Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu 1/2

Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup.
More

Bilahi Birahi di Girijembangan

Syahdan, jaman dulu sekali di pulau Srilangka ada beberapa negara kecil2. Seringkali negara2 kecil tersebut saling berperang memperebutkan wilayah. Diantara negara2 tersebut ada negara kecil Alengko dengan Rajanya Prabu Somali. Putri sulung bernama Dewi Sukaesi telah menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Raja Danarjo dari kerajaan Lokapala yang juga di pulau Srilangka tertarik dengan Dewi Sukesi. Kehendak Sang Prabu dilambari motif politis. Ia ingin Alengko dimerger dengan Lokapala.
More

Bima Ngaji

A salamu ‘Alaikum penonton…., dalang jemblung manggung lagi nih… lakone: ” Bima Ngaji “.
Para penonton yang berbahagia……..,
Ada seorang pejabat tinggi dan kaya raya, tetapi hidupnya selalu resah dan gelisah.
Siapakah dia…? dia adalah seorang bupati dari kabupaten Jodipati bernama Raden Arya Werkudoro alias si Bima Sena.
More

Memaknai Lakon Dewa Ruci dalam Konteks Kedirian

Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari.

Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci. Itulah perjalanan yang harus ditempuh oleh Bima dalam lakon Dewa Ruci yaitu menemukan inti dari ilmu sejati.

Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka
Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka.

Tikbra artinya rasa prihatin
sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (mempertajam cipta).

Tikbrasara dapat diartikan adalah kegiatan memprihatinkan diri untuk mengolah rasa agar dapat mempertajam cipta.
More

Lakon Bima Suci : Perjalanan olah batin orang Jawa

Lakon ini amat digemari di kalangan kasepuhan karena mengandung permenungan mendalam tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi) dan menjawab kerinduan hidup dalam perjalanan rohani orang jawa untuk bersatu dengan Tuhan (manunggaling kawulo Gusti; curiga manjing warangko).

Begitu disenangi dan diulang-ulang sebagai bahan permenungan, maka kisah ini memilik variasi-variasi bahkan menyimpang dari lakon awalnya, tergantung siapa yang menyalin kisah ini, siapa dalang yang memainkan lakon dalam pertunjukan wayang.
More

Lelaku Sunan Kalijaga Lewat Bima Suci

Jalan untuk mendekat pada GUSTI ALLAH disebut dengan Suluk. Sementara manusia yang mencari jalan untuk mendekat pada GUSTI ALLAH disebut dengan Salik. Kerinduan akan dekatnya diri dengan GUSTI ALLAH ini menjadikan seseorang mulai mencari asal mula dirinya dan bakal ia bawa kemana hidupnya ini.
More

Bima Suci: Guru yang Ternistakan

Suasana negeri Hastina mendadak gerah. Angin kemarau yang meluncur dari Gunung Argakelasa seperti memancarkan aura panas yang membadai dan mengancam. Pepohonan kering dan meranggas. Bumi Hastina seperti dihantam badai panas dan kekeringan yang panjang dan dahsyat. Istana Hastina yang biasanya sejuk dan nyaman pun tak sanggup membendung badai panas yang terus meluncur dari lereng sebuah gunung di perbatasan itu. Presiden Duryudana yang tengah sibuk memimpin sidang Kabinet Hastina berkali-kali mengelap jidatnya yang panas dan basah. Entah, sudah berapa helai selampai yang masuk ke keranjang sampah.
More

Kisah Sebelum Mahabharata

Kisah Prabu Jayati

Siapa sih sesungguhnya nenek moyang Pandawa dan Kurawa itu ?
Versi ceritanya dalam dunia pewayangan cukup banyak, tapi supaya tidak bingung kita gunakan hanya versi Mahabharata saja.

Cikal bakal nenek moyang Pandawa dan Kurawa adalah Prabu Nahusa dan Sang Prabu ini mempunyai seorang putra bernama Prabu Jayati. Jayati adalah seorang satria yang soleh, tampan dan sakti, memerintah Hastinapura dengan adil, membawa kemakmuran dinegaranya. Permaisurinya bernama Dewayani, putri dari pendeta Resi Sukra.
More

Pandawa Mendapatkan Drupadi

Pada suatu hari, Pandawa mengikuti sayembara yang diselenggarakan Raja Drupada di Kerajaan Panchala. Sayembara tersebut memperebutkan Dewi Dropadi. Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri. Para Pandawa menyamar sebagai seorang Brāhmana. Sebuah sasaran diletakkan di tengah-tengah arena, dan siapa yang berhasil memanah sasaran tersebut dengan tepat, maka ialah yang berhasil mendapatkan Dropadi. Satu-persatu ksatria maju, namun tidak ada satu pun yang berhasil memanah dengan tepat. Ketika Karna dari Kerajaan Anga turut serta, ia berhasil memanah sasaran dengan baik. Namun Dropadi menolak untuk menikahi Karna karena karna anak seorang kusir yang tentu lebih rendah kastanya. Karna kecewa tetapi juga kesal terhadap Dropadi.
More

Panglima Wanita di Kurusetra

Sia-sia duka-derita
Meratapi yang tiada

MARKAS RANDUGUMBALA, AMARTA.–Pasukan Multinasional Wirata tumpas-kandas di neraka Kurusetra. Matswapati, Presiden Wirata, geram-dendam! Tapi apa daya, ia jago tua. Demi jaga wibawa, ia gegas-bablas menuju markas. Pandawa sedang mengadakan rapat-kilat.
More

Para Pemimpin Kita Seperti Sengkuni

Peneliti Belanda seperti Hazeu dan AC Kruyt menemukan bahwa wayang sudah ada sejak zaman pemerintahan Airlangga. Menurut Hazeu, wayang mula-mula merupakan upacara syamanisme untuk memenuhi kebutuhan manusia mengadakan hubungan dengan roh-roh nenek moyang.
More

Perselingkuhan Samba dan Dewi Hagyanawati

Usai menghadiri pesta pernikahan Prabu Boma Narakasura dengan Dewi Hagyanawati di istana Trajutrisna yang megah, hati Raden Samba kebat-kebit tak keruan, dirajam kegelisahan. Wayang berwajah flamboyan itu sudah berupaya melupakan wajah Dewi Hagyanawati yang terus menari-nari dalam bentangan layar memorinya. Namun, semakin dilupakan, wajah titisan Dewi Dermi itu makin keranjingan memburu dirinya. Sejak saat itu, Samba seperti berada di “dunia lain” yang terus melakukan pengembaraan batin bersama Dewi Hagyanawati.
More

Ramayana

Ramayana sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan.
More

Rahwana Sang Angkara Murka

Inilah aku, si angkara murka. Sebutkan jenis kejahatan yang kalian ketahui. Aku pasti sudah melakukan semuanya.

Mungkin sebentar lagi aku akan melepas nyawa. Atau terjepit abadi tertimpa Gunung Suwela. Sungguh tak bisa kulawan pusaka Guwawijaya, bahkan dengan Pancasona yang bertahun-tahun menggetarkan jagat raya. Tapi aku puas dengan segala lelakon hidupku. Membuat kekacauan di pelbagai pelataran. Aku bisa tertawa sambil melepaskan nyawa.
More

Sang Seta Panglima Amarta

Tanah merah Darah
Langit merah Agni

KURUSETRA–Membara! Gelegar-kobar, baku-bom, baku-tembak, baku-bantai jadi tanda keberadaan Bharatayudha. Hembus-maut dan nafas-tewas memaharajalela. Neraka Kurusetra tak kenal kompromi sama sekali. Seram-kejam menyaingi jahanam!

Di garis depan, Kolonel Wratsangka berhasil menggempur mundur pasukan Kurawa. Kemudian ia mengibarkan bendera Amarta di tengah medan Kurusetra.
More

Semar Membangun Kahyangan

Lakon Semar mbangun kahyangan Cerita carangan oleh dalang Ki Hadi Sugito.

Alkisah dinegara Amarta Prabu Yudistira ya Prabu Puntadewa,bersama saudara saudaranya sedang membahas sebab kegagalannya dalam membangun negaranya yang selalu longsor dan ditimpa bencana,tiba tiba datanglah Radja Dwarawati yaitu Betara Kresna yang menanyakan ketidak hadiran Semar dalam keraton Amarta dan menyatakan bahwa itulah yang menjadi sebab kegagalan tersebut. Untuk itu diperintahkanlah Arjuna untuk memanggil Semar dari Karangkabujutan untuk menghadap ke Amarta.
More

Semar Gugat

Lakon Semar gugat dibawakan oleh dua dalang Kondang Asep Sunandar Sunarya dari Dalang Wayang Golek Sunda bersama Dalang Wayang Kulit Jawa Top Ki Manteb (Oye) Sudarsono.

Isi Cerita : Amarta diguncang prahara bencana alam banjir bandang sehingga rakyatnya sangat menderita namun ini juga merupakan kritik bagi pemerintah dimana rakyat menderita sementara para pemimpin berlaku tidak adil terhadap rakyatnya dimana agama sebagai alat adu domba,korupsi merajalela,wakil2 rakyat berfoya-foya’
More

Suyudana Gugur

Ketika perang Barata hampir selesai selurunya keluarga Kurawa telah hancur tinggal Duryudana seorang, pikirannya tak karuan. Ia masih ingin hidup tetapi harus lari ke mana. Rasa takut semakin mencengkram terutama kepada Bima yang mengancam akan membunuhnya dalam perang itu. Saking bingungnya ia masuk merendam dalam sungai agar dingin pikirannya dan tak akan ada yang mengetahui. Tetapi Samiaji tahu serta dihampirinya Duryudana serta berkata: “Wahai raja Suyudana, tak pantas tuan bersembunyi mundur dari arena peperangan, sementara keluarga tuan telah membaktikan dirinya demi tuan.”
More

Super Togog

Wayang mbeling: “SUPER-TOGOG”.
Jejer Kerajaan Cendana-pura, patih Pragota menghadap
Raja Suyudana, yang sedang duduk gelisah, tampak sedih
bahkan rada-rada panik.
More

Balada Kunti dan Karna


Kokom tersedu. Ia membayangkan dirinya jadi Dewi Kunti, bunda para Pandawa yang tak diakui ibu oleh Karna, yang juga putra kandungnya.

“Bagaimanakah sikapku ketika menghadapi situasi seperti yang dialami Kunti?” Kokom masih tersedu sambil kepalanya rebahan di dada Juha pada sebuah Minggu sore.

Ada rasa sesal di hati Juha. Kenapakah ia harus menceritakan kisah Adipati Karna sehabis nonton wayang kulit melalui televisi dengan dalang Ki Manteb Sudarsono. Bukankah itu membuat sedih hati bininya?

Entahlah, Juha merasa lakon itu sedemikian menggetarkan nuraninya, karenanya wajib dibagi untuk Kokom. Apalagi interpretasi Pak Manteb yang mendudukkan tokoh Karna sebagai satria luhur yang punya sikap, yang sekaligus menggugurkan kesimpulan kebanyakan penonton wayang yang mengangap Karna adalah tokoh oportunis yang cuma mengejar pangkat belaka.
More

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 182 other followers