Sugriwa-Subali

Terjadilah keributan keluarga Resi Gotama, di Pertapaan Grastina. Gara-gara anak-anaknya memperebutkan Cupu Manik Astagina, Resi Gotama marah. Cupu Manik Astagina dibuang, dan istrinya, Dewi Indradi dikutuk menjadi tugu batu, dan dibuang jauh sampai jatuh di Hutan Dandaka, di tepi perbatasan negara Alengka.

Ketiga anaknya, Guwarsa, Guwarsi, dan Dewi Anjani, memburu Cupu Manik Astagina yang dibuang ayahnya, sampai ke Telaga Sumala. Guwarsa dan Guwarsi, diikuti cantrik Jembawan yang mencebut ke telaga itu berubah ujud menjadi kera, sedangkan Dewi Anjani yang diikuti emban Sarweah mencuci muka, hanya wajahnya yang berubah menjadi kera.
Setelah menjadi kera, Guwarsa berganti nama menjadi Subali, sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa.

Sementara itu, kahyangan diserbu oleh Patih Lembusura yang meminta bidadari Dewi Supraba dan Dewi Tara untuk dijadikan istri Prabu Maesasura. Karena para dewa tidak sanggup menandingi kesak-tian Patih Lembusura, mereka minta pertolongan Subali dan Sugriwa. Kedua kera itu ternyata sanggup membunuh Lembusura.

Subali dan Sugriwa kemudian pergi ke Kerajaan Guwakiskenda, yang jalan masuknya berupa gua. Subali berbesan, agar setelah ia masuk ke gua itu, Sugriwa segera menutupnya dengan batu Sela Gilang. Jika nanti dari sela batu itu mengalir darah merah, berarti lawannya mati. Dan, Sugriwa harus membuka gua itu agar Subali dapat keluar.
Namun, jika darah yang keluar berwarna putih, pintu itu jangan dibuka, karena itu berarti Sugriwa yang gugur.

Setelah ditunggu, beberapa waktu kemudian, keluar darah berwarna merah muda. Sugriwa mengira, abangnya mati bersama musuhnya. Karena itu, ia tidak membuka mulut gua itu, lalu pergi ke kahyangan untuk melapor.
Karena para dewa menganggap Sugriwa berjasa, maka ia dianugerahi Dewi Tara sebagai istrinya.

Tak lama kemudian datang Subali marah-marah, karena adiknya tidak membukakan pintu. Sugriwa menjelaskan kejadiannya, ia tidak tahu jika darah itu bercampur dengan otak, dan bukan darah putih. Subali mau memahami.

Para dewa pun kemudian memberi anugerah pada Subali, berupa Aji Pancasonya, yang tidak dapat mati, bilamana tubuhnya masih bersentuhan dengan tanah. Kelemahan Aji Pancasonya hanya jika berhadapan dengan panah sakti Guwawijaya, milik Batara Wisnu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: