Ramabargawa Bersumpah Akan Membunuh Semua Golongan Satria

“Permintaan hamba, pertama hidupkan kembali ibuku, kedua kembalikan keempat saudaraku seperti semula, ketiga hilangkan dosaku terhadap ibuku, ke empat berilah aku umur panjang, ke lima berilah aku kesaktian yang tiada tanding yang tiada taranya dan hanya dapat mati oleh tangan Dewa Wisnu sendiri”.

Demikian permohonan Ramabargawa kepada ayahnya setelah membunuh ibunya.

Permintaan Ramaparasu dikabulkan. Pendek kata ibu dan keempat saudaranya kembali seperti semula dan hidup rukun tak kurang suatu apa. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Malapetaka kedua menyusul menimpa keluarganya. Prabu Hehaya telah datang ke pertapaan dan merampas semua lembu, kerbau dan semua harta miliknya bahkan hampir juga akan memperkosa Renuka. Tentu saja Resi Jamadagni ingin mempertahankan apa yang telah dikumpulkan dan apa yang telah dimilikinya. Ada pepatah “senyari bumi sedumuk batuk”. Namun Prabu Hehaya dengan sangat kejam, sadis dan tanpa perikemanusiaan membunuh Jamadagni di depan isterinya. Ratap tangis menjerit membelah angkasa sampai terdengar oleh Ramaparasu yang ketika itu sedang berada di telaga pertapaan. Bukan main sakit hatinya ketika dilihat ayahnya yang sangat dihormati dan dicintainya telah meninggal dengan hina. Maka ia memeluk mayat ayahnya sambil sujud dan menciumi sejadi-jadinya.

Setelah sadar Ramaparasu berdiri tegak sambil berteriak bersumpahlah ia.

“Mulai saat ini aku bersumpah, bahwa demi kesejahteraan dan keselamatan manusia, aku ingin membunuh seluruh manusia yang telah datang membunuh ayahku. Aku membenci dharma satria yang sangat memuliakan perang. Padahal perang adalah jahat. Karena yang membunuh ayahku juga golongan satria, maka aku berjanji dengan senjata kapak, panah, dan Bargawastra ini akan kubunuh semua satria yang bertemu dengan aku”.

Setelah sujud dan memohon diri kepada saudara-saudarana, ia mengambil senjatanya dan menghilang dalam hutan belantara untuk melampiaskan sumpahnya.

Dapatkah Ramabargawa memaklumi sumpahnya? Baiklah kita lihat nanti.

Yang jelas dari lakon ini dapat diambil pelajaran bahwa: Jamadagni membenci kepada kehidupan laku raja dan apa yang disebut duniawi dan laku Satria.

Ceritera tersebut mengandung petuah: hidup janganlah melarikan diri dari sesuatu kesukaran yang dibenci. Karena kemanapun manusia pergi menyembunyikan diri, disitu pulalah akan berjumpa dengan apa yang dibencinya.

Oleh karena itu manusia harus berani menatap hidup dan mampu menjadi saksi bagi dirinya sendiri secara konkrit eksistensiel.

“Jangan menghendaki sesuatu yang melebihi kemampuanmu; mereka yang menginginkan sesuatu diatas kemampuannya sendiri berarti melakukan sesuatu yang mengandung kepalsuan yang penuh dosa.”

Disamping itu dalam cerita ini digambarkan bahwa manusia selalu dihadapkan suatu dilemma atau pilihan.

Jamadagni harus memilih, “membunuh isterinya atau membiarkan istrinya tersiksa”.

Sebaliknya Ramaparasu juga harus memilih “membunuh ibunya atau menentang ayahnya.”

Itulah yang dinamakan hidup. Manusia akan terus menerus dihadapkan kepada suatu pilihan dan harus memilih. Tidak memilihpun sudah berarti memilih.

IR. SRI MULYONO

YUDHA MINGGU, 28 AGUSTUS 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: