Kebathinan dan Kebudayaan

Dalam segi kebudayaan yang menonjolkan kebatinan di segala aspeknya, ialah wayang, yang penggemarnya sangat luas di pelbagai lapisan dan golongan masyarakat yang umurnya tua sekali, bahkan pernah dinyatakan 2000 tahun lebih.
Menurut “sekaol” (sahibul hikayat) yang pertama-tama membuat cerita wayang, ialah Prabu Palasara. Kemudian berturut-turut menyusun cerita wayang:

Empu Sindhusastra cerita Arjuna Sasrabahu
Empu Darmaya cerita Smaradhanana
Empu Kanwa cerita Arjuna Wiwaha
Empu Sedah cerita Bathara Yudha
Empu Triguna cerita Kresnayana
Empu Manoguna cerita Sumanasantaka
Empu Panuluh cerita Hariwangsa dan Gatotkacasraya
Empu Tantular cerita Arjuna Wijaya

Para Wali menggunakan wayang sebagai alat dalam menyebarkan agama. Di antara wali yang membuat wayang (bukan menyusun cerita wayang) ialah Sunan Giri, berbentuk wayang Bathara guru. Oleh sebab itu sebagai penghargaan atas jasanya, Bathara Guru disebut juga GIRI NATA.
Karena para Empu, yaitu Pujangga yang mendalami hidup kebatinan, maka untuk menikmati cerita wayang harus dilihat juga dari segi kebatinan. Maka tersebutlah seperti berikut:
Kekayon rineka jalma, dalang murba “wayang”. Wayang murba dalang, nggoleki kang anggoleki. Nayogo wali sasanga, dalangna Sang Wali Tunggal, lalajo nu lalajona

Maksudnya:
Kayu direka seperti orang. Dalang menguasai wayang, segala ucap lampah wayang dilakukan oleh dalang. Namun wayang menguasai dalang, karena dalang berlaku, berbicara menurut sifat wayang. Lir ibarat Tuhan Yang Maha Esa yang menggerakkan semua umatNya, namun segala gerakannya itu sesuai dengan kehendak semua umatNya sendiri.
Nggoleki kang anggoleki, dengan Penguasa Tuhan Yang Maha Esa yang ada pada diri, umat mencari Tuhannya padahal yang menggerakkan dirinya itu, adalah Pengawas Tuhan (dekatnya tanpa gepokan) ibarat urat leher dengan leher masih terdapat antara, namun antara Kaula dan Gustinya dekat tiada antara lagi = (Tunggal).

Nayaga Wali Sasanga: Yang mengantar itikad kita ialah:

1. Otak dengan elingannya.
2. Mata dengan lihatnya.
3. Kuping dengan dengarnya.
4. Hidung dengan ciumnya.
5. Mulut dengan ucapnya.
6. Syaraf dengan rasanya.
7. Hati dengan pikirnya.
8. Tangan dengan geraknya.
9. Kaki dengan langkahnya.

Dalangnya Sang Wali Tunggal, yaitu Sang Aku yang mempunyai itikad, yang murba menguasai badan sekujur. Dari itu seharusnya melihat wayang sambil mawas diri, apakah yang dipentaskan dalam pertunjukan wayang itu ada yang mirip dengan kelakuan sendiri seperti: Satria, Ponggawa, Bapak Maling, atau Banaspati.
Adalah suatu kenyataan bahwa ada sementara orang yang menonjolkan Gatotkaca sebagai lambang dirinya, padahal pribadinya sangat pengecut. Karena sifat pribadinya itu maka lambang pewayangannya yang tepat bukanlah Gatotkaca namun Citrayuda.

Ada pula yang menyenangi Darmakusuma, karena kesabarannya padahal ia seorang yang tidak berperasaan. Maka lambang pewayangannya yang tepat baginya bukanlah Darmakusuma, namun seharusnya Dursasana.
Ada lagi yang menyenangi Prabu Kresna, karena kebijaksanaannya padahal ia senang melakukan fitnah untuk kepentingan diri dan golongannya, maka lambangnya yang tepat bukanlah Prabu Kresna, akan tetapi seharusnya Begawan Durna.
Dengan mendalami kisah pewayangan dari nama, negara, senjata aji-aji dan sebagainya yang semuanya menggunakan bahasa KAWI, bahasa yang digunakan sebelum Majapahit hingga saat-saat kejayaannya, keemasannya, akan diperoleh kesan bahwa antara yang satu dengan yang lainnya ada kaitan yang isi mengisi dalam makna dan artinya.

Maka disebutkanlah, bahwa wayang sekotak bagaikan perlambang hidup sendiri. Atau dengan perkataan lain, dalam suatu kisah wayang tokoh-tokohnya yang berperan satu sama lain saling isi mengisi jadi tidaklah merupakan tokoh sendiri-sendiri. Tegasnya keseluruhan wayang merupakan kesatuan mutlak.
Adapun KAWI berarti KUNO, dan berarti pula Pujangga atau Bujangga. Bujangga berarti ular besar (Naga), atau “Ngolah kehalusan” Yang halus adalah batin. Dari sebab itu kisah pewayangan, adalah kisah kebatinan.

Kepujanggaan dalam wayang, mengharuskan kita dalam menonton pertunjukan wayang, selain menikmati ceritanya juga harus dapat memahami kehalusan (kebatinannya) yang terkandung di dalamnya. Sebab soal pewayangan adalah soal kebatinan.
Dalam masyarakat kebatinan tokoh wayang yang amat terkenal ialah BIMA, karena kisahnya yang sangat menarik. Bima adalah putra PANDU DEWANATA, Raja di Astina dan KUNTI NALIBRATA yang bila diuraikan mengandung arti sebagai berikut:

Pandu = Perintis
Dewa = Manusia Utama
Nata = Aturan/Ngatur
Adapun Kuntinalibrata:
Kun = Ingsun
Ti = Nastiti
Nali = Budi
Brata = Gandrung
Dan Astina:
As = Linangkung
Tina = Angen-angen (cita-cita)
Kiranya kata-kata tersebut di atas dapat disusun dalam suatu kalimat, yang akan berbunyi sebagai berikut: “Yang menguasai angen-angen kang lingkung ialah Ingsun yang nastiti, berbudi dan gandrung untuk merintis aturan kemanusiaan yang utama. Istilah sekarang: Kemanusiaan yang adil dan beradab”
BIMA berarti menakutkan. Dalam kisahnya, Bima ini semenjak Pandawa (keturunan Pandu) masih kecil sangat menakutkan kerabat Kurawa (keturunan Kuru) karena dalam setiap perkelahian selalu dapat mengalahkannya.

Bahkan sangat menakutkan lagi, bila kelak setelah Pandawa menginjak dewasa, Bima atas nama saudara-saudaranya akan menuntut haknya atas Negara Astina.
Di antara tokoh-tokoh Kurawa terdapat antara lain:

SUYUDANA : Su = baik;
Yuda = perang, jaman;
Na = ada.
DURSASANA : Dur = buruk;
Sasana = tempat.
CITRAYUDA : Citra = warna;
Yuda = perang.
CITAKSA/CITRAKSI : Citrak = sengsara, cilaka;
Sa = tunggal, sama;
Si = lebih dan lain-lain.
Penasehatnya adalah Begawan Durna : Dur = buruk/mustahil;
Na = ada.
Arti nama tersebut di atas dapat disusun sebagai berikut: Angen-angen kang linnangkung (ideologi yang tinggi = Astina) meskipun pada/dalam jaman yang baik (SUYUDANA) namun masih adanya tempat- tempat yang buruk/maksiat (DURSASANA) diwarnai suasana perang (CITRAKSA/ CITRAKSI) serta Penasehatnya sekalipun Begawan, namun yang selalu mengada-ada keburukan (fitnah memfitnah) niscaya akan selalu menumbulkan kegoncangan baik jasmaniah rohaniah.
Dengan susunan kalimat tersebut di atas, maka kita sering disuguhkan dalam kisah pewayangan, di kala kerabat Kurawa menguasai Negara Astina, selalu dirundung kemalangan dan keonaran yang berlarut-larut.

Atas permintaan Kurawa, Begawan Durna (pernah menjadi guru Pandawa) memerintahkan Bima, supaya mencari tirta amerta (air yang tak kena mati).
Bima segera memasuki alas Amber yang penuh dengan Roban Banaspati. Amber = Luber (yang dimaksud tentu air).
Adapun sifat air dalam kebatinan, ialah putih lambang dari nafsu Robani/Banaspati.
Bima sekalipun berhasil mengalahkan gangguan dan godaan Robani/banaspati dan keluar dari alas Amber, namun tidak berhasil memperoleh tirta amerta. Dalam hal ini dapat diartikan Bima telah berhasil mengalahkan nafsunya sendiri yang bersifat Robani.

Selanjutnya Begawan Durna memerintahkan untuk mencari telenging toya (inti sarining air) di dasar lautan.
Sekalipun Ibu serta saudara-saudaranya melarang Bima melaksanakan perintah Begawan Durna, namun dengan alasan “Tiada Guru” yang akan mencelakakan murid Bima langsung menuju laut dan terjun ke dalamnya. Kesetiaan Bima yang kukuh kuat pendiriannya/kepercayaannya, maka disebutlah ia SENA, yang berarti: Pikuwat. Bima yang kukuh kuat. Dalam perkelanaannya di dasar lautan Sena bertemu dengan Dewa Ruci (Dewa Kerdil) yang menyerupai dirinya, yang kemudian menjadi Dewa sesembahannya, kemana ia berkiblat dan menuruti segala perintahnya.

Andaikata yang disebut Sena itu diri, maka Dewa Kecil yang menjadi kiblat dan dituruti segala perintah/keinginannya ialah Sang Aku, karena Akulah yang murba diri.
Tuhan Yang Maha Murba, yang menjadi asal dari semua Aku, menguasai semua jagad raya ini.
Namun Aku yang berasal dari pada Nya hanya menguasai dirinya sendiri.
Dari itu Aku ini kecil dibanding dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang akbar (Agung) tiada bandingannya, namun demikian Aku berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, maka mempunyai sifat yang sama ialah: tidak dapat ditunjuk dengan telunjuk, dan tidak dapat diraba dengan pancaindera karena Aku bukan lahir dan bukan batin, akan tetapi yang dikaruniai Tuhan dengan lahir dan batin.

Oleh sebab itulah maka segala keinginan Aku diwujudkan oleh lahir dan batin, tegasnya Akulah yang memerintah lahir dan batin, seperti SENA berkiblat pada Dewa Ruci yang selalu mengikuti perintahnya. Pertemuan Bima dengan Dewa RUCI, berarti BIMA telah bertemu dengan AKU-nya, yang menunjukkan adanya telenging toya.
Adapun sari pati air (telenging toya) adalah cis-sir Bapak/Ibu sebagai mani (sesoca yang Awis) karena sir Ibu dan sir Bapak yang gumulung menjelma badan sekujur.

Dengan perkataan lain, sesudah bertemu dengan Sang Aku SENA menemukan dirinya sendiri. Justru karena itu, maka ia dinamakan Batara Sena. Sena yang suci. Sena yang dapat memisahkan antara yang wadag dan yang halus.
Maka Batara Sena memandang hakekat manusia itu sama, dari Dewa sampai manusia yang paling rendah martabatnya, sehingga ia mempergunakan tata dan bahasa yang sama pula.
Yang berbeda hanyalah kedudukan sosial dan tugasnya dalam masyarakat. Terkecuali terhadap Ibunya ia berdatang sembah, karena sekalipun segala umat dijadikan/dijelmakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, namun ia tidak jadi dengan sendirinya, sebab ia dilahirkan dari kandungan Ibu.

Kisah selanjutnya Batara Sena bertemu dengan Dewa Ular, yang dapat dikalahkannya dan diberi gelar WREKUDARA. Wrekudara berasal dari kata WREKA yang berarti Ular, dan DARA yang berarti besar. Ular besar (Naga) dalam bahasa Kawi berarti PUJANGGA atau BUJANGGA. Tegasnya sekarang Batara Sena telah mencapai kepujanggaannya. Wrekudara digambarkan tingginya sundul ke langit dan mewarnai bumi, yang berarti tinggi cita-citanya dan luas pandangan hidupnya mendalami setiap hati manusianya, mengembangkan sikap hidup dan kehidupannya di jagad raya ini.

Wrekudara mempunyai senjata Rujakpolo, yang tentu berarti tidak lain, bahwa untuk dapat memecahkan dan menguasai segala cita-cita, pandangan hidup dan pengembangannya harus digunakan polo (otak) tegasnya segala sesuatunya harus dipecahkan dengan polo (otak).
Di samping itu Wrekudara mempunyai aji-aji Bandung Bandawasa Gandamana, yang berarti:

Bandung : dikitari/dikelilingi
Banda : ikat
Wasa : kuasa
Ganda : rangkap
Mana : hati
Tegasnya, Wrekudara memahami, bahwa sekitar/sekeliling tubuhnya dari rambut sampai telapak kaki, diikat oleh Penguasa Tuhan Yang Maha Esa, sehingga bisa hidup/mubah musik (Bandung Bandawasa) disertai pikiran rangkap, menyaring mana yang baik dan mana yang buruk (Gandamana).
Ia memakai dodot “Bang bintulu aji” kain ber-kotak-kotak berwarna: merah, kuning, putih dan hitam, yang melambangkan bahwa ia menguasai nafsu amarah sifat: merah; sawiah sifat: kuning; Loamah sifat putih; Mutmainah sifat: hitam.

Ia mempunyai aji-aji “Ungkal bener” ungkal = batu asahan; bener = benar, untuk mengkaji segala kebenaran. Tegasnya Wrekudara bersikap positif dan obyektif mengutamakan kebenaran.
Selanjutnya yang paling ampuh ialah Pancanaka. Panca = Lima; Naka = kuku.
Dunia ini dapat dibangun segala peralatan dan kebutuhan hidup serta senjata paling ampuh pun dapat dibuat dan diselesaikan dengan baik, selain hasil kerja otak, namun pelaksanaannya adalah hasil 5 jari yang ada pada tangan yang mengerjakan, baik kaum cendekiawan, buruh, tani, dan lain sebagainya.

Maka 5 jari adalah senjata yang paling ampuh di dunia melebihi segala alat yang ada, karena tanpa jari tidak akan dunia dapat berkembang seperti sekarang ini.
Wrekudara memakai gelang “Candra Kirana”. Candra berarti bulan, Kirana berarti bintang. Adapun sifat bulan sangat berlainan dengan matahari yang mengeluarkan sinar panas dan mengeringkan.
Namun bulan mengeluarkan sinar sejuk menyegarkan dan mengembangkan segala kuncup. Bintang banyak yang digunakan sebagai patokan bagi orang di darat (untuk kepentingan pertanian), di laut dan udara sebagai patokan arah, juga lambang ketinggian martabat dalam karir.

Dalam hal ini Wrekudara sebagai Pujangga, mampu memberikan suasana sejuk segar dalam kehidupan masyarakat memberikan arah dan mengembangkan segala harapan, supaya berkembang dan berbuah, yang mempertinggi karir dan derajat abdi Negara dan tanah air.
Selain dari itu Wrekudara memakai anting-anting kembang manggis. Isi manggis akan sama dengan cupat yang ada di kulit luar. Manggis bercupat lima berisi lima, bercupat enam akan berisi enam.
Dalam hal ini Wrekudara hanya mau mendengar hakekat yang benar, sesuai antara luar dan dalam, antara lahir dan batin.

Sekalipun yang didengar terasa pahit seperti kulit manggis, tetapi bila mengandung hakekat kebenaran seperti isi manggis yang putih akan tetap dirasakan nikmat manisnya.
Tegasnya sebagai Pujangga, Wrekudara mau mendengar kritik dan koreksi, karena dengan demikian akan memperoleh hakekat kebenarannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: