Senja di Lembah Suwela

“TERAMAT sulit kupercaya, Tuan, benarkah Tuan sendiri yang melakukan serangan secara pengecut seperti ini? Tentu, siapa lagi. Guwawijaya mampu melesat terlalu cepat untuk diikuti dengan kasatmata, apalagi datang menerjang dari belakang kepala. Bahkan pohon-pohon pun tumbang menjadi arang, apalagi hanya sekadar leher yang terdiri dari daging dan tulang.

Aku bahkan tak mampu lagi sekadar mencabut panah dewata Tuan. Kedua tanganku sudah putung. Kedua kaki telah lebih dulu penggal. Lihat, darah bercucuran dari tembusan luka di leherku, berlelehan dari kedua bahu dan pangkal paha, memerahi dada, punggung, dan sekujur tubuh.

Darah makin menggenang. Sebentar lagi tubuh raksasaku akan tumbang, bersamaan dengan lenyapnya mentari di balik Gunung Suwela.

Tapi, masih tersisa rasa penasaran, menggumpal-gumpal di seluruh pembuluh.

Benarkah kesatria pelindung jagat namanya jika melakukan penyerangan tanpa diketahui lawannya? Ah, kesatria pujaan arcapada, lelaki kesayangan dewata, apakah nilai kesatriaan masih bisa dipertanggungjawabkan oleh lesatan panah yang menembus dari belakang pandang seseorang?

Mungkin benar, perang campuh tak memberikan banyak kesempatan bagi jalan kejantanan. Hanya saja, sekali lagi aku memendam perasaan kecewa yang amat dalam. Kekecewaan yang membuncah karena tak sampainya sebuah harapan. Tentu, bukan harapan untuk mengungguli Tuan, melainkan harapan bahwa Tuan benar-benar kesatria sejati jagat ini.

Oh, kesatria Ayodya, bukankah apa yang Tuan lakukan kepadaku bukan yang pertama kali? Sejarah telah terbentang dan semua orang membacanya dengan gamblang. Sungguh-sungguhkah dahulu Tuan mengalahkan Ramabhargawa alias Wasi Jamadagni begawan sakti? Tidak! Bhargawa mati karena keinginannya sendiri. Ia perlaya dengan sukarela, tanpa melakukan perlawanan yang sepadan. Ia telah bosan, terlalu lama hidup di dunia. Boleh jadi, inilah sejarah yang berulang. Bukankah Arjuna Sasrabahu, manusia setengah dewa itu, sebelumnya tewas tanpa perlawanan di tangan Bhargawa sendiri? Dan kemudian, Bhargawa juga menyerah kepada takdir dewata yang menyatakan bahwa ia akan mati oleh seorang kesatria titisan Wisnu.

Akan tetapi, benarkah itu sebuah takdir? Tidakkah itu merupakan alur cerita yang telah dipola semata-mata oleh yang empunya kuasa?

Bagaimana dengan kematian Kakang Subali? Benarkah ia kalah digdaya oleh Tuan? O, nanti dulu! Kakang Subali mati juga oleh sebuah kelicikan. Ia tak berdaya dengan cara yang sama dengan yang Tuan lakukan padaku. Panah Tuan menancap di tengkuknya. Hanya saja, demi membela diri, Tuan berdalih bahwa panah dewata Guwawijaya tidak akan melukai orang yang tak berdosa.

Benarkah demikian? Mengapa ketika Kakang Subali dan Sugriwa berperang tanding secara kesatria Tuan tidak memanahnya dengan alasan takut salah sasaran, terlepas dari kenyataan bahwa tindakan membokong itu sama sekali bukan ciri seorang kesatria? Bukankah ini menunjukkan bahwa Tuan masih ragu-ragu terhadap keyakinan Tuan sendiri?

Dan, bagaimana dengan kematian Katakaya, Wirada, Trimurda, Karadusana, dan lain-lain? Bukankah semua tak berbeda dengan proses kematianku?

Kalau demikian halnya, kalau sebuah pembokongan disahkan bahkan oleh para dewata sendiri, bagaimana dengan masa depan kebajikan yang konon diagung-agungkan para kesatria? Bukankah kelicikan demikian tak lebih dari kepengecutan yang nilainya lebih jahat daripada kejahatan terang-terangan yang dilakukan oleh, misalnya, Kakang Rahwana?

Baiklah, boleh jadi jalan hidup Tuan telah dipola dewata bahkan jauh sebelum Tuan dilahirkan. Tuan disebut-sebut sebagai titisan Wisnu sendiri. Sejak awal Tuan telah ditakdirkan untuk mengalahkan Kakang Rahwana, mengalahkan keangkaramurkaan, sebagai pemberantas kejahatan. Benarkah demikian? Bukankah, jika begitu, kehebatan Tuan tak lebih hanya berbekal fasilitas belaka dari para dewa? Usaha Tuan, kalaupun ada, sama sekali tak sebanding dengan kemudahan-kemudahan yang disediakan untuk Tuan.

Bandingkan dengan Kakang Rahwana, misalnya, yang terlahir justru tanpa kehendak. Kakang Rahwana, ya, bahkan juga aku dan adikku Sarpakenaka memang terlahir di luar keinginan orang tua kami, ayahanda Wisrawa dan ibunda Sukesi. Bukankah perkawinan mereka itu sendiri tanpa rencana, hanya gara-gara sebuah cupu? Dan, mereka sangat kecewa ketika secara berurutan memperoleh tiga anak bersosok raksasa, yang tak lain lambang keangkaramurkaan. Hanya adik kami si tampan Wibisana yang lahir berdasarkan keinginan, melalui semadi yang sangat khusyuk.

Akan tetapi, kemudian, Kakang Rahwana menjadi besar tanpa fasilitas dari siapa pun. Adilkah persaingan antara Tuan yang didukung para dewata dan Kakang Rahwana yang mandiri?

Dan toh, dengan segala fasilitas yang diberikan oleh dewata, mengapa Tuan masih melibatkan sejumlah pihak lain yang sesungguhnya tak berkaitan sama sekali? Kalau Tuan ditakdirkan bisa mengalahkan Kakang Rahwana, mengapa Tuan membawa serta Kakang Sugriwa, Anoman, dan berjuta-juta jiwa lasykar wanara yang kemudian mati sia-sia? Kalau Tuan mengemban tugas memberantas kejahatan, mengapa Tuan bunuhi pula para prajurit Alengka yang kebanyakan tak tahu apa-apa? Lebih-lebih anak-anak dan wanita yang tak berdosa?

Berapa banyak nyawa yang telah menjadi tumbal asmara Tuan atas nama kebajikan? Berapa korban jiwa percuma atas nama kebenaran? Selain korban nyata di peperangan, ingat pula, berapa juta tombak, rimba yang binasa dalam episode Rama Tambak? Oh, betapa saat itu gunung-gunung diratakan, batu-batu dan tanah diangkut, hutan-belantara diudal-udal, dan gajah-gajah, macan, kijang, burung-burung langka, semua mati sia-sia karena tak tahu mengungsi ke mana, hanya untuk membangun jembatan pongah membelah lautan luas sebagai sarana penyeberangan Tuan dan balatentara Tuan yang tak bisa mengarungi angkasa seperti Anoman, misalnya.

Kalau Tuan ditakdirkan akan menewaskan Kakang Rahwana, mengapa Tuan tak langsung melurug sendirian ke Alengka menantangnya bertarung secara kesatria? Jerikah Tuan terhadap ajian Pancasona milik Kakang Rahwana? Atau, karena tak bisa menyeberangi lautan sendirian? Atau, takut dikeroyok balatentara raksasa?

Apakah semua itu menunjukkan bahwa sebenarnya Tuan tidaklah sedigdaya seperti kabar yang menyebar ke seantero jagat, tidak serendah hati sebagaimana layaknya seorang kesatria, dan Tuan berani tampil hanya karena dukungan para dewata penguasa dengan segala kemudahan dan takdir-takdir yang mereka ciptakan?

Kakang Rahwana memang salah menculik Sinta istri Tuan tercinta. Tapi, ia melakukannya tanpa segelar pun pasukan. Marica sekadar membantu mengelabui dengan menjelma menjadi kijang kencana. Namun, mengapa kesatria mumpuni seperti Tuan bisa dikelabui? Dan, setelah kijang itu Tuan lumpuhkan, di manakah gerangan Tuan? Dan, mengapa Sinta kemudian tertipu oleh rintihan kijang sehingga menyuruh Laksmana menyusul seraya mencurigai Laksmana karena saudara Tuan yang telah bersumpah wadat itu dituduh ingin memanfaatkan keadaan setelah Rama tak ada?

Kakang Rahwana kemudian seorang diri mencuri Sinta, seorang diri menghadapi Jatayu, dan seorang diri membawanya ke Alengka.

Aku memang turun gelanggang bukan atas nama Kakang Rahwana. Tapi, aku juga berperang tidak sepenuhnya karena membela tanah airku. Aku maju ke medan laga lebih disebabkan oleh sebuah gugatan yang telah lama bersemayam dalam mimpi-mimpiku, dalam tidurku yang sangat panjang karena titah Hyang Indra. Ya, sebuah gugatan terhadap tatanan besar yang berlaku di jagat kita. Bagaimana sebenarnya fungsi dewata sebagai pihak yang bertindak memerintah kahyangan sekaligus arcapada? Bagaimana kita menempatkan sebuah persekongkolan, baik terselubung maupun telanjang, yang terjadi antara para dewata dan kesatria utama? Sejelas mana sebenarnya batas wewenang dan kekuasaan antara apa yang disebut penguasa dan yang dikuasai, antara dewata dan para titah? Bagaimana mungkin bisa terjadi kerancuan dimensi kesaktian dalam peristiwa Jatasura dan Maesasura, misalnya, atau puluhan kasus serupa? Mengapa dewa mesti minta bantuan Subali untuk menaklukkan kedua tokoh berkepala hewan itu? Mengapa dewa meminta bantuan Rama untuk mengalahkan penyerang Suralaya, padahal senjata andalan Rama sendiri pemberian dewa?

Bagaimana sebenarnya dasar dari alur cerita yang disusun penguasa jagat? Sebuah contoh kebajikan melawan kejahatan? Mengapa hanya para kesatria tampan yang boleh menjadi tokoh kebajikan? Mengapa raksasa-raksasa buruk rupa harus terus-menerus menjadi pemeran kejahatan? Tidakkah terbuka juga peluang bagi para kesatria berwajah tampan, dengan busana gemerlapan, untuk juga melakukan penyelewengan yang justru umumnya lebih memuakkan karena diwarnai kemunafikan tingkat tinggi?

O, kesatria putra Dasarata, kata-kataku tentu saja tidak akan mengubah takdir yang telah ditentukan dewata. Aku juga tak bermaksud mengubah sedikit pun jalan cerita yang telah dirancang secara rinci, jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia. Kita semua telah memainkan peran masing-masing. Tuan dan balatentara Tuan memerankan kebajikan, sedangkan Kakang Rahwana dan pasukannya mewakili kejahatan. Seperti seharusnya, kejahatan harus dimusnahkan. Konon, demi sebuah masa depan yang lebih baik.

Toh, kejahatan kami masih bermakna. Tanpa adanya kejahatan, apa fungsinya kedatangan Tuan ke dunia?

Demikianlah, Tuan, luka di leherku tak lagi meneteskan darah. Sumber darah dari semua luka di tubuhku telah kering. Pita suaraku pun telah tercabik-cabik. Mudah-mudahan Tuan mendengar suaraku Meski hanya suara hati.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: