Mengenang Perjalanan Sembilan Wali Lewat Wayang Kulit

Wayang Walisanga – Wayang kulit kini tak lagi hanya mengambil cerita klasik macam Mahabharata dan Ramayana. Yang dilakukan Wayang Walisanga adalah mengangkat cerita dari kisah perjuangan sembilan wali menyampaikan Islam di tanah Jawa.

Selama beratus tahun di tanah Jawa, cerita Mahabharata atau Ramayana selalu menjadi inspirasi pementasan wayang kulit. Wayang Kulit Walisanga mencoba menerobos kebiasaan tersebut dan memilih kisah-kisah Wali Sanga untuk dipentaskan. Ini merupakan sebuah perenungan dari seorang dalang Junaidi (40) yang juga dosen seni pedalangan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Apakah perbedaan mencolok antara wayang kulit biasa dan Wayang Walisanga? Yang pasti, jika dalam wayang kulit biasa, tokoh-tokoh sentral berasal dari keluarga Pendawa dan Kurawa, maka dalam Wayang Walisanga, karakter utamanya adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Agar para penonton tidak merasa dipisahkan terlalu jauh dari budaya wayang kulit biasa, penempatan tokoh-tokoh baik dan jahat pun tetap mengikuti pakem. Yang baik berada di sisi kanan, sementara yang jahat berada di sisi kiri.

Perbedaan yang mencolok hanya ada pada kostum dalang, penabuh gamelan, dan sinden. Ki dalang mengenakan ikat kepala putih dan baju putih, sementara para penabuh gamelan mengenakan peci hitam, berkalung sorban, baju putih dan bersarung. Para sinden pun berjilbab putih dan berbaju putih. Di sisi lain, gamelan yang dipakai didominasi deretan bedug—sebuah alat perkusi ciri khas masjid.
Sarana Dakwah dan Tabligh

Ditemui sehari sebelum pementasan pada acara Pembukaan Festival Walisanga di Gedung Jogja Expo Center, Yogyakarta pada Jumat (27/9) silam; Junaidi menerangkan bahwa Wayang Walisanga itu diadaptasi dari wayang sadat (akronim dari wayang sarana dakwah dan tabligh).
”Dari situlah, wayang itu saya namakan Wayang Walisanga. Ini merupakan sarana untuk ngabekti (berbakti) kepada para Wali,” ujar Junaidi.

Gagasan pembuatan Wayang Walisanga itu baru direalisasikan pada bulan Agustus silam dan pada akhir September lalu merupakan pementasan yang pertama kali. ”Ide pembuatan Wayang Walisanga itu sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu ketika saya mulai mendalang wayang sadat. Saya memang harus bekerja keras sebab harus menggubah gending dan wayangnya,” katanya.
Junaidi memang serius dalam menciptakan wayang itu. Khusus bentuk wayang ia bekerja sama dengan dosen seni rupa. Ia membuat sketsanya, dosen seni rupa itulah yang menerjemahkannya dalam bentuk wayang. Sementara itu, untuk gendingnya ia menggandeng dosen karawitan. Ia yang membuat konsepnya, rekannya itu kemudian yang menyusun gendingnya.

Junaidi mengaku bahwa gending di Wayang Walisanga pada dasarnya tetap gending Jawa. ”Tapi nama-namanya disesuaikan dengan nama-nama Islam. Misalnya, tutur shalat dari gending ladrang. Kemudian patet sulukan takasur, gending nawaitu berupa ketuk loro kerep, ketawang dari gending peleng. Khusus untuk tokoh-tokoh antagonis seperti berandal dan begal, saya membuat gending ladrang sorak yang meriah. Pada intinya untuk menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang kafir,” tuturnya.
Soal penggunaan bahasa, Junaidi masih memakai bahasa Jawa. Namun ia mengaku berusaha mementaskan wayangnya dalam bahasa Indonesia. Sementara jenis-jenis langgam pun digubah menjadi suara Islami. Misalnya, dalam langgam salam ada kalimat assalamualaikum; kemudian pada langgam Istighfar ada kalimat ”astaghfirullahal’adziim”. Pendek kata nuansanya memang nuansa Islam. Bahkan jika tokoh sunan muncul, dia akan mengucap salam, yang kemudian dijawab serempak oleh para penabuh gamelan dengan ”a’alaikum salaam.”

Dalang muda ini pun tidak kepalang tanggung. Agar warna Islami benar-benar muncul di jagad pakeliran, maka kelir warna hitam-putih itu nantinya akan diganti dengan warna hijau atau biru. Adakah kesulitan dalam memodifikasi cerita Wayang Walisanga?
”Ya… Yang paling sulit adalah bagaimana mengadaptasi ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an ke gamelan. Itu perlu dilakukan sedemikian agar kebenaran lafalnya tetap terjaga,” gumam Junaidi lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta Jurusan Pedalangan ini.

Baru 20 Wayang

Dosen ini menceritakan bahwa pembuatan satu wayang rata-rata menghabiskan dana Rp 400 ribu. Sampai kini baru Junaidi baru menyelesaikan 20-an wayang dari rencana keseluruhan sekitar 200-an wayang.

”Saya akan menyelesaikan jumlah itu jika ada sponsor. Termasuk untuk latihan dan sebagainya. Setidaknya hingga kini saya sudah menghabiskan sekitar Rp 30 juta. Untuk pentas kali ini saya dibayar Rp 20 juta untuk dua kali pentas yang berdurasi 20 menit dan tiga jam,” katanya. Soal durasi pementasan, Wayang Walisanga sangat luwes. Bisa satu jam, bisa tiga jam, tetapi bisa juga semalam suntuk. Tergantung permintaan.

Junaidi semula adalah dalang wayang purwa–wayang kulit biasa. Jika kemudian ia beralih mendalang Wayang Walisanga karena ada semangat dakwah yang mendasarinya.

Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam wayangnya tentu saja meliputi para wali itu sendiri serta para santri yang berkaitan dengan cerita itu. ”Tapi saya juga juga menambahan sejumlah tokoh baru. Untuk tokoh punakawan, misalnya, saya punya tokoh yang saya beri nama Gadung (hijau), Wulung (hitam), Seto (putih), dan Rekto (merah). Nama-nama itu saya gunakan sekaligus untuk menggambarkan empat nafsu” ungkapnya.

Empat punakawan itu tentu saja merupakan modifikasi dari punakawan wayang purwa: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan untuk pengganti tokoh Togog dan Mbilung, maka dibuatlah si Dadu dan si Wungu. ”Kedua warna ini saya ambil untuk menggambarkan sifat kedua tokoh yang memang tidak jelas lagi warnanya, tak punya kepribadian, sehingga mengikuti tokoh-tokoh jahat dalam cerita ini. Warna dadu dan ungu itu kan warna yg tidak jelas, campuran beberapa warna lain,” tuturnya.
Tokoh-tokoh berandal diberi nama seperti Waru Doyong, Trembesi, Joko Gimbal, Joko Rangsang, dan Joko Rambut. Dengan adanya tokoh-tokoh tambahan itu maka cerita di wayang
Walisanga makin hidup dan banyak konflik yang tercipta. (SH/herdjoko)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0210/08/hib02.html

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: