Dasarata Membangun Negara Ayodya Diatas Puing-Puing & Reruntuhan Perang Dengan Alengka

Pada suatu malam yang lenggang dan sepi penah keromantisan, Dasarata bermimpi kejatuhan bulan dan bintang di atas pangkuannya. Ia sangat terkejut dan terbangun dari tidurnya. Setelah diamat-amati ternyata hanya selembar daun jati kering yang jatuh mengenai dadanya. Bukan main “gela” menyesal hatinya. Menurut para ahli ramal dan ahli primbon, impian tersebut berfirasat bahwa Dasarata akan mendapat jodoh “wong ayu sing ayune koyo bulan” (orang cantik laksana bulan purnama) dan akan mendapat rezeki, paling tidak menang lotre harapan. Firasat tersebut ternyata benar juga, sebab dikala ia sedang menghadap sang Wiku Yogiswara untuk menerima pengukuhan sebagai ahli “ilmu suluk” dan “mistik”, tiba-tiba datang seorang wanita cantik sambil terangah-engah berkata:

“Hamba adalah Kausalya, isteri Resi Rawatmaja.”

“Berhentilah dulu” Ptong Wiku Yogiswara: “Sabar, saya sudah tua, tidak dapat menangkap pembicaraan yang cepat Engkau jangan berdusta, tidak mungkin Resi Rawatmaja mempunya isteri. Ia adalah kolegaku (teman sejawatku). Ia seorang resi yang Brahmacarya seperti aku, Bagaimana mungkin ia mempunyai isteri secantik engkau.”

Dengan berlinang-linang air matanya, Dewi Kausalya mengatur nafasnya dan menceritakan riwayat dan nasib buruknya.

Sepatah katapun Brahmana Yogiswara tak kedengaran suaranya. Ia dengan sepenuh hati dan dengan perasaan iba mendengarkan kisah Dewi Kausalya. Ia tertegun dan kemudian berkata:

“Baiklah kau berdua, Kausalya dan Dasarata sudah ditakdirkan menjadi suami isteri. Karena itu tinggalkan sekarang juga hutan Dandaka, pulanglah ke Ayodya. Rakyatmu sudah lama mencari dan merindukan pengayoman dan sudah haus akan kemakmuran. Bangunlah negerimu, aku merestui.”

Mendengar sabda Yogiswara, Dasarata segera mengajukan pertanyaan: “Bagaimana mungkin hamba seorang laki-laki mendapatkan isteri hanya diberi. Semuanya serba ditolong? Apalagi hamba naik tahta tanpa mengeluarkan keringatnya sendiri.”

Bagawan Yogiswara sebetulnya mengiakan pertanyaan Dasarata maka sabdanya:

“Aku tahu perasaanmu Dasarata. Namun kau jangan lari dari kenyataan. Tataplah hidup secara konkrit dan eksistensiil. Hidup di dunia di samping menyembah dan bertakwa kepada Tuhan, manusia harus memenuhi tiga hal, yaitu Harta (kekayaan), Wirya (martabat dan kedudukan) dan Triwinasis (kepandaian dan ilmu pengatahuan). Tanpa memiliki harta, wirya, triwinasis, manusia akan “papa papariman ngulandara” (menjadi miskin dan kere gelandangan). Jangan ajukan pertanyaan apapun kepadaku. Rahwana adalah urusanku. Kau berdua tak usah turut campur.”

Benar juga, belum sampai sang Wiku habis petuahnya di luar pertapaan telah terdengar suara gemuruh mengaung-aung Rahwana berteriak-teriak mencari Dewi Kausalya. Pendek kata padepokan Dandaka hancur lebur, rata dengan tanah. Tetapi Dewi Kausalya dan Dasarata selamat sampai di Ayodya.

Syahdan, tanpa mengambil cuti istirahat, Kausalya segera mengundang para hulubalang, panglima, senapati, kabinet dan musyawarah agung negeri Ayodya. Atas kehendak Illahi seluruh yang hadir dengan suara yang bulat mufakat untuk mengangkat, mungukuhkan dan menobatkan Dasarata sebagai raja negeri Ayodya dan memegang tambuk pimpinan negara.

Tak disia-siakan waktu berlalu, tak pakai upacara kebesaran. Dasarata segera kerja mengumpulkan dan mengerahkan seluruh ahli-ahli negara, pembangun ulung undagi kriya untuk segera mengadakan konsultasi dan inventarisasi dengan mulai membangun di segala bidang. Staf Menteri, Dewan Kabinet, perumahan rakyat, pertanian, persawahan dan perdagangan di bangun serempak. Tempat-tempat ibadah telah berdiri dengan sakralnya diseluruh negeri. Tak ada anak nakal, main keroyok, kebut-kebutan apalagi narkotika. Pendek kata panjang-punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata raharja.

Walaupun banyak negara-negara yang merdeka di bawah kolong langit dan diatas bumi ini, tetapi tak ada yang seimbang seperti negara Ayodya, dimana negara tersebut begitu termasyhur sehingga setiap manusia menceritakan panjang lebar sampai keluar negeri, bahkan negara Ayodya ternyata berwibawa dan luhur dan tinggi derajatnya. Malahan menjadi satu negara tauladan bagi negara lain, yang begitu terkemuka sehingga banyak negara yang bersahabat, hanyalah karena silau akan kebijaksanaan dan keluhuran budinya. Begitulah erat dan baiknya persahabatan negara itu dengan negara-negara lain sehingga terjadilah suatu kerapian kerja sama, bantu membantu dan saling hormat-menghormati.

Negara yang mempunyai samodra penuh dengan bandar dan pelabuhan-pelabuhan besar (negara maritim), sawah pemandangan bukit dan alamnya yang sedemikian indahnya dan makmur, sehingga dikatakan subur segala apa yang ditanam dan murah segala apa yang dibeli (murah sandang pangan) sedang orang yang berdagang siang malam di sepanjang jalan tak ada putus-putusnya, karena tak ada gangguan di jalan. Berkat ramah tamah terpelihara tertibnya keamanan dalam negeri terhadap serangah musuh dari luar, maka orang asing yang berdiam dalam negeri itu merasa aman dan sejahtera. Orang pendusunan hidup tentram giat bercocok tanam menaikkan hasil buminya, sedang binatang yang dipeliharanya tak perlu diikat, di waktu siang tersebar digembalakan dan diwaktu sore pulang sendiri ke masing-masing kandangnya. Seluruh rakyat dan petugas negara taat, patuh serta bersatu seia-sekata, gotong-royong menjunjung tinggi perintah negara dan giat bekerja demi untuk keluhuran negara.

Kepala negaranya serta rakyatnya diharapkan selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, susila dan berbudi luhur, jujur, lurus dan adil. Sopan santun dan tidak menghina orang lain. Berjiwa prajurit (pra=perwira, ju=jujur, rit=hemat). Berilmu amaliyah dan beramal ilmiah. Cinta kasih terhadap sesama manusia dan semasa bangsa, memberi sandang pangan, menolong dan melindungi rakyat. Dalam soal pengadilan bertindak bijaksana dan berlaku adil tidak pandang bulu, berdisiplin, tegas dan berbudi bawalaksana, artinya apa yang telah diperintahkan/direncanakan/diucapkan harus dikerjakan dan harus terlaksana serta berhasil. Demikianlah negeri Ayodya menjadi negara yang adil dan makmur.

Namun ada satu kekurangan, yaitu hampir sepuluh tahun dua insan itu belum juga dikaruniai “momongan” (putra). Tabib, dukun, resi-resi telah dikerahkan, tapi belum berhasil juga.

Nah siapa yang akan menjadi penerus mahkota Ayodya? Dan siapa Sri Rama? Baiklah kita ikuti cerita berikutnya.

IR SRI MULYONO

YUDHA MINGGU, 19 SEPTEMBER 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: