Rahwana, Manusia Darah Yang Bengis Dan Serakah

Syahdan : Bayi berwujud segumpal darah merah, “seluas” hutan belantara, dilahirkan oleh seorang wanita cantik, bangsawan lagi cerdas yang bernama Dewi Sukesi, dengan suaminya seorang pendeta wicaksana bernama begawan Wisrawa.

Kelahiran jabang bayi ini menggegerkan penduduk seluruh negeri, karena kecuali bayi tersebut menakutkan juga wujudnya yang menjijikkan. Gumpalah darah ajaib tesebut makin lama makin membesar dan akhirnya berubah menjadi seorang raksasa yang memiliki “dasa muka” , mukanya berjumlah sepuluh buah. Dari masing-masing mlutnya mengeluarkan semburan api yang menjilat ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri dengan disertai suara gumuruh dan menggelegar bagaikan halilintar yang menyambar-nyambar. Sungguh sangat menakutkan.

Memang benar, setelah ia berhasil menjadi raja di Alengka menggantikan kakeknya, ia bergelar Rahwanaraja, Dasamuka dan juga bergelar Godayitma. Ia raja bengis, kejam sadis dan serakah lagi rakus. Negara-negara tetangganya apalagi yang kecil ditaklukkan, punggawanya dibunuh dan hartanya dirampas.

Kerakusan dan kekejamannya makin menjadi-jadi. Rumah-rumah pendeta disita dan dibakar, gunung yang tinggi diratakan, rawa-rawa yang basah dikerngkan, untuk kemudian dibangun tempat-tempat maksiah. Anggaran belanja-khususnya tak terkendalikan.

Pendek kata maha angkuhlah ia. Kalau sedang mengadakan upacara, segala binatang, emblim dada, selempang, kalung, tali dan tongkat komando dipakainya semua, bahkan diatas kepada dan pundaknya berjubel bintang-bintang emas 24 karat sebesar 1.5 kilogram dipakainya juga, sehingga miring pundaknya.

Ia memiliki aji Pancasona. Ia tak akan mati walaupun kepalanya pisah dengan “gembungnya”, asalkan masih tersentuh oleh tanah. Karena kesaktiannya Dewapun takut, apalagi raja-raja sebangsanya. Pernah ia membuat geger di kahyangan dan berhasil mendapat anugerah bdadari, bernama Batari Tari sebagai isterinya. Tetapi Rahwana masih belum puas, ia merampas juga isteri Rama Wijaya, Sinta, namanya. Sinta berhasil ditawan dan diroda paksa lebih dari 12 tahun lamanya.

Karena kerakusannya, maka ia harus mati oleh panah Gunawijaya pemunah angkara murka milik Rama Wijaya.

Sebelum melepas panahnya Sri Rama sempat bersabda:

“Hai Rahwana, tegakkanlah kepalamu, sambatlah kepada Ibu pertiwimu, tariklah nafas terakhirmu, karena kini tiba ajalmu.”

Belum habis sabda Sri Rama, lepaslah panah Gunawijaya dari busurnya menyambar dan memangkas sekali habis kesepuluh kepala Rahwana. Rahwana jatuh terguling-guling tak sadarkan diri. Anoman waspada, maka diangkatlah gunung Rongrongan ke angkasa dan ditimbunkan kepada bangkai Rahwana yang sedang sekarat, supaya tidak dapat hidup kembali.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU, 4 APRIL 1976

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Tetesan Bumi di 2016 - FWI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: