Ki Jlitheng Suparman

Penampilannya sangat bersahaja, dengan perawakannya yang kecil, berambut cepak dan murah senyum, orang tak akan mengira, ia adalah Ki Jlitheng Suparman kelahiran Solo, 42 tahun yang lalu.

Ketika ditemui di Pendopo Sumaryoto, ia bersemangat menceritakan perjalanannya mendalang. Saat duduk di kelas V Sekolah Dasar, ia sudah menunjukan antusiasmenya pada dunia ini. “Sejak kecil, kakek saya, Ki Guno Sudaryo yang memperkenalkan sekaligus mengajar saya tentang pengetahuan wayang dan teknik mendalang,” ujarnya.

Pendalaman pendidikan di Jurusan Pedalangan SMKI pada tahun 1986, menjadikannya bertambah mantap. Apalagi ia kemudian melanjutkan di Jurusan Sastra Jawa di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Apa yang didapatnya di bangku sekolah dan kuliah menjadi bekal untuk menunjukkan kebolehannya pada pentas kesenian wayang yang diusungnya.

Namun siapa sangka bahwa dibalik wayang kulit purwa yang sering dimainkan, ada suatu kegelisahan. Ketika wayang purwa begitu mengikat secara konvensional dan menyangkut norma baik struktur cerita, tema, alur, plot, setting dan estetika menjadi pembelenggu kreativitas. “Oleh karena itu saya membuat dan memainkan Wayang Kampung Sebelah juga,” ujar Jlitheng.

Wayang Kampung Sebelah adalah wayang ciptaan Jlitheng yang bentuknya disesuaikan dengan gambaran mirip aslinya. Tetap terbuat dari kulit sapi, dan dalam pementasannya bisa diiringi musik band, pop, rock dan juga dangdut. Ini adalah hasil dari olah kreativitas yang dibangunnya bersama teman-temannya dengan membuat paradigma baru tentang wayang dan mendalang yang harus keluar dari pakem.

Karya
Lakon Who Wants To Be a Lurah, dibawakannya dengan bahasa Jawa dan Indonesia. Cerita yang mengkritisi demokrasi di Indonesia. Tafsir proses demokratisasi yang pada akhirnya sia-sia. Pemimpin yang diharapkan tak mampu mengusung amanat rakyat, ketika segala kebutuhan berbiaya mahal dan kesempatan hanya milik orang beruang.

Satu hal yang akhirnya harus digaris bawahi dari perkenalan dengan Ki Jlitheng Suparman ini adalah pesannya yang begitu bijaksana menyangkut perkembangan dunia pedalangan saat ini. “Ada baiknya para dalang saat ini mengubah paradigma pedalangan yang harus dihadapkan pada realitas dan dinamika zaman,” kata Jlitheng.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: