Dunia Pewayangan dan Kekuasaan Orde Baru

Suatu gejala yang patut untuk diamati dalam masyarakat Jawa – yang punya pengaruh yang kuat dalam masyarakat Indonesia pada umumnya – adalah masih lestarinya budaya “wayang purwo/kulit” biarpun berbagai unsur budaya telah mempengaruhi bangsa Jawa/Indonesia termasuk unsur2 budaya Islam, dan budaya Barat. Bukti yang nyata dari masih besarnya pengaruh budaya “wayang purwo/kulit” ini dengan adanya siaran seminggu sekali di salah satu stasiun TV swasta (yang mendapat sambutan yang sangat positif dari penggemar budaya “wayang purwo/kulit” pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya). Mengingat bahwa budaya “wayang purwo/kulit” merupakan budaya tua yang masih bertahan sampai dengan saat ini yang meminjam istilahnya Alvin Toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai dengan gelombang ketiga yang merupakan abad informasi dengan komunikasi (termasuk Internet) sebagai tulang punggung pendukung utamanya.

Bertahannya budaya “wayang purwo” menjadi menarik mengingat bahwa:
1. “Wayang purwo/kulit” berbasis cerita Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari budaya Hindu dari India.
2. Masyarakat Jawa mayoritas beragama Islam.
3. Cerita dalam “wayang purwo” berbasiskan cerita tentang kerajaan yang raja dan ksatria sebagai focus utamanya yang berarti semangat dalam ceritanya adalah tata budaya feodal.
4. Masyarakat Jawa terpelajar umumnya berbasis pendidikan Barat yang mau tidak mau terpengaruh budaya Barat (mungkin juga terpengaruh sistim pemerintahan dinegara Barat-terutama Amerika Serikat).

Jelas bagi masyarakat diluar Indonesia akan terkejut melihat segala kontradiksi yang mungkin timbul dalam kompleksitas masyarakat Jawa / Indonesia. Oleh karena itu masyarakat diluar Indonesia tidak mungkin bisa menyelami sepenuhnya manusia Jawa /Indonesia tanpa mempelajari lebih jauh pengaruh budaya masa lalu termasuk yang sangat besar pengaruhnya seperti “wayang purwo” (Dalam hal ini penulis sangat kagum kepada Prof. Danys Lombard yang dalam bukunya “Nusa Jawa – Silang Budaya” menyadari betul pengaruh “wayang purwo/kulit” juga tulisan klasik Jawa lainnya seperti Babad Tanah Jawi, Serat Centini, dll. dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini).

Kajian subyektif (opini) kenapa “wayang purwo”masih bisa bertahan sampai dengan saat ini.

Dimasa yang lalu “wayang purwo/kulit” dipergunakan oleh masyarakat Jawa untuk keperluan “ritual” seperti upacara ruwatan (ruwatan adalah upacara yang diadakan untuk menolak bala – sial – yang dikarenakan secara alami seseorang dilahirkan dengan kondisi membawa kearah malapetaka – atau yang dipercaya akan membawa malapetaka – umpamanya: anak tunggal, anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak perempuan dsb.). Upacara lainnya yaitu untuk keperluan keselamatan desa yang setiap bulan Suro (awal bulan tahun Jawa atau bulan Muharam dalam tahun Islam) setahun sekali diadakan upacara pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan cerita “Baratayuda”agar dalam tahun berjalan desa akan diberi panen yang banyak dan keselamatan seluruh warganya (cerita “Baratayuda”, yaitu kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa yang sesama darah Bharata untuk memperebutkan kerajaan Hastina, dianggap cerita yang sakral yang tidak setiap dalang bisa melaksanakan dan tidak setiap saat bisa dipentaskan).

Jelas bahwa wayang tidak lepas dari keseharian kehidupan manusia Jawa dimasa lalu (yang juga masih hidup di pedesaan masa kini) dalam ritus kehidupan sehari-hari. Dipercaya bahwa budaya wayang sudah ada bahkan sebelum pengaruh agama Hindu datang dengan bukti adanya unsur panakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang tidak ada dalam cerita asli baik Ramayana ataupun Mahabharata. Walaupun basis cerita wayang adalah Ramayana dan Mahabharata tetapi dalam kenyataannya cerita yang dibawakan sudah bercampur / dirubah dengan cerita yang diperhalus dan disesuaikan dengan budaya Jawa, sebagai contoh :

1. Dewi Drupadi dalam cerita Mahabharata yang asli bersuami lima yaitu semua Pendawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dalam pewayangan diceritakan adalah hanya istri Puntodewo/Yudistira.
2. Gatutkaca adalah anak Bima yang raksasa di Mahabharata dan hanya muncul pada saat perang Baratayuda, dijadikan idola pahlawan yang gagah perkasa dalam pewayangan dengan berbagai cerita kesaktiannya dengan ajian2 seperti Brajamusti yang sampai saat in masih bisa dipelajari gikalangan masyarakat Jawa.

3. Dalam Mahabharata tidak diceritakan bahwa masing2 Pandawa Lima diberi daerah kekuasaan, didalam pewayangan diceritakan bahwa Arjuna punya teritori namanya Madukara, Bima dari Jodipati, Gatutkaca dari Pringgodani dsb.
Dari indikasi diatas jelas bahwa cerita Ramayana dan terutama Mahabarata telah diberikan kandungan lokal sedemikan rupa sehingga mengalami internalisasi dan sangat dekat dengan masyarakat Jawa, termasuk memasukkan unsur panakawan didalamnya. Bahkan dibeberapa tempat di Jawa diberi nama tempat yang mengesankan se-olah-olah kejadian cerita Mahabharata itu memang betul2 terjadi ditanah Jawa (sebagai contoh didaerah yang sekarang dijadikan waduk Sempor, Gombong, Jawa -Tengah, nama asli desa tersebut adalah Cicingguling yang oleh penduduk setempat dipercaya sebagai tempat dimana Bima berperang melawan Duryudana dengan menghantamkan gadanya dibagian pahanya sehingga Duryudana terpaksa menyisingkan kainnya/celananya – bahasa jawanya menyisingkan adalah cicing – dan berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tersebut diberi nama Cicingguling).

Ketika agama Islam datang ke Indonesia, bahkan oleh salah satu wali songo (sembilan wali) – Sunan Kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata, sebagai contoh: Puntodewa/Yudistira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat/pusaka yang bernama “Jamus Kalimasada” yang merupakan pegangan/lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat” yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan “tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya”. Konon diceritakan Puntadewa belum bisa meninggal sebelum ada yang bisa menjabarkan jimat “Kalimasada” yang kemudian dalam pertapaannya bertemu dengan Sunan Kalijaga di hutan Ketangga yang menjabarkan “Kalimasada”sebagai “Kalimat Sahadat”dan yang meng-Islamkan Puntodewa/Yudistira yang kemudian bisa menemui ajalnya dalam Islam (apabila dipikirkan secara “rational”tentu saja tidak masuk akal karena Puntadewa bagaimanapun adalah produk dari budaya Hindu tentu saja ini adalah kepandaian dari wali songo untuk meng-Islamkan masyarakat yang pada saat itu masih mayoritas Hindu). Dalam hal seberapa besar Islam betul-betul secara effektif mempunyai pengaruh yang besar dalam “wayang purwo / kulit” masyarakat Islam masih banyak meragukan, oleh karena itu ada sebahagian masyarakat Islam bahkan mengharamkan “wayang purwo/kulit” yang jelas nafas Hindunya atau Jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas Islamnya, lepas dari kenyataan bahwa “wayang purwo/kulit” masih tetap digemari masyarakat Jawa yang Islam maupun yang bukan Islam.

“Wayang Purwo/Kulit” seperti juga namanya sebagai “wayang” yang juga bisa berati “bayangan”ataupun”simbol” , bisa saja sebagai sekedar tontonan buat masyarakat awam, bisa juga memang sangat sarat dengan “simbol-simbol” yang secara luas bisa diterjemahkan menurut selera ataupun peresapan dari masing2 pengamat maupun penggemar “wayang purwo/kulit”. Peresapan dan penangkapan arti “simbol-simbol” dalam cerita “wayang purwo/kulit” begitu luas jangkauannya sehingga bisa dijadikan suatu sumber yang tak terbatas dalam interpretasinya sebagai suatu refleksi kehidupan seseorang sebagai individu, bermasyarakat, bernegara, bahkan juga hubungan dengan Tuhannya tanpa batasan agama besar yang ada (Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha).
Peresapan dan penangkapan “simbol-simbol” dalam “wayang purwo/kulit” hanya dimungkinkan kalau seseorang betul betul memahami dan meresapi cerita-cerita dan tokoh-tokoh dalam dunia “pewayangan”.

Beberapa contoh “wayang” sebagai refleksi atau simbol2 dari tokoh ataupun ceritanya :
1. Dalam salah satu artikel diharian Kompas beberapa tahun yang lalu (penulis lupa siapa yang menulis) dikatakan bahwa Parikesit(Parikesit adalah cucu Arjuna yang akhirnya menjadi raja di Hastinapura) adalah simbol dari “penyangkalan /perlawanan manusia terhadap kematian”kenapa dikatakan begitu : Diceritakan bahwa Parikesit sedang berburu ditengah hutan dan tersesat dari pengiringnya. Kemudian dia bertemu dengan seorang brahmana yang sedang bertapa bisu. Dia menanyakan arah keluar dari hutan tersebut yang didiamkan saja oleh brahmana tersebut maklum dia baru bertapa bisu. Parikesit timbul marahnya karena sebagai raja yang sangat dihormati, pertanyaannya tidak dihiraukan oleh seorang brahmana.

Kebetulan didekat situ ada bangkai ular, dengan kemarahan yang sangat Parikesit mengalungkan bangkai ular tersebut kepada brahmana tersebut. Karena merasa diperlakukan diluar kewajaran akhirnya brahmana tersebut menyatakan kekecewaannya terhadap sikap raja yang sangat angkuh tersebut dan mengutuk bahwa dalam waktu empat puluh hari ini Parikesit akan mati digigit naga Tatsaka (kalau tidak salah nama). Nasi telah menjadi bubur biarpun Parikesit meminta maaf, kutukan sudah diucapkan. Sepulangnya kekerajaan dia memerintahkan membuat pangggung yang tinggi sehingga dia bisa bersiap-siap apabila naga Tatsaka datang dia bisa melihat dan melakukan perlawanan-dan dia sangat yakin akan kesaktiannya. Sampai dengan menjelang hari terakhir tidak kelihatan tanda-tanda ada naga yang datang, dan Parikesit menyimpulkan bahwa kutukan brahmana tersebut mungkin tidak akan berlaku. Sampai pada saat2 terakhir pada hari yang keempatpuluh tersebut datang seorang pendeta yang membawa persembahan berupa buah jambu, Parikesit memerintahkan untuk menerima perembahan tersebut.
Ketika raja menerima buah jambu tersebut,jambu tersebut ada ulatnya, tiba-tiba Parikesit tertawa terbahak – bahak: “Hoi, rupanya ini yang disebu naga Tatsaka, yang tak lebih hanya seekor ulat” dan kemudian berubahlah sang ulat menjadi naga Tatsaka yang menggigit sang Parikesit dan wafatlah sang raja. Kenapa dikatakan bahwa Parikesit simbol dari “penyangkalan/perlawanan manusia terhadap kematian ?” Parikesit tidak mau menerima begitu saja kematian yang dipastikan untuknya dengan membuat panggung dan pertahanan diri, begitulah simbol dari manusia pada umumnya bahwa manusia tidak akan menyerah begitu saja dengan takdir kematiannya.
2. Dalam cerita “Sumantri ngenger” (Sumantri mengabdi pada raja) bahwa Sumantri adalah simbol “pencaharian manusia akan Tuhannya”.
Diceritakan bahwa Sumantri adalah anak seorang pertapa yang dianjurkan oleh orang tuanya untuk mengabdi kepada raja Arjuna Sasra Bahu yang konon adalah titisan Wisnu (Wisnu adalah Tuhan di agama Hindu). Pada saat mulai mengabdi kepada raja, Sumantri diberikan pekerjaan untuk memerangi musuh kerajaan, dengan kesaktiannya segala musuh bisa dimusnahkan dan kembali ke kerajaan dengan membawa kemenangan.

Pada saat dia kembali dengan kemenangan Sumantri berpikir, kenapa tidak raja Arjuna Sasra Bahu sendiri yang berperang, timbul keraguannya terhadap kemampuan dan kesaktiannya rajanya dan timbul kesombongan dalam dirinya dengan keberhasilanya. Oleh karena itu dia tidak mau menghadap raja, dan meminta raja untuk menjemputnya dan menantang raja untuk mencoba kesaktiannya. Arjuna Sasra Bahu sebagai titisan Wisnu tahu apa yang terjadi dan mendatangi Sumantri dalam wujud Wisnu yang sebenarnya yang dilambangkan sebagai Raksasa yang luar biasa besarnya (Tiwikrama) yang akhirnya Sumantri tidak berdaya menghadapinya.

Sumantri adalah lambang kesombongan manusia dalam keberhasilannya tapi juga lambang pencarian/penemuannya kepada Tuhannya bahwa apapun yang diperbuat manusia dimuka bumi tidak akan bisa terjadi tanpa kehendakNya.
Jelas dalam dua contoh diatas bahwa “wayang purwo /kulit” sebagai simbol menyelam jauh dalam inti permasalahan manusia yang sangat universal dan hidup dari waktu kewaktu yaitu :

a. Masalah etika dalam pergulatan manusia mencari nilai antara baik dan buruk.
b. Masalah hubungan manusia dengan alam dan penciptaNya.
c. Masalah hubungan manusia dengan kekuasaan yang sifatnya fana maupun Yang Mutlak.
Dan alasan diatas itu kenapa “wayang purwo/kulit” masih bisa bertahan sampai dengan saat ini, dikarenakan kandungan simbolik yang tidak akan pernah kering untuk suatu interpretasi yang hampir tak terbatas dalam kebutuhan manusia melakukan refleksi dengan dirinya sendiri, dengan alam sekitarnya, dengan masyarakatnya,dengan negaranya, dengan penciptaNya. Penulis merasa perlu untuk memberikan gambaran umum tentang “wayang purwo/kulit” diatas sebelum memasuki bahasan utama hubungan antara dunia pewayangan dengan kekuasaan orde baru agar pembaca yang tidak punya latar belakang budaya Jawa mempunyai sedikit gambaran untuk bisa mengikuti logika analisa hubungannya dengan situasi kekuasaan saat ini yang tidak bisa lepas dari produk budaya Jawa masa lalu.

Dunia Pewayangan dan Kekuasan Order Baru – suatu refleksi.

Dunia pewayangan tidak akan pernah bisa lepas dengan dunia kekuasaan dan kenegaraan karena pada saat yang paling awal “sang dalang” selalu mulai dengan suatu utopi tentang masyarakat / negara ideal yaitu situasi masyarakat/negara yang “panjang punjung pasir wukir loh jinawi tata tentrem gemah ripah karta raharja “. Panjang berarti termasyhur, punjung – tinggi kewibawaannya, pasir – luas jangkauannnya, wukir-teguh dan kuat,loh-subur, jinawi murah sandang pangan, tata – tertib, tentrem – tenteram, gemah -perdagangan maju, ripah- erba tersedia, karta-aman, raharja – makmur. Yang pada hakekatnya saat ini diterjemahkan sebagai visi bangsa Indonesia untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Dunia pewayangan juga tidak bisa lepas dari dunia kepemimpinan yang ideal, yaitu syarat yang berat untuk seseorang menjadi seorang raja/pemimpin negara karena hanya pemimpin yang ideal bisa mewujudkan masyarakat yang ideal. Salah satu ajaran yang paling umum diceritakan dalam pewayangan syarat pemimipin ideal adalah “hastabrata” atau delapan sikap/laku yang diambilkan dari sifat alam, yaitu pemimpin harus mempunyai sikap :
a. mahambeg mring kismo (sifat bumi): setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja.
b. mahambeg mring warih (sifat air): selalu turun kebawah rakyat dan memberikan kesejukan atau rasa ketentraman kepada semua rakyat.
c. mahambeg mring samirana (sifat angin): ada dimana saja atau bersikap adil kepada siapa saja.
d. mahambeg mring candra (sifat bulan): memberi penerangan yang sejuk dan indah (kebahagian dan harapan).
e. mahambeg mring surya (sifat matahari):memberi sinar hidup keseluruh jagat raya atau sebagai sumber petunjuk hidup.
f. mahambeg mring samodra (sifat laut / samudra): luas, tempat membuang apa saja atau sifat kasih sayang, pengertian, dan kesabaran.
g. mahambeg mring wukir (sifat gunung): kukuh, teguh, tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun rakyatnya.
h. mahambeg mring dahono (sifat api): mampu membakar semangat dan memberi kehangatan atau mampu memerangi kejahatan dan memberikan ketenteraman / perlindungan buat rakyatnya.

Dunia pewayangan juga tidak lepas dari dunia ksatria utama (ksatria dalam artian yang luas adalah seseorang yang mempunyai kemampuan /kesaktian untuk membela kebenaran – dalam artian yang terbatas saat ini bisa berarti ABRI). Karena epic Ramayana dan Mahabharata adalah cerita tentang kepahlawan, ksatria menjadi focus cerita dan kstaria utama selalu menjadi idola penonton “wayang purwo / kulit” yang tokohnya sangat banyak sekali yang bisa dijadikan contoh sifat-sifatnya (Bima, Arjuna, Gatotkaca, Tripama – Sumantri, Kumbokarno, Karna – dsb.) Salah satu yang cukup banyak dikutip adalah “Ajaran 15” yaitu ksatria utama bersifat:
a. Wijaya : bijaksana dalam berbakti kepada negara.
b. Mantriwira : dengan senang hati berbakti kepada negara.
c. Wicaksana maya : bijaksana dalam berbicara dan bertindak.
d. Matangwan : dikasihi dan dan dicintai rakyat.
e. Satya bakyi prabu : setia kepada negara dan raja.
f. Wakniwak : tidak berpura-pura, mulut dan hati harus satu.
g. Seharwan pasaman : sabar dan sareh – tidak gugup dalam hati.
h. Dirut saha : Jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia.
i. Tan lelana : baik budi dan mengendalikan pancaindra.
j. Diwiyacita : menghilangkan kepentingan pribadi.
k. Masisi samasta buwana : memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia.
l. Sih samastha buwana : setia kepada negara agar rakyat tertib dan makmur.
m.Dinrang pratidina : meninggalkan tindak yang jelek dan mengutamakan tindakan yang baik.
n. Sumantri : menghamba seumur hidup.
o. Hanaya ken musuh : mengorbankan jiwa untuk negara berlandaskan kebenaran dan keadilan.

Dunia pewayangan adalah sarat dengan petuah-petuah perbuatan yang utama sebagai pegangan hidup maupun dalam bertindak baik seseorang sebagai raja / pemimpin, ksatria, pendeta, maupun orang biasa yang intinya adalah pelajaran etika agar seseorang selalu berbudi luhur untuk selalu berbuat luhur dan menjauhi perbuatan yang merusak diri maupun lingkungan sekitarnya dan ini sebetulnya juga inti dari pelajaran keagamaan dan kepandaian “sang dalang” yang menjadi faktor utama agama yang mana atau ajaran etika yang mana yang akan ditonjolkan. Dan etika pedalangan bahwa tidak seorang dalangpun yang akan lebih menonjolkan/memenangkan perbuatan tercela dalam penampilan cerita/lakon yang dibawakan.

Kembali kepada pokok persoalan: seberapa pengaruh dunia pewayangan dalam kehidupan kenegaraan dan kepemimpinan orde baru :

1. Negara/masyarakat ideal :
Visi dari bangsa Indonesia untuk mencapai masyarakat adil dan makmur pada tahun 2020 tidak terlepas dari pengaruh utopi dunia pewayangan. Dalam Mahabharata ada dua negara yang saling berhadapan sebagai pihak yang tercela dan pihak yang patut ditiru yaitu:
Hastinapura – dengan Duryudana sebagai rajanya dan Amartapura-dengan Puntadewa /Judistira sebagai rajanya. Dalam Ramayana negara Alengkadiraja – dengan Rahwana sebagai rajanya dan Ayodya – Ramawijaya sebagai rajanya. Kaitannya dengan negara dalam pewayangan “sang dalang” selalu menceritakan keberadaan negara ideal baik itu di Hastinapura, Amartapura, Alengkadiraja, atau Ayodya. Yang membedakan sifat negara tersebut adalah sifat pemimpin2-nya yang menjadikan ciri negara tersebut bisa dikatakan sebagai negara panutan atau bukan. Adalah tidak bisa memberikan suatu analogi yang tepat dengan mengatakan negara Indonesia menganut utopi Indonesia-Amartapura, Indonesia – Hastinapura, Indonesia Alengkadiraja, atau Indonesia-Ayodya. Karena yang tercela adalah Hastinapura pada saat dipimpin oleh Duryudana (tidak pada waktu dipimpin oleh Panduwinata, ataupun Parikesit)begitu juga Alengkadiraja pada saat dipimpin oleh Rahwana tidak pada saat dipimpin Prabu Somali , ataupun Gunawan Wibisana). Pewayangan telah memberikan simbol yang tepat tentang suatu negara panutan sangat tergantung dari etika dari para pimpinannya, negara adalah negara sekedar suatu wilayah tertentu, kesatuan bangsa tertentu, dan dengan suatu visi utopi tertentu, yang memberikan ciri apakah bisa menjadi negara ideal/panutan adalah pelaku2-nya atau pimpinan2-nya.

Sebagai contoh bahwa “image” Negara tergantung para pemimpinnya seperti Pemerintahan Orde Baru saat ini :
a. Apabila sang pemimpin memberikan kesan-mungkin juga melaksanakan- bahwa menerima komisi berdasarkan jasa2 yang diberikan
berhubungan dengan jabatannya itu adalah sah, semua jajaran dalam pemerintah sampai dengan yang paling rendah tanpa rasa bersalah menerima komisi /uang jasa (padahal untuk pekerjaannya itu ia sudah diberi imbalan gaji)

b. Kalau sang pemimpin menghalalkan anak dan cucunya menjadi pengusaha dengan mendompleng fasilitas ayahnya – bahkan termasuk mendapatkan kucuran kredit dengan mudah dari bank pemerintah untuk pembeyaan proyek2-nya – maka ramai-ramai anak Menteri, anak Gubernur, anak Dirjen, anak Bupati, anak Camat, anak Lurah jadi pengusaha muda dadakan dengan segala fasilitas orang tuanya.

c. Kalau sang pemimpin dengan mudahnya meminta sumbangan kepada konglomerat untuk mendirikan Yayasan yang katanya untuk mempercepat kesejahteraan rakyatnya konon khabarnya yang dikucurkan untuk keperluan sumbangan hanya sebahagian dari bunganya), dan ramai2-lah dalam setiap kesempatan dan segala alasan yang dibuat setepat-tepatnya kalangan pejabat pemerintahan meminta sumbangan kepada para pengusaha (dan pengusaha tidak bodoh karena struktur harga produk yang dijual akan disesuaikan dengan segala pengeluaran tak terduga yang akan membebani konsumen yang kebanyakan adalah rakyat kecil, dan logikanya sebetulnya para pemimpin tersebut secara tidak langsung meminta sumbangan kepada rakyat kecil). Dan pembaca bisa menambahkan sendiri kalau mau – barangkali pemimpin2 mengira bahwa rakyat tidak tahu hal2 tersebut diatas – dan bisa menyimpulkan sendiri bagaimana “image” negara kita yang tercinta Indonesia dengan kelakuan para pemimpin2 Orde Baru dibandingkan dengan tujuan visi negara /masyarakat ideal dalam dunia pewayangan.

2. Pimpinan ideal (seberapa jauh pimpinan orde baru merupakan refleksi pimpinan ideal seperti dalam pewayangan): Adalah kajian yang menarik apabila melihat pimpinan Nasional bangsa Indonesia saat ini (istilah pimpinan disini bisa berarti kelompok dalam kaitan yang luas termasuk pimpinan nasional didalamnya). Apakah kekuasan orde baru adalah refleksi dari Amartapura pada masa kepemimpinan Puntadewa/Judistira ataukah refleksi dari Hastinapura pada masa kepemimpinan Duryudana (dengan tidak ada maksud memberikan garis lurus hitam – putih, setidaknya ciri-ciri utama yang nampak dalam opini penulis).
Adalah menjadi ciri-ciri utama dalam ruang tamu pimpinan2 nasional yang Jawa untuk mempunyai hiasan penyekat ruangan dengan dekorasi tokoh “wayang purwo/kulit” dan umumnya tokoh yang digambarkan adalah tokoh PendawaLima dan Kresna. Ini adalah refleksi positif bahwa yang ditokohkan adalah tokoh yang mempunyai sifat2 kepemimpinan yang terpuji :

a. Yudistira : Sang raja yang konon kabarnya mempunyai darah putih, dengan ciri utama kejujuran dan kesabaran, begitu jujurnya Yudistira sehingga dia dikaruniai Dewata kereta yang tidak merambah bumi. Saat pertama kali, dalam kisah Baratayuda, Yudistira mengucapkan kata yang tidak jujur adalah ketika dia diminta oleh Sri Kresna untuk mengatakan bahwa Aswatama telah gugur apabila ditanya oleh Pendita Durna (ayah Aswatama), padahal yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama. Pendita Durna tidak percaya bahwa Aswatama telah gugur oleh karena itu dia menanyakan ke Yudistira yang terkenal kejujurannya. Yudistira menjawab dengan melirihkan suara Gajah dan menekankan kata Aswatama sehingga memberikan kesan bahwa Aswatama telah gugur dan pada saat itu juga kereta Judistira merambah bumi karena Yudistira tidak lagi sempurna kejujurannya. Yudistira adalah ksatria yang lebih menonjol sifat kependetaannya dan kepemimpinannya sangat dihormati oleh adik2-nya maupun oleh Sri Kresna.
b. Bima/Werkudoro : Jujur, tegas, disiplin, berani karena benar
c. Arjuna : senang bertapa dan menuntut ilmu oleh karena itu sangat sakti
d. Nakula : ahli dibidang pertanian dan kesejahteran rakyat
e. Sadewa : ahli dibidang peternakan dan industri
f. Sri Kresna : bijaksana, ahli strategi, antisipatif oleh karena itu sering dikatakan bisa mengerti sesuatu kejadian yang belum terjadi

Apakah pimpinan2 orde baru yang Jawa pada saat ini memang mengidolakan Pendawa Lima dan Sri Kresna dan kemudian mencoba meniru sifat2 yang terpuji dari tokoh2 tersebut secara konsekwen ? Kalau indikasi yang ada jauh dari sifat2 yang diidolakan dalam gambar wayang yang dipajang diruang tamu pimpinan2 Nasional yang Jawa maka keadaan ini justru suatu sikap hipokrit (ke-pura2-an) yang sangat nyata. Pada saat perang Baratayuda (perang antara Pendawa Lima dan Kurawa yang sama2 masih keturunan Barata) Resi Bisma yang sesepuh dari kedua belah pihak mengingatkan pihak Kurawa tidak akan mungkin menang melawan Pandawa karena di pihak Pandawa ada Yudistira, Sri Kresna, dan Semar. Dan sifat2 nyata dari ketiganya yang merupakan kekuatan suatu negara :

a. Yudistira sebagai raja yang sangat jujur dengan sifat yang “ambeg paramarta berbudi bawalaksana” – ambeg para marta berati murah hati / suka memberi, berbudi – mempunyai budi pekerti yang luhur, bawalaksana – satunya kata dengan perbuatan. Refleksi ini seharusnya yang dipunyai oleh pimpinan yang berada dibidang eksekutif negara kita.

b. Sri Kresna yang sangat adil dan bijaksana sebagai penasehat Pendawa – refleksi dari fungsi lembaga strategis, dewan pertimbangan agung, dan lembaga peradilan yang netral / judikatif.

c. Semar sebagai simbol rakyat yang bisa memberikan suara hati nurani rakyatnya, yang juga sangat menentukan dan didengar oleh rajanya – refleksi dari lembaga perwakilan rakyat /legislatif.

Dari interpretasi simbolik dari dunia pewayangan tidak benar adanya bahwa kita tidak mengenal suatu konsep yang mirip dengan konsep “trias politika”, tidak benar juga kalau kita tidak mengenal oposisi, dalam cerita pewayangan banyak cerita yang Semar dan panakawan sebagai simbol dari rakyat tidak sependapat dengan para Ksatria dan raja yang menyimpang dari budi pekerti luhur yang akhirnya bisa diingatkan kembali (cerita/lakon seperti Jamus Kalimosodo, Petruk Jadi Raja, Semar Barang Jantur, dll.). Dan dalam pewayangan biarpun namanya Dewa, Raja, dan Ksatria mempunyai kelemahan2 yang juga pada saat tertentu mempunyai perilaku yang tercela yang perlu diperbaiki. Justru pewayangan memberikan tempat paling terhormat kepada Semar (rakyat) yang selalu mengingatkan Raja dan Ksatria untuk tetap berjalan pada garis yang lurus dan berbudi luhur. Jelas faktor utama kepemimpinan dalam pewayangan yang dinilai adalah faktor etika yaitu seberapa pemimpin menunjukan keluhuran budi dan bisa membedakan antara baik dan buruk, karena pemimpin yang berkelakuan buruk tentu akan menghasilkan masyarakat yang buruk pula.

Kembali kepada refleksi kepemimpinan Nasional Orde Baru saat ini:

1. Apakah ciri-ciri utama pimpinan Nasional negara Indonesia yang tercinta ini refleksi dari Amartapura dibawah kepemimpinan bijaksana dari Judistira, Sri Kresna, dan Semar? Dan ini secara nyata yang di-idealkan oleh masyarakat Jawa dalam dunia “wayang purwo/ kulit” (dan ini pasti dicita-cita kan oleh pemimpin2 Nasional yang Jawa sebagai pegangan ideal – lepas secara nyata bisa dilaksanakan atau tidak). Dari indikator pengamatan penulis kelihatannya sifat2 kepemimpinan Orde Baru saat ini tidak ada miripnya dengan kepemimpinan ideal Judistira, Sri Kresna, dan Semar.

2. Apakah ciri-ciri utama pimpinan Nasional negara Indonesia yang tercinta ini refleksi dari Hastinapura dibawah pimpinan Duryudana dengan penasehat Patih Sengkuni, Pendita Durna yang banyak tipu muslihat dan mengagungkan angkaramurka? Kalau ini disamakan sifat kepemimpinan Nasional Orde Baru saat ini seperti sifat Duryudana, pasti akan banyak yang marah besar (apalagi kalau dikatakan seperti Rahwana / Dasamuka yang bermuka sepuluh dari Alengkadiraja). Kalau pemimpin2 Orde Baru berani melakukan intropeksi barangkali indikasi ini memang benar adanya mengingat dengan sistim kolusi dan korupsi yang merajalela, yang ukuran materi menjadi lebih utama dari budi yang luhur, yang kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompok melebihi kepentingan rakyat banyak.

Terus terang penulis berhenti sejenak, tanpa terasa mengalirkan airmata – sebagai manusia Jawa – apakah betul sudah sejauh itu penyimpangan yang telah dilakukan oleh manusia yang dipercaya sebagai pimpinan2 Nasional yang Jawa meninggalkan “uger-uger” atau petuah etika Jawa yang dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun diceritakan dalam bentuk pementasan “wayang purwo/kulit” yang merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk mengingatkan manusia, terutama para pemimpinnya memegang teguh etika berbudi luhur. Apakah etika Jawa itu hanya utopi yang sangat sulit untuk dilaksanakan? Atau sekedar kesombongan manusia yang mabuk keberhasilan yang lupa bahwa kesombongan dan keangkara-murka-an akan selalu mencari jalan “karma” nya sendiri dan akhirnya segala sesuatu hal apapun tidak bisa terjadi tanpa izinNya.

3. Ksatria ideal dan dwifungsi ABRI: Sangat menarik untuk dikaji bahwa peranan Ksatria Utama – dalam arti yang terbatas pada saat ini bisa berarti kalangan ABRI – dalam “wayang purwo / kulit” meniru model Ksatria Pandawa Lima terutama yang menjadi tulang punggung dalampeperangan adalah Bima/Werkudoro dan Arjuna. Disamping sebagai panglima perang Bima / Werkudoro juga diberikan teritori yang namanya Jodipati dan Arjuna diberi teritori yang namanya Madukara (Kemungkinan besar pemberian teritori ini pengaruh pada masa Mataram mengingat model Panglima yang merangkap Bupati yang mengelola pemerintahan daerah adalah terjadi pada masa kekuasaan Mataram – dalam cerita asli Mahabharata tidak pernah diceritakan tentang kekuasan teritori dari Bima ataupun Arjuna). Makanya sangat tidak mengherankan kalau pelaksanaan dwifungsi ABRI, banyak kalangan Ksatria / ABRI mendapat jabatan Gubernur, Bupati, Camat dan lain2-nya. Dan kalau interpretasi tentang fungsi rangkap di pewayangan tidak diluruskan kembali, dwifungsi ABRI akan tetap ada selama pengaruh “wayangpurwo/kulit” dalam masyrakat masih ada – dan tetap dianggap suatu kewajaran meniru idola Bima dan Arjuna sebagai Ksatria Utama terpanggil untuk ikutjuga mengelola pemerintahan (walaupun belum tentu punya penguasaan yang cukup dibidang ini – dan mempersempit ruang gerak orang sipil untuk menduduki fungsi penting dalam pemerintahan). Model ini sebetulnya tidak lebih model negara kerajaan bukan model peranan tentara dinegara demokrasi.
Barangkali interpretasi simbolik dari dunia “wayang purwo/kulit” berkaitan dengan fungsi rangkap dari Ksatria Utama bisa kita koreksi dan luruskan :

a. Meskipun Bima dan Arjuna adalah panglima perang andalan Pandawa, yang menjadi raja di Amartapura adalah Puntodewa/Judistira dibantu penasehat Sri Kresna dan Semar.
b. Bima dan Arjuna selalu akan tunduk pada perintah sang kakak/sang raja Puntadewa/Judistira. Tidak akan maju perang atas maunya sendiri.
c. Bima dan terutama Arjuna selalu mendapat nasehat dari Sri Kresna dan bimbingan dari Semar maupun punokawan yang lainnya.
Secara simbolik bisa diartikan :
a. Ksatria Utama dalam hal ini Bima dan Arjuna sebagai refleksi dari ABRI tidak pernah mempunyai kekuasaan yang mutlak. Dia akan selalu tunduk pada kepemimpinan eksekutif sang kakak yang memerintah dengan asas etika yang luhur.
b. Tidak ada sedikitpun ambisi dari Bima dan Arjuna untuk menggantikan sang kakak menjadi raja. Menyadari bahwa peran utamanya adalah sebagai Ksatria Utama.
c. Bima dan terutama Arjuna sangat dekat dengan Semar sebagai lambang rakyat sehingga tidak mungkin menganiaya rakyat atau memusuhi rakyat (kalau ini terjadi, dalam pewayangan Semar tetap akan menang)
d. Bima dan Arjuna selalu tunduk dan meminta nasehat Sri Kresna dan tidak mungkin untuk menggantikan peranan Sri Kresna dengan dirinya sendiri. Bagi Ksatria Utama – Indonesia yang Jawa yang kebetulan membaca tulisan ini, mohon direnungkan apakah peranan dwifungsi ABRI yang sedang dilaksanakan saat ini memang sudah sesuai dengan prinsip Ksatria Utama seperti yang pernah diajarkan nenek moyang kita dalam dunia pewayangan atau memerlukan koreksi sehingga jangan sampai membawa “karma” yang negatif terutama dalam bersikap menghayati nurani rakyat – dan kenyataannya ABRI juga berasal dari rakyat. Jangan sampai interpretasi secara dangkal peranan ganda Bima dan Arjuna didalam pewayangan hanya diterjemahkan satu sisi yang menguntungkan saja karena mendapatkan kekuasaan tambahan dan rejeki tambahan tanpa melihat sisi lain dari hubungannya dengan Yudistira, Sri Kresna, dan Semar maupun sifat2 utama yang harus dikembangkan dan dipegang teguh berkaitan dengan etika sebagai Ksatria Utama.

Kesimpulan

“Wayang purwo / kulit” adalah sumber yang tidak pernah kering untuk sarana refleksi bagi seseorang sebagai individu, sebagai pemimpin, sebagai ksatria atau apapun peran sosial dari seseorang di masyarakat yang dalam cerita/lakon yang diceritakan maupun tokoh2-nya mengajarkan pada kita
:
1. Pada akhirnya peran seseorang harus diuji terhadap nilai etika antara perbuatan yang baik dan yang buruk.
2. Apapun perbuatannya baik atau buruk seseorang akan menanggung “karma” nya sendiri-sendiri.
3. Nilai2 yang ideal agar kita berusaha secara optimal untuk mencapainya.
4. Nilai religius yang terdalam bahwa apapun yang terjadi hanya akan terjadi atas kehendakNya.
Mudah-mudahan tulisan ini mengetuk hati pembaca untuk menghayati nilai luhur budaya bangsa kita sendiri dan memberi kesadaran kepada pimpinan2 Nasional Orde Baru untuk melaksanakan koreksi dalam membimbing bangsa kita ini kearah etika yang luhur dengan memberi contoh yang nyata mulai dari dirinya sendiri untuk lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak dibandingkan dengan kepentingan dirinya sendiri, keluarganya , dan kelompoknya sendiri sebelum “karma” mencari jalannya sendiri.

Dan juga porsi pendidikan etika maupun perbuatan etika yang luhur tidak pernah mendapat porsi utama dalam pembangunan bangsa yang secara simbolik didalam pewayangan justru menjadi faktor yang utama sehingga menunjang terjadinya unsur “panjang-punjung” – panjang berarti termasyur dan punjung berarti mempunyai kewibawaan yang tingi – didalam negara / masyarakat ideal yang akan menjadi contoh untuk negara lain betapa tingginya etika yang dijunjung oleh bangsa Indonesia, dan tidak perlu dengan susah payah selalu membantah bahwa “tidak pernah ada korupsi dan kolusi di Indonesia”, “pelaksanaan hak-hak asazi manusia di Indonesia sudah sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sendiri” dan banyak faktor etika yang lainnya yang selalu membuat malu bangsa Indonesia dan sorotan negatif didalam pergaulan international yang se-mata-mata bukan Indonesia sebagai bangsa dan negara tetapi lebih disebabkan oleh tingkah-laku dari pelaku2/pimpinan2 Nasional Orde Baru pada tingkat yang mayoritas.

MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN

Sebagai kelanjutan dari tulisan “DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDER BARU” yang mengupas idealisme etika JAWA dalam pewayangan yang berkenaan dengan masyarakat dan pimpinan ideal maupun kekuasaan, “wayang purwo / kulit” sebagai pengertian simbolik bagi penulis tetap merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk suatu refleksi kekinian. Kali ini penulis ingin mengajak pembaca mengupas makna simbolik dari perang Bharatayuda yaitu bagian dari Mahabharata yang mengisahkan perang saudara antara Pendawa Lima dan Kurawa (mereka adalah sama-sama cucu dari Bhegawan Abiyasa) untuk mengambil kembali kerajaan Indraprasta / Amartapura yang dikuasai oleh Hastina-pura dikarenakan kalah judi. Pendawa Lima merasa sudah melunasi hukumannya dibuang dihutan selama 12 (duabelas) tahun, dan satu tahun dalam penyamaran, tetapi Kurawa mempertahankan dan menuduh Pandawa Lima gagal melaksanakan hukumannya. (Dalam “wayang purwo / kulit” agak sedikit ada kerancuan bahwa penyebab peperangan disebabkan Pendawa Lima ingin mendapatkan hak Hastina-pura yang dititipkan oleh Panduwinata – ayah Pendawa Lima, yang pada saat itu raja Hastinapura – kepada kakaknya yang buta Destrarata – ayah Kurawa). Dalam episode Bharatayuda, didalamnya terdapat kisah “Bhagawatgita” yaitu kisah awal dari Bharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawan Kurawa dikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapi adalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll. Arjuna merasa kenapa harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawa menguasai kerajaan. Sri Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkan wujud Wisnu yang sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa : Peperangan Bharatayuda bukan sekedar perang melawan saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan oleh Ksatria Utama sebagai dharmanya / kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dan kebatilan dimuka bumi. Sri Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhir kehidupan yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisah Bhagawatgita (yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu). Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah “wayang purwo/kulit” banyak versi sesuai dengan peresapan masing-masing penggemar ataupun pengamat “wayang purwo / kulit” yang pada hakekatnya bisa dikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat micro (dalam diri manusia sendiri) dan perubahan yang bersikap macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara).

Arti simbolik yang bersifat micro (dalam diri manusia secara individu) Pengertian simbolik perang Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusia dalam rangka mengatasi dirinya antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalah peperangan yang tiada henti selama hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budi luhur dan melaksanakan dalam tindakan nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yang bersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan lingkungannya.

A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan / pergulatan etika baik dan buruk dalam diri manusia: Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusia menginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat buruk dalam dirinya yang berarti membunuh sebahagian dari dirinya.
Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yang merusak seperti “ma-lima” (lima M) yaitu (madon, madat, maling, main, mabuk yang artinya madon berarti – kesenangan dengan wanita/ sex diluar pernikahan, madat – kesenangan dengan candu / ganja / ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya, maling – kesenangan memiliki hak / kepunyaan orang lain, main – kesenangan berjudi, mabuk – kesenangan minum minuman keras). Kalau seseorang sudah terlanjur mempunyai kesenangan seperti tadi yang merupakan sifat buruk dalam dirinya, seseorang memerlukan sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukan perang Bharatayuda, untuk membunuh sebahagian dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itu sangat berat dan terasa menyakitkan. Dan apabila sifat Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang,dia mampu mengatasi dirinya untuk tidak berbuat yang kurang terpuji dan berbudi luhur dalam perbuatan nyata untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekelilingnya. Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan yang nyata dari sifat manusia tersebut dari manusia yang kurang terpuji sifat2-nya menjadi manusia yang terpuji sifat2-nya.

B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/ akibat perbuatannya: Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakan-nya terhadap nilai-nilai budi luhur atau kecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh2 berbagai budaya dari luar kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya yang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih. Tapi kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam “wayang purwo/kulit” hal tersebut bukan sesuatu yang tidak terdeteksi dalam kisah tokoh2-nya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpuji maupun kurang terpuji bahkan terhadap tokoh2 yang di-ideal-kan seperti tokoh Pendawa Lima dan Sri Kresna. Hal ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. “Wayang purwo / kulit” mengajarkan suatu budaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan menciptakan tokoh punokawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang selalu memberikan peringatan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria. Kalau punokawan ini secara simbolik diartikan sebagai “rakyat” dan inilah secara nyata sistem demokrasi dimana kelemahan dan ketidaksempurnaan manusia dicoba diatasi dengan melaksanakan sistem yang saling mengingatkan (check and balance ataupun social control) antara pihak pimpinan / raja, para ksatria, sistim peradilan, dan rakyatnya. Sistem ini menuntut semua pihak rela menerima koreksi / kritik dari pihak yang lain, dan budaya “wayang purwo/kulit” memberi contoh yang gamblang bahwa Semar maupun punokawan selalu mengingatkan raja / ksatria yang peringatannya / kritiknya diterima dan diperhatikan oleh raja dan para ksatria.
Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurna-an sifat2 dari tokoh yang dianggap sebagai tauladan :
1. Yudistira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang raja ternyata dia mempunyai kelemahan
yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi yang kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehingga membawa kesengsaraan keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara2-nya, bahkan istrinya – Dewi Drupadi – dipakai sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepan umum oleh Dursasono – salah satu dari Kurawa, dan akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuang ditengah hutan selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.
2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yang membawanya dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai “Don Yuan” (biarpun beberapa pakar pewayangan hal ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehingga dia selalu berguru kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan / disimbolkan sebagai menguasai ilmu dari sang Bhegawan).
3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampu mendidik anaknya dan terlalu
memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karma kematiannya melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya – yang anak panahnya berasal dari perbuatan / kesombongan anaknya Samba (Mohon ber-hati-hati bagi yang merasa menjadi raja – dan saya tidak yakin kalau beliau membaca Internet, dan saya yakin bahwa pembantu2 dekatnya pasti ada yang membaca Internet dan pasti tidak berani mengingatkan sang raja – dan yang memanjakan anak2-nya menjadi orang yang serakah dan angkara murka bahkan Sri Kresna yang titisan dewa tidak bisa lepas dari karma akibatnya).
Contoh2 diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh2 seperti Abimanyu (anak Arjuna) yang membohongi istrinya, Gatutkaca (anak Werkudoro) yang memunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyo yang membunuh mertuanya, dan yang lain2-nya yang pada suatu saat dalam kehidupannya pernah melakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan karma dari perbuatan buruknya terjadi pada perang Bharatayuda dan ini menjadi suatu interpretasi simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara micro (pada individu) yaitu : peperangan terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitu cara kematiannya adalah cermin dari seluruh cara dan perilaku seluruh kehidupannya baik ataupun buruk. Arti simbolik yang bersifat macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara)

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara manusia sebagai individu juga selalu diuji keberpihakan seseorang terhadap kelompok yang punya nilai2 luhur dan kelompok yang cenderung terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya suatu negara dari pengaruh-pengaruh berbagai budaya dari luar sebagai suatu dampak globalisasi kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara kelompok2 yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya. Kalau melihat contoh2 seperti Yudistira /Puntodewo, Arjuna, dan Sri Kresna seperti tersebut diatas jelas bahwa sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak-sempurna-an manusia. Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisa dijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela. Dengan segala cacat dan cela sebagai individu, secara kelompok mereka mempunyai suatu ciri utama yaitu mengemban tugas Pemimpin maupun Ksatria Utama yang harus selalu menegakkan kebenaran dan memerangi kelompok yang angkaramurka. Dan dari zaman ke zaman selalu saja akan muncul seorang Pemimpin yang memimpin kelompoknya untuk memerangi kezaliman yang merugikan masyarakat/rakyat banyak ataupun pihak2 yang lemah dan tak berdaya. Dan nyata2 bahwa setiap Pemimpin akan mengalami dilema seperti Arjuna yang ragu2 untuk menjalankan perannya untuk menegakkan kebenaran apabila yang dihadapi adalah para Pimpinan bangsanya sendiri, bahkan diantaranya adalah para tokoh yang dihormati seperti Resi Bisma, Adipati Karno yang oleh keterikatan historis (walaupun sebetulnya mereka tidak sependapat dengan kelakuan Duryudono sebagai raja kelompok Kurawa) ataupun dengan sejuta alasan lainnya berpihak kepada yang tidak benar. Dan perang Bharatayuda adalah simbol peperangan yang mungkin bisa timbul didalam masyarakat apabila muncul kelompok yang menjunjung tinggi etika berbudi luhur yang melaksanakan perang suci menghadapi kelompok yang zalim dan angkaramurka agar terjadi perubahan yang nyata menuju suatu tata masyarakat yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya Pendawa Lima memutuskan untuk melaksanakan suatu perang Bharatayuda bukanlah suatu proses atau keputusan yang mudah, Pendawa Lima secara nyata telah menjalankan usaha mencegah agar perang Bharatayuda jangan terjadi dengan misi perdamaian – yang terakhir adalah lakon / cerita “Kresno Duto” yang mengutus Sri Kresna untuk menyelesaikan masalah secara damai yang akhirnya malah menimbulkan kemarahan yang sangat dari Sri Kresna yang hampir saja menghancur-luluhkan seluruh kerajaan Hastinapura. Secara simbolik bisa diartikan bahwa kezaliman dan keangkara-murkaan itu semacam candu/ecstacy, sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya, harus ada pihak2 yang berani memerangi dan menghancurkannya.

Diceritakan bahwa perang Bharatayuda adalah perang yang “gegirisi” atau sangat menakutkan -tidak ada satupun perang yang tidak menakutkan yang akan meminta banyak korban-dimana akhirnya semua seratus Kurawa dan segala Ksatria yang membantunya habis terbunuh, juga dari sisi Pendawa Lima tidak ada anak2 Pendawa Lima yang bisa lolos dari maut. Kemenangan dari Pendawa Lima harus dibayar sangat mahal walaupun akhirnya Hastinapura bisa menjadi negara yang adil makmur setelah segala keangkamurkaan Kurawa bisa dimusnahkan. “Jer basuki mawa bea” adalah suatu pepatah Jawa yang artinya – untuk mencapai suatu tujuan selalu ada beayanya.

Kesimpulan

Indikasi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan yaitu suatu kondisi yang apabila tidak dicermati ataupun disadari terutama oleh pendukung Orde Baru – dikarenakan posisinya yang memegang kekuasaan dan kekuasaan apabila berciri angkaramurka sama dengan ketagihan candu / ecstacy yang punya ciri: sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya – yang bisa menimbulkan suatu situasi radikal para kelompok yang merasa terpanggil untuk melaksanakan pembaharuan yang bisa mengidentifikasikan ebagai kelompok moralis / kelompok pro-demokrasi menghadapi pemerintahan yang zalim yang telah menjalankan Pemilu yang tidak adil, pemerintahan yang penuh korupsi dan kolusi, yang tentaranya menembaki rakyatnya sendiri, melakukan manipulasi undang2 dan peraturan yang menguntungkan kelompoknya, yang anak-anak sang pemimpin ikut campur dalam urusan berusaha dan bernegara seperti layaknya pangeran2 kerajaan dsb. Lambat atau cepat apabila tidak diatasi secara bijaksana bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi perang Bharatayuda dibumi kita tercinta, walaupun kita semua tidak menginginkan, dan adalah sangat alami barangkali juga sebagai hukum alam bahwa selalu akan muncul kelompok moralis yang dengan segala resikonya untuk memerangi pihak yang dianggap menyimpang dari tindakan yang jujur dan terpuji dari waktu ke waktu.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

SEMAR DAN SENJATA “KENTUT”-NYA

Melanjutkan refleksi budaya pewayangan pada tulisan pertama yaitu “DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAN ORDE BARU” yang membahas tentang etika Jawa berkenaan dengan pimpinan ideal dan kekuasaan, tulisan kedua “MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN” yang membahas tentang ketidak sempurnaan manusia dan hakekat perang saudara dalam kerangka menegakkan kebenaran melawan keangkara-murkaan agar terjadi perubahan yang nyata untuk menuju pada tata masyarakat yang lebih baik, pada tulisan kali ini penulis akan membahas tokoh yang sangat menarik didunia pewayangan yang paling banyak mendapat perhatian dan berbagai intrepertasi simbolik yang sangat bervariasi yaitu tokoh Semar dengan senjata ampuhnya “Kentut”yang merupakan bagian terakhir dari trilogi pewayangan.

Semar adalah tokoh utama panakawan – arti dari panakawan adalah pana yang berarti bijaksana dan kawan berarti teman jadi artinya adalah teman yang bijaksana – bersama-sama ketiga anaknya yang bernama Gareng, Petruk, dan Bagong, secara umum dalam pewayangan digambarkan sebagai berikut :

1. Semar selalu muncul pada tengah malam pada pagelaran “wayang purwo / kulit” semalam suntuk yaitu setelah episode yang dinamakan “goro-goro” yang dalam “goro-goro” diceritakan terjadi banyaknya kekacauan dimuka bumi ini yang secara simbolik kemunculan Semar dan punokawan meredakan kekacauan tersebut.
2. Pada saat pemunculannya Semar sang Dalang akan bercerita bahwa:
“Semar punika saking basa “samar”, mapan pranyoto Kyai Lurah Semar punika wujudira samar. Yen den wastani jalu wandanira kadi wanita.Yen sinebat estri, dadapuranira teka pria. Pramila katah ingkang klentu mastani. Yen ta wonten ingkang hatanya menggahing sasipatanira hirung sunti mrakateni, mripat mrembes mrakateni, lan sak panunggalnipun sedaya sarwa mrakateni ” yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah: “Semar berasal dari kata samar. Memang sesungguhnya wujud dari Kyai Lurah Semar juga samar. Kalau dikatakan laki-laki wajahnya mirip wanita. Kalau disebut wanita perawakannya seperti laki-laki.

Oleh karena itu banyak orang keliru menilai. Jika ada yang mencoba memerinci anggota badannya akan melihat hidungnya mancung seperti wanita yang mempesonakan, matanya yang basah juga mempesonakan, dan yanglain-lain-nya juga serba menarik perhatian”.
3. Semar dan panakawan lainnya bukan berasal dari epic Ramayana dan Mahabharata sehingga banyak pakar yang menyimpulkan bahwa tokoh tersebut asli Jawa / asli Indonesia yang sudah ada sebelum agama Hindu dan Budha datang ke Indonesia.
4. Diceritakan asal usul Semar adalah dari telor yang :
a. Kulitnya menjadi Togog yang menjadi simbol hidup laksana kulit tanpa isi yang mementingkan duniawi semata oleh karena itu ia mengabdi pada raksasa sebagai simbul angkaramurka.
b. Putihnya menjadi Semar yang menjadi simbol hidup yang penuh kesucian yang mementingkan isi dari pada kulitnya. Ia selalu memihak kepada kebenaran dan keadilan dan meluruskan segala bentuk penyelewengan oleh karena itu ia mengabdi kepada raja dan ksatria utama.
c. Kuningnya menjadi Manikmaya yang mencerminkan kekuasaan karena itu ia dinobatkan menjadi rajanya dewa di Kahyangan “Junggring Salaka” sebagai Bhatara Guru.

Biarpun Semar itu manusia atau rakyat biasa yang menjadi panakawan para raja dan ksatria, tapi dia memiliki kesaktian yang melebihi Bhatara Guru yang rajanya para Dewa. Semar selalu bisa mengatasi kesaktian dari Bhatara Guru apabila ingin mengganggu Pendawa Lima yang dalam asuhannya. Banyak arti simbolik dalam masalah ini yang penulis percayai mungkin mendekati kebenaran adalah :

Bhatara Guru dalam agama Hindu adalah Dewa Shiva yang dipuja oleh pemeluk agama Hindu, sedangkan Semar adalah tokoh asli Jawa / asli Indonesia yang mungkin juga dipuja saat sebelum kedatangan agama Hindu. Secara simbolik bisa diartikan bahwa existensi dari budaya atau nilai2 luhur dari Jawa kuno selalu akan bisa mengatasi dari pengaruh Hindu dan secara simbolik selalu memenangkan tokoh Semar terhadap tokoh2 dewa Hindu. Dan hanya dengan menerima tokoh Semar agama Hindu bisa berkembang di Indonesia. Hal ini sekali lagi dibuktikan dengan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan senjata Puntadewa jamus “Kalimasada” sebagai transisi dari Hindu menjadi Islam yaitu dengan menimbulkan kisah hutan Ketangga yang mengisahkan pertemuannya dengan Puntadewa dan meng-Islamkan dengan menjabarkan jamus Kalimasada sebagai Kalimat Sahadat. Dan peng-Islaman masayarakat Jawa tidak melepas sama sekali tokoh yang sudah ada dari zaman sebelum Hindu dari sekarang seperti Semar yang perilakunya dijadikan teladan ataupun panutan masyarakat Jawa. Dan disadari oleh Sunan Kalijaga bahwa Islam hanya akan bisa diterima oleh masyarakat Jawa apabila kesenangan orang Jawa akan “wayang purwo / kulit” tidak diganggu yang sebetulnya kesenangan orang Jawa kepada “wayang kulit / purwo” bukan sekedar sebagai tontonon tapi suatu upaya pelestarian dari petuah atau etika atau budaya Jawa yang berumur sangat tua yang masih hidup sampai sekarang oleh karena itu wajah Islam di Jawa atau mungkin juga di Indonesia mempunyai ciri budaya yang berbeda dengan Islam di Saudi Arabia tanpa mengurangi makna Islam yang mendasar.

5. Dengan berjalannya waktu tokoh Semar dan panakawan diterjemahkan sebagai simbol kesederhanaan dari rakyat jelata, dikarenakan kehidupannya sebagai Lurah / Kepala Desa yaitu suatu jabatan kepemimpinan yang paling dasar/bawah dalam sistim pemerintahan yang dipilih secara demokratis oleh masyarakat pedesaan pada masa lalu, tokoh Semar selalu berada diantara rakyat kecil dan kesederhanaannya telah membawa kepada sifat kearifan dan kesucian pandangan yang bisa memberikan pandangan yang lebih murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan sehingga bisa menangkap kebenaran seperti apa adanya. Oleh karena itu diceritakan dalam “wayang purwo/kulit” Semar selalu bisa mengatasi permasalahan yang tidak mampu diatasi oleh asuhannya Pendawa Lima ataupun para raja dan ksatria lainnya.

Contoh-contoh diatas adalah memberikan suatu gambaran bahwa tokoh Semar merupakan tokoh yang paling banyak mendapat sorotan interpretasi simbolik dikarenakan keunikan, kesamaran dan ketidakjelasannya dan yang lebih lagi karena sebagai tokoh yang asli Jawa / asli Indonesia yang oleh cendikiawan ataupun budayawan Jawa dimasa lalu disisipkan dalam epic Ramayana dan Mahabharata dalam cerita “wayang purwo / kulit” tanpa harus merusak kisah kepahlawan yang ingin ditonjolkan bahkan malahan memperkaya nuansa etika yang lebih mendalam. Contoh-contoh diatas belum lagi membahas intepretasi tokoh Semar yang bersifat mistik yang penulis tidak akan bahas disini.

Semar dengan senjata ampuhnya “Kentut”

Diceritakan dalam pewayangan bahwa Semar mempunyai senjata yang sangat ampuh yaitu berupa “Kentut” dan hal ini yang penulis ingin bahas kandungan simbolik yang semata-mata adalah menurut keterbatasan pandangan penulis sendiri. Sebagai suatu kisah kepahlawanan “wayang purwo/kulit” tidak lepas dari kisah kesaktian senjata dari para pahlawannya untuk bisa memenangkan peperangan, seperti Arjuna dengan senjata panahnya Pasopati, Bima dengan kuku Pancanaka, Sri Kresna dengan Cakra dan sebagainya. Bahkan dalam pewayangan juga dimasukkan unsur keris yang nyata2 bukan senjata dari Hindia tapi asli dari Jawa. Tradisi memuja senjata ini berlanjut pada budaya/sejarah Jawa dengan pada masa-masa kejayaan kerajaan Hindu dan Islam seperti Ken Arok dengan keris Empu Gandring, Raja Balambangan dengan gada Besi Kuning, anembahan Senopati dengan tombak Kyai Plered, dsb. Senjata sebagai alat memenangkan peperangan akan tetap penting artinya bahkan sampai pada masa kekinian seperti bagaimana Sekutu menggunakan senjata nuklir untuk memenangkan peperangan melawan Jepang. Juga dengan terjadinya perlombaan kecanggihan persenjataan pada masa perang dingin antara Rusia dan Amerika pada masa beberapa tahun yang lalu. Apabila senjata itu kita terjemahkan sebagai tools atau peralatan untuk memenangkan suatu peperangan ataupun persaingan, pengembangan peralatan ini tidak hanya terbatas kepada sesuatu yang bersifat phisik peralatan peperangan militer tapi juga menyangkut peralatan atau sumber daya (resources) untuk memenangkan persaingan ibidang bisnis dan politik. Sedangkan peralatannya atau tools bisa bervariasi dari penguasaan informasi, sistim, strategi, prosedur/peraturan, sumber daya manusia yang berkwalitas dsb.

Yang memerlukan kajian lebih lanjut kenapa Semar mempunyai senjata “Kentut” dan bukan senjata yang bersifat phisik seperti panah, pedang, tombak ataupun sejenisnya. Beberapa sifat senjata “Kentut” nya Semar:
1. Kentut berasal dari dalam diri Semar sendiri, jadi senjata ini sifatnya adalah kekuatan yang muncul dari pribadi Semar bukan alat yang diciptakan atau dibuat.
2. Semar menggunakan senjatanya bukan untuk mematikan tapi lebih untuk menyadarkan. Dalam beberapa lakon/cerita pewayangan Semar menggunakan senjata “Kentut” nya melawan resi/raja/ksatria yang tidak bisa dikalahkan oleh Pandawa Lima yang akhirnya “badar” atau sadar kembali pada perwujudannya yang semula, yang biasanya adalah Bhatara Guru, Bhetari Durga dsb.
3. Semar akan menggunakan senjata “Kentut” nya apabila para raja / ksatria asuhannya tidak bisa mengatasi masalah dengan cara yang konvensional / menggunakan senjata biasa. Sebagai makna simbolik “Kentut” itu sendri mempunyai sifat-sifat:
1. Selalu mempunyai nuansa bersuara dan berbau.
2. Biasanya baunya busuk atau tidak enak.
3. Jadi “Kentut” itu juga bisa berati suara yang berbau atau bernuansa kurang enak didengar maupun dirasakan.
Jadi kalau kita kombinasikan dengan dengan simbolik Semar sebagai suara “rakyat” kecil yang bercirikan kesederhanaan yang membawa kepada sifat kearifan dan kesucian pandangan yang bisa memberikan pandangan yang lebih murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan sehingga bisa menangkap kebenaran seperti apa adanya.

Maka senjata “Kentut” nya Semar adalah bisa punya arti simbolik suara “rakyat” yang menyuarakan kebenaran yang sifatnya memberikan kesadaran kepada para pimpinannya agar kembali pada jalan yang benar sehingga suaranya bagi sang pimpinan adalah suara-suara yang tajam dan tidak enak didengar dan kalau dirasakan sangat bau busuk karena keterus terangannya melaksanakan kritik yang cenderung untuk menyakitkan kalau dirasakan bagi sang pemimpin. Dan kenyataannya apabila rakyat sudah mengutarakan isi hatinya, apalagi kalau menyampaikan kemarahannya akan lebih dahsyat seperti laiknya “Kentut” Kyai Lurah Semar yang mau tidak mau pemimpin harus sadar untuk memperbaiki diri (atau kepemimpinannya sebetulnya tidak diakui oleh mayoritas rakyat dan rakyat mengakuinya semata-mata berdasarkan rasa takut).

Dalam kondisi kekinian, suara rakyat yang murni tidak terdengar dalam tata masyarakat Indonesai dikarenakan ada hambatan2 dalam penyampaiannya atau tidak ada kebebasan dalam menyuarakan pendapatnya/keinginannya (termasuk didalamya kemandulan media masa, lembaga perwakilan rakyat untuk dijadikan sarana rakyat menyatakan pendapatnya yang mungkin saja tidak sejalan dengan pendapat yang sedang berkuasa).

Sebagai akibatnya para pimpinan negara hanya mendengarkan suara-suara yang merdu dan enak didengar saja yang mungkin jauh dari kenyataan yang ada. Oleh karena itu “rakyat” mencari jalannya sendiri untuk menyuarakan hati nuraninya.
Kalau kita membaca Internet – seperti Indonesia-L – barangkali ini lambang “Kentut” nya Semar dengan segala suara yang tidak enak didengar ditelinga oleh para pimpinan Negara kita(kalau mereka baca Internet – mengingat accesnya yang masih terbatas di Indonesia)yang mungkin lebih mendekati realitas dan suara rakyat yang sebenarnya yang menghendaki keterbukaan dan kearifan para pimpinan Negara untuk menerima saran dan kritik agar melakukan perbaikan dan “badar” atau sadar kembali untuk menuju cita-cita masyarakat Indonesia yang adil makmur bagi semua rakyat (bukan buat sebahagian kecil rakyat yang dengan kedekatannya dengan kekuasaan mendapat kesempatan yang lebih dari yang lain)

Kesimpulan

Senjata “Kentut” nya Semar adalah secara simbolik bisa diartikan senjata pamungkasnya “rakyat” untuk menyadarkan pemimpinnya agar kembali kepada jalan yang benar yaitu etika berbudi luhur yang harus dipegang teguh. Mencapai tujuan yang benar haruslah dengan cara yang benar, adalah sangat disayangkan apabila kita dipimpin oleh pimpinan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (tanpa maksud untuk mengurangi nilai keberhasilan secara phisik yang telah dicapai selama ini). Nilai-nilai luhur etika Jawa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya selalu mengajarkan mencapai tujuan yang baik menuju Indonesia yang adil dan makmur harus dengan sekaligus mempraktekkan etika budi luhur agar terjadi Negara ideal yang “panjang-punjung”, panjang berarti menjadi panutan negara lain, punjung berarti mempunyai kewibawaan yang tinggi.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Ki Ageng Mangir.

Referensi:
1. Dr. Hasim Amir M.A. – 1991. Nilai-Nilai Etis Dalam Wayang.Penerbit
Pustaka Sinar Harapan
2. Nyoman S. Pendit – 1970. Mahabharata. Penerbit Bhratara
3. Prof. Danys Lombard – 1996. Nusa Jawa – Silang Budaya Jilid
1,2,3. Penerbit P.T.Gramedia Pustaka Utama
4. Prof. Drs. Suwadji Bastomi
– 1992. Gelis Kenal Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press
– 1996. Gemar Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press
– 1996. Gandrung Wayang. Penerbit IKIP Semarang Press
5. Ir. Sri Mulyono Djojosupadmo , Apa dan Siapa Semar, 1975,P.T. Gunung Agung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: