Jagal Abilawa

Sudah hampir sebulan ini aku dipusingkan oleh ulah Sumi, istriku, yang tengah hamil. Menurut para tetangga, istriku lagi nyidham, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang menjalani kodratnya. Dia minta dicarikan seorang tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu kerabat Pandawa yang amat dikagumi lantaran keberanian dan ketegaran hatinya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Kalau sembarangan Jagal Abilawa, bagiku tak masalah. Aku bersahabat baik dengan banyak dalang dan perajin wayang kulit. Tentu, mereka dengan senang hati akan membantuku. Namun, yang diinginkan istriku, Jagal Abilawa yang usianya sudah mencapai usia ratusan tahun. Aku menganggap permintaan istriku merupakan sesuatu yang mustahil. Mana ada wayang kulit yang sanggup bertahan hingga umur ratusan tahun? Kalau toh ada, pasti sudah jatuh ke tangan para kolektor barang antik yang berkantong tebal. Tetapi, istriku tak peduli. Dia terus mendesakkan keinginannya untuk bisa dipertemukan dengan ksatria Jodipati yang perkasa itu.

Ketika hasratnya mulai mendekati kemustahilan, istriku mulai berubah. Dingin dan acuh. Lidahnya tak pernah mau bersentuhan dengan makanan. Tubuhnya tampak kurus. Wajahnya yang cantik berubah pucat dan kuyu. Hampir setiap malam tak pernah tidur. Benaknya menerawang entah ke mana, diserbu hasrat yang menelikung batinnya.

Aku mulai cemas. Kalau istriku terus-terusan seperti itu, jelas akan berpengaruh tidak baik terhadap janin yang dikandungnya. Dan, aku tak mau mengharapkan hal itu terjadi, apalagi ini anak pertama yang sangat kami dambakan setelah lima tahun hidup berumah tangga.

Berminggu-minggu aku menjelajah dan mengubek-ubek berbagai kampung dan kota. Sudah belasan Jagal Abilawa kupersembahkan kepada istriku, tapi tak satu pun berkenan di hatinya. Semuanya ditolak dengan tatapan wajah yang suntrut. Keadaan istriku makin payah dan memprihatinkan. Aku terus mengembara, naik gunung turun jurang, hingga akhirnya aku terdampar di sebuah desa terpencil, jauh dari hiruk-pikuk keramaian.

Di desa sunyi yang diapit dua bukit gundul ini, aku bertemu dengan Ki Jantur Branjangan, dalang tua yang saat jayanya dikenal memiliki kemampuan memainkan wayang lewat perpaduan antara keterampilan sabet dan kekuatan magis. Konon, saat adegan perang, Ki Jantur Branjangan mampu membikin anak-anak wayang bertarung sendiri tanpa sentuhan tangannya di tengah pakeliran. Hebat, atraktif, dan fantastis. Para penonton dibuat tersentak sekaligus terkagum-kagum.

Aku sendiri tidak tahu, kenapa mantan dalang kondang itu bisa terlempar di dusun yang nyaris tak pernah mencium bau asap kendaraan ini. Kehidupannya pun amat menyedihkan. Tinggal di gubuk reot dan tak terawat. Di kanan kirinya penuh rerumputan liar hingga menjalar di atap gubugnya. Yang membuat aku heran, lelaki tua itu mampu menebak maksud kehadiranku. Dengan napas sengal, ia bercerita bahwa sudah sebulan ini kotak wayangnya sering berbunyi sendiri, seperti ada wayang yang ingin keluar dari persembunyiannya di tengah malam. Dan, itu dipahami, ada seseorang yang menginginkan salah satu wayang yang tersimpan di kotak tua itu.

“Aku yakin, kedatangan Sampeyan pasti menginginkan wayang itu!” katanya dengan suara bergetar, tapi wibawa. Aku tersentak.

“Betul, Ki!” jawabku tergagap.

Sembari menyeret langkah, Ki Jantur Branjangan beranjak dari kursi tuanya, menuju kotak wayang yang tertimbun debu berlapis-lapis. Ketika dibuka, aku terperanjat. Ada salah satu wayang yang berdiri di atas tumpukan wayang lain. Dengan tangan gemetar, Ki Jantur Branjangan sangat hati-hati mengambil wayang itu.

“Inilah wayang yang kumaksudkan itu, Nak! Jagal Abilawa!”

“Jagal Abilawa?”

“Ia hendak keluar mencari jodohnya!”

Seketika ingatanku jatuh pada Sumi, istriku. Tentu, Jagal Abilawa milik Ki Jantur Branjangan inilah yang diinginkannya. Setelah meninggalkan beberapa lembar lima puluhan ribu, aku bergegas pulang dengan perasaan lega. Plong.
***

Dilihat dari bentuknya, wayang Jagal Abilawa ini sudah tidak menarik. Warnanya kusam. Di sana-sini sudah geripis, seperti dimakan rayap. Tampil dengan wujud setengah telanjang, hanya mengenakan busana sekadar penutup aurat. Rambutnya yang gondrong hanya diikat selembar kain hitam. Namun, masih menampakkan sisa-sisa keperkasaan. Dadanya bidang. Otot perutnya bertonjolan. Sorot matanya tajam. Kuku pancanaka yang melekat di jempol tangannya tampak kukuh dan kuat.

Ketika wayang itu kusodorkan kepada istriku, ia tampak seperti anak kecil yang telah lama merindukan barang mainannya yang telah lama hilang. Senyumnya mengembang. Lantas, memeluk erat-erat Jagal Abilawa dengan kemesraan yang sempurna.

Aku senang, istriku sudah menemukan dunianya. Gairah hidupnya tumbuh berlipat-lipat. Wajahnya bercahaya. Menjelang tidur, tak lupa istriku memainkan sebentar Jagal Abilawa itu dengan gerakan yang kaku, lalu memeluknya erat-erat di atas dadanya yang padat. Terkadang aku merasa iri, bahkan lebih tepat dibilang cemburu setiap kali melihat Jagal Abilawa berada di atas perut istriku yang makin membuncit. Di mataku, Jagal Abilawa itu seperti wujud yang sesungguhnya, melakukan gerakan-gerakan di atas tubuh istriku seperti orang bersetubuh. Sejak kehadiran wayang itu di rumah ini, aku seperti disingkirkan dari kehidupan Sumi. Merasa asing dan tak dipedulikan lagi.

Istriku memang pengagum berat pertunjukan wayang kulit. Saat kami masih pacaran, Sumi sering memaksaku untuk menemaninya nonton hingga tancep kayon. Di tempat-tempat tetangga yang punya hajat, di balai desa, di kantor kecamatan, bahkan hingga di pendapa kabupaten, setiap kali ada pergelaran wayang kulit, Sumi selalu merajuk untuk menonton.

Ia sering menangis sesenggukan ketika sang dalang dengan dramatis menggambarkan kehidupan Jagal Abilawa bersama Drupadi dan keempat saudaranya yang lain hidup dalam penyamaran di negeri Wiratha. Dengan mulut ngedumel, ia mengumpat perilaku para Kurawa yang tega menyingkirkan Pandawa dengan cara yang amat menyakitkan.

Namun, ia berbalik jingkrak-jingkrak ketika Jagal Abilawa berhasil menggasak musuh-musuhnya. Secara refleks, ia mencium dan memelukku di tengah kerumunan para penonton. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga kami membangun rumah tangga.

Sejak Jagal Abilawa hadir di rumah ini, aku mulai menangkap keanehan. Istriku acuh dan tak mau lagi melayaniku. Ia memperlakukan wayang “terkutuk” itu terlalu berlebihan. Ia tetap bergeming ketika dengan cara yang sedikit kasar aku memaksanya untuk melayaniku di atas ranjang.

Ia tak peduli. Jagal Abilawa itu tetap bertengger di atas perutnya, didekap dan dipeluk dengan kehangatan dan kemesraan yang sempurna. Ketika istriku terlena, ingin rasanya aku membuang jauh-jauh wayang keparat itu, atau mengembalikannya ke tempat Ki Jantur Branjangan. Tapi, Jagal Abilawa itu seperti lengket dan menyatu dengan tubuh istriku. Brengsek!
***

Perut istriku makin membesar. Usianya sudah lebih sembilan bulan. Dengan perasaan mendongkol yang masih menyergap dada, aku segera menggantung Jagal Abilawa di atas tempat tidur seperti permintaan istriku. Tiba-tiba saja, istriku mengerang. Perutnya bergerak-gerak.

“Sum, sudah tiba saatnya kamu babaran! Kubawa ke rumah Bu Bidan, ya?”

“Tidak usah cemas, Mas! Anak kita akan lahir dengan sendirinya!”

Aku benar-benar dibikin tak berkutik. Bagaimana mungkin istriku mampu melahirkan tanpa bantuan orang lain? Mataku menyapu seisi kamar. Kulihat perabot-perabot kamar tak berubah. Namun, ketika mataku jatuh ke sosok Jagal Abilawa yang tergantung di atas tubuh istriku, kembali aku tersentak. Wayang kulit itu tiba-tiba saja mengeluarkan asap. Aromanya anyir seperti bau darah. Asap terus bergulung-gulung memenuhi kamar. Lantas, menyatu membentuk sosok Jagal Abilawa yang sesungguhnya. Tubuhnya tinggi dan besar, berotot, berkuku tajam, perkasa. Sosok itu tersenyum. Dengan kecepatan yang sulit kuduga, sosok Jagal Abilawa itu tiba-tiba menghilang seperti tertelan perut bumi.

Bersamaan dengan hilangnya Jagal Abilawa, telingaku mendengar suara tangis bayi. Ternyata benar kata istriku, anakku lahir dengan sendirinya. Tanpa harus mengalami perjuangan yang berat, istriku telah mampu menunaikan tugsanya sebagai seorang istri dengan begitu sempurna. Aku bergegas melihat anakku. Montok dan sehat. Rasa dongkolku berubah jadi haru dan bahagia. Aku telah menjadi seorang ayah. Segera kucium dan kupeluk istriku dengan luapan kebahagiaan.

“Anak kita laki-laki, Sum!” bisikku di telinga istriku. Ia tersenyum.

“Namakan dia Jagal Abilawa, Mas!” pintanya. Seperti dihantam godam, dadaku terasa sakit dan sesak. Setiap kali mendengar nama Jagal Abilawa, aku seperti menatap monster ganas yang hendak memisahkan aku dari kehidupan Sumi. Sembari menahan perasaan tak menentu, kuiyakan saja permintaan Sumi.
***

Belum genap sepekan anakku menjadi penghuni rumah ini, dan belum resmi ia kuberi nama Jagal Abilawa, muncul keanehan pada dirinya. Tidak seperti layaknya seorang bayi, ia begitu rakus dan melahap makanan apa saja yang disodorkan kepadanya. Tubuhnya jadi bongsor dan melebihi ukuran tubuh anak usia lima tahun. Yang membuatku terkejut, ia demikian bernafsu menyedot tetek ibunya. Aku jadi risih terhadap berbagai komentar yang meluncur dari mulut para tetangga.

Tenggorokanku tercekat ketika suatu malam istriku merintih-rintih. Aku bergegas menuju ke kamar. Di luar, banyak tetangga yang masih begadang. Aku terkesiap saat melihat anakku menetek ibunya seperti anak seekor kerbau yang kehausan, berjam-jam lamanya. Istriku terus merintih-rintih. Aku melihat tubuh istriku makin melemah. Loyo. Pucat.

Aku yakin, anakku tak sekadar menyedot air susu, tapi juga darah ibunya. Dengan gerakan kilat aku berjingkat melepaskan anakku dari sisi Sumi. Namun, cengkeraman mulutnya begitu kuat. Aku tak sanggup melepaskannya. Istriku makin tak berdaya.

Aku berteriak minta tolong. Ketika gendang telingaku menangkap derap langkah kaki menuju ke kamar, aku melihat anakku melepaskan tetek ibunya, lantas menyergapku dengan kecepatan tak terduga. Aku tergeragap. Belum sempat menghindar, anakku yang mendadak menjadi sosok mengerikan itu, mencengkeramkan mulutnya ke leherku.

Darahku berdesir. Leherku terasa seperti digigit gugusan gigi yang kuat dan tajam dengan kekuatan penuh. Aku terus berteriak, tapi cengkeraman itu makin dahsyat menggasakku. Telingaku hanya mampu menangkap teriakan histeris para tetangga dengan samar-samar, hingga akhirnya aku tak tahu apa-apa lagi. Gelap. Kulihat Malaikat Maut menari-nari di depanku.

Sawali Tuhusetya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: