Hidup dari Wayang Kulit Banjar

Keberadaan kesenian tradisional wayang kulit Banjar di Kalimantan Selatan sudah sangat lama, diperkirakan sejak Kerajaan Dipa pada abad ke-11 silam. Dan kepandaian memainkan wayang Banjar, bagi Rundi, sudah dimilikinya sejak berumur 19 tahun.

Kepandaian itu Rundi dapatkan bukan karena dia berasal dari keturunan dalang-dalang sebelumnya atau belajar khusus kepada dalang tertentu, melainkan hanya karena senang memainkannya.

“Kepandaian memainkan wayang kini saya yakini karena kehendak Tuhan memberikan jalan hidup di kesenian ini,” tutur Rundi (65) dalang yang juga seorang Kepala Desa Sungai Pinang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Namun, kata Rundi, pada akhirnya bisa total hidupnya sebagai dalang setelah dia maangkat kuwitan (menjadi orangtua angkat) Tulur, seorang dalang kawakan dari Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. “Saya hampir lima tahun sejak tahun 1960 menjadi dalang dan ingin berguru dengan cara mengangkat Tulur menjadi orangtua angkat, tetapi tidak pernah dikabulkan,” ujar Rundi.

Proses maangkat kuwitan terhadap Tulur itu sendiri terjadi secara kebetulan ketika dia dengan Tulur secara bersamaan diundang main wayang di Kabupaten Hulu Sungai Selatan tahun 1966. Saat itu Tulur main wayang di Hari Ulang Tahun TNI di Kandangan, sedangkan Rundi diundang warga Kecamatan Simpur.

Saat mulai main wayang, Rundi tiba-tiba diminta menghentikan permainan oleh aparat kepolisian dan pambakal (kepala desa) setempat. Meski tidak jadi main, Rundi tetap diberi uang Rp 4.000 sesuai dengan tarif saat itu. Belakangan dia tahu bahwa pelarangan itu karena panitiayang mengundangnya juga membuka arena perjudian di sekitar panggung wayang.

Menggantikan Tulur

Batal mendalang, Rundi kemudian mengajak 12 pemain gamelannya menonton wayang kulit Banjar yang dimainkan Tulur di Kandangan. Saat Tulur memainkan wayang, tiba-tiba mulut Tulur tidak bisa dikatup. Entah mengetahui kehadiran Rundi atau tidak, Tulur saat itu minta panitia mencari Rundi karena ia sudah tidak bisa melanjutkan permainan wayang pada malam itu.

“Saya dipaksa salah seorang pemain gamelan menemui Tulur. Pada mulanya permintaan untuk menggantikan Tulur saya tolak karena takut tampil memalukan,” katanya.

Namun, Tulur menyatakan tidak akan meminta kalau tidak percaya kepada Rundi. Sejak itulah, selama 11 tahun, Rundi melakukan proses belajar kepada Tulur. Sebelum Tulur sembuh dari sakit, Rundi diminta mengganti beberapa kali main wayang yang sudah terjadwal di beberapa kampung.

“Tahun 1960 hingga 1970-an kesenian wayang kulit Banjar hiburan yang ditunggu-tunggu hampir di semua kampung di Kalimantan Selatan,” tutur pria penggemar olahraga tinju ini.

Selain diminta memainkan langsung wayang milik Tulur, Rundi juga dibekali beberapa permainan wayang yang harus ditinggalkan, terutama terkait dengan hal-hal yang dilarang dalam ajaran Islam. Hal ini sangat penting karena di Kalimantan Selatan permainan wayang Banjar masih sangat kuat dengan unsur magisnya. “Kalau kita tidak kuat, justru seorang dalang itu bisa menghadapi bahaya, bahkan kematian,” ujarnya menjelaskan.

“Wayang kulit Banjar yang saya mainkan lebih tepat disebut sebagai wayang tauhid seperti yang dimainkan para Wali Songodi Jawa, yakni menyampaikan pesan-pesan moral,” katanya.

Dalang wayang “karasmin”

Sedikitnya ada dua jenis wayang kulit di Kalimantan Selatan, yakni wayang yang dimainkan untuk batatamba (pengobatan) atau sampir dan wayang karasmin (hiburan). Rundi sendiri memilih sebagai dalang wayang karasmin.

Dulu setiap bulan Rundi main rata-rata 10 kali. Mulai tahun 1974 dia sudah tidak tinggal di Kandangan lagi, melainkan di Desa Pulau Pinang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin. Hidupnya masih susah, tetapi lumayan, tanah dan rumah dibantu warga setempat. Tidak main di bulan puasa Ramadhan, Rundi juga mendalang sampai ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Sekarang, katanya, dalam satu bulan ia main paling banyak lima kali. Selain karena kondisi fisik yang sudah turun, apresiasi masyarakat terhadap wayang juga menurun, baik karena krisis, makin banyaknya hiburan modern, maupun kurangnya kepedulian pemerintah daerah.

Rundi mengungkapkan, dia kini membuka diri bekerja sama dengan para seniman tradisional di Kabupaten Tapin untuk melestarikan seni tradisi ini. Salah satunya, main bersama dengan kesenian topeng Banjar dan permainan musik panting ikut mengisi hiburan. Kolaborasi ini mirip permainan wayang kulit Jawa dengan musik campur sari.

“Saling berguru dan memadukan permainan berbagai kesenian tradisional agar bisa terus bertahan. Pendidikan saya hanya kelas tiga sekolah rakyat, tetapi bisa menekuni kesenian ini karena pengalaman berguru dengan siapa saja,” tutur dalang yang pernah mengikuti pekan wayang nasional tahun 1983 di Taman Mini Indonesia
Indah, Jakarta, ini.

Satu hal lagi, katanya meminta, dia sebagai pambakal sejak tahun 2000 sampai sekarang belum diganti-ganti. Sudah beberapa kali diumumkan untuk mengganti dirinya, tetapi belum juga ada yang bersedia menjadi pambakal. “Saya tahu diri tidak mungkin terus-menerus menjadi pambakal. Saya cukup jadi dalang wayang Banjar
saja,” ujar lelaki yang mengakui tidak punya akta kelahiran tersebut.

Sumber: Kompas
Penulis: M Syaifullah

2 Comments (+add yours?)

  1. wajidi
    Aug 22, 2010 @ 12:05:16

    tengok “wayang kulit banjar” di link ini.

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: