Kunti

raja mandura dari bangsa yadawa mempunyai dua orang anak, yaitu basudewa dan dewi prita. basudewa ini nantinya akan mempunyai anak kresna, baladewa, dan sembadra. nah raja mandura ini mempunyai sepupu uaitu raja kunthiboja yang tidak memiliki keturunan. karena merasa kasihan raja mandura memberikan anaknya dewi prita ke raja kunthiboja sebagai anak. nah sejak itu dewi prita dikenal sebagai dewi kunti.
More

Kresna Duta

Setelah selesai 12 tahun penderitaannya, Pendawa Lima dan Drupadi menetap di Wirata. Yudistira telah mengirim surat ke Pancala untuk memberitahu Prabu Drupada bahwa Drupadi dalam keadaan sehat di Wirata dan memohon kedatangannya karena Drupadi sangat rindu kepada orangtuanya. Ketika Pendawa sedang berkumpul di istana bersama prabu Matsyapati, dari langit turun Gatotkaca yang mendengar berita bahwa Pendawa berada di Wirata. Kedatangan Gatotkaca seperti biasa disambut ayahnya yang berdiri diluar. Yudistira meminta Gatotkaca untuk mengundang kedatangan Sri Kresna. Gatotkaca segera melesat ke udara menuju Dwaraka. Di Dwaraka, Sri Kresna sedang berbincang dengan Subadra dan Abimanyu. Mereka berdua ingin berangkat ke Wirata untuk bertemu Arjuna namun oleh Sri Kresna disuruh menunggu undangan dulu dari Wirata karena Sri Kresna tahu bahwa Gatotkaca sedang dalam perjalanan untuk mengundang kedatangannya.
More

Kresna Kembar

alkisah negara hastina geger kembali. karena kedatangan raja sosrowindu yang menginginkan menjadi senopati hastina mewakili kurawa. prabu duryudana menerima prabu sosrowindu karena atas usulan resi durna. karena prabu sosrowindu itu adalah termasuk murid dari resi dorna.
More

Sayembara di Kerajaan Giyantipura

Dari pernikahannya dengan Satyawati, Raja Santanu mendapatkan dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya.

Chitranggada tewas dalam sebuah pertempuran. Karena ia meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, maka adiknya, Wichitrawirya dinobatkan menjadi raja untuk menggantikannya. Tetapi karena sewaktu naik takhta ia belum dewasa, maka tampuk pemerintahan untuk sementara dipegang oleh kakak tirinya, yaitu Dewabrata alias Bhisma. Hingga suatu waktu ketika Wichitrawirya telah cukup dewasa untuk menikah, Bhisma mencarikan calon istri yang pantas untuk adiknya.
More

Gatotkaca Tanding

PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya.
More

Karna

Kakek yang kuhormati, aku tahu aku ini anak Dewi Kunti, bukan anak sais kereta. Tetapi, aku berhutang budi kepada Duryodana. Aku hidup dan makan dari hasil bumi tanah milik Kurawa. Aku harus jujur kepadanya dan menepati janjiku sebagai ksatria. Tidak mungkin bagiku menyeberang ke pihak Pandawa sekarang. Ijinkan aku membalas jasa Duryodana dengan jiwaku. Ijinkan aku membalas hutangku terhadap kepercayaan dan cintanya kepadaku. Engkau pasti memahami ini dan memaafkan aku. Aku mohon restumu.
More

Berguru Kepada Hati

“Mengapa seorang pengembara tidak layak berguru…?”, gumamnya lirih.

Masih juga orang ini membuat pahatan-pahatan pada sebuah batu besar. Kedua tangannya sibuk menggerayangi batu itu. Sesekali memukulkan batu segenggaman tangannya pada permukaan batu itu. Tampak batu sudah mulai membentuk sesosok tubuh manusia. Hampir sebesar dirinya. Malam mulai menggelayuti. Dua hari sudah orang ini memahat siang-malam, tanpa istirahat, tanpa makan. Seakan keinginannya untuk belajar begitu memuncak. Rasa lelah tak dirasakannya.
More

Trilogi Pewayangan part 3/3

SEMAR DAN SENJATA “KENTUT”-NYA

Melanjutkan refleksi budaya pewayangan pada tulisan pertama yaitu
“DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAN ORDE BARU” yang membahas tentang etika Jawa
berkenaan dengan pimpinan ideal dan kekuasaan, tulisan kedua “MAKNA
PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN” yang membahas tentang
ketidak sempurnaan manusia dan hakekat perang saudara dalam
kerangka menegakkan kebenaran melawan keangkara-murkaan agar terjadi
perubahan yang nyata untuk menuju pada tata masyarakat yang lebih baik,
pada tulisan kali ini penulis akan membahas tokoh yang sangat menarik
didunia pewayangan yang paling banyak mendapat perhatian dan berbagai
intrepertasi simbolik yang sangat bervariasi yaitu tokoh Semar dengan
senjata ampuhnya “Kentut”yang merupakan bagian terakhir dari trilogi
pewayangan.
More

Triologi Pewayangan part 2/3

MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN

Sebagai kelanjutan dari tulisan “DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDER BARU” yang mengupas idealisme etika JAWA dalam pewayangan yang berkenaan dengan masyarakat dan pimpinan ideal maupun kekuasaan, “wayang purwo / kulit” sebagai pengertian simbolik bagi penulis tetap merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk suatu refleksi kekinian.
More

Trilogi Pewayangan part 1/3

DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDE BARU

Suatu gejala yang patut untuk diamati dalam masyarakat Jawa – yang punya pengaruh yang kuat dalam masyarakat Indonesia pada umumny a – adalah masih lestarinya budaya “wayang purwo/kulit” biarpun berbagai unsur budaya telah mempengaruhi bangsa Jawa/Indonesia termasuk unsur2 budaya Islam, dan budaya Barat. Bukti yang nyata dari masih besarnya pengaruh budaya “wayang purwo/kulit” ini dengan adanya siaran seminggu sekali di salah satu stasiun TV swasta (yang mendapat sambutan yang sangat positif dari penggemar budaya “wayang purwo/kulit” pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya). Mengingat bahwa budaya “wayang purwo/kulit” merupakan budaya tua yang masih bertahan sampai dengan saat ini yang meminjam istilahnya Alvin Toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai dengan gelombang ketiga yang merupakan abad informasi dengan komunikasi (termasuk Internet) sebagai tulang punggung pendukung utamanya.
More

Pangeran Puru Yang Tua Thuyuk-Thuyuk Berubah Menjadi Gagah Perkasa, Karena Kuat “Cegah Dahar Lawan Guling”

Pada suatu sore, dimana matahari mulai terbenam, Prabu Yayati melamun sambil melihat kelelawar-kelelawar yang keluar dari pupus-pupus daun pisang. Lalu putra bungsunya (Puru) dipanggil. Setelah Puru dating berkatalah Prabu Yayati:

“Oh putraku Puru, ternyata engkau adalah satu-satunya putraku yang telah mengorbankan diri demi ayahmu, milikmu yang paling berharga. Oh anakku saying, ternyata bahwa nafsu-nafsu angkara, nafsu-nafsu birahi, nafsu-nafsu syahwat, tidak akan puas hanya dengan melampiaskannya. Nafsu yang diumbar, ternyata bukan makin padam, tetapi justru makin berkobar. Laksana bola salju. Makin digulung dan makin jauh menggelinding, dia makin besar. Kini aku tahu, bahwa dengan melampiaskan hawa nafsu tidak membawa kedamaian hidup. Ternyata kedamaian hanya dapat dicapai dan diterima dengan jalan cinta kasih dan keseimbangan jiwa, mestinya sejak semula aku harus bersikap :
More

Ilusi Pikiran Sukra Sang Putra Brighu part 2/2

Di dalam dirimu sudah ada program seks dan sanggama. Ada pula rekaman ciri-ciri lawan jenis yang kau anggap ideal. Maka begitu ada stimuli dari luar, kau langsung terpicu. Kau tidak bisa lagi menikmati persahabatan dengan lawan jenis. Yang kau pikirkan hanyalah seks. Bila kau tidak mengubah sikapmu, tidak berupaya untuk mengubah program dasarmu, program itu pula yang kelak kau bawa ke alam sana, atau kelahiran berikutnya. Apa yang akan kau lakukan dengan nafsumu di alam sana? Are you getting my point? Bidadari berdada telanjang yang kau harapkan akan melayanimu di alam sana lahir dari keinginanmu sendiri. Kemudian, di alam sana bila tidak menemukan bidadari , kau akan bingung sendiri. Kau akan balik ke sini untuk mencarinya… Oh, sudah berapa kali kau melakukan hal yang sama, dan masih tidak sadar juga. *1 Bhaja Govindam
More

Ilusi Pikiran Sukra Sang Putra Brighu part 1/2

Pikiran tidak perlu diupayakan. Kau lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payahmu di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upayamu saat ini. Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu. *1 Bhaja Govindam

More

Prabu Yayati, Nenek Moyang Pandawa Berubah Menjadi Tua Keriput, Karena Kewalad Isterinya!

Siapakah sebenarnya nenek moyang Pandawa dan Kurawa itu? Memang banyak versi, kalau tidak cermat bisa kisruh dan bingung. Menurut versi Mahabarata, cikal bakal nenek moyang para Pandawa dan Kurawa adalah Prabu Nahusa. Ia mempunyai seorang putra bernama Prabu Yayati. Yayati adalah seorang priya yang tampan dan sakti. Ia memerintah Astina dengan adil paramarta dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
More

Sakuntala, Ibu Bharata Raja Besar di Astinapura

Siapakah Bharata yang disebut-sebut dalam Mahabharata itu? Begitulah kira-kira isi surat-surat pembaca yang ingin mengetahui sejarahnya.

Syahdan, suatu tempat pertapaan yang begigtu tenang dan damai, sehingga kijang-menjangan dapat hidup berdampingan dengan singa dan macan yang buas. Semua itu seolah-olah karena pengaruh sianr sucinya pertapaan. Segala yang pada mulanya bengis, kejam, buas dan rakus, berubah menjadi sejuk, nyaman, rukun dan tenang penuh kedamaian.

Siapakah gerangan pertapa besar yang bersemayajm di situ? Ia adalah Begawan Kanwa yang hidup bersama dengan seorang anak gadisnya, Sakuntala namanya. Sakuntala yuang cantik adalah anak angkat dari Begawan Kanwa. Semula Sakuntala adalah putrid Prabu Wismamitra yang lahir dari rahim bidadari Menaka. Yaitu, dikala Prabu Wismamitra sedang bertapa menjauhkan diri dari keduniawian, sekonyong-konyong melihat kedatangan bidadari Menaka yang tersingkap kainnya oleh hembusan angina yang nakal, sehingga Wismamitra sampai tak dapat mengendalikan dirinya. Ia takluk kepada keinginannya untuk segera menghisap madunya Batari Menaka. Pendek kata betari Menaka kemudian melahirkan seorang bayi wanita yang kemudian diberi nama Sakuntala. Setelah sang bayi lahir, maka kembalilah Menaka ke Kahyangan dan Sakuntala ditinggalkan sendirian di tepi sungai Malini. Kelihatannya kejam dan tak bertanggung jawab, tetapi memang itulah yang disebut “laku”.
More

Bisma, Manusia Wadat Yang Sumpahnya Menjadi Sebab Perang Bharatayudha

Hanya satu permintaan Gangga kepada Sentanu, yaitu harus memanjakannya, artinya tidak boleh bertanya siapa sebenarnya ia itu, bahkan tidak boleh menghalang-halangi apapun yang diperbuatnya, walau buruk sekalipun. Sekali-kali Sentanu tidak boleh murka dengan alas an apapun kepada Gangga, istrinya. Permintaan Ganggaa diterima dengan senang hati, karena kecuali Gangga adalah memang wanita yang berseri-seri, walaupun tanpa “make-up” , juga parasnya tetap cantik dan bertubuh indah.
More

Dewi Lara Amis Berkakek Gunung dan Punya Ibu Ikan Betina

Apa dan siapakah sebenarnya Dewi Lara Amis yang membingungkan itu? Cerita tentang Lara Amis ini penuh dengan transcendental, simbolis dan religius. Tetapi untuk kali ini hanya akan kami ceritakan dahulu apa adaynya, yaitu menurut versi Adiparwa karya Prabu Dharmawangsa Teguh Hananta Wikrama raja Kediri (991-1007) yang pernah diulas oleh Dr. Hazeu, Dr. Kern, Dr. Joyn Boll dan oleh Bapak Boediharja di majalah “Djawa”.
More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers