Bimasena, Wisanggeni dan Antasena

Kang Sondong Mandali, kakak sulungku, menganggap Bimasena, Wisanggeni dan – satu lagi tokoh carangan – Antasena itu ssuggingan wayang untuk meragakan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni).

Wisanggeni adalah wayangisasi ilmu pengetahuan. Ilmu itu hakikatnya adalah kebenaran. Kebenaran adalah netral. Tapi juga kurang ajar pada segala macam kedok, bungkus, baju dan selimut. Bila kebenaran telah mengungkap baju dan selimut atau menelanjangi bungkus dan kedok, maka kesannya jadi kekurangajaran. Sebab para pemakai kedok dan bungkus sudah barang tentu bermaksud menyembunyikan keasliannya. Maka wayang Wisanggeni tak kenal tatakrama dan basa-basi. Selalu clandakan dalam berbicara kepada siapapun. Stel yakin dengan kepala tengadah dan selalu berkacak pinggang.

Bimasena wayang lambang teknologi. Sesuatu yang juga menggambarkan kebenaran dari sisi hasil nalar dan rekayasa. Bukan hanya rekadaya. Membawa watak jujur. Asal prasyarat dipenuhi, maka akan begitulah prosedurnya. Dengan bahan apapun yang berupa kacang-kacangan setengah mateng, maka kalau dekat dengan cendawan Rhizopus, ya akan menempe. Maka Bimasena dikesankan berwatak tegas, teguh dan tegar. Pendiam tapi bisa kejam, karena memang harus begitu. Bimasena juga tak kenal tatakrama dan basa-basi. Dia hanya hormat pada jatidirinya, Dewaruci yang menjiwai Bimasuci.

Antasena adalah anak bungsu Bimasena dari dewi Udang, Dewi Urang Ayu derivate dewa laut, Baruna. Anda semua tahu, apa yang ada dikepala Udang? Haha, dialah lambang seni. Sak kepenake. Sering dijadikan idola dalang-dalang ‘gagrak’ Ngayogyakartan. Tak punya pakem blas! Tidak kenal basa-basi. Tanpa pernah berkacak pinggang. Berpostur gagah seperti bapaknya, tetapi kalau berjalan malah njrunthul seperti Sangkuni. Bila perlu, dalam berperang di pagelaran wayang, tak usah diiringi gamelan. Karena dia sendirilah gamelan itu. Seni boleh ngawur kan? Boleh pula dia mematikan dan menghidupkan lagi lawannya.

Tapi nasib dua saudara sepupu, Wisanggeni – Antasena, memang tragis. Menjelang Bharatayudha, malah pilih nyemplung kawah condrodimuko, kena akal bulus penasihat Pandawa, Sri Kresna. Tidak mampu melihat kebenaran yang terbungkus kelicikan! Akhirnya Ilmu dan Seni harus menyingkir dari peperangan. Ya Ilmu dan Seni jelas tidak terliat dalam peperangan jenis apa pun! Menyerahkan semua pada Teknologi. Dan Bimasenalah yang menghabisi 98 Kurawa bersaudara. Semua Kurawa tumpas olehnya seorang, kecuali Kartamarma dan Dursilawati….

Oleh: Ki Denggleng Pagelaran

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: