Ideologi – Politik dalam Wayang

Di dalam wayang digambarkan tentang situasi dan kondisi suatu negara atau hubungan antar negara. Hal tersebut dapat diamati dari tema-tema cerita/ lakon yang ada, seperti: kelahiran, alap-alapan/ sayembara, perkimpoian, wahyu, perebutan daerah kekuasaan, perebutan tokoh, dan lakon kematian. Tema-tema cerita/ lakon tersebut selalu ada hubungannya dengan gambaran tentang suatu negara atau antar negara. Narayana lahir (lakon kelahiran), alap-alapan Rukmini (lakon alap-alapan), Parta Krama (lakon perkimpoian), Wahyu Makutharama (lakon wahyu), Kikis Tunggarana (lakon perebutan daerah perbatasan), Kresna Gugah (lakon perebutan tokoh), Bharatayuda (berisi serentetan lakon kematian tokoh), merupakan contoh lakon wayang yang berorientasi pada ideologi-politik (kekuasaan).

“Kelahiran Narayana” merupakan awal peristiwa dari sebuah tanda akan adanya bahaya kekacauan dunia yang disebabkan oleh perilaku makhluk-makhluk jahat, seperti: Kangsa, Bomanarakasura, Duryudana, Dasasukma, dan sebagainya. Narayana merupakan manifestasi dari Wisnu. Ideologi Wisnu yakni reksakaning jagad atau penjaga dan pemelihara alam semesta22. Jika ada makhluk jahat yang ingin menghancurkan alam semesta dan mengubah tatanan dunia, maka Narayana/ Kresna tampil ke depan untuk menghancurkannya.

“Alap-Alapan Rukmini” merupakan kisah yang menceritakan tentang penculikan Rukmini, anak raja Kumbina, Arya Prabu Rukma, oleh Narayana, anak raja Mandura, prabu Basudewa. Rukmini diperebutkan oleh Narayana dan Durna, pendeta Astina. Duryudana menyadari bahwa jika Durna, yang berpihak kepada Duryudana, dapat mempersunting Rukmini maka Kumbina, raja beserta prajuritnya dapat dipersatukan dengan negara Astina, yang nantinya dapat membantu dan menambah kekuatan dalam menghadapi perang (Bharatayuda). Namun Kresna tidak kalah cerdas/ cerdik, ia kemudian berusaha untuk mengambil terlebih dahulu. Rukmini pun sebenarnya mencintai Narayana dan tidak menyukai Durna. Dalam kisah ini terlihat gambaran tentang peperangan antara keutamaan (Narayana) sebagai penjelmaan dewa Wisnu untuk memenangkan pertarungan melawan kejahatan (Duryudana). Kata alap berarti ambil/ mengambil tanpa sepengetahuan yang memilikinya. Ini berarti bahwa Narayana mengambil Rukmini tanpa diketehui oleh orang tuanya/ raja Arya Prabu Rukma beserta prajurit kerajaan Kumbina.

“Lakon Partakrama” merupakan kisah yang menggambarkan tentang perkimpoian antara Arjuna dengan Subadra. Sementara Burisrawa, yang berpihak kepada Kurawa, berusaha mempersunting Subadra. Di sini terlihat bahwa Arjuna, sebagai penjelmaan Wisnu berebut Subadra, sebagai penjelmaan Widawati, dengan Burisrawa, yang berpihak kepada kejahatan dan keangkaramurkaan. Jika Subadra jatuh ke tangan Burisrawa, harapan yang hendak digapai oleh Duryudana adalah kekuatan Kresna, sebagai penjelmaan Wisnu membantu Kurawa memerangi Pandawa. Namun Arjuna merupakan belahan Wisnu bersama Kresna (bagaikan sirih bagian atas dan bawahnya, dilihat beda rupanya, jika digigit sama rasanya (kadya suruh lumah lan kurebe), ia berhasil mempersunting Subadra karena berhasil menyelenggarakan syarat yang diminta oleh Subadra. Gambaran ini menunjukkan bahwa keutamaan dapat menguasai dunia.

“Lakon Wahyu Makutharama” merupakan kisah yang menceritakan tentang perebutan wahyu yang bernama makutharama antara Pandawa (Arjuna) dan Kurawa (Duryudana). Makutharama berarti mahkota yang dimiliki Ramawijaya, raja Ayodya, yang merupakan penjelmaan dewa Wisnu pada zaman Ramayana. Pada zaman Mahabharata, Wisnu menjelma kepada Kresna dan Arjuna. Sehubungan dengan itu, sifat-sifat kepemimpinan Ramawijaya yang mengacu kepada sifat alam, yakni: surya (matahari), candra (bulan), akasa (angkasa), kisma (bumi), samirana (angin), dahana (api), dan tirta (air), kan diwariskan kepada manusia yang juga merupakan penjelmaan Wisnu/ Sang Hyang Suman. Pengetahuan tentang wahyu makutharama yang berisi tentang asthabrata telah dimiliki oleh Kresna, yang dalam lakon ini ia menjadi pertapa di bukit Suwelagiri (padepokan Kutharunggu) dengan nama begawan Kesawasidhi. Perebutan terjadi antara Karna, senapati Astina yang mewakili Duryudana/ raja Astina/ Kurawa dengan Arjuna dari kerajaan Amarta yang mewakili para Pandawa. Asthabrata berhasil diberikan oleh Kesawasidhi yang sebenarnya Wisnu/ Sang Hyang Suman kepada Arjuna. Kisah ini memberikan gambaran bahwa keutamaan (Pandawa) dapat menguasai keangkaramurkaan (Kurawa).

“Kikis Tunggarana” merupakan kisah yang menceritakan tentang perebutan daerah perbatasan. Bomanarakasura, raja Trajutrisna mengklaim bahwa Tunggarana (nama adipati: Kahana), sebagai daerah kekuasaannya. Sedangkan Gathutkaca, raja Pringgadani, juga mengklaim bahwa Tunggarana merupakan daerah kekuasaannya, dengan alasan karena adipati Kahana beserta masyarakatnya ingin bergabung dengan Pringgadani setelah Tremboko mati. Ketika Pringgadani diperintah oleh prabu Tremboko, ayah Arimbi, kakek Gathutkaca, Tunggarana pernah diperintah oleh Trajutrisna. Ketika itu Tunggarana diperintah oleh adipati yang jahat dan angkaramurka. Namun setelah Tunggarana berganti pemerintahan dan situasi dan kondisi negara Pringgadani berbeda (raja Pringgadani), maka masyarakat Tunggarana ingin menyatukan diri dengan Pringgadani. Gathutkaca memenangkan pertarungan yang disaksikan oleh para sesepuh (Kresna dan Bima) melawan Bomanarakasura. Gathutkaca telah dapat menguasai Tunggarana.

Lakon Kresna Gugah merupakan kisah yang menceritakan tentang bagaimana Pandawa dan Kurawa saling memperebutkan Kresna. Kresna melakukan tapa nendra (bertapa “tidur”) di Jalatunda dalam kondisi pecat sukma tinggal raga/ ngraga sukma (sukma meninggalkan badan). Ia menghadap Batara Guru, raja para dewa untuk memperjelas kedudukannya sebagai pamong para Pandawa dan duta keadilan (titisan Wisnu). Duryudana beserta prajuritnya menghadap Kresna dalam keadaan “tidur”. Mereka berusaha membangunkan, namun malahan terkena prawa/ pengaruh gaib yang membuat mereka celaka pada perang Bharatayuda nantinya. Sementara Arjuna dengan cara ngraga sukma berhasil mendapati Kresna di kahyangan. Kresna dapat dijemput oleh Arjuna dan turun ke dunia, masing-masing masuk ke dalam raga mereka. Setelah Kresna terbangun, Duryudana dan Arjuna berada di hadapan Kresna. Duryudana diminta Kresna untuk memilih, “Dalam perang Bharatayuda nanti anda pilih dibantu oleh raja-raja seribu negara atau pilih saya yang hanya sendirian?”. Duryudana memberikan jawaban, bahwa dalam perang Bharatayuda ia memilih dibantu oleh raja-raja seribu negara. Hasil pilihan Duryudana dinilai oleh Durna salah, karena Kresna meskipun hanya sendirian jika telah bertriwikrama dapat menjadi brahala. Arjuna berhasil memboyong Kresna, ini berarti bahwa Arjuna mewakili Pandawa dapat mengalahkan Duryudana (Kurawa).

Ramayana mengisahkan peperangan antara kerajaan Ayodya dan Alengkadiraja; akar permasalahan kisah ini bukan daerah kekuasaan atau tahta, namun lebih cenderung ke masalah wanita, yakni Sita.

Bharatayuda lebih menekankan masalah perebutan tahta dan daerah kekuasaan, yakni Astina. Pandawa kalah dalam permainan dhadhu (judi) dengan Kurawa. Kekalahan Pandawa karena akal licik Sangkuni membuat para Pandawa harus menjalani hidup di tengah hutan Kamiaka selama 12 tahun dan bersembunyi di Wirata selama 1 tahun. Pandawa dalam persembunyian tidak diketahui oleh para Kurawa. Maka menurut kesepakatan, Astina harus diserahkan oleh Kurawa kepada Pandawa. Duryudana berkeras hati tidak menyerahkan tahta dan negara Astina, akhirnya terjadi peperangan (Bharatayuda), setelah Kresna gagal sebagai duta Pandawa meminta negara Astina23.

Uraian tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa, akar permasalahan konflik yang mengakibatkan peperangan antara dua kerajaan/ Negara yakni: tahta, wanita, dan daerah kekuasaan. Dua kekuatan besar di dunia, yakni keutamaan dan keangkaramurkaan selalu muncul dan berhadapan, sehingga terjadilah perang dan dalam peperangan itu keutamaan selalu memenangkan pertarungan.

Wayang, oleh para seniman diolah/ digarap sesuai dengan perkembangan zaman. Seniman dalam mengolah karya seninya bukan hanya menitikberatkan pada satu unsur saja, namun secara keseluruhan secara utuh, seperti narasi, dialog, dan suluk yang masing-masing dapat diekspresikan dengan menggunakan bahasa Indonesia, Inggris atau bahasa lainnya yang mudah dimengerti oleh khalayak banyak. Pertunjukan wayang berbahasa Indonesia, misalnya, dapat diolah berdasarkan pada kaidah pertunjukan teater modern. Uraian tersebut memberikan gambaran bahwa budaya, dalam hal ini wayang erat hubungannya dengan ideologi-politik (kekuasaan).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: