Karakter Semar Dalam Cerita Wayang

Dan Dalam Tiga Teks Sastra Indonesia Kontemporer Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang: Kajian Intertekstualitas

Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab empat persoalan pokok: pertama bagaimanakah karakter tokoh Semar dalam teks cerita wayang; kedua, bagaimanakah karakter tokoh Semar dalam teks sastra Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang; ketiga, bagaimanakah hubungan intertekstualitas Semar dalam cerita wayang dengan Semar dalam Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang; keempat, apakah fungsi dan makna hubungan intertekstual tokoh Semar pada teks sastra Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang dan karakter Semar dalam cerita wayang.

Tujuan penelitian ini ialah memperoleh gambaran karakter tokoh Semar dalam cerita-cerita wayang, gambaran tokoh Semar dalam teks Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang, hubungan intertekstualitas antara Semar dalam teks cerita wayang dengan Semar dalam teks Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang, dan menemukan makna perbedaan dan persamaan karakter Semar pada teks cerita wayang dengan teks karakter Semar dalam teks sastra Semar Mencari Raga, Semar Gugat, dan Perang.

Hasil penelitian ini diharapakan dapat membantu usaha memberikan penjelasan kepada publik wayang bahwa perubahan dalam karakterisasi tokoh-tokoh wayang, terutama yang terlanjur dimitoskan, bukanlah sesuatu yang tabu dalam perspektif sastra. Penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk menempatkan teks-teks sastra kontemporer dalam deretan karya-karya yang sejajar yang dapat dilihat sebagai bagian dari peristiwa perkembangan sejarah pemikiran. Dengan memahami fungsi dan makna dari perubahan karakter yang dilakukan pengarang masa kini, penelitian ini akan bermanfaat pula bagi usaha-usaha mengaktualisasikan kembali teks-teks lama sesuai dengan tantangan dan selera zaman yang dihadapinya.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sastra yang disebut metode intertekstualitas. Langkah-langkah dalam penelitian ini mengikuti metode kerja pendekatan intertekstual yakni dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan, sebuah teks sastra dengan teks-teks lainnya. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini ialah: 1) Menentukan teks yang dipakai sebagai objek penelitian, yaitu teks Semar Mencari Raga karya Shindunata (Kanisius, 1996); Semar Gugat karya Riantiamo (Bentang, 1995); Perang karya Putu Wijaya (Pustaka Utama Grafiti, 1990), dan teks-teks cerita wayang yang menceritakan tokoh Semar; 2) Menentukan fokus penelitian, yakni karakterisasi tokoh Semar dalam ketiga teks sastra Indonesia kontemporer yang diteliti dan karakter tokoh Semar dalam teks-teks cerita wayang; 3) Menganalisis objek penelitian; 4) Menyusun dan membuat laporan penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh Semar dalam teks-teks cerita wayang muncul dalam dua kemungkinan: tokoh Semar dalam adegan gara-gara; dan tokoh Semar dalam teks-teks cerita wayang yang secara khusus menempatkan Semar sebagai lakon (tokoh utama). Karakter Semar dalam tiga teks sastra Indonesia kontemporer mengalami perluasan dan perubahan. Hubungan intertekstual antara teks-teks cerita wayang dengan teks SMR, SG, dan Perang adalah bahwa teks cerita wayang merupakan teks hipogram, sedangkan teks SMR, SG, dan Perang merupakan teks transformasi.

Sebagai teks transformasi teks ketiga teks sastra Indonesia kontemporer melakukan perubahan dan perluasan dari teks hipogramnya. Sebagian dari karakter Semar dalam ketiga teks sastra Indonesia kontemporer mengikuti karakter Semar dalam teks cerita wayang, tetapi pada bagian lainnya berbeda sama sekali dengan karakter Semar dalam teks hipogramnya. Hubungan intertekstual yang ditemukan ada yang berupa hipogram afirmasi dan ada yang berupa hipogram negasi. Makna hubungan intertekstual antara teks cerita wayang dengan ketiga teks sastra Indonesia kontemporer ialah bahwa Teks SMR, SG, dan Perang merupakan mitos pengukuhan dan sekaligus sebagai mitos pembebasan atas teks-teks tradisi.

Perubahan dan perluasan karakter Semar dalam ketiga teks sastra Indonesia kontemporer dapat diartikan sebagai bentuk protes para pengarang atas pemanfaatan teks-teks tradisi yang hanya dieksploitasi untuk kepentingan kekuasaan dan kepentingan-kepentingan lain yang tidak ada kaitannya dengan eksistensi teks tradisi. Perubahan dan perluasan karakter Semar dalam ketiga teks sastra Indonesia kontemporer dapat pula diartikan sebagai sikap pengarang yang mengingatkan publik wayang bahwa teks-teks cerita wayang tidaklah harus diperlakukan seperti kitab suci yang tidak boleh direinterpretasi. Teks-teks cerita wayang sebaiknya dapat menyesuaikan diri dengan kontekstual zamannya.

By: Karyanto, Puji

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: