Gatutkaca Memburu Teroris

Suasana sidang kabinet di Balai Paseban Negeri Hastina terasa tegang dan panas. Berkali-kali Prabu Duryudana menggebrak meja. Sorot matanya liar.

“Bagaimana tanggung jawab Sampeyan, Mahapatih Sengkuni? Masak ngurus pekerjaan sepele saja nggak becus!” cerocos Suryudana dengan nada tinggi.

“Maaf, Nanda Prabu, jangan cepat main tuduh di tengah sidang yang mulia ini. Tanya juga Penasihat Durna yang menolak operasi militer di Plongkowati. Coba kalau siasat saya tidak dijegal, Wahyu Cakraningrat pasti sudah ada di tangan kita! Nah, itu artinya, Penasihat Durna juga punya andil besar di balik kegagalan misi ini!” sahut Sengkuni membela diri.

“Betul, Kanda Prabu! Bapa Durna tak ubahnya musuh dalam selimut! Secara lahiriah berada di pihak kita, tapi hati dan jiwanya ada di pihak Pendawa!” sergah Dursasana disahut dengan anggukan dan bisik-bisik riuh para petinggi Kurawa yang lain. Suasana sidang pun berubah gaduh.

“Betulkah begitu, Bapa Durna?”

“Hem, begini, bukannya saya melarang para prajurit Kurawa melakukan aksi militer, tapi mbok lihat-lihat dulu masalahnya. Wahyu Cakraningrat kan sudah diputuskan pihak Kadewatan untuk Abimanyu. Dus, bukan pihak Plongkowati yang harus dimusuhi, tapi pihak Kadewatan yang telah berbuat tidak adil. Nah, kenapa tidak kita labrak saja para dewa di Kahyangan?”

“Eh, wakne gondhel, itu sama saja bunuh diri. Usul mbok yang wajar dan rasional. Jangan-jangan itu hanya kedok Sampeyan agar keturunan Pendawa terlindungi?” sahut Sengkuni tenang.

“Hei, Sengkuni, jangan asal ngomong, Sampeyan! Sebagai guru, saya memang harus berbuat adil. Tapi sebagai orang yang hidup dan menikmati kemewahan di Astina, pantang bagi saya untuk tidak memihak Kurawa. Apa belum jelas terlihat, betapa saya harus melawan nurani sebagai guru ketika merekayasa kematian Werkudara dengan menjebaknya ke tengah samudra untuk mencari gung susuhing angin. Apa itu belum cukup jadi bukti bahwa hidup saya benar-benar saya abdikan untuk membantu masa depan Hastina? Buka mata batinmu lebar-lebar, Sengkuni!” sahut Durna menahan amarah.

“Tapi faktanya? Werkudara masih segar-bugar, bahkan kesaktiannya makin berlipat-lipat. Ah, Sampeyan hanya pura-pura saja memihak Kurawa. Sejak dulu belum terlihat jasa Sampeyan membesarkan Nanda Prabu! Huh, loyalitas setengah hati!” sergah Sengkuni mengejek. Durna gelagapan.

“Ah, sudah! Seperti arena debat para politikus saja! Menang-menangan! Yang penting segera kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar Wahyu Cakraningrat bisa jatuh ke tangan anakku, Lesmana Mandrakumara!” potong Duryudana. Durna pun tidak sempat membalas kata-kata Sengkuni yang menyakitkan telinganya.

“Betul, saya setuju! Wahyu Cakraningrat harus kita rebut dengan berbagai cara. Kalau perlu, kita bikin teror dan kerusuhan di Plongkowati. Saat Abimanyu lengah, kita harus cepat-cepat bergerak merebutnya!” Jenderal Basukarna yang sedari tadi membisu akhirnya bula mulut.

Prabu Duryudana dan sebagian besar peserta sidang langsung setuju, kecuali Durna yang masih terlihat masygul. Dia benar-benar prihatin dengan cara berpikir para petinggi Kurawa yang belum paham benar tentang hakikat kewahyuan. Hanya wayang bermoral rendah yang ingin mendapatkan wahyu dengan cara-cara kekerasan , tanpa kesucian hati, olah batin, dan laku spiritual. Tapi apa boleh buat, keputusan telah diambil. Dengan gaya arogan, Duryudana telah memerintah antek-anteknya untuk merebut Wahyu Cakraningrat yang telah menyatu dalam jiwa Abimanyu.

Akhirnya, teror dan kerusuhan benar-benar menggila di Plongkowati. Tempat-tempat umum dan fasilitas publik jadi sasaran. Bom meledak di sana-sini. Korban-korban tak berdosa terus berjatuhan (hampir) setiap hari. Rakyat Plongkowati benar-benar dicekam waswas. Bau kematian menyebar di setiap ruang dan waktu. Sudah hampir sebulan situasi chaos itu mengharu-biru penduduk Plongkowati. Namun, aparat keamanan dan pihak intelijen Pendawa belum juga berhasil mengungkap siapa dalang kerusuhan itu.

Para petinggi Pendawa pusing berat. Para teroris seolah-olah bergerak seperti siluman; terlatih, rapi, dan profesional, sehingga sulit dicium jejaknya.

“Mereka jelas bukan teroris kacangan! Saya yakin, mereka digerakkan oleh sebuah kekuatan yang punya jaringan kuat. Dan ini tidak main-main. Kita harus menyatakan perang terhadap teroris!” kata Kresna, politikus sekaligus futurolog ulung berkulit gelap yang diundang Puntadewa untuk mengurangi keruwetan yang tengah melanda Plongkowati.

“Lantas, kita mesti bagaimana, Kanda Prabu?” tanya Puntadewa didampingi Werkudoro, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan para petinggi Pendawa yang lain.

“Perkuat penjagaan di setiap sudut kampung dan kota, sebarkan sketsa para teroris di media massa, bentuk tim investigasi, dan libatkan semua penduduk untuk melawan teroris!” jawab Kresna dengan jidat berkerut.

Kresna dan para petinggi Pendawa terus berdiskusi; memasang strategi untuk menjerat para teroris. Perpu antiterorisme diluncurkan meskipun ditentang oleh sejumlah tokoh LSM lantaran dinilai sangat rentan terhadap pelanggaran hak asasi pewayangan. Namun, mereka cuek. Sekali meluncur, pantang ditarik kembali. Seluruh aparat keamanan dikerahkan. Tim investigasi terus bergerak.

Meskipun tidak dilibatkan sebagai anggota tim investigasi, Gatutkaca geram juga terhadap ulah para teroris yang telah menelan korban ratusan nyawa tak berdosa. Tanpa bermaksud sok pahlawan, naluri intelijennya segera bergerak. Secara diam-diam, dia terbang melintasi kawasan Plongkowati.

Gatutkaca tersentak ketika melihat sosok wayang tengah berkelebat mencurigakan di sudut sebuah hotel berbintang lima. Dia segera meluncur ke bawah dan dengan sigap berhasil melumpuhkan wayang-wayang yang mencurigakan itu. Namun, belum sempat menginterogasi lebih lanjut, tiba-tiba terdengar letusan senapan. Gatutkaca kaget ketika melihat wayang-wayang yang telah diringkusnya terkapar mencium tanah. Mati. Dia pun meluncur ke udara, memburu wayang yang diduga telah menghabisi nyawa tawanannya.

Dari udara, Gatutkaca dengan jelas melihat rombongan pasukan Kurawa yang bergerak menuju ibukota Plongkowati. Dia yakin, merekalah para pembantai itu. Sambil menahan geram, dia segera meluncur, menghadang rombongan pasukan Kurawa yang dipimpin Sengkuni dan Jenderal Basukarna.

“Hei, pasti kalian yang menjadi biang kerok kerusuhan di Plongkowati!” tegur Gatutkaca. Tak ada jawaban. Yang terdengar justru desingan puluhan timah panas yang merajam tubuhnya. Beruntung dia mengenakan rompi Antakusuma yang antipeluru, sehingga kulitnya tak terluka sedikit pun.

Perang tak bisa dihindari. Dengan tangkas, Gatutkaca bergerak menghadapi kepungan pasukan Kurawa. Luar biasa! Dalam sekejap, pasukan Kurawa kocar-kacir. Beberapa di antaranya menggelepar meregang nyawa.

Tak lama kemudian, muncul Kresna dan para petinggi Pendawa. Melihat situasi makin gawat, Sengkuni, Basukarna, dan beberapa prajurit yang masih tersisa lari ngacir.

“Dugaanku tidak meleset! Merekalah dalangnya!” kata Kresna tanpa memedulikan Gatutkaca yang masih ngos-ngosan. Puntadewa dan para petinggi Pendawa saling berpandangan. “Mereka bisa berlaku biadab hanya untuk merebut Wahyu Cakraningrat, huh!” lanjut Kresna sambil melintasi puluhan prajurit Kurawa yang telah menjadi tumbal kekuatan Gatutkaca. Para petinggi Pendawa tak bisa membayangkan kebiadaban yang telah dilakukan para Kurawa hanya untuk memenuhi ambisi serendah itu.

Ki sawali Tuhusetya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: