Harjuna Sasrabahu Gugur Sebagai Salah Satu Korban Sumpah Ramabargawa

Harjuna Sasrabhu yang telah kehilangan segala-galanya sudah berbulan-bulan lamanya mencari mati. Ia manantang, membenci dengan siapa saja yang dijumpainya. Ia pikir mungkin tak salah satu yang dijumpainya adalah Wisnu. Ia lupa bahwa Wisnu yang dicarinya lebih dekat dengan pribadinya. WIsnu ada dalam pusat rahsanya. Bukankah telah diajarkan bahwa:

“Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono”.

Artinya: Asal tetap waspada dan ketengan yang sempurna maka yang tampak hanyalah dirinya sendiri. Demikian ajaran Wedha.

Syahdan, pada suatu saat tiba-tiba Harjuna Sasrabahu dalam perjalanannya terhalang oleh sebuah tubuh yang kekar, tinggi bercawat laksana manusia purba, namun ia memancarkan sinar terangnya.

Maka pikir Harjuna Sasrabahu : “kini aku ketemu Wisnu”.

Sebaliknya Ramabargawa melihat kedatangan Harjuna Sasrabahu yang memancarkan cahaya terang, juga berkata: “Kini aku ketemu yang kucari, Wisnu”.

Setelah kedua-duanya saling berpandangan, maka terjadilah dialog:

– Hai Engkau. Siapakah namamu? Aku adalah Ramaparasu, sudahkah engkau mengenal aku?

– Jawab Harjuna Sasrabahu: “O Engkau, aku telah mendengar namamu. Sungguh tak kuduga dan kusangka aku akan bertemu dengan Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang kucari. Namaku adalah Harjuna Sasrabahu, semula raja di negara Maespati.

Saking gembiranya Ramaparasu tertawa terbahak-bahak katanya:

– Kalau begitu Engkau adalah Wisnu, sekarang lepaskanlah cakramu kepadaku biarkanlah aku mati dan hanya akan mati oleh Wisnu agar supaya aku berada disisimu.

– Harjuna Sasrabahu memotong ucapan Ramaparasu: “Aku adalah Aku, Engkau adalah Engkau. Aku takkan membunuh Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang aku cari.

– Saut Ramabargawa, sambil menantang Harjuna Sasrabahu. “Kalau Engkau tak mau membunuh Aku, Maka akulah yang akan membunuh Engkau.

Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu berhenti berdialog. Kedua-duanya menyiagakan diri untuk melepaskan senjatanya, tetapi Harjuna Sasrabahu menahan senjata cakra dan tidak dilepaskan tali busurnya.

Sebaliknya Ramabargawa dengan sungguh-sungguh melepaskan senjatanya. Bargawastra/kapaknya lepas bersuling membelah angkasa menatap dada Harjuna Sasrabahu belah menjadi dua.

Harjuna Sasrabahu terbunuh rebah ditanah tak bergerak. Kemudian mukswa dengan seluruh raganya ia mencapai Nirwana. Sedang Ramabargawa, sejenak tertegun berdiri tegak dan setelah sampai puncaknya ia berteriak, kalau begitu Aku adalah Wisnu. Wisnu adalah kebenaran. Jadi Aku adalah Kebenaran.

Demikian dialog seorang yang sedang mencari dan bertemu dengan Kebenaran. Seperti halnya Sunan Bonang berdialog dengan Sunan Kali Jaga dan Wujil.

“Mati adalah kebaktian yang paling tepat, dimana tiada lagi dieprhitungkan, O, Wujil, karena orang kembali keasalnya. Jikau kau masih memperhitungkan sesuatu, kau tidak akan menemukan yang kau harapkan. Dan jika kau ingin menemukanNya, maka kau harus merusak badanmu (atau : “nafsu-nafsumu”). Jika engkau telah menemukanNya maka kemauanmu akan manunggal (bersatu) dengan kemauanNya.

Kau akan manunggal dengan DIA ; hanya namanya saja berlainan ; kau akan menjadi satu dalam “rasa” dengan DIA dengan berbeda wujud. Dalam segala hal kau akan manunggal dengan DIA. Sesudah manunggal, dimana kau menyerahkan mati dan hidupmu, kepadaNya, bagimu tidak ada larangan dalam hal pangan dan sandang. Semua kehendakmu menjadi satu dengan kehendakNya. Orang yang telah diampuni, tidak boleh memilih maupun membagi dua (yaitu : membeda-bedakan dalam segala hal), suatu tanda dari manunggalnya kehendak DIA.

Nah, saya kira sekarang menjadi jelas apabila ada orang berkata “Manunggaling Kawula Gusti” persatuan antara manusia dan Tuhan. Dari tamsil tersebut di atas jelas bahwa yang bersatu itu hanyalah kemauannya (cihna tinunggil karsa) atau hanya irada-Nya. Bukan zat-Nya. Tuhan adalah tidak terbatas, sedang manusia adalah terbatas. Tidak mungkin cangkir teh dapat menampung air samudera.

Semoga uraian ini dapat menambah terang dan menjadi jelas kiranya. Keterangan ini tak dapat dijelaskan lebih jauh dari apa yang dipaparkan di atas karena sinengker atau “esoteris”.

IR SRI MULYONO

YUDHA MINGGU, 5 JULI 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: