Dursasana Menuai Karma

Penelanjangan Drupadi oleh Dursasana saat permainan dadu merupakan peristiwa paling berkesan di keseluruhan kisah Mahabharata. Bisa dibilang, peristiwa tersebut bermakna kompleks. Di satu sisi, saat itulah nilai ksatria Pandawa hilang di meja judi, sekaligus awal dimulainya perjalanan pahit pembuangan Pandawa. Namun bagi kalangan perempuan, ditempatkannya Drupadi sebagai taruhan, menoreh kepahitan dan menodai nilai seorang perempuan.

Tak heran begitu banyak lakon dibuat berdasarkan fragmen ini. Mulai dari musik (Ananda Sukarlan membuat komposisi dua piano berjudul The Humiliation of Drupadi, film Drupadi oleh Leila Chudori, hingga karya tari tentang Drupadi oleh Elly Luthan). Kini giliran Dalang Ki Bambang Asmoro, mengangkat episode kelam ini dalam pentas wayang kulit kolaboratif bertajuk Senjakala Kurusetra yang ditampilkan di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan pada Kamis (12/2).

Pementasan ini bertajuk kolaboratif karena tak hanya menampilkan panggung wayang kulit seperti biasanya. Namun juga mempertunjukkan pengolahan musik lintas instrumen dan beberapa adegan yang ditarikan oleh Elly Lutan dan beberapa penari dari kelompoknya.

Konsep pertunjukan ini dirancang Bambang Asmoro sejak sebulan silam. Kepada sejumlah seniman yang mendukung acara ini—Elly Lutan, dalang muda Nanang Hape, Yanusa Nugraha dan Prapto Panuju—Bambang menawarkan naskah Dursasana Jambak yang pernah dibawanya ke Festival Dalang Indonesia di Surabaya pada 2005.

“Kemudian naskah itu dirombak lagi. Kalau mengangkat dari sisi Drupadi, sudah banyak yang menampilkannya. Akhirnya kenapa tidak dari sisi Dursasana dengan menampilkan konsep karma dan darma,” ujar dalang kelahiran Pacitan, 17 Januari 1967 ini.

Karma yang dialami Dursasana dikisahkan Bambang Asmoro dengan alur tidak linier. Ia membuka pertunjukannya dengan adegan peperangan Bharatayuda di Kurusetra. Saat Dursasana terdesak oleh serangan Bima, ia pun mulai mengingat kembali masa lalu ketika perjudian antara Kurawa dan Pandawa.

Adegan kembali ke masa lalu ini ditampilkan dalam bentuk drama tari. Tampil karakter Sengkuni, Dursasana, Puntadewa dan Drupadi (diperankan Santi Dwi Saputri). Kelicikan Sengkuni dalam mengolah dadu menyebabkan Puntadewa menerima usul Sengkuni menjadikan Drupadi sebagai taruhan. Ketika kalah, upaya Dursasana menelanjangi Drupadi gagal karena campur tangan dewa yang membuat kain kemben Drupadi tak pernah habis diurai. Sejak kejadian itu, Drupadi bersumpah tak akan menggelung rambutnya sebelum keramas darah Dursasana.

Adegan selanjutnya kembali ke layar wayang kulit. Mengisahkan kekejaman Dursasana yang membunuh dua rakyat kecil: Tarko dan Sarko yang dituduhnya membantu Pandawa. Karena kalah berjudi, Pandawa dihukum 12 tahun pembuangan. Satu tahun pertama, mereka tidak boleh menerima uluran tangan siapapun. Jika terbukti dibantu, mereka harus memperpanjang masa hukuman.

Bagian goro-goro yang biasanya berisi lawakan dan kritik sosial terkini, ditampilkan dalang yang sehari-hari bekerja di Departemen Komunikasi dan Informasi ini dengan memainkan tokoh punakawan Petruk, Gareng, Semar dan Tejamantri. Pembahasan soal karma dan darma terjadi dalam percakapan antara Semar dan Tejamantri yang merupakan jelmaan dewa. Begitu pula konsep karma dan darma kembali dibahas dalam dialog antara Prabu Kresna dengan Prabu Salya—mertua Duryudana. Baik Kresna dan Semar menegaskan bahwa Dursasana tak dapat menghindari karma atas kejahatan yang dilakukannya.

Kemunculan adegan tari kembali terjadi di bagian akhir ketika alur yang tak linier itu mengembalikan penonton ke adegan pertempuran antara Bima dan Dursasana. Saat itulah muncul Elly Lutan sebagai Drupadi di masa tuanya. Ia menari dengan gerakan dasar tari Jawa sambil mengekplorasi rambut panjang yang diurainya lepas. Begitu Dursasana tersudut, tampil penari lainnya yang memerankan Dursasana dalam wujud manusia. Ia terkapar di tengah panggung. Secara perlahan, Elly menarik kain merah dari tengah layar sebagai lambang darah Dursasana.

Pentas ini berdurasi dua jam sebagai salah satu contoh konsep Pakeliran Padat yang diusung Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta dan diciptakan oleh dalang ternama almarhum Gendon Humardani pada 1980-an. Untuk mendekati penonton muda, konsep Pakeliran Padat meringkas pentas wayang semalam suntuk menjadi durasi beberapa jam.

Upaya menjaring kaum muda tak hanya disuguhkan Ki Bambang Asmoro dengan menggunakan konsep Pakeliran Padat. Namun juga lewat kolaborasi dengan bidang seni lainnya. Meski demikian, penggunaan bahasa Jawa klasik tetap dirasa menjadi kendala, walaupun dari sisi aspek rasa, memang lebih mantap menonton pertunjukan wayang dalam versi bahasa aslinya.

Dewi Ria Utari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: