Sangkan Paraning Dumadi

Yen sira waskita, sampurna ing badanira, sira anggegurua. BEGITULAH salah satu baris ajaran dalam Serat Wulang Reh yang dikutip Agung Webe dalam buku Javanese Wisdom: Berpikir dan Berjiwa Besar, yang diterbitkan Indonesia Cerdas tahun 2007 lalu. Artinya, apabila engkau ingin bijaksana, mencapai kesempurnaan dalam hidupmu, maka bergurulah.

Dalam buku tersebut, lebih lanjut disebutkan, bagi pemimpin, berguru bisa dengan siapa saja. Siapa saja bisa merupakan guru karena apapun yang ada di alam semesta ini akan selalu memberikan petunjuk bagi siapa saja yang mau membaca. Dalam berguru, kita diajak untuk tidak sombong, mau mendengarkan orang lain, berpikiran terbuka. Pemimpin yang bijaksana akan belajar dari siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Kalau kita cermati, masyarakat tradisional Jawa selalu mengajarkan nilai-nilai adiluhung kepada anak-anak mereka lahir ke dunia, yang semuanya bermuara ajaran agar kita selalu eling sangkan paraning dumadi. Sejak bayi lahir, biasanya orangtua telah mengajarkan nilai-nilai luhur dengan simbol-simbol yang diwujudkan sebagai ubarampe upacara ritual, seperti kenduri. Misalnya dalam upacara selapanan atau sepasaran bayi, di antaranya ada golong sasupit kinamping sekul suci. Itu merupakan simbol untuk mengingatkan kita kepada empat sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Kemudian sekul suci ulam lembaran sari untuk memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad (SAW), juga untuk Nabi Rasul sekaligus sebagai simbol permohonan agar orangtua si jabang bayi mendapat keselamatan.

Selain itu juga ada tumpeng robyong, untuk mengingatkan kita kepada para malaikat yang menjaga jiwa-raga kita, yang masing-masing berada di samping kiri-kanan, depan-belakang, di dalam rumah serta di halaman yang ditempati. Sedangkan tumpeng alus merupakan simbol pamiyak peteng kanggo nggayuh pepadhang, teriring permohonan agar yang punya hajatan terkabul. Sedangkan golong merupakan simbol kebulatan niat dan tekad. Semua simbol-simbol tersebut pada akhirnya untuk mengingatkan kita agar selalu mengingat kepada yang cithak bakal tanah halaman, selalu mendoakan para leluhur.

Namun doa-doa tersebut disimbolkan sebagai doa kepada Ki Juru Mertani dan Nyai Juru Mertani, Ki Ageng Metaram dan Nyi Ageng Metaram, serta Sultan Agung ingkang mengkoni tanah Jawi. Mengenai laku prihatin yang dilakukan oleh Pak Harto, menurut dalang wayang kulit Ki Sumono Widjiatmodjo, juga dikenal dalam jagad pewayangan. Disebutkan, hampir semua satria utama yang telah mencapai tahapan mukti maka keinginan utama (dan mungkin yang pertama) adalah memuliakan para leluhurnya. Namun keinginan seperti itu biasanya hanya muncul pada diri para satria yang telah gentur melakukan tapa brata dan laku prihatin. Seorang satria yang melakukan tapa brata untuk mencapai tampuk kepemimpinan dan menyempurnakan kepemimpinannya melalui laku spiritual, maka setelah keinginan tersebut tercapai bisanya ia punya ujar kepengin memule tempat para leluhur semare (tidur selamanya, meninggal).

Karena itu ada juga orang Jawa yang menganggap Kyai Semar sebagai dewa. Kenyataannya, para pemimpin yang mau mengasah kawaskitan melalui laku spiritual, laku prihatin dan banyak belajar kepada alam, maka pemimpin tersebut akan kelihatan memiliki kawibawan. Apalagi kalau terkena sinar lampu blencong, maka akan katon tejane. Terlepas dari benar-tidaknya penafsiran orang lain terhadap laku spiritual Pak Harto selama ini, sekarang ngelmu Pak Harto dapat diibaratkan telah sampai pada tahapan Manyura, yang dalam bahasa Kawi adalah burung merak. Artinya, ia sudah merak atau nyedhak kepada Sang Pencipta. Gending ini memang menggambarkan sifat seseorang yang telah mendekati kembali kepada sangkan paraning dumadi.

(Joko Budhiarto)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: