Mahabharata Lebih Komplek Dari Ramayana

Bagi orang jawa, kisah mahabarata memang menarik, menawarkan alternative hidup manusia dari yang paling luhur sampai paling keji, dan diamana –mana ada baik dan buruknya. Mahabarata bagi orang jawa lebih sesuai dengan kenyataan hidup manusia, tidak dapat ditarik garis yang tegas antara baik dan buruk, karena pada dasarnya baik dan buruk hidup dalam diri manusia.

Dalam pergelaran wayang kulit di jawa, lakon-lakon mahabarata lebih banyak dipergelakan ketimbang lakon Ramayana. Orang jawa cenderung tidak begitu suka akan dengan pandangan dunia yang hitam dan putih atau moralitas yang terdapat dalam Ramayana yang digambarkan pihak Rahwana yang jahat dan pihak Ramawijaya yang baik. Orang jawa memandang hidup manusia lebih termuat dalam mahabarata dengan persepsi yang halus dan tajam tentang segi-segi multidimensional eksistensi manusia. Dalam lakon mahabarta, yang rupanya sederhana sebenarnya tidak sederhana, yang sepintas keliatan baik belum tentu baik dan yang buruk belum tentu buruk.

Hal itu seperti yang dikemukakan Franz Magnis Susesno :

Dari lakon–lakon Mahabarata orang jawa menyadari bahwa baik buruk seseorang bukanlah hal mudah diputuskan, karena manusia sering menemukan diri terjerat dalam segala persoalan.bahwa kita harus berhati-hati menilai orang lain;bahwa kita jangan cepat-cepat percaya pada calo-calo moralisme yang mau membagi masyarakat menjadi dua saja, yang baik dan buruk; bahwa kita harus mawas diri dan tepa salira, sadar akan keterbatasan sendiri (1991:22-23).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: