Sekali Lagi Sumantri Itu, Tokoh Jelek Atau Tokoh Teladan

Pertama-tama dengan ini saya mengucap syukur Alkhamdullilah kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah-Nya. Walaupun kini tidak diizinkan lagi untuk secara fisik melakukan mendalang dengan kotak dan kelir, namun atas ridho-Nya masih diizinkan untuk “mendalang” dengan pena dan kertas. Artinya bahwa dengan banyaknya surat yang saya terima melalui Buana Minggu maupun Radio Safari tiap Senin malam, baik yang tidak setuju maupun yang “mengalembana” memuji dengan kalimat-kalimat yang belum pernah saya terima, menunjukkan adanya komunikasi dua arah antara dalang dengan penonton atau penulis dengan pembaca.

Sungguh saya merasa bahagia atas hal itu semua.

Apa yang saya tulis memang tidak harus diterima, dan sekiranya kurang cocok, saya mohon para pembaca langsung menulis kepada redaksi Buana Minggu, asal nama terang dan mengenai obyeknya, jangan manusia penulisnya. Karena kitab suci mengajarkan : “bahwa justru perbedaan umatKu akan membawa hikmah”.

Sekarang bagaimana halnya dengan Sumantri, apakah ia tokoh jelek atau pantas dicontoh. Dalam kode etik pedalangan, Dalang tidak boleh menetapkan secara pasti, tetapi hanyalah pada akhir pertunjukan sang dalang menarik boneka kayu yang disebut “golek” dengan maksud supaya penonton “golekana” atau carilah sendiri maknanya.

Ditinjau dari segi ontologis-mentafisis, bahwa eksistensi atau keberadaan makhluk itu haruslah memahami bahwa mereka diciptakan oleh YANG MAHA ADA sebagai DIA yang pertama (causaprima) yang tidak pernah diadakan dan tidak akan pernah tidak ada, manusia dan yang serba “kumelip” selalu berpasang-pasangan.

Jelek dan baik, pendek dan panjang, siang dan malam, susah dan bungah, laki-laki dan perempuan dan sebagainya.

Hanya YANG MAHA ADA-lah yang kuasa mencakup segala yang bertentangan, sekaligus merangkul, memperdamaikan dan menyelaraskannya. Bagi-Nya pertentangan dan perbedaan apapun tidak berlaku, (persilahkan membaca buku “Wayang, Asal-Usul, Filsafat dan Masa Depannya halaman 255-307)

Sekarang bagaimana halnya Sumantri?

Adapun Sumantri, ternyata mengingkari dan tidak mau menerima secara ontologis tentang eksistensinya. Ia tidak mau menerima dan diikuti oleh adik (ari)nya yang bernama Sukrasana yang sebetulnya ia merupakan pasangan eksistensinya di dunia, maka dengan hilangnya Sukasrana, berarti hilang pulalah eksistensinya daripada Sumantri. Tetapi karena pada hakekatnya ia satu, maka ia ditunggu untuk bersama-sama masuk ke Nirwana.

Dilihat secara ethis dan moral, memang sejak berangkat dari rumah, dalam benaknya Sumantri sudah mendambakan keampuhan senjata dan kesaktiannya. Ia akan mengabdi kepada siapapun yang dapat mengalahkan kesaktiannya. Sedang yang dapat mengalahkan Sumantri, justru saudara (adik)nya sendiri. Yaitu dikala ia mendapat kesusahan di tengah hutan dan dikala membangun taman Sri Wedari. Namun Sukasrana yang telah menolongnya, mati karengan tangan Sumantri. Dengan dalih apapun pembunuhan tetap pembunuhan, (ngunduh wohing panggawe), seperti halnya Salya dan Bagaspati, Gatotkaca dan Kalabendana.

Wedhatama mengingatkan “jangan bertindak demikianlah orang hidup itu”. (aja kaya mangkono wong urip).

Sedang kalau dilihat secara wadag-lahiriah, ia seorang prajurit, sudah seharisnya ia berhasil melaksanakan tugasnya, bahkan mati yang paling sempurna bagi prajurit adalah mati dalam medan pertempuran sebagai pahlawan. Keberhasilan Sumantri bukanlah hasil Sumantri sendiri, tetapi bersama-sama dengan tentara dan para panglima Maespati. Tetapi “tiba-tiba” setelah ia menang justru dia menentang atasan dan kepala Negaranya, untuk bertanding adu kesaktiannya, sampai akan “membunuhnya” dengan senjata Cakrabaskara yang ampuh itu. Yang paling “konyol” lagi ia “ngglendem” saja di “lulu” oleh Harjuna Sasrabahu untuk mengenakan pakaian kerajaan. Kalau sekarang pekerti panglima yang demikian ini tak ada predikat lain kecuali dianggap “makar”, atau setidak-tidaknya menurut Wedhatama dikatan sebagai berikut:

“…….. sumungah sesongaran yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki.”

“Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, Iku boreh paminipun, Tan rumasuk ing jasad, Amung sanjabaning daging kulup, Yen kepengkok pancabaya, Ubayane mbalenjani.” (pangkur 8 dan 9)

Artinya:

“Menyombongkan, memamerkan kelebihannya, tergila-gila akan keberanian dan kesaktiannya, sehingga menghilangkan kewaspadaan, itu jelas tidak enak ngger.”

“yang diandalkan ialah ilmu karang dan ilmu gaib, semacam itu hanyalah ibarat bedak, pupur, boreh saja, tidak dapat meresap ke dalam jasad, tetapi hanya menempel di luar daging saja. Oh ngger, hal semacam itu jika menghadapi mara bahaya besar, tidak dapat diandalkan dan tidak mampu memenuhi janjinya.”

Sedang orang yang dikatakan utama, oleh Wedhatama dianjurkan supaya mencontoh “nulada laku utama, wong agung ing Ngeksi Ganda Panembahan Senapati, kapati amarsudi, sudanen hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapihing siang ratri, amemangun karyenak tyasing sasama dan seterusnya mesu reh kasudarman, kayungyun, heninging tyas, memangun marta martani, susila hanuraga, wignya tyasing sesami”.

Pendek kata : mengekang hawa napsu, melakukan askese dan ascetic, menyenangkan hati sesama manusia, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada ketenangan hati dan memiliki ketentraman hati, lemah-lembut tutur katanya, rendah hati, pandai mengambil hati sesama manusia dan sebagainya.

Jadi Sumantri, agaknya baru dapat melihat dengan mata dikepala. Jelek diluar belum tentu jelek dalamnya.

Ia belum mampu melihat dengan mata hatinya (tan kawasa hanandukake jatining pandulu).

Untuk agar manusia dapat melihat dengan mata hati, menurut Wedhatama : Hamung nyenyuda hardaning kalbu, pambukane tata-titi ngati-ati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos, artinya: hanya dengan mengurangi keangkaraan hati, dimulai dengan teratur, cermat, berhati-hati, tekun, rajin, dan tidak mudah tergoda, itulah sifat arif wicaksana.

Nuwun dan sumangga

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU, 9 MEI 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: