Cinta Bertunas di Pangkal Nagasari

Seluruh hal di madyaloka punya pengapesan. Bulan Rejeb Tahun Saka 1943, Belanda apes pada si Spanyol Andres Iniesta di final Piala Dunia menit ke-116. Dulu Belanda apesnya ke Pak Sakerah dengan clurit sakti Se Lerok. Tapi ayah Brodin ini juga punya pengapesan, Mbok Sakerah. Pak SBY dan Ibu Sri Mulyani juga punya nahas. Dalam dugaan skandal Century yang terlupakan itu pengapesan mereka mungkin Pak Ical.
More

Terenyuh Sepasang Duda di Maliawan

SEPASANG duda di gunung Maliawan. Wajahnya sendu. Keduanya bergerak ke Istana Guakiskenda. Jaraknya masih bergunung-gunung. Nun di balik gunung terakhir, di bekas istana raja raksasa Maesasura itu bersinggasana Resi Subali. Sosoknya kera. Matanya tajam. Dan ia sakti. Dasamuka dan Dewa Indra di kahyangan bahkan takluk. Permaisuri Resi Subali itulah Dewi Tara.
More

Weladalah…Kaum Waria di Negeri Wirata

MENURUT pakem pewayangan, rampung 12 tahun ngumpet di belantara, Arjuna masih harus singitan setahun lagi di kerajaan Wirata. Anggota Pandawa ini harus nyamar jadi waria. Namanya juga harus khusus. Nggak boleh mirip dengan nama konco-konco waria di Stasiun Malang. Namanya Kandi Wrahatnala.
More

Jin Buang Anak di Wanamarta

ANGKANYA sama, 32. Yang beda cuma maksudnya. Angka selapan kurang tiga itu bukan genapnya kaum bidadari dunia. Itu bilangan peserta Piala Dunia 2010 yang hari ini kesaring tinggal jadi 16 tok. Prancis mbarek Italia yang biasa digadang-gadang masuk final, hehehe…jeblok juga. Wong untuk masuk 16 besar saja mereka gak dapet pintu. Yang gak dinyana-nyana seperti Slovakia, Korea Selatan, Jepang, Meksiko malah lulus seleksi di negara orang-orang kulit manggis itu.
More

Heboh Video Mirip Duryudana-Dewi Dollywati

LISTRIK boleh jadi pahlawan di Dhaka, Bangladesh. Masyarakat di sana begitu mendamba pada listrik. Listrik padam, mereka tak dapat nonton via televisi dua tim favorit mereka, Argentina lawan Nigeria di Piala Dunia 2010. Maka ngamuklah mereka dan merusak kota.
More

Waspadai Angka Keramat 32

INI sangat urgent. Mendesak. Sampai-sampai ponokawan Togog dan Mbilung kedungsang-dungsang datang ke Amerta. Biasanya Togog-Mbilung berdinas menemani dan kasih nasihat tokoh-tokoh dari dunia hitam. Sekarang mereka malah berkunjung ke Amerta, tempat para Pandawa. Lha wong Raden Arjuna, penengah Pandawa, sampai sekarang sudah hampir 32 hari 32 malam tidak mau bicara. Bagaimana tidak dianggap urgent?
More

Susu Mengalir dari Payudara Bima

HARI keramat 1 Juni. Fajar belum menyingsing. Limbuk wis gak sabar. Ia gedor-gedor pintu salon. Kontan yang punya salon geragapan. Matanya diucek-ucek. ”Hah? Di mana lagi ada kebakaran tabung gas…di mana… di mana?” tanyanya berkali-kali. Yang ditanya, anak semata wayang Cangik, ndak semaur malah langsung dia seret si tukang salon ke dalam. Di depan cermin Limbuk minta segera didandani pakai konde dan kebaya.
More

Sensus Penduduk sang Ajatasatru

SEPENINGGAL Semar, Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong luntang-lantung nggak punya gawean. Tadinya salah seorang dari mereka berharap akan dipanggil jadi menteri keuangan yang baru. Tapi, menurut Ponokawan Limbuk dan Cangik, mereka blas ndak punya potongan jadi menteri. Arep ndaftar ikut pemilukada jadi calon bupati atau wali kota, sudah telat. Akhirnya, Gareng, Petruk, dan Bagong nyari kerjaan alternatif. Mereka mendaftar jadi petugas cacah jiwa alias sensus penduduk.
More

Cinta Berdarah di Argobelah.

ANAK ulama atau pandita kalau lanang disebut Bambang, nek wedok Endang. Endang Pujawati berarti putri pandita. Dan pandita itu bukan ulama stempel penguasa. Ia ulama yang merdeka. Maka ia disebut wiku. Hatinya putih. Namun wujud sang wiku itu, hiii..nggilani…, raksasa mengerikan. Namanya Resi Bagaspati.
More

Dongeng Cinta Sadewa – Rasawulan

Ada janur kuning melengkung di Bumirawatu, Ksatrian Raden Sadewa. Raden Sadewa, bungsu Pandawa, akhirnya menikahi Dewi Rasawulan. Mulanya dia emoh. Sadewa memang penggemar berat lagu Koes Plus, Bujangan. Sepanjang hidup ia ingin jadi perjaka. Tapi, akhirnya mantenan juga. Melengkunglah janur kuning di Bumiratawu alias Wukiratawu.
More

Dewi Dahanawati: Gatutkaca Sungging

”SUNGGING? O, ternyata Raden Purbaya itu orangnya bisa tengkurap sambil bokongnya njentit munjung ke atas to, Truk?” Bagong bertanya pada kakaknya. Purbaya adalah nama alias Kaca Negara atau Tutuka, yang populer dijuluki Prabu Gatutkaca.
More

Kado Yamadipati ke Retno Sawitri

Sak jelek-jeleknya Batara Narada yang perawakannya gemuk, pendek, dan mekete, masih ada lucu-lucunya. Sekjen Dewata ini orangnya juga kelihatan nggak punya beban apa-apa. Omongannya biasane pakai awalan ngawur: blegenjong-blegenjong pak pak pong pak pak pong… Mahkamah Konstitusi aja mungkin ndak tahu apa itu artinya dan apakah itu masih konstitusional.
More

Jajak Pendapat Para Dewa

SEKJEN para dewa, Batara Narada, kaget melihat asap rokok mengepul-ngepul dari bumi sundul kahyangan. ”Ini pasti banyak orang NU klepas-klepus. Mereka pasti kumpul-kumpul atau rapat menyambut 100 hari wafatnya Gus Dur,” pikir dewa yang murah senyum itu.
More

Ki Markus Sabdo Guru Wayangku

HARI ini orang tersabar sak Indonesia itu Pak Markus. Bapak-ibunya susah-susah kasih nama Markus. Upacara penamaannya pakai selamatan segala. Pakai segala uba-rampe dari semur sampai tahu gunting. Terbukti bayi Markus menjadi orang yang berbudi di kemudian hari. Baik pula sama tetangga. Eh, tahu-tahu ”Markus” dipelesetkan jadi ”makelar kasus”. Tapi Pak Markus tetap tenang-tenang saja. Ndak cuma dimlencengno oleh orang-orang se-RT/RW-nya. Tapi sak Nusantara! Dan Pak Markus masih juga tetap kalem-kalem saja.
More

Pajak di Mantu Akbar…

Ndak cuma Pak Ical yang mantu Nia Ramadani gede-gedean. Masih banyak tokoh yang ulem-ulem nikah anaknya sampai makan tempo sekian hari sekian malam. Dilihat buruknya, ya mana ada sih orang nggak ada buruk-buruknya. Bisa diomog itu jor-joran pemborosan di tengah, umpamanya, susahnya korban-korban lumpur Lapindo.

Tapi kalau mau dilihat baiknya ya ada juga. Misale, Pak Ical yang pernah padu dengan Bu Sri Mulyani soal pajak itu, dan tokoh-tokoh yang mantunya gegap gempita lainnya sesungguhnya justru sedang ingin berbagi dengan masyarakat lingkungannya yang haus hiburan gratis.
More

Cintaku Kandas di Genteng Kali

NAMANYA Bambang. Suka iseng orangnya. Konco-konconya di Gunung Sahari sering manggil dia Bagong. Nomor HP-nya banyak banget. Kalau lagi nyetir pas lalu-lintas macet, hatinya ndak ngrasani Cak Bambang D.H., wali kota Suroboyo. Wong mau wali kotanya siapa Surabaya tetep macet kok. Kota-kota lain juga macet kok. Ndak mau macet pindah zaman Majapahit saja.
More

Oblada…Obladi…Obamaaa…Tralala…

Menyambut rawuh-nya Ndoro Obama, diujilah watak seluruh petinggi kita yang akan jadi pager bagus dan pager ayu. Watak wantu mereka sebagai wong Nusantara harus teruji. Keperluannya, supaya mereka tidak gampang terombang-ambing seperti layangan putus tatkala dibius angin budaya londo Amerika.
More

Joko Pitono Bukan Teroris!

WIS bolak-balik dibilangi sama Gareng, Joko Pitono yang darahnya muncrat di Pamulang itu sungguh-sungguh teroris. Bagong tetap saja ngotot. ”Buuuukan!” katanya metenteng. ”Joko Pitono bukan tukang teror!!!” Sekarang Bagong ngomongnya malah ambek teriak-teriak.

Tadi baru saja keduanya tukaran soal nama tempat penyergapan. Bagong bilang Joko Pitono didor di Pemalang. ”Aduh, Gong, Pemalang itu kota kelahirannya. Tertembaknya bukan di Pemalang, tapi nduk Pamulang,” bantah Gareng.

Di kawasan Banten itulah Joko Pitono dilumpuhkan. ”Alah, Pemalang dan Pamulang apa bedanya. Ambek Karangkates baru ndak sama,” Bagong balik membantah.
More

Megatruh Para Perempuan Korban

“Cak, ceritakno nang aku tentang perempuan. Ceritakno sopo wae asal perempuan. Khususon perempuan yang hidupnya dijadikan korban oleh banyak orang.”

Itu pertanyaan seorang gadis kepada pemuda pujaannya. Sang pemuda berambut panjang. Ikal. Matanya lebih bersinar dibanding Trawas di kala malam. Pandaan di kala malam…Surabaya malam hari dari Udara…Ooo semua kalah dibanding cahaya mata sang pemuda. Apalagi sorot mata kalau lelaki kelahiran Pulau Bawean ini sudah mulai bercerita tentang wayang.

“Oh, Ada…Ada, Diajeng,” kata lelaki itu lirih perlahan.
Perempuan dalam cerita lelaki petualang itu dikorbankan oleh suaminya sendiri. Namanya Dewi Windradi. Padahal yang bersalah bukan cuma Windradi, perempuan yang kelak menjadi nenek Hanoman. Setiap ada problem dalam hubungan suami-isteri, pasti yang bersalah adalah dua-duanya.
More

Wisanggeni Mbelani Bonek

SIDANG Kabinet Dewa-Dewi Jilid 2. Batara Bayu, presdirnya angin, terus-terusan merengut. Kata orang zaman sekarang, dia bete. Lha bagaimana tidak bete to, ndak ikut makan nangkanya tapi ujuk-ujuk kena pulut atau getahnya. Nangkanya adalah proyek pembuatan roket yang diuji-coba di kawasan Lumajang, Jawa Timur.
More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers