Jagat Kita di Mata Dalang Edan

Semua manusia di dunia ini bisa saja becermin dari lakon yang ada dalam jagat perwayangan. Karena dunia wayang tidak berbeda dengan dunia yang sesungguhnya: Ada keteraturan alam yang ditimbulkan oleh dua sifat manusia, yaitu baik dan buruk. Lakon wayang ini dibeberkan dengan berbagai media dan bentuk agar bisa dinikmati manusia.

Dan… inilah yang dilakukan Sujiwo Tejo, seorang dalang asal Jember, Jawa Timur. Kita tidak asing meski masih tetap kagum, saat ia memainkan tokoh-tokoh wayang di depan kelir. Tapi ternyata ia juga menggunakan tulisan sebagai media untuk menceritakan kehidupan dan peristiwa yang dialami manusia dengan latar belakang jagat perwayangan yang dirangkum dalam sebuah buku.

Dari pengalaman, ”dalang edan” ini yakin betapa terbatasnya tradisi lisan untuk menjumpakan gagasan, walau kita juga tidak boleh heran karena memang Sujiwo tidak hanya sebagai seniman yang serba bisa, tapi juga sebagai penulis dan wartawan.

‘Dalang Edan’ dijadikan judul buku ini lantaran Sujiwo Tejo memang dikenal dan dijuluki orang sebagai ”dalang edan”. Dalam buku kedua yang diterbitkan Aksara Karunia ini, Sujiwo masih menempatkan diri sebagai dalang. Ia ingin mengatakan bahwa meski memiliki fisik berujud manusia, kita semua belum tentu manusia. Di dalam dunia wayang justru yang bukan manusia — seperti tokoh Hanuman dengan wajah dan badan kera — justru malah manusia. Definisi manusia bagi Sujiwo adalah makhluk yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan esok lebih baik daripada hari ini.

Hakikat manusia dengan pendekatan filsafat Jawa dan modern banyak dituturkan seniman ini lewat buku setebal 488 halaman yang dicetak PT Surya Multi Grafika April 2002. Dalam mengungkapkan peristiwa, Sujiwo tidak hanya melakukan model pelintiran, tapi juga satir yang bisa membuat orang tersindir. Di samping mengeksplorasi kekayaan bahasa Indonesia yang selama ini terlupakan dan tercecer, Sujiwo juga menggunakan menggunakan bahasa secara substansial tentang arti orang jujur dan jahat.

Dengan kemasan kecil, buku ini terdiri dari tujuh bab yang oleh Sujiwo digunakan istilah ”kanda” atau lakon. Empat kanda pertama dijadikan Sujiwo sebagai medua perkenalan. Kanda kesatu berjudul ‘Hanuman Melompat Sudah’, kedua ‘Petruk tak Potong Telinga’, ketiga ‘Semar Merem’, kanda keempat ‘Layon-Layon Ekalaya’. Kanda-kanda selanjutnya dimaksudkan agar lebih memberikan ruang bagi kenalan-kenalan itu untuk bekerja, yaitu kanda ‘Rahwana yang Terhormat’, ‘Perempuan-Perempuan Wayang’, dan kanda ‘Dalang atawa Kadal Malang’.

Dalam kanda kesatu, digambarkan bagaimana pengadilan ala dunia wayang dalam kasus terbunuhnya Hanuman. Sujiwo menjelaskan semua orang sekarang sedang sibuk ‘mengadili’ para jenderal dan orang-orang yang diduga korupsi. Sama dengan demokrasi, menurutnya, pengadilan diciptakan untuk kepentingan manusia. Oleh karenanya, menurut Sujiwo, perlu dipertanyakan apakah keberadaan DPR maupun peradilan terhadap para jenderal yang terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran HAM masih diperlukan, karena jangan-jangan para anggota DPR maupun jenderal tersebut ‘bukan manusia’ lagi.

”Kalau mereka bukan manusia, percuma saja diadili. Kalau para jenderal yang terlibat berbagai kasus di Indonesia ternyata ‘bukan manusia’ ya… jangan diadili,” ujarnya. ”Karena itu kita harus introspeksi. Para jenderal dan pejabat yang diduga koruptor harus diperiksa dulu. Angkara murka hanya bisa mati dengan diri sendiri.”

Melalui tokoh-tokoh wayang, Sujiwo memang seolah hendak meneropong realita secara lebih jernih. Itu sebanya buku ini tak hanya mengungkapkan masalah-masalah politik dan sosial, tapi juga sarat ‘human interest’ dan masalah gender, khususnya yang menyangkut kondisi Indonesia. Menurut Sujiwo, untuk mengubah Indonesia, ubahlah wayang. ”Sebab filsafat wayang kini telah berubah menjadi kepentingan penguasa,” katanya.

Salah satu tulisan yang menarik dari buku ini adalah kanda kelima, yaitu ‘Rahwana yang Terhormat’. Di sini kita bisa melihat bagaimana Sujiwo memainkan pelintiran dan gaya bahasa yang menarik dengan tokoh ‘Bapak’ sebagai sentralnya.

”Begitu lahir,” tulis Sujiwo, ”Bapak yang — maaf — berkepala 10 dan karena itu bernama Dasamuka, langsung bertapa 50.000 tahun. Setiap jangka 1.000 kali pemilu normal di Indonesia, Bapak memenggalnya satu.” Namun, lanjut Sujiwo, ”Menjelang pemenggalan ke-10, alam semesta yang ‘di-DPR-i’ dewa tergopoh-gopoh datang. ‘Jangan. Jangan. Jangan! Alam tak dapat hitam dan putih. Semesta selalu masih butuh kamu.’ Bapak tandas berkata: ‘Baik. Aku lanjutkan hidup ini. Tapi aku minta kesaktian tak tertara dan kawin dengan Dewi Widawati.’. Jagat mengangguk tanda setuju.” (hlm 315)

Kadangkala kita memang perlu menjadi ‘edan’ untuk dapat memandang hidup secara lebih jernih dan jujur. Tokoh Rahwana yang selama ini dikenal sebagai raksasa mengerikan yang menculik dewi Sinta, kekasih Rama, oleh dalang dalam buku ini justru dipandang sebagai pahlawan, manusia jujur buruk wujud yang diciptakan untuk membawa keseimbangan di dunia ini.

Di samping cerita yang sengaja dibuat acak dan melompat-lompat — dari cerita tentang politik dan sosial yang kemudian dianalogikan ke dalam cerita wayang — Sujiwo juga menggunakan ‘Sobiman’ sebagai tokoh yang mewakili diri sendiri. Pencatutan tokoh-tokoh politik, seniman, budayawan, sampai tokoh-tokoh agamawan yang mengalami suatu kasus, dilakukan Sujiwo untuk memperkaya tulisannya.

Koordinator Komite Pemantau Legislatif, Irma Hutabarat, menilai bahwa yang dibahas dalam buku ini lebih pada karakter-karakter para tokoh, tidak pada alur. ”Saya melihat Rahwana jujur dalam menginginkan Sinta dan tidak ‘misslanding’. Kita bahkan lebih buruk dari Rahwana,” ujarnya saat membedah buku ini di Jakarta belum lama ini.

Apa sebenarnya yang bisa kita petik dan pelajari dari buku Sujiwo sebenarnya karakter-karakter yang bersifat universal. Sujiwo, lanjut Irma, lebih syur pada pembahasan karakter yang mendalam dengan kejujuran dan pemikirannya yang loncat-loncat serta ‘amburadul.’ Dan inilah sesungguhnya fungsi dalang.

Pengamat politik Andi Mallarangeng mengatakan, fungsi dalang dalam jagat pewayangan jaman dulu bertugas menggantikan peran media terutama pada saat masuk ‘goro-goro’. Konsep yang disampaikan dalang memberikan kritik-kritik sosial dan pesan secara tidak membuat ‘raja’ tersinggung.

”Dalam kenyataannya ada dalang yang dikooptasi karena melanggar apa yang dipercaya sebagai aturan kerajaan,” katanya. Namun, ia berharap seorang Sujiwo Tejo bukanlah sosok dalang yang terkooptasi seperti itu. ”Sujiwo telah melakukan dekonstruksi tentang pakem-pakem seperti pada tokoh Rahwana. Berbagai macam alur cerita menjadi tidak sederhana dan membuat pikiran berkembang. Terlihat jelas pada model ‘goro-goro’ sekarang ini,” tuturnya.

Karenanya, Andi pun memaklumi bila alur cerita dalam buku ini tidak sistematis alias banyak cerita yang dibuat secara melompat-lompat. ”Jangan harap buku ini sistematis, karena dalang memang tidak sistematis. Yang dilakukan Sujiwo adalah upaya mulia memunculkan kembali model pewayangan pada zaman modern,” ungkapnya.

Sebagian besar tulisan dalam buku ini memang pernah dimuat dalam beberapa media massa. Orang bisa menebak bahwa tulisan-tulisan Sujiwo Tejo — sebagaimana ‘Catatan Pinggir’-nya Goenawan Muhamad — hampir selalu disajikan dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda.

Aldi Thiopradana, salah satu penyunting naskah, mengatakan bahwa proses penyuntingan buku ini berasal dari tulisan-tulisan Sujiwo yang dirangkai menjadi satu pokok pikiran atau satu pikiran besar. ”Memang tidak mudah, karena kami harus menjahit menjadi satu ‘frame’,” katanya. ”Tapi hasil akhirnya benar-benar sebuah tulisan baru.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: