Ketika Bhisma Diburu Bayangan Dewi Amba

Bhisma menelan ludah. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Dadanya yang bidang turun-naik. Berulang-ulang, lelaki berdarah biru yang telah bersumpah untuk tidak mencium bau ketiak perempuan itu mengernyitkan kening. Wajahnya yang tampan seperti diselimuti kabut. Tiba-tiba saja bayangan Amba berkelebat. Ya, ya, ya, perempuan cantik dan sintal dari negeri Kasi itu tak juga sanggup dia lupakan dari dalam layar memorinya. Semakin dilupakan, bayangan Amba justru kian dahsyat membadai dalam kubangan ingatannya.

“Kanda telah berbuat kejam! Kelak, aku akan balas dendam! Tunggu sampai peperangan besar itu terjadi, Kanda! Kanda akan mati di tanganku!” ancam Putri Amba sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir.

Bhisma benar-benar menyesal. Bukan semata-mata ancaman Putri Amba yang berniat membalas dendam, melainkan tangannya yang telah belepotan darah perempuan yang amat mencintainya itu. Bhisma masih bisa memutar kembali kepingan peristiwa tragis itu dengan jelas ketika dia hendak bertemu gurunya, Ramaparasu. Ketika tiba di sebuah tikungan, Bhisma mendadak mendengar suara pekik perempuan. Bhisma tersentak ketika menyaksikan tubuh Putri Amba jatuh terguling-guling. Lantas, dengan segala macam cara, perempuan berwajah putih dengan dagu menggantung indah itu, merajuk dan menghiba agar diberi kesempatan untuk melayani dan mengikuti ke mana pun Bhisma pergi.

“Kanda, mencintai tidak harus menjadi istri, kok! Aku rela meskipun tidak harus menjadi istri Kanda Bhisma, asalkan aku diberi kesempatan untuk melayani dan mengikuti ke mana pun Kanda Bhisma berada. Itu saja!” seloroh Putri Amba dengan suara tertahan di dada.

Bhisma benar-benar kehabisan akal untuk memberikan pengertian-pengertian kepada Putri Amba. Sumpahnya untuk menjalankan dharma sebagai seorang ksatria yang bertekad menjaga jarak dari kepungan harta, tahta, dan wanita pun tak sanggup memengaruhi Dewi Amba. Perempuan itu terus membuntutinya hingga akhirnya terjadilah tragedi itu. Seperti dituntun oleh sesuatu yang gaib, Bhisma melolos pistol, lantas dengan cekatan melepaskan beberapa timah panas ke tubuh Dewi Amba. Tak ayal lagi, tubuh perempuan itu pun tersungkur mencium bumi.

”Aku benar-benar telah menjadi seorang pembunuh!” gumam Bhisma sembari menatap rembulan sepotong yang menggantung di bawah langit yang kelam.

Bayangan Dewi Amba baru hilang dari bilik ingatan Bhisma ketika situasi Hastina mulai berkecamuk.

Citranggada, sulung (almarhum) Santanu dan Dewi Satyawati, agaknya memiliki darah ekspansionis. Dia suka berperang. Angkatan bersenjata Hastina yang cukup tangguh didukung pasokan senjata supercanggih dari negeri tetangga, dimanfaatkan Citranggada untuk mengumbar nafsu kanibalnya. Kamus hidupnya hanya dipenuhi kosakata ”perang” dan ”perang”; tak peduli lagi berapa ribu anak atau perempuan yang terpaksa harus jadi yatim dan janda. Kecaman dunia dan berbagai macam resolusi untuk menghentikan kejahatan perangnya tak pernah sanggup dia gubris. Citranggada justru bisa menikmati betul ketika menyaksikan daerah taklukan yang porak-poranda, penuh ceceran darah segar, dan puing-puing bangunan.

Bhisma dan Satyawati pun gagal membujuk Citranggada untuk ikut menciptakan tatanan dunia yang bebas dari perang dan kekerasan. Maka, terjadilah malapetaka itu. Di tengah alun-alun yang biasa digunakan untuk arena week-end para remaja tanggung yang sedang jatuh cinta itu, tiba-tiba hadir sosok Citranggada kembar. Lantas, terjadilah campuh dahsyat hingga salah satu Citranggada terkapar mencium tanah. Negeri Hastina pun bergetar. Ternyata, Citranggada, pemimpin merekalah yang justru telah tamat riwayatnya. Citranggada palsu berubah menjadi monster mengerikan dan lenyap seketika seperti ditelan perut bumi.

Sepeninggal Citranggada, adiknya, Wicitrawirya, yang menduduki tahta Hastina. Perangainya yang tenang, lembut, dan teduh membuat suasana Hastina jadi tenteram. Negeri-negeri taklukan diberikan otonomi penuh untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Tatanan dunia jadi lebih damai, santun, beradab, dan berbudaya. Berbagai macam resolusi untuk menghentikan kecamuk perang menggema dan bergetar di seantero jagad. Namun, masa pemerintahan Wicitrawirya tak berumur panjang. Wicitrawirya meninggal akibat tak sanggup menahan ganasnya virus mematikan yang tak henti-hentinya menggerogoti kekebalan tubuhnya.

Maka, tipislah harapan Satyawati agar keturunannya mampu menjadi pewaris Hastina. Kedua anaknya meninggal sebelum berhasil memberinya seorang cucu. Kini, impian satu-satunya hanya terletak pada Abiyasa. Namun, Satyawati ragu, apakah Abiyasa yang bukan keturunan langsung Prabu Santanu berhak menjadi pemimpin bangsa Kuru? Apa kata dunia kalau dia memaksakan kehendak dan keinginannya agar Abiyasa diberikan kesempatan untuk menduduki tahta Hastina? Bisakah Bhisma yang seharusnya menjadi pewaris sah tahta bangsa Kuru menerima kehadiran Abiyasa?

”Ibu tak usah khawatir! Meskipun Abiyasa bukan keturunan langsung almarhum ayah, dia kan juga keluarga besar bangsa Kuru? Dus, nggak ada salahnya kok kalau dia kita angkat sebagai pemimpin bangsa Kuru?” tegas Bhisma dalam sebuah perbincangan dengan Satyawati di pendapa istana Hastina yang sejuk.

”Benarkah demikian Bhisma?” tanya Satyawati seolah tak percaya.

”Walah, apa saya punya potongan untuk menjadi seorang pembohong? Ibulah yang justru berhak untuk menentukan siapa yang layak untuk memimpin Hastina! Bukan saya?”

”Wew …. tidak bisa begitu, Bhisma! Engkaulah yang sangat disegani dan dihormati seluruh rakyat negeri Hastina! Sungguh berdosa kalau saya lancang tanpa membicarakan hal ini dengan Engkau!”

”Sudahlah, Bu! Saya sudah bertekad untuk menjalankan dharma! Ibu masih ingat, kan? Meski dunia kiamat, saya tak akan terusik untuk berurusan dengan masalah tahta, harta, dan wanita!”

Perbincangan itu berakhir dengan ending yang manis buat Satyawati. Wajah perempuan yang dulu pernah mengidap virus ”bau amis” itu berbinar-binar. Terbayang sosok anaknya, Abiyasa, buah pernikahannya dengan Prof. Parasara itu, bertahta di atas singgasana Hastina dengan aura kewibawaan yang terus memancar dari balik penampilannya yang jujur dan sederhana.

Usai perbicangan dengan ibu tirinya, Bhisma kembali ke bilik abadinya. Di kamar yang sejuk ber-AC itulah Bhisma biasa melakukan kontemplasi untuk menggapai kesejatian diri; membenamkan segenap perasaan dan emosinya untuk mendapatkan katharsis dharma kehidupannya. Namun, lagi-lagi bayangan Dewi Amba kembali mengusik ketenangan batinnya. Entah, tiba-tiba saja, sosok perempuan berwajah putih dengan dagu menggantung indah itu, hadir silih berganti di dinding kamarnya. Sesekali, Dewi Amba tersenyum menggoda. Namun, pada saat yang lain, wajah perempuan bertubuh sintal itu mendadak belepotan darah dan berteriak-teriak histeris sambil menunjuk-nunjuk wajah Bhisma dengan penuh kebencian.

Ki sawali Tuhusetya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: