Menegur Bangsa Melalui “Wayang Padang”

Sukses mementaskan “Wayang Padang” karya dan sutradara Wisran Hadi, dramawan terkemuka Indonesia, akan mengusung karya tersebut pentas di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tanggal 14, 15, dan 16 Juli mendatang.

Sebelum bertolak ke Jakarta, Wisran dengan Bumi Teaternya, akan melakukan pertunjukan khusus untuk kalangan kampus perguruan tinggi di Gedung Pertemuan Universitas Andalas (Unand) Padang, Kamis (6/7).

“Sempat vakum selama 7 tahun, Bumi Teater yang banyak melahirkan bintang dan sutradara teater di Sumatera Barat, hadir kembali dengan lakon wayang Padang. Mengapa Wayang Padang dan ada apa dengan Wayang Padang? Silakan menonton pertunjukannya,” kata Darman Moenir, Pemimpin Produksi Bumi Teater.

Dalam pertunjukan di Taman Budaya Sumbar di Padang. Senin (3/7) malam, pementasan Wayang Padang diawali senandung “Menjauhlah” dengan vokalis Nina Rianti Alda yang bergetar dan memukau. “Menjauhlah para penjarah, pemecah belah, dan pengabur sejarah….”

Lalu sejumlah orang mendalang. Semakin hari semakin banyak orang menjadi dalang dan didalangi. Sulit dibedakan, mana yang dalang dan mana yang didalangi. Bahkan wayang, orang-orangan di tengah sawah guna menghalau burung, jadi ragu pada diri sendiri: apakah mereka yang digerakkan orang atau mereka yang menggerakkan orang.

Sutradara Wisran dalam lakon Wayang Padang itu menampilkan sejumlah fragmen dengan diselingi lagu. Penghulu (seseorang yang mereka sepakati sebagai pemimpin) tidak terlepas dari situasi pedalangan ini. Dia didalangi, dia terpaksa, harus menjual tanah pusaka, sawah, air, pasir, karena beban utang semakin tak terpikulkan. Kumudian dia pun menjadi dalang. Didalangi semua dalang dan semua yang didalangi jadi dalang, meninggalkan tanah pusaka dengan satu tujuan, jual tanah pusaka!

Ketika terjadi pertengkaran antara penghulu dan perempuan setia penunggu tanah pusaka, apakah tanah pusaka boleh dijual atau tidak, pada dalang dan yang didalangi saling beradu argumentasi yang akhirnya menjurus pada peperangan.

Pertunjukan berdurasi 90 menit itu, intinya bercerita tentang ancaman desintegrasi di balik kesemrawutan dunia perpolitikan, perlakuan yang tidak ikhlas terhadap otonomi daerah, tarik ulur dalam berbagai penetapan undang-undang, perpecahan dalam sejumlah partai, penerapan hukum yang tebang pilih, rakyat yang merasa dianaktirikan oleh pemerintahnya sendiri, terjadi kemiskinan dan pemiskinan, memberdayakan petani yang dibungkus memperdayakan petani, dan korupsi yang entah kapan akan berakhir.

Ancaman itu bagai api dalam sekam. Tak tampak di luar tetapi nyata di dalam. Segala bentuk kesemrawutan itu adalah titik-titik api yang terus membesar, menjalar dan membakar serta menghanguskan setiap persendian bangsa.

Bertolak dari kecemasan terhadap ancaman inilah Bumi Teater Padang mencoba menegur bangsa ini dengan ungkapan-ungkapan dan contoh-contoh sederhana melalui pentas teater Wayang Padang.

Ketua Dewan Kesenian Sumbar, Ivan Adilla, yang diminta komentarnya atas pertunjukan Wayang Padang itu, mengatakan, pertunjukan karya/sutradara Wisran Hadi, agak beda dengan karya-karya dia sebelumnya seperti “Mandiangin”, “J

alan Lurus”, dan “Tuanku Imam Bonjol”, di mana bahasa, cerita, dan pentas menjadi penting.

“Dalam Wayang Padang, Wisran hanya lebih mementingkan peristiwa saja, dan agak mengabaikan pentas dan cerita,” katanya.

Sedang Tokoh Masyarakat Sumbar, Haji Basril Djabar, menilai karya besar Wisran Hadi ini sarat pesan, penuh sindiran, dan mengingatkan kita agar tidak terjerumus ke dalam keserakahan dan arogansi kekuasaan yang menggiurkan serta egoisme yang berlebihan.

“Sebagai sebuah bangsa, kita jangan hanya berkutat pada tunggal ika saja, tanpa memberi ruang untuk menyehatkan kembali kebhinekaan,” ujarnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: