Episode Goro-Goro di Kanvas Ugo Untoro

Wayang Pun Bunting

Dalam pentas wayang kulit, ada satu bagian di tengah-tengah pementasan yang digunakan sebagai selingan. Bagian itu biasa disebut goro-goro. Kendati dalam bahasa Jawa goro-goro bisa diartikan sebagai kekacauan, segmen ini lebih berisi hiburan yang di dalamnya terdapat komedi yang dimainkan tokoh-tokoh punakawan Semar, Petruk, Gareng dan Bagong, diiringi musik dangdut atau campur sari. Di sinilah berbagai aturan baku tentang perwayangan bebas dilanggar, kendati itu hanya diwakilkan oleh karakter-karakter rakyat seperti para punakawan, bukannya para ksatria dan bangsawan.

Tapi tidak dengan yang dilakukan Ugo Untoro. Pelukis yang pernah menjadi finalis Phillip Morris Award 1996 ini dengan berani mendobrak aturan tersebut. Goro-goro yang dimainkannya memasukkan berbagai macam karakter wayang, tak peduli apakah itu ksatria, raja, atau bangsawan. Tentu saja, sebagai pelukis, Ugo mempertunjukkan goro-goro tidak di kelir (layar), tapi di kanvas.

Mengamati seluruh karya rupa Ugo, tema pameran Goro-Goro memang terasa pantas. Seluruh karakter wayang yang ada di kanvasnya terasa jauh dari kisah epik yang kerap membungkus wayang, misalnya Mahabharata atau Ramayana. Tidak ada kisah kepahlawanan Anoman atau sosok terhormat Batara Guru. Yang ada cerita-cerita tentang wayang yang tengah hamil tiga butiran pil ekstasi, wayang yang siap-siap terjun ke kolam renang, sampai wayang yang tengah onani.

Keberadaan wayang di kanvas Ugo seolah tengah direposisi. Wayang tak lagi melakukan kegiatan-kegiatan digdaya yang membutuhkan olah kanuragan yang tinggi. Mereka menjadi sangat manusiawi. Tapi apakah wayang di lukisan Ugo hanya sekadar sosok pinjaman untuk sekadar menggantikan peran yang biasa dilakukan manusia?

Untuk menjawabnya, kita perlu kembali ke masa kecil Ugo. Pelukis kelahiran Purbalingga, 28 Juni 1970 ini mengenal wayang dari ayahnya, Pudjo Asmoro. Pria yang berprofesi penilik sekolah dasar ini kerap membuat wayang kardus untuk menggantikan wayang kulit untuk puteranya. Lewat media inilah Pudjo mengenalkan cerita wayang kepada puteranya sekaligus sebagai media yang mendekatkan mereka. “Wayang adalah simbol hubungan saya dengan ayah,” ujar Ugo Untoro kepada Koran Tempo.

Setelah berkeluarga, Pudjo tetap menjadikan wayang kardus sebagai media penghubung antara dia dengan cucunya. Ketika berkunjung ke rumah puteranya di Yogyakarta, Pudjo kerap membawakan wayang kardus kepada cucunya. Peristiwa-peristiwa inilah yang menjadikan wayang dalam posisi yang cukup romantis bagi Ugo.

Lalu apakah dengan demikian Ugo memahami wayang lebih dari sekadar sosok-sosok boneka dengan cerita-cerita kepahlawanan yang menyelubunginya? Ugo mengaku tak mengenal dan memahami falsafah wayang. Kalau begitu, apa posisi wayang di kanvas itu bagi Ugo?

Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu mengatakan bahwa wayang yang ada di dalam lukisannya lebih menceritakan tentang perbedaan kebenaran yang terjadi di setiap masa. “Kebenaran yang ada dalam cerita wayang belum tentu menjadi kebenaran yang sama di masa sekarang. Di setiap masa, patokan itu akan berubah,” ujar Ugo.

Pemikiran Ugo ini tampak jelas di karyanya yang berjudul Nyangkut. Di lukisan itu wayang Anoman, kera sakti mandraguna dalam cerita Ramayana, berada di tengah-tengah kanvas berwarna hijau. Dari jauh, wayang ini terlihat mengambang. Begitu didekati, tampak paku payung yang ditancapkan di sekelilingnya, sekaligus ada yang mengenai mahkotanya.

Dalam cerita Ramayana, Anoman merupakan ahli meloloskan diri dengan kelincahannya melompat-lompat. Tapi di kanvas Ugo, kesaktian loncatan Anoman tak berlaku lagi. Anoman nyangkut dengan suksesnya di paku payung. Inilah sebuah kebenaran yang baru dalam benak Ugo. Anoman pun bisa tergelincir tak peduli sesakti apapun dia.

Cerita wayang di dalam kanvas Ugo sebagian besar juga menempatkan pribadinya dan lingkungan yang diakrabinya, dalam figur wayang tersebut. Ini tampak jelas di lukisan berjudul Potret Diri. Bentuk kepala yang berwarna hitam dan plontos di atas tubuh wayang berwarna merah itu betul-betul menyerupai anatomi wajah Ugo dari samping.

Figurnya yang lain juga ada di lukisan Tatto. Sebuah tangan wayang menjulur memperlihatkan deretan tato. Ugo juga penuh tato di lengannya. Lukisan Pregnant memperlihatkan wayang berwarna hitam yang tengah hamil tiga butiran pil warna merah di perutnya. Ugo juga sangat tergantung dengan pil-pil psikotropika dan menghasilkan banyak karya dalam pengaruh benda-benda tersebut. “Sebagian besar sosok dalam lukisan saya memang alter ego pribadi saya sendiri,” ujar Ugo.

Ia juga menggambarkan wayang tidak hanya dari sosok keseluruhan, tapi juga lewat potongan-potongan anggota tubuh yang mengggiring kepada penafsiran yang enteng dan sedikit komedi. Dalam Dengan Kamu, sepasang kaki wayang perempuan miring membentuk sudut pertemuan dengan sesosok kaki wayang lelaki. Penempatan sudut dan kaki itu seolah menggambarkan potongan adegan pertemuan antara dua lawan jenis yang dari jauh berlari mendekat dan berpelukan.

Penafsiran dari posisi kaki juga terjadi di karya The Kiss, ketika sepasang kaki berwarna biru tampak mengangkang, dan di tengah kaki itu, sepasang kaki dengan posisi berhadapan berdiri di tengah-tengahnya. Inilah potongan adegan sensor tentang dua insan yang berciuman.

Cerita-cerita wayang di kanvas Ugo memang menggiring kepada penafsiran yang ringan, kekinian, dan komedi satir yang menggigit. Dengan menempatkan judul goro-goro ke dalam pamerannya, Ugo tak hanya mengajak penonton untuk sejenak beristirahat dari ketegangan cerita kehidupan seperti yang acap terjadi di sebuah pementasan, tapi juga tetap melakukan penghormatan terhadap keberadan wayang itu sendiri. Ugo tetap mendudukkan kebebasannya dalam menempatkan wayang di kanvasnya dalam segmen goro-goro, sehingga tidak menodai sebuah pementasan besar yang melingkupinya. Dan ini bisa berarti penghormatan Ugo terhadap kenangan wayang yang dimilikinya bersama ayahnya di sebagian episode kehidupannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: