Gita

Gandhi membaca Bhagavad Gita. “Bila keraguan menghantuiku”,
tulis Sang Mahatma di tahun 1925, “bila kekecewaan menatap
wajahku . . . aku berpaling ke Bhagavad Gita.”

Dan Gandhi adalah seorang yang mempertaruhkan seluruh hidupnya
untuk menentang kekerasan. Sesuatu yang ganjil, memang. Sebab
kita tahu: Gita itu justru sebuah dialog yang memberi semangat
di ambang perang dan pembantaian.

Arjuna di atas kereta tempur. Krishna sebagai sais. Arjuna
bimbang ia suara yang bertanya kenapa ia harus membunuh
sanak-saudara. Krishna, yang bijak berkata-kata itu, adalah
suara yang menjawab. Ia bicara tentang jiwa yang kekal dan tak
akan binasa. Ia mengingatkan tugas seorang kesatria yang harus
dijalankan. Dan akhirnya Arjuna pun mengerti, “Aku berdiri
tegak, tak lagi ragu/Oh, Acuta, aku ‘kan bertindak, seperti
Sabda-Mu”.

Lalu kereta itu menderu maju. Arjuna akhirnya membunuh Karna,
saudaranya seibu — dan perang antarkeluarga Bharata itu pun
berlanjut terus dengan pertumpahan darah yang mengerikan.

Gandhi membaca Gita dan menafsirkannya dalam kerangka pikiran
seorang yang menentang kekerasan. Mungkin karena itu pula ia
dihormati tanpa sepenuhnya dipahami.

Bagi orang lain, Gita justru mengakui kekerasan sebagai sesuatu
yang kadang-kadang tak terelakkan, sesuatu yang keji tapi
niscaya. Bahkan pembunuhan bukan sesuatu yang teramat perlu
disesali. Bukankah, seperti tercantum dalam seloka ke-30,
Percakapan Kedua, jiwa, yang menghuni badan setiap orang “tak
akan dapat dibunuh?” Dan karena itu, kita “jangan duka/atas
kemtian makhluk mana pun?”

Barang siapa yang membaca Gita dengan pandangan yang berbeda
dari Gandhi memang akan heran, bagaimana ia, tokoh gerakan tanpa
kekerasan, dapat ilham dari kitab ini. Kecuali bila Gandhi
justru bersikap sebagai Arjuna dalam Percakapan Pertama:

aku tak hendak membunuh mereka
sekalipun mereka bunuh aku, o, Krishna

Tapi tidak. Sebagai pembaca Gita yang baik, Gandhi tak mengambil
sikap Arjuna. Ia mengikuti Krishna, yang baginya merupakan “Sang
Penghuni dalam batin, yang selalu berbisik kepada sebuah hati
yang murni … ”

Dengan kata lain, ia mengikuti Krishna, yang mendorong manusia
dari keadaan ragu dan tak berbuat. Hanya, dalam tafsir Gandhi,
Gita bukanlah cerita tentang perang yang sebenarnya. Gita adalah
sebuah alegori: Bharatayudha itu cuma lambang “perang tanding
yang terus-menerus berlangsung dalam hati manusia”, tulis Sang
Mahatma.

Saya tidak tahu adakah dengan demikian Gandhi penafsir yang
benar. Louis Fischer, yang membuat riwayat hidup Gahdhi di awal
1950-an, hanya menyebut bahwa bagi Gandhi, “kesetiaannya kepada
Gita memberinya hak untuk mengubah.” Yang menakjubkan ialah
bahwa dengan amendemen seperti itu, Gandhi berbicara dengan gema
yang lebih menggetarkan ke mana saja mungkin juga sampai ke
Pilipina, di hari-hari ini.

Barangkali karena ia bisa membuktikan bahwa tindak tanpa
kekerasan, ahimsa, adalah tindak keberanian. Ia tak gentar
menyongsong kemungkinan dibunuh, ketika, dengan ahimsa, ia
mencoba mendamaikan permusuhan antara umat Hindu dan Muslim.
Kita tahu ia akhirnya tewas, menyebut nama Tuhan lalu dunia
sadar sejenak: ternyata seseorang dapat secara teguh dan berani
mengatasi kebencian. Ia dengan demikian membuktikan potensi
manusia untuk memuliakan manusia. Dan memuliakan manusia —
ciptaan Tuhan yang ternyata tak amat jelek itu berarti
memberikan harapan yang berarti untuk menerima hidup dan
memeliharanya.

Tapi apakah itu juga pesan Bhagavad Gita bagi orang lain?
Seseorang pernah mencatat, selama 3.421 tahun terakhir yang
tercatat dalam sejarah, hanya masa 268 tahun yang tanpa
peperangan. Begitu banyak yang binasa, tapi orang bisa juga
mengatakan bahwa hidup akhirnya toh harus meninggalkan bumi dan
badan.

Dalam kancah yang dahsyat itu kita bisa yakin bahwa ada mereka
yang merasa menjalankan kewajiban seperti yang difatwakan
Krishna: bertempur, untuk apa yang dianggap “menegakkan
kebenaran” — mungkin tanpa mempedulikan suka dan duka, laba dan
rugi, kalah dan menang. Barangkali orang-orang itu telah menarik
picu bedil dan merobohkan sejumlah orang yang bahkan tak mereka
kenal. Tanpa perasaan.

Jangan heran bila esok ada yang menekan sebuah tombol di ruang
yang sejuk, dan sebuah rudal nuklir meluncur, lalu sebuah negeri
hancur karam. “Setelah membunuhi putra Destarasta, kebahagiaan
apakah yang kita nikmati, o, Janardana?”, tanya Arjuna kepada
Sang Guru. Untuk perang Bharatayudha, Krishna telah menjawab.
Untuk sengketa hari ini dan esok, siapa yang tahu?

Goenawan Mohamad

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: