Pentas Wayang Rai Wong Ki Enthus Susmono

Suara gamelan terdengar mengalun di Kawasan Alun-alun Kota Tegal, Sabtu (28/4) malam. Sorot lampu dari atas panggung, menandakan adanya pagelaran seni di sana. Malam itu, masyarakat Kota Tegal mendapatkan suguhan pentas wayang kulit oleh dalang asal Tegal, Enthus Susmono. Pentas tersebut masih dalam rangkaian memeriahkan Hari Jadi ke-427 Kota Tegal.

Lakon yang ditampilkan berjudul ‘Ma’rifat Dewa Ruci’ yang menceritakan tentang perjuangan Bratasena atau Bima untuk mendapatkan ilmu keutamaan. Untuk itu, ia pun meminta gurunya, Durna mengajarkan ilmu tersebut. Namun Durna enggan memberikan ilmu itu karena khawatir Bima akan menjadi hebat. Agar penolakannya tidak terlihat, ia berjanji akan memberikan ilmu itu dengan syarat. Bima diminta untuk menemukan Kayu Gung Susuhing Angin di Alas Tri Basoro atau Hutan Tiga Bahaya. Padahal barang tersebut tidak pernah ada.

Pengembaraan Bima untuk memenuhi perintah gurunya, menghadapi berbagai halangan. Di sinilah dinamika pertunjukkan ditampilkan oleh Enthus. Ketegangan-ketegangan yang ada dalam cerita, diramu sedemikian rupa sehingga tidak membuat penonton bosan. Bahkan guyonan-guyonan bernada sindiran pun dihadirkan untuk menghidupkan suasana malam itu.

Pada akhirnya, Bima memang tidak bisa menemukan barang seperti yang diperintahkan Durna. Namun Bima menemukan hakekat ilmu yang dicarinya, melalui petuah Dewa Ruci. Sebenarnya ilmu itu adalah pengejawantahan dari diri sendiri. Ilmu akan menjadi bermanfaat dan bisa disebut ilmu, apabila sudah diamalkan.

Meskipun pertunjukkan wayang kulit merupakan pertunjukkan yang sering dijumpai di masyarakat, namun pertunjukkan wayang malam itu berbeda dengan pertunjukkan wayang lainnya. Dalam pentas tersebut, Enthus menampilkan salah satu jenis wayang baru, yaitu wayang rai wong.

Enthus menuturkan, pada dasarnya wayang rai wong tidak berbeda dengan wayang kulit lainnya. Namun secara fisik dan roman perwajahan mendekati manusia. Menurutnya, pada zaman wali songo, wayang merupakan salah satu media dakwah. Karena dikhawatirkan akan timbul pengkultusan terhadap tokoh wayang, bentuk wayang dibuat berbeda dengan manusia.

Dalam wayang rai wong, bentuk wayang ingin dikembalikan seperti bentuk asli manusia. Penyajiannya pun dilakukan secara lebih komunikatif. Meskipun demikian, simbol-simbol tradisi pewayangan yang selama ini sudah ada, tetap dipertahankan.

Pentas malam itu mampu memukau ribuan penonton. Meskipun harus berdesak-desakkan, mereka terlihat menikmati pertunjukkan tersebut.

Pentas itu juga ditandai dengan penyerahan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atau MURI. Enthus Susmono mendapatkan penghargaan MURI ke-2495. Ia dinilai telah berhasil menyumbangkan karya dan karsa dengan jenis wayang terbanyak, mencapai delapan jenis. Delapan jenis wayang tersebut adalah wayang prayongan, wayang rai wong, wayang golek cepak rai wong, wayang ramayana, wayang golek purwo rai wong, wayang planet, wayang wali, dan tokoh terkenal. Secara keseluruhan, jumlah wayang karya Enthus mencapai 1.493 wayang. (WIE)

1 Comment (+add yours?)

  1. dwi
    Apr 16, 2010 @ 01:31:26

    sayang nggak bisa nonton ki enthus maen lagi, cuma waktu latihan sebelum ke Belanda.
    dan saya cuma sempat nganterin teman riset buat EADC 2008, tapi kandas…

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: