Teori Kumbakarno Dalam Epos Ramayana

Dikisahkan dalam pewayangan pada epos Ramayana, kita kenal tokoh rak-
saksa Kumbokarno, Dalam kisahnya terjadi dialog antara Kumbokarno de-
ngan Gunawan Wibisana (adik kandungnya).

W : Kanda Kumbokarno, sebaiknya kakang menghentikan peperangan dengan para prajurit pendukung Rama Wijaya.

K : Tidak bisa adiku. Saya adalah seorang prajurit. Melekat dalam sumpah saya sebagai prajurit untuk membela negara, walaupu nyawa sebagai taruhanya.

W : Tapi kanda, yang engkau bela adalah Dasamuka yang angkaramurka ?

K : Adiku Wibisana, Memang Presiden negara alengka adalah Dasamuka. Tetapi negara saya adalah Alengka. Alengka dengan Ayodia (negeri nya Rama Wiajaya) sedang perang. Jadi bukanlah perang pribadi antara Dasamuka dengan Rama Wijaya.

W : Tetapi kanda, Dasamuka tidaklah terlepas dari Dari Alengka. Kemurkaan Dasamuka adalah kemurkaan Alengka.

K : Itu memang benar, tapi apakah engkau bisa jamin kalau Dasamuka mundur dari Singgasana bahwa Rama Wijaya tidak melantakan negeri Alengka bahkan Alengka mejadi negara jajahan Ayodia ?

W : (Wibisana mulai ragu). Memang sih tidak ada jaminan, tetapi setidak-tidaknya angkara murka sudah bisa dilenyapkan.

K : Angkara murka itu tidak hanya ada di Alengka, Angkara murka ada dimana-mana. Dan datang pada setiap titah yang lupa diri.

W : Kalau begitu, maukah Kanda menumpas Angkara murka di Alengka ?

K : Bagaimana caranya ?

W : Bergabung dengan Rama Wijaya seperti yang saya lakukan. Lenyapkan Dasamuka

K : Desersi ? no way. Sebagai prajurit pantang menyerang negara sendiri.

W : Jadi Kanda tetap ingin membela Alengka ?

K : Sebagai prajurit Yes. Saya tidak ingin mati dinegeri ini sebagai penghianat negara. Karena negeri ini telah memberikan kemuliaan kepada saya. Dan saya harus membayarnya dengan kesetiaan.

W : Kalau begitu kanda harus berperang melawan saya !

K : Secara pribadi saya tidak berperang melawan Rama Wiajaya atau melawan Wibisana. saya hanya berperang melawan Ayodia.

W : Tahukah kanda bahwa Alengka pasti akan kalah perang ?

K : Kalah atau menang perang bukan urusan saya. Yang menentukan kalah dan perang adalah Tuhan. Kalau memang sejarah menghendaki Alengka kalah perang melawan Ayodia, tetapi sejarah tidak akan menulis saya sebagai penghianat bangsa.

W : Kalau begitu silahkan kakanda membela Alengka yang angkara murka. Dan saya akan menumpasnya.

K : (bertambah tegang). Adiku…. yang murka adalah Dasamuka bukan Alengka. Membela Alengka adalah kewajiban saya sebagai prajurit dan warga negara. Itu menurut saya lebih baik dari pada orang-orang yang pernah menikmati kemuliaan di Alengka tetapi kemudian lari sewaktu Alengka mengalami kemunduran dan menjelang hancur. mereka itu bukanlah ksatria.

W : (merasa tersindir) Tetapi saya tidak bisa hidup ditengah kedzoliman Dasamuka.

K : Kalau engkau tidak bisa hidup ditengah kedzoliman Dasamuka, mengapa kami mau menikmati hasil bumi, derajat, dan pangkat di Alengka. Bahkan kamu lari dari Alengka ketika negeri ini diambang kehancuran.

W : Hancurnya Alengka karena kedzoliman Dasamuka. Tidakah kanda sadari ?

K : Jika kamu tidak suka Alengka runtuh. Kami harus kembali ke Alengka. Bangunlah Alengka di negerimu sendiri. Tidak lari kenegri lain. Mintalah maaf pada rakyat Alengka. Jadikan Alengka yang baru, Alengka yang bebas dari kedzoliman.

Dialog pun terhenti, tidak ada kata sepakat yang bisa dicapai antara Kumbokarno dengan Wibisana. Kita tahu persis mana yang paling benar dalam teori ini ?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: