Tripama

Kumbakarna memuntahkan isi perutnya. Seluruh yang pernah masuk dan dimakan, sepanjang hidup, ditumpahkan. Ia murka. Jika saja tidak lagi mampu mengendalikan diri, niscaya Alengka sudah berpindah ke dalam ruang-ruang sempit ususnya. Tapi tidak. Kumbakarna memilih pergi. Meninggalkan pisowanan ageng Alengka untuk bertapa, menyendiri, menjauhkan dari keramauan, tanpa pernah bisa dibangunkan.

Rahwana, rajadiraja Alengka yang membuat sang Kumbakarna meradang. Tak sudi ia melihat negerinya dipimpin raja yang durjana; melukai hati rakyat, membelah-belah kehidupan kawula, menjungkirbalikkan tatanan, memperkosa para gadis, merebut istri orang tanpa pernah memikirkan budi.

Begitulah, Kumbakarna meninggalkan kehidupan mewah sebagai saudara raja. Jalan hidupnya diabdikan untuk membuang diri. Tidur sepanjang umur. Ia, raksasa maha raksasa itu, gagal diusik oleh appaun. Iming-iming negara, bujukan wanita cantik, rayuan para raja, atau glembuk para winasis. Semua mental. Kumbakarna teguh. Tak tersentuh.

Desas-desus menyebar. Dalam pulasnya, Kumbakarna mendengar, Alengka porak-poranda. Toh, ia tetap tak terusik. Apa boleh buat, keruntuhan Alengkadiraja sudah diambang mata. Kawula Rahwana mengungsi, melarikan diri, atau malik tingal, ikut memihak Prabu Rama. Sedangkan bala Dasamuka, tumpas tapis. Pelan, satu-satu,mereka meninggalkan barak, mati, atau lari.

Negeri elok itu hancur lebur oleh gempuran prajurit Ayodya. Ribuan wanara, bala kera pimpinan para Kapi, menyerang. Alengka dijungkir-balikkan kenyataan. Gemruduk, seperti gempa yang berkekuatan letusan seribu gunung. Saat itu, saat Kumbakarna masih pulas, tiba-tiba bayangan buruk melintas. Negerinya runtuh. Matanya terbuka sedikit, benar. Ia melihat Alengka berkemul demu. Kerusakan yang dibawa bala Rama, membuat sang ksatria bangkit rasa baktinya.

Menggelegar suara bangunnya. Bumi yang terinjak goyang. Tak rela ia membiarkan negaranya diamuk oleh kerusakan. Memang, ia sadari, Rahwana ya Dasamuka bersalah. Tapi enggan ia menyangsikan Alengka diobrak-abrik orang. Jika ia maju perang, bukan oleh alasan membela Rahwana. Melainkan ndepani bumi wutah getih, membela tanah kelahiran.

Dan, getih Kumbakarna benar-benar tumbah. Bersama melesatnya anak panah yang ditarik gendawa Gunawan ya Wibisana, ia ambruk. Kumbakarna mati diiringi kekidungan yang mengalir syahdu dari angkasa. Para dewa menaburkan melati. Kereta Kadewatan menjemputnya sebagai salah seorang ksatria utama dalam Tripama; rela sengsara, rela melawan arus, rela dicemooh orang, rela diacuhkan, rela dianggap tidak waras. Ya, Kumbakarna rela, sebab ia membela rakyat dan kebenaran.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: